Harapan Seorang Rayya

1657 Kata
“Kamu nggak seharusnya bertengkar dengan Fika, Ya. Kamu jadi kena hukum gini kan jadinya,” ucap Lulu yang melihat Rayya mondar mandir menyapu halaman belakang yang dipenuhi daun-daun yang berjatuhan. “Aku nggak bisa diam saja melihat dia menghina kamu, Lu. Nggak seharusnya dia bicara seperti itu,” komentar Rayya kesal. Dia mengambil pengki yang terbuat dari kaleng bekas biskuit untuk mengangkat sampah daun ke plastik hitam besar yang sudah disediakan. Lulu tersenyum lembut mendengarnya. Selama tinggal di panti asuhan ini, hanya Rayya lah yang setia berteman dengannya. Anak-anak panti yang lain selalu menghindarinya jika berpapasan dengannya. Padahal Lulu juga tidak menginginkan keadaannya menjadi seperti ini. Tapi Lulu bisa apa? Dia hanya bisa menerimanya dan berharap bisa menjadi normal seperti anak-anak panti lainnya suatu saat nanti. “Tapi sekarang kamu dihukum. Aku bahkan nggak boleh menolong kamu,” ucap Lulu terdengar sedih. “Ck! Jangan sedih gitu. Kamu temani aku di sini aja sudah buat aku senang,” sahut Rayya mencoba menghibur Lulu. Sesekali terdengar gerutuannya karena angin yang menerbangkan daun-daun yang sudah susah payah dikumpulkannya. “Makasih yah Ya sudah mau temenan sama aku,” ucap Lulu tulus. “ish kayak apa aja deh, Lu. Kita akan terus temenan sampai tua. Ingat itu yah,” sahut Rayya menunjuk Lulu dengan sapu lidi yang dipegangnya. “Tapi Ya, gimana kalo suatu saat ada yang mau mengadopsi kamu atau aku? Aku kan nggak mau pisah sama kamu,” ucap Lulu tiba-tiba. Rayya terdiam sejenak. Dia bertopang dagu dengan ujung sapu lidi yang dipegangnya. Seolah sedang berpikir keras.”Kita harus saling berkomunikasi kalo gitu. Kalo aku duluan yang diadopsi, aku bakalan sering ke sini buat jenguk kamu. Begitu juga kamu, kalo kamu yang diadopsi duluan. Kamu harus sering ke sini jengukin aku. Gimana?” usul Rayya. “Setuju! Aku setuju! Semoga aja keluarga baru kita nanti benar-benar tulus sayang sama kita,” ucap Lulu dengan penuh harap. Rayya mengangguk.”Semoga, Lu.” Timpal Rayya dalam hati. *** Rayya berjalan dengan wajah cemberut selama perjalanan menuju panti asuhan. Lulu sakit demam sehingga tidak bisa masuk sekolah. Dia merasa bosan jika jalan sendirian. Sesekali Rayya melihat orang-orang yang dilewatinya. Sekolahnya memang terletak di pinggir kota. Jadi Rayya sesekali memilih pulang melewati pertokoan dan beberapa gedung. Walaupun dia harus menempuh jarak yang lebih jauh daripada lewat jalan setapak yang biasanya, Rayya tak peduli. Pemandangan kendaraan yang lalu lalang dan juga gedung-gedung tinggi membuatnya sedikit senang. Terkadang Rayya sering membayangkan jika suatu saat dia bisa menaiki mobil bagus yang biasa dilihatnya. Tak perlu mobil, naik motor pun Rayya sudah sangat senang sekali. Karena berjalan kaki sering membuat kakinya keram di malam hari. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah keluarga yang sedang makan bersama di sebuah restoran dari dinding restoran yang terbuat dari kaca tembus pandang. Rayya menahan air liurnya saat melihat melihat makanan yang dihidangkan oleh salah satu pramuniaga. Semua makanannya terlihat enak dimatanya. Walaupun Rayya sendiri tidak tau nama makanan tersebut. Dia merogoh kantong seragamnya dan meringis saat menemukan uang logam seribu rupiah sisa uang jajan yang diberikan pengurus panti. Seribu rupiah dapat apa? Mungkin di sekolahnya dia masih bisa mendapatkan jajanan. Tapi di pinggir jalan seperti ini apa yang bisa dibelinya dengan uang seribu? Rayya akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Sesekali langkahnya terhenti jika melihat sesuatu yang menarik hatinya. Seperti saat ini, Rayya berhenti tepat di sebuah Pet Shop yang memajang hewan peliharaan kesukaannya. Hamster. Sejak dulu Rayya ingin sekali memelihara hamster, tetapi kepala panti melarangnya karena bentuknya yang mirip dengan tikus. Padahal menurut Rayya, tikus dan hamster itu berbeda. Bentuknya saja berbeda. Tetapi kepala panti tetap melarangnya. Jadi terkadang Rayya memilih berdiam diri di depan pet shop untuk melihat-lihat hamster yang dipajang di depan toko. “Ada yang bisa dibantu, dik?” sapa salah satu pegawai toko yang sejak tadi melihat Rayya berhenti tepat di depan tokonya. Rayya menggeleng seraya tersenyum.”Mau lihat-lihat hamster, Kak. Boleh?” tanya Rayya sopan. Pegawai perempuan itu tersenyum lembut.”Silakan. Nanti masuk ke dalam saja yah kalo sudah ada yang dipilih,” ucap pegawai toko ramah. “Memang harganya sepasang berapa, Kak?” tanya Rayya penasaran. Setidaknya dia harus tau harga hewan yang ingin dipeliharanya, jadi dia bisa menabung untuk memenuhi keinginannya tersebut. “Semua tergantung jenisnya, dik. Kalo yang murah jenis Campbell, tapi ini jenisnya agresif dan suka menggigit. Jadi kakak nggak menyarankan untuk dipelihara anak kecil. Kalo adik mau, yang adik lihat itu, jenis Syrian. Harganya sepasang seratus lima puluh ribu,” ucap pegawai toko membuat Rayya meringis dalam hati. Dari mana uang sebanyak itu dia dapatkan? Bahkan tabungan miliknya pun tidak sampai berjumlah lima puluh ribu. Sepertinya dia memang harus menunda dulu untuk memelihara hewan menggemaskan itu. Setidaknya tabungannya harus mencapai tujuh puluh lima ribu untuk satu ekor hamster. “Makasih, Kak. Nanti kalo tabungan aku cukup, aku mau beli yang jenis Syrian,” sahut Rayya tersenyum manis. “Boleh. Kamu bisa datang kapan saja. Kalo gitu kakak masuk ke dalam yah, kalo mau tanya-tanya boleh masuk ke dalam toko,” ucap pegawai itu menunjuk ke dalam toko. Rayya mengangguk mengerti. Setelah pegawai tersebut masuk ke dalam toko, Rayya pun memilih melanjutkan kembali perjalanannya. Sudah jam satu siang. Dia harus cepat-cepat sampai di panti kalau tidak ingin dimarahi oleh Bu Wika. Hari ini adalah tugasnya untuk mencuci piring bekas makan siang bersama dengan anak panti lainnya. Rayya memutuskan berlari untuk cepat sampai ke panti. Gara-gara asyik melihat hamster dia sampai lupa diri. Hewan lucu itu memang selalu bisa membuat moodnya menjadi lebih baik. Rayya ingin sekali merasakan memegang hamster. Pernah salah satu teman sekelasnya memamerkan hewan tersebut saat Rayya melewati rumahnya. Anak bernama Mitha itu tau kalau dirinya ingin sekali memelihara hamster namun belum bisa terwujud. Rayya hanya menatap datar Mitha tanpa merespon panggilannya. Sejak saat itu, Rayya memilih jalan pulang yang lain agar tidak melewati rumah Mitha lagi. Walaupun harus memutar, Rayya tak peduli. Dia tidak suka dengan anak sombong seperti Mitha. “Bruk!! Aw!!” Rayya menabrak seseorang sehingga dia terpental dan jatuh terduduk. Dia meringis merasakan perih di kedua telapak tangannya. Rayya menatap telapak tangannya yang lecet dan mengeluarkan darah. Pantas saja rasanya sakit sekali. Ini semua karena kecerobohannya yang berlari tanpa melihat-lihat sehingga dia pun menabrak seseorang. “Kamu nggak apa-apa, dik?” tanya sebuah suara bernada lembut. Rayya mendongak dan mendapati seorang perempuan muda berkerudung hitam menunduk padanya. Ah, ternyata dia menabrak seorang perempuan cantik. “Dik...ada yang sakit?” tanya perempuan itu lagi terdengar khawatir. Rayya menggeleng pelan. Dia terluka karena keteledorannya. Jadi Rayya tidak ingin menyusahkan perempuan yang ada di depannya ini. “Tapi tangan kamu berdarah. Yuk ikut kakak sebentar. Kita obati tangan kamu dulu,” ajak perempuan itu ramah. Rayya menggeleng.”Nggak apa-apa, Kak. Nanti sampai di panti aku obati sendiri,” tolak Rayya halus. Dia harus segera sampai di panti jika tidak ingin dimarahi. “Kamu tinggal di panti? Panti mana?” tanya perempuan itu penasaran. “Baiti Janati, Kak. “ “Ah kebetulan sekali. Kakak juga mau kesana. Ini lagi beli makanan buat adik-adik panti. Sekalian saja gimana? Kita naik mobil itu,” tunjuk perempuan itu pada mobil hitam mengkilat yang terparkir tak jauh di depan toko kue. “Tapi ...” Rayya terlihat ragu-ragu. Dia selalu ingat akan pesan dari pengurus panti untuk tidak percaya pada orang asing. Apalagi dengan orang yang baru saja pertama kali bertemu. Jaman sekarang banyak orang jahat yang menculik anak-anak untuk diperjualbelikan. “Nama kakak Naima. Kakak memang belum pernah ke panti Baiti Jannati. Tapi ibu kakak sering ke sana. Kenal dengan Winda Maulia Fahreza?” tanya perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Naima. Rayya terdiam sejenak. Mencoba mengingat satu persatu donatur panti yang sering berkunjung. Dia memang tidak asing dengan nama Fahreza. Sekilas Rayya mengingat seorang perempuan paruh baya dengan lesung pipi di sebelah kiri yang sering mengenakan kerudung besar. Kemudian Rayya memerhatikan wajah perempuan bernama Naima di depannya. Mereka berdua memang terlihat mirip. Hanya saja Naima lebih putih dibandingkan dengan Winda. “Kenal. Beliau sering datang ke panti. Kakak anaknya Bu Winda?” tanya Rayya memastikan. Naima mengangguk cepat.”Ibuku lagi di dalam mobil. Nanti kamu bisa lihat sendiri. Yuk bareng aja. Lukanya juga harus diobati biar nggak infeksi,” ajak Naima yang akhirnya diangguki oleh Rayya. Sebenarnya dia juga tergoda untuk mencoba menaiki mobil hitam mengkilap itu. Setidaknya seumur hidup, sekali saja dia ingin menaiki sebuah mobil bagus. Rayya berjalan pelan di samping Naima yang membawa kotak-kotak berisi kue yang baru saja dibelinya. Setelah sampai di samping mobil, Naima mengetuk pintu penumpang. Tok...tok...tok... Kaca pintu mobil terbuka dan menampilkan seorang perempuan paruh baya yang tersenyum manis padanya. “Eh ada siapa ini? Sepertinya Ummi nggak asing dengan gadis kecil ini,” ucap Winda ramah. “Rayya, tante,”sahut Rayya malu-malu. “Rayya ini salah satu penghuni panti Baiti Janati, Mi. Tadi Naima nggak sengaja nabrak dia sampai jatuh. Telapak tangannya sampai luka,” adu Naima pada Winda membuat Rayya merasa tak enak hati. Seharusnya dia yang harus disalahkan, bukannya Naima yang malah menyalahkan diri sendiri. “Astagfirullah. Ayo masuk sini, Sayang. Kita obati luka kamu dulu,” ajak Winda membuka pintu mobil. “Naima taruh kue di belakang dulu, Mi,”ucapnya yang diangguki oleh Winda. Rayya dengan pasrah mengikuti semua perintah Winda yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil. “Pak Budi, tolong kotak P3K-nya,” ucap Winda pada supirnya. Setelah menerima kotak tersebut, Winda membukanya dan mengeluarkan rivanol beserta kapas untuk membersihkan luka Rayya terlebih dahulu. “Sabar yah, ini nggak pedih kok. Lukanya harus dibersihkan dulu sebelum diberi betadin,” ucap Winda lembut lalu mulai membersihkan luka di tangan Rayya. Rayya menatap Winda dalam diam. Dia memerhatikan wajah cantik berhati lembut yang sedang membersihkan lukanya. Jika memang ada sebuah keluarga yang ingin mengadopsinya, Rayya rela jika keluarga tersebut berasal dari keluarga Fahreza. Ya Allah, bolehkah dia meminta keluarga yang baik hati seperti keluarga Fahreza yang mengadopsinya kelak? Tentu dia akan merasa sangat senang sekali. Semoga saja suatu saat doanya akan diijabah Allah. -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN