Gadis Kurang Gaul

1012 Kata
Seorang gadis cupu sedang duduk di kursi perpustakaan. Gadis itu tengah fokus pada tugas yang dikerjakan. Hari ini dia harus menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang mahasiswi di sebuah universitas. Dan perpustakaan inilah yang menjadi tempat favoritnya di waktu senggang atau pun jam kosong kuliah. Ketika sedang asyik mengerjakan tugasnya. Datanglah seorang pria menghampiri, dia adalah Moreno, pria tampan yang menjadi idola para gadis-gadis, dia merupakan seorang playboy. Tidak hanya Tampan tapi dia juga merupakan salah satu anak yang orang tuanya memiliki saham 50% di fakultas tersebut. Namun setampan dan sekaya apapun laki-laki itu tak lantas membuat gadis cupu dihadapannya tertarik seujung helai benangpun. "Hai, jadul! Sedang mengerjakan tugas ya? Apa sudah selesai? Kalau lo sudah selesai, gue boleh pinjam bentar buku lo enggak? Gue mau hanya mau menyalinnya?" Moreno duduk dihadapan Vielonica sang gadis cupu, yang hanya ditanggapi acuh tak acuh oleh si gadis cupu nan jadul tersebut. Sudah menjadi kebiasaan pria tersebut, yang sok berkuasa meminta catatan tugas dari teman sekelasnya buat di contek Tampa harus dia capek-capek berfikir keras untuk menyelesaikannya. Bahkan dia sering menyongok teman yang mau mengerjakan tugasnya dengan lembaran-lembaran uang. Dan sekarang gadis cupu itu menjadi target tumbal kebodohan sang Playboy yang malas belajar dan malas mengerjakan tugas. " Dasar Cassanova tak ada akhlak, enak saja mau nyalin tugas orang lain, gue yang repot kok malah dia yang enak" guman gadis cupu dalam hati. Tampa menghiraukan kehadiran si playboy dia tetap fokus pada sebuah buku yang tengah di bacanya. "Hei, jadul kurang gaul! Lo dengar gue ngomong enggak sih?. Mana catatan tugas punya lo, gue mau nyalin, cepat dong jadul nanti keburu masuk. Atau sekalian aja lo salinkan tugas itu untukku biar cepat selesai. Lo kan pintar pasti nulisnya juga cepat, iya kan jadul?" Cerocos si playboy Tampa tau malu, bahkan dia sudah ngelunjak meminta gadis yang di panggil jadul itu untuk menulis tugas nya. " Hai, jadul! Lo bisu atau sakit gigi sih tidak bisa bicara" "Hahaha….. cowok idola dicuekin sama cupu. Hahaha" Tawa beberapa pria yang duduk tak jauh dari tempat duduk mereka. Moreno menatap pria tersebut dengan tatapan tajam, seketika mereka terdiam dan pura-pura sedang fokus pada buku yang dibacanya. Moreno kembali mengalihkan pandangannya pada gadis cupu di hadapannya. "Hei, jadul! Apa kamu tuli?" Sambil menendang meja di hadapannya, Moreno bertanya dengan suara yang sudah meninggi, kesal dari tadi di cuekin oleh gadis cupu. Seolah tak menganggap keberadaan Moreno, Vielonica bergeming sesaat, dia melihat arloji di pergelangan tangannya. Sepertinya jam menunjukan sebentar lagi kelas akan di mulai. Dia beranjak henda melangkahkan kakinya ingin segera berlalu dari hadapan Moreno. Moreno marah karena cewek cupu itu benar-benar mengacuhkannya, dia menahan pergelangan tangan Vielo seraya berkata. "Berani sekali lo tak menganggap gue, apa lo cari mati, apa lo belum tau siapa gue?" Teriak Moreno penuh penekanan, dia ingin menunjukan kekuasaannya. Namun si gadis cupu itu sepertinya tidak gentar sama sekali dengan kalimat Moreno yang berbau ancaman. "Hahaha…. Siapa yang tidak kenal Lo di kampus ini, seluruh kampus juga tahu kalau Lo itu Playboy Cassanova cap buaya darat" sarkas Vielonica berucap sambil tertawa mengejek. Kemudia berlalu dari hadapan sang Playboy yang hanya mematung tak percaya atas respon yang diberikan sang gadis cupu. "Whattt…!?" Moreno masih mematung masih tak percaya kenyataan bahwa ada gadis yang sama sekali tak tertarik kepada dirinya yang tampan. Apa lagi gadis yang tak tertarik itu sangat jauh di bawah levelnya. Hanya gadis cupu yang tidak menarik sama sekali di mata Moreno. Jika bukan karena ingin memanfaatkannya bahkan Moreno tidak sudi dekat-dekat dengan gadis cupu sok jual mahal itu. Kenapa repot-repot sok jual mahal, di obrol sekalipun gadis jelek itu tidak bakalan laku. Begitulah kira-kira Moreno mengumpat dalam hati. Masih setia mematung, fikiran Moreno berkecamuk sendiri, ada rasa tak terima atas perlakuan gadis yang di anggapnya cupu itu bahkan dia sekarang merasa harga dirinya terinjak-injak sebagai seorang cassanova atas perlakuan si gadis cupu dan jelek itu. "Berani sekali kau gadis cupu, tunggu saja aku akan membalas mu" guman Moreno dalam hati yang masih setia berdiri seperti patung pancura, lumayanlah sebagai hiasan di tengah-tengah lalu lalang para mahasiswa mahasiswi yang akan belajar ke perpustakaan. Biar aja si Moreno menjadi patung pancuran di dalam ruangan biar ada fariasinya sekikit. "Moreno, ngapain mematung di situ? Emangnya Lo itu tidak mau pasuk kelas apa? Atau jangan-jangan Lo mau bolos kuliah? Aduh.. kalau memang begitu, gue gak ikutan deh moreno. Aku tidak mau di keluarin kalau sampai ketahuan oleh dosen. Ayu masuk aja Moreno, sebaiknya lo urungkan niat untuk bolos. bukankah kita masih mahasiswa baru buat melakukan hal senikat itu" cerocos teman Moreno melaju dengan cepat bagai kereta api. Namun sepertinya langkah Moreno tak kalah cepat meninggalkan temannya yang masih nyerocos tak menyadari kalau Moreno sudah meninggal kan nya beberapa detik yang lalu. Melihat Moreno sudah tidak ada di tempatnya dia sendiri jadi panik, merinding saat dia menyadari hanya tinggal dirinya seorang diri di perpustakaan yang sepi. Membalikkan badan dia ketakutan memanggil-manggil nama temannya. "Moreno, Moreno. Tunggu aku dong!" Moreno menyiret langkahnya menuju kelas, dia masih tidak terima dengan apa yang terjadi. Bagaimanapun caranya dia sedang memikirkan sebuah cara untuk membuat perhitungan pada si gadis cupu. Bahkan dia sekarang sudah melupakan kalau dia belom menyelesaikan tugas yang di berikan dosen Minggu lalu, dia lupa bagaimana jajah bringas sang dosen jika marah. Fikirannya di paksa hanya untuk mencari cara untuk membalas si gadis cupu yang sok jual mahal, hingga tak sadar dia sudah ada di ambang pintu kelasnya. Rupanya Suasana kelas sedang ricuh karena dosen juga belum hadir. Dia masuk ke dalam kelas, pandangannya memindai seluruh isi kelas mencari-cari sosok gadis cupu berkepang dua memakai kaca mata tebal hingga tak jelas seperti apa sebenarnya mata yang ada di balik kaca mata tebal itu. Tak lama Moreno menangkap sosok gadis jelek yang di carinya, Moreno berjalan kearahnya dan berdiri angkuh dihadapan gadis itu. Dia menendang bangku di hadapan gadis cupu. Membuat dia kaget karena tak menyadari kehadiran mureno sebelumnya. "Hai, cupu! Berani sekali ya Lo mengabaikank gue, tunggu ya aku akan membuat kamu menyesal" Ucap Moreno dengan nada mengancam. "Siap takut, aku akan tunggu Lo membuat perhitungan ma gue" "Sialan.... Berani sekali....."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN