Elly tak banyak bicara dalam perjalanan menuju makam Pak Robi. Dean yang mengemudikan mobil milik PIC berkali-kali menoleh ke arahnya, berusaha memastikan bahwa Elly baik-baik saja.
“Kau tidak apa-apa, Elly? Kalau masih sakit aku antar pulang.”
Elly menggeleng. “Aku baik-baik saja. Pulang malah membuat aku tidak bisa melakukan apa-apa dan itu hanya akan menambah stress.”
“Sejak tadi kau diam saja. Kupikir masih sakit, maafkan aku.”
“Tidak apa-apa Dean. Aku hanya memikirkan PIC yang dulu dan sekarang.”
Dean tertarik. Selama beberapa hari hanya berkutat untuk mencari Keen365, membuatnya nyaris putus asa. Kadang dia ingin menghubungi komandannya, hendak bertanya kenapa dia harus ikut campur dalam penyelidikan Keen365. Bukankah membiarkan masa lalu berjalan dengan orang-orang di dalamnya akan jauh lebih baik. Dean semakin khawatir dia akan keceplosan bicara tentang dirinya dan masa depan tempat dia berasal.
“Kenapa PIC yang dulu dan sekarang?”
Elly menghela napas panjang. “Dulu PIC hanya agen penyelidikan swasta kecil. Hanya segelintir orang. Ketika kasus Keen365 diserahkan pada kami oleh Kapten Kaluma di Kepolisian, personil semakin banyak. Tapi, sampai sekarang tak satupun kasus terpecahkan.”
“Memangnya kalian dulu pernah memecahkan kasus Keen365?”
Elly menggeleng. “Beberapa kasus lain, dan itu membuat kami populer. Tapi jjustru kasus Keen365 yang viral ini tak bisa kami pecahkan. Selain mencegah dampaknya meluas saja. Kau tahu maksudku kan?”
Dean mengangguk. Dia mengalami sendiri kejadian di Hotel Hilton. Pihak penegak umum yang bekerja sama dengan PIC berusaha meminimalir korban. Setidaknya menjadi sesuai dengan ramalan di twitter. Beberapa kasus sebelumnya, sempat tidak terkendali karena banyak pihak yang memanfaatkan ramalan Keen365 yang sudah pasti terjadi.
Sehingga korban semakin banyak dan dampak ke perekonomian semakin membuat situasi kacau balau.
“Setelah dipegang PIC, beberapa kasus bisa tetap terjadi dengan korban yang minim. Meski kami belum sempat mencegah. Hal ini membuat aku berpikir, mungkin lebih baik dibiarkan begini saja. Biarkan Keen365 meramal apapun, tanpa kita perlu mencari dan menangkapnya. Toh, tindakan kriminal tetap akan terjadi, meski semua orang menjadi polisi.”
Dean terdiam. Sepertinya Elly sudah mulai putus asa dengan Keen365. Atau karena dia baru sembuh saja dari sakit, sehingga pikiran dan perasaannya masih belum stabil.
“Sebagai penegak hukum, kita tidak boleh berpikiran seperti itu Elly. Meski semua itu sudah takdir dan Keen365 membocorkan takdir itu pada kita semua, kita tetap harus berupaya menghentikannya. Karena apa yang dilakukannya menimbulkan banyak masalah. Kalian sendiri yang mengalaminya kan? Kalau aku dari luar negeri, tidak merasakan apa yang kalian alami. Tapi cobalah kau pikir, bila ini terus menerus terjadi. Negara ini bisa hilang ditelan bumi.”
Elly menoleh ke arah Dean sembari memijat kepala bagian kirinya. Sepertinya dia mulai pusing, mungkin aktivitas hari pertama bekerja sudah membuat kepalanya bekerja terlalu keras.
“Kau mau meramal juga? Negara ini akan tetap berdiri, hingga hari kiamat.”
Dean menelan ludah. Dia hampir keceplosan lagi tentang masa depan, bahwa negara ini di ambang kehancuran. Karena tweet yang dilakukan Keen365 semakin sering dan hal itu mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. Banyak orang memanfaatkan situasi dan kondisi yang kacau, sehingga tidak akan ada yang menyangka bila hal itu akan berdampak pada kestabilan negara.
Maka, sudah tepat bila dikatakan Keen365 adalah seorang kriminal.
“Bila kita tidak berhasil menangkap dia, maka kiamat itu akan datang lebih cepat, Elly. Percayalah padaku.”
Elly tidak bersuara lagi. Mobil mereka sudah memasuki area pemakaman. Karangan bunga ucapan duka berjejer di pagar makam. Mungkin sudah tidak muat di halaman rumah Pak Robi, sehingga terpaksa ditaruh di area makam. Tidak banyak orang berlalu lalang, memudahkan mereka berdua menemukan tempat parkir dan kemudian bergegas turun menuju makam Tuan Robi.
Seorang penjaga makam yang sudah tua dan bungkuk, menunjukkan posisi makam Tuan Robi. Dari kejauhan nampak makam itu dibuat istimewa, dengan tenda penahan panas terik matahari menutupinya. Beberapa orang tampak menziarahi makam Pak Robi.
Dean dan Elly berdiri agak jauh dari beberapa pelayat, menunggu mereka selesai. Mengamati satu per satu, berusaha mendapatkan petunjuk. Tapi hingga makam Pak Robi sepi, tak ada yang mencurigakan.
“Lihat, ada satu mawar hitam.”
Dean memungut sekuntum mawar hitam yang diletakkan tidak jauh dari nisan Pak Robi. Makam Pak Robi sendiri nyaris tidak kelihatan karena gundukan bunga dari pelayat yang menutupi semua gundukan tanah makam Pak Robi.
Elly mengeluarkan ponsel dan mengambil foto bunga mawar hitam itu dan mengirimkannya pada Kapten Hanung. Elly mencari sosok penjaga makam yang mereka temui di depan pagar dan mendapati lelaki sepuh yang sudah membungkuk itu datang mendekati mereka.
“Menurutmu, apa dia bisa mengingat siapa saja yang berziarah?”
Dean melihat kedatangan lelaki tua itu, dan menggeleng. “Aku tidak yakin, tapi tidak ada salahnya bertanya.”
Lelaki sepuh itu semakin dekat dan dia menunjuk-nunjuk ke arah bunga mawar hitam yang sedang dipegang Dean.
“Letakkan itu! Letakkan!” teriaknya dengan suara gemetar.
Dean sontak melemparkan kembali bunga mawar hitam itu ke arah batu nisan. Lelaki sepuh itu menatap Dean dengan tatapan marah.
Dia lalu menunjuk muka Dean dengan tatapan menuduh. “Jangan ambil mawar hitam itu dari makam Pak Robi. Mawar itu milik Ajeng.”
*
Nono memicingkan mata dan terbangun dari tidurnya. Tirai dibuka lebar, sehingga sinar matahari menyeruak masuk dan membuatnya silau.
“Bangun, Nono!”
Nono tak bisa mengenali wajah perempuan yang menghalangi sebagian cahaya matahari dari arah jendela. Nampak seperti siluet saja. Siluet itu tampak tinggi dan ramping, mengenakan pakaian serba hitam.
“Siapa kamu?” tanya Nono sembari berusaha menahan silau yang menerpa matanya. Selama beberapa hari, ruangan ini hanya diterangi oleh lampu saja. Di siang hari, tirai dan jendela tertutup rapat, dan seorang polisi menjaganya di pintu depan.
Yang masuk ke dalam kamar hanyalah tenaga medis dan polisi berseragam saja. Baru kali ini, ada seorang wanita berhasil masuk–dan dia bukan polisi.
“Aku akan menyelamatkanmu,” ucap wanita itu, mendekat ke arah Nono, lalu mematikan infus. Nono kini bisa melihat wajahnya. Wajah asing berkaca mata hitam dengan bibir tipis dan tahi lalat di dagu. Wajah yang sama sekali tidak dikenalnya. Meski polisi dan tenaga medis silih berganti masuk ke dalam kamarnya, tapi Nono tahu bahwa wanita ini bukan salah satu dari mereka.
Nono beringsut menjauh ke sisi ranjang. Alarm bahaya dalam tubuhnya berbunyi nyaring. Tidak, wanita ini tidak hendak menyelamatkannya. Karena bila dia keluar dari ruangan ini, itu sama saja mengantar nyawa. Dalam penjagaan polisi, dia aman lahir dan batin. Tapi bila melangkah keluar, dia tidak yakin masih bernapas sampai besok.
Wanita itu melepas infus dengan sekali tarik. Meski kesakitan, Nono menahan untuk tidak menjerit. Dia berusaha mencegah wanita itu untuk menarik selang lainnya, yaitu selang kateternya. Apalah daya, sekali hentak selang itu sudah terlepas. Nono yakin wajahnya merah padam menahan sakit, namun wanita itu tak peduli.
Di bawah tatapan dengan seringai yang membuat Nono bergidik, wanita itu menarik lengan Nono, memaksanya turun dari ranjang. Rasa sakit dari selang infus dan kateter yang dicabut seketika menguap. Wanita ini jauh dari sifat kewanitaan yang lemah lembut. Dia kasar dan cengkraman tangannya di lengan Nono serasa menusuk hingga ke tulang.
“Kau sudah bisa berjalan. Ayo!”
Nono berjalan menyeret kaki sembari menahan sakit, tentu saja karena kaki kanannya masih diperban dari telapak kaki hingga lutut. Ada dua patahan tulang di kaki kanannya, dan baru disambung dengan operasi. Belum lagi memar dan bengkak di sekujur badannya. Namun semua itu, bukan menjadi hal yang menumbuhkan belas kasihan bagi wanita asing yang tahu-tahu muncul dalam kamarnya.
Di luar kamar, Nono tidak mendapati satu pun polisi yang duduk untuk menjaganya. Bahkan tak satupun tenaga medis yang berseliweran di selasar. Selasar Rumah Sakit itu sunyi senyap, pahadal hari belum larut malam.
Wanita asing itu mencengkeram lengannya semakin kuat dan menyeretnya meninggalkan kamar, menyusuri selasar menuju lift.
“Habislah aku,” batin Nono sembari meringis dan menelan ludah berkali-kali.