16. Mawar Hitam

1377 Kata
Bu Maya yakin, dua orang dari PIC yang mendatangi rumahnya juga mencurigai bahwa kematian Pak Robi bisa jadi tidak berkaitan dengan pekerjaannya. RUU Anti Korupsi itu hanya sebagai kambing hitam mengingat akan banyak pejabat yang terlibas. Bu Maya masih yakin suaminya orang baik-baik. Siapapun Ajeng, nama wanita yang kini menyibukkan pikiran dan melemahkan hatinya--bisa jadi penyebab atau mungkin pelaku pembunuhan sebenarnya. Dan seorang bocah bernama Robi. Bu Maya menyimpan foto anak itu di laci kamar tidurnya. Dia harus menemukan semua jawaban dari rahasia yang selama ini disimpan suaminya. Dia memang tidak banyak tahu pekerjaan mendiang suami yang sangat dicintainya itu, selain setia mendampingi di acara-acara yang mengharuskan dia hadir sebagai pendamping Pak Robi. Baginya, mendukung apapun kegiatan suaminya adalah bagian dari membuktikan baktinya sebagai istri. Meski ada beberapa hal yang tidak disukainya. Yaitu anak-anak asuh Pak Robi. Bukannya tidak mendukung, tapi Bu Maya merasa tidak nyaman dengan anak-anak muda yang berseliweran di area rumahnya–dan semuanya laki-laki. Baginya, mereka tetap orang asing, meski setiap hari dia mengatur para pembantu untuk menyiapkan kebutuhan mereka. Dan Danu adalah anak asuh Pak Robi yang istimewa di mata suaminya. Paling pandai dan paling patuh dan sopan. Dan dia juga menjaga rahasia Pak Robi hingga nekad hengkang dari rumah yang selama ini menaunginya. Bu Maya meraih ponsel yang sejak tadi hanya diputar-putarnya di tangan. Di hari pertama setelah kematian suaminya, salah seorang kerabat memberinya nomor telepon seseorang. Dia hanya mengatakan, bahwa seseorang itu bisa membantu Bu Maya menyelesaikan semuanya, dengan imbalan sejumlah uang. Dalam suasana berduka, Bu Maya tak mengindahkannya. Dan sekarang, dia yakin kerabatnya itu tidak salah memberi nomor seseorang itu. Bu Maya membuka nomor kontak ponselnya dan mencari sebuah nama. Bokeh. Nama yang aneh, tapi tidak akan menjadi aneh lagi–kata kerabatnya, bila Bu Maya menyampaikan kesulitannya dan nama itu akan menyelesaikannya dalam waktu dan cara yang tak terduga. Asalkan berapapun yang dia minta tersedia. Bila teringat nama Ajeng dan Robi, darahnya serasa mendidih. Prasangka buruk berseliweran di dalam jiwanya, dan dia tak ingin hal itu menggerogotinya dan kemudian berhasil mengalahkannya. Tak ada yang bisa membantunya saat ini selain sebuah nama–Bokeh. Kerabatnya hanya menjanjikan bahwa seka “Kurasa si Bokeh ini bisa membantuku. Uang bukan masalah. Yang penting, harga diriku sebagai seorang istri Robi Cahyadi tidak akan jatuh, berserakan dan diinjak-injak semua orang di luar sana. Hanya karena wanita bernama Ajeng ini.” Setelah meyakinkan diri, Bu Maya mendial nomor itu. Dengan jantung berdegup kencang, dia memejam mata menunggu panggilan tersambung. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya, dia akan menggunakan uang untuk menghalalkan segala cara. “Halo?” Sebuah suara berat terdengar di seberang sambungan telepon. “Halo, apa benar ini dengan Bokeh?” Suara berat di seberang tertawa terkekeh. “Sudah kuduga Nyonya Robi akhirnya akan menelpon.” * Elly Manoa sudah masuk kantor, sebelum teman-temannya sempat menjenguk di rumahnya. Elly memaklumi, saking seringnya dia sakit sehingga teman-temannya mungkin sudah bosan menjenguknya. Namun sepertinya, dugaannya salah. Saat dia melangkah masuk menuju ruang kerjanya, semua orang tampak sibuk di depan komputer. Termasuk Dean dan Kapten Hanung yang berada dalam satu ruangan. “Selamat pagi …” sapa Elly. “Ah, Elly? Kau sudah masuk?” tanya Dean tak percaya, tapi juga tak mendekat untuk menyambut rekan kerjanya itu. Dia kembali menatap monitor di depannya, sedangkan Kapten Hanung berdiri di sebelah kanannya. “Ada ramalan lagi dari Keen365?” tanya Elly yang langsung bisa membaca situasi dengan cepat. Dia bergegas berdiri di sebelah kiri Dean, ikut-ikutan menatap monitor. Benar saja, Dean sedang membuka akun twitter milik PIC yang menggunakan nama samaran Pokidi. Entah Kapten Hanung mendapat ide dari mana bisa memunculkan nama Pokidi sejak pertama kali membuat akun twitter. Demi memburu Keen365. Tentu saja selama ini hanya menjadi silent reader, alias tidak pernah komen. “Foto apa itu?” tanya Elly heran. “Mawar hitam.” Dean menjawab tanpa menoleh pada Elly, meski hanya untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada rekan yang beberapa hari tidak masuk kerja. Gambar mawar hitam itu benar-benar menyedot perhatian Dean dan Kapten Hanung. “Tolong jelaskan padaku, kenapa Keen365 memposting foto mawar hitam?” tanya Elly yang mulai penasaran. “Sejak tadi, kami berusaha memahami, Elly,” jawab Kapten Hanung. “Gambar itu ribuan kata-kata. Sejak tweet ini muncul, tak ada yang bisa menafsirkan apapun.” “Mungkin dia iseng. Coba baca komentar di bawahnya.” Elly membantu Dean menggunakan mouse untuk membuka komentar di bawah tweet Keen365. Seperti biasa selalu ada dua kubu dalam setiap postingan Keen365. Pro dan kontra. Yang pro selalu berharap ramalan akan terjadi pada orang-orang jahat, para kriminal dan pejabat korup. Sedangkan yang kontra banyak memberi nasehat untuk tidak menyebarkan berita bohong agar tidak meresahkan masyarakat. Namun Keen365 tak pernah merespon komentar apapun. Aktivitasnya hanya tweet dan tweet. Bahkan dia tidak memfollow akun manapun, meski followernya sudah jutaan. Dan sudah pasti para penegak hukum menjadi followernya, meski para kriminal sudah pasti berada di folllower kubu pro. “Tidak ada komentar satupun yang mengarah ke petunjuk. Sebagaimana ramalan sebelumnya,” keluh Kapten Hanung. “Aku yakin ada, tinggal mencari satu per satu,” kilah Elly. “Biarkan anak IT yang melakukannya.” Kapten Hanung menunjuk keluar jendela kaca. Ke arah ruangan di sebelahnya, tempat beberapa orang menghadapi komputer tanpa saling bicara seperti mereka. “Sudah, dan mereka belum menemukan apapun. Bahkan lokasi tweet Keen365 tak pernah terlacak selama ini. Dia memang hebat, ya kan?” Dean terdiam. Lokasi Keen365 tak pernah terlacak selama ini. Itu hal yang mustahil mengingat di jaman sekarang, teknologi sudah lumayan mumpuni untuk melacak seseorang. Dean teringat pesan komandannya. Bahwa kepergian Dean ke jaman sekarang, dilengkapi dengan alat anti pelacak. Meski dia menggunakan perangkat teknologi di jaman sekarang, namun alat anti pelacak yang dibawanya dari masa depan, bisa mengacaukan pelacakan di jaman sekarang. Secanggih apapun alat yang digunakan. Jadi, selain Keen365, Dean juga tidak terlacak. “Kapten, kurasa itu jawaban atas semua masalah Keen365 yang belum pernah berhasil ditemukan orangnya. Kita tidak pernah bisa melacaknya. Sepertinya dia menggunakan alat untuk mengacau pelacakan.” Dean tidak yakin dua rekan kerjanya itu mengerti apa yang dia ucapkan, karena teknologi anti pelacakan masih baru dikembangkan di jaman sekarang. Di masa depan, hal itu sangat mudah bagi anggota kepolisian, apalagi mata-mata. Hanya menggunakan alat yang ditanam di badan, atau dari ponsel yang selalu dibawa ke mana-mana. “Hm, itu mungkin saja,” gumam Kapten Hanung. “Makanya, kita hanya bisa mencari dia melalui tweet yang dia posting. Aku yakin, suatu ketika dia akan melakukan kecerobohan dan itu adalah jalan bagi kita untuk menemukannya.” Terdengar ketukan di pintu, dan seraut wajah anak IT muncul. “Kapten, ada petunjuk.” “Katakan,” ucap Kapten Hanung tak sabar. “Ada yang meletakkan mawar hitam di makam Pak Robi. Beberapa netizen memposting foto makam Pak Robi dan mengaitkan mawar hitam itu dengan postingan Keen365.” “Sudah kuduga,” ucap Dean. “Pola ramalannya mulai melebar, tidak hanya kasus pembunuhan. Kurasa dia …” “Apa?” desak Kapten Hanung. Dean hendak membuka mulut, namun kemudian mengurungkannya. Masih terlalu dini mengatakan kalau Keen365 sama dengan dirinya. Berasal dari masa depan. Segala yang berasal dari masa depan untuk kembali ke masa lalu, pasti punya tujuan tersendiri–tergantung siapa pelaku perjalanan waktunya. Bagi Dean, perjalanan lintas waktunya adalah demi tugas negara. Sedangkan Keen365, apakah dia juga menjalankan tugas? Dia jelas bukan kriminal, tapi ramalannya memicu tindak kriminal. Dia juga bukan penegak hukum. “Dia anak muda yang mencari sensasi, perhatian.” Dean akhirnya menemukan kata yang tepat untuk Keen365. Keen365 pastilah remaja yang sedang mencari jati diri. Mendapati bahwa dia mendapat banyak pengakuan di dunia maya, pasti menimbulkan perasaan luar biasa dalam jiwanya. Rasa dihargai dan ditunggu-tunggu kemunculannya. “Itu sudah menjadi profil sejak lama,” tukas Kapten Hanung. Dean manyun. Analisanya bukan terlambat. Dia hanya berpura-pura, karena dia sedang menyamar di masa kini. Tak bisa mengatakan dengan lugas tentang masa depan, atau semua orang akan mendewakannya. Kapten Hanung menghempas badan di kursinya. “Elly, kau sudah siap bekerja full time?” Elly mengangguk. “Kalau begitu, berangkatlah bersama Dean ke makam Pak Robi. Aku yakin Keen365 baru saja datang ke makam Pak Robi. Cari info siapa saja yang datang ke sana. Dan pastikan pada petugas makam, sejak kapan bunga mawar hitam itu berada di sana. Sesudah atau sebelum tweet.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN