“Bagaimana pagi ini, sayang?”
Elly masih berbaring di tempat tidurnya ketika suaminya masuk ke dalam kamar sembari membawa segelas s**u. Sejak pulang dari Rumah Sakit, Barry belum mengijinkan Elly untuk beraktivitas di dalam rumah. Semua pekerjaan Barry yang melakukan, meski hanya mencuci baju di mesin cuci dan menyiapkan sarapan.
“Sudah mendingan, terima kasih.” Elly meraih segelas s**u dari Barry dan menenggaknya habis. Barry akan dengan senang hati meninggalkannya bekerja bila s**u di pagi hari sudah ditandaskan oleh Elly. Bila Elly tidak melakukannya, maka Barry akan menungguinya sampai habis.
“Kau bisa berangkat kerja, sekarang.” Elly mengembang senyum.
Barry menggeleng. “Aku mengambil cuti.”
“Cuti? Kenapa mengambil sekarang? Bukankah kita sepakat mengambil di akhir tahun untuk menjenguk …”
Barry menempelkan telunjuk di bibir Elly. “Ssst. Kau pikir aku percaya, bila aku berangkat kerja kau tidak akan menyentuh laptopmu, ponselmu dan berkas-berkas di kolong tempat tidurmu?”
Elly memanyunkan bibir. Sebagai wartawan, Barry bisa mengetahui hanya dengan lirikan mata, bahwa barang-barang yang disebutkannya tadi tidak berada di posisi yang sama lagi ketika dia pulang kerja. Elly sudah pasti tetap bekerja di rumah, meski dia mendapatkan cuti untuk istirahat total.
“Kau harus istirahat total sayang. Bila tidak, kita tidak akan bisa menjenguk adik tercinta yang selama kamu sakit sudah aku bohongi.”
Elly melenguh pelan. “Pantas saja dia tidak berkabar apapun. Padahal aku sudah rindu padanya.”
“Aku ingin kau istirahat total. Dua hari lagi baru siap bekerja. Kapten Hanung sudah memberikan ijin, karena dia tidak ingin kamu pingsan lagi untuk yang ke …” Barry menghitung dengan jemarinya. “Sepuluh? Atau sebelas kali?”
Elly memukul tangan suaminya. “Tidak sebanyak itu. Aku masih rajin minum obat.”
Barry tersenyum lalu mengacak-acak rambut istrinya. “Baiklah, pasien yang baik dan penurut. Jangan buat aku mengambil cuti terlalu lama, atau kita tidak bisa membeli obat untuk adikmu. Kau tahu editor baruku lebih galak dari sebelumnya. Sangat sulit menembus halaman depan, apalagi kasus Keen365 sudah membuat orang bosan.”
“Bosan?” tanya Elly tak percaya. “Di PIC semua orang sampai rela pingsan-pingsan seperti aku demi menemukan Keen365. Orang-orang sudah bosan?”
“Hei, jangan senewen,” tukas Barry. “Bosan atau tidak, bukan kita yang menentukan. Tapi kasus ini yang tak kunjung selesai. Sudah kubilang pada Kapten Hanung, tangkap si Jalal Bokeh maka urusan akan beres. Ramalan Keen365 mungkin akan terus berlanjut, tapi setidaknya Jalal Bokeh tidak akan menjadi penguasa eksekusi ramalan itu.”
Elly melipat tangan kesal. “Kau pikir mudah menangkap Jalal Bokeh hanya berdasarkan praduga, tanpa bukti kuat. Itu sama saja dengan bunuh diri. PIC bisa dibumihanguskan dalam semalam.”
“Aku yakin semua personnel PIC tidak sepengecut itu,” ucap Barry memberi semangat. “Kalian sudah punya Dean Parker. Agen bule dari langit itu.”
“Kenapa kau bilang Dean agen bule dari langit?”
“Bisa-bisanya dia memilih kamar tempat di mana tangan itu akan menggantung di jendelanya. Kalau bukan dari langit, dari mana dia turun tahu-tahu berada di kamar itu. Dan bertemu dengan kalian. Dan kemudian menjadi anggota kalian. Tidakkah kau lihat semua itu bukan kebetulan.”
Elly menyibak selimut dan memakai sandal.
“Kau mau ke mana?” cegah Barry.
“Mandi, keramas. Membersihkan kepalaku dari angan-angan konyol seperti kamu.”
*
Bukan tanpa alasan Barry memberi saran pada Kapten Hanung untuk menangkap Jalal Bokeh. Kriminal kelas hiu itu benar-benar keji dan mengerikan. Lebih dari kelas kakap. Pejabat dan penegak hukum bisa dibuatnya bungkam dengan kejahatan yang dilakukannya, meski itu terjadi tepat di depan hidung mereka.
Dan sampai sekarang, tak ada yang tahu bagaimana wajah Jalal Bokeh. Dia lihai menyamar, dan menyebarkan anak buahnya–juga dalam penyamaran. Tak ada yang bisa memprediksi berapa kaki tangan dan seberapa luas jaringannya. Yang jelas namanya tertanam di kepala setiap penegak hukum, seolah dia penguasa negara ini dari Sabang sampai Merauke.
“Sayang, kau tahu tidak waktu di Rumah Sakit, sebenarnya kau sangat dekat dengan Jalal Bokeh.”
Elly yang baru saja mandi menghentikan langkahnya hendak menjemur handuk. Barry sedang membuat nasi goreng untuk sarapan, dan sepertinya dia semakin piawai saja. Maklum, karena mereka berdua bekerja, tidak ada aturan di rumah mereka bahwa Elly yang harus memasak. Apalagi Barry lumayan pandai memasak, terutama nasi goreng.
“Kau bisa menangkapnya hanya dengan mengandalkan selang infus.”
Elly mendecih. Sepertinya suaminya sudah mulai jadi novelis daripada jurnalis. Mungkin itu profesi yang akan dijalankan bila tak bisa bekerja sama dengan baik dengan editor barunya. Menghayal.
“Kamu menghayal apa lagi, sayang?” Elly sudah berkacak pinggang di sebelah Barry.
“Anak buah Jalal Bokeh, di dirawat di sebelah kamarmu.”
Elly tertegun. Anak buah Jalal Bokeh? Apakah dia Nono yang telah melukai Dean?
“Nono?”
Barry mengangguk.
“Terus, apa yang kau lakukan? Mewawancarai dia?” tanya Elly sembari mencomot buah apel di meja dan mengupasnya.
Barry sudah selesai dengan nasi gorengnya, dan menghidangkannya untuk dia dan istrinya. Sementara Elly mengupas apel, Barry menyiapkan minuman dan obat-obat yang harus dikonsumsi Elly setiap hari. Elly hanya melirik wadah kecil beberapa butir obat yang disodorkan Barry.
“Mana bisa semudah itu. Polisi menjaganya siang dan malam. Tapi, mereka tidak tahu kalau teman-teman Nono, alias anak buah Bokeh lainnya, menjaga polisi yang menjaga Nono dua puluh empat jam.”
“Maksudnya?”
“Jalal Bokeh membenci kegagalan. Dia tak akan membuat Nono selamat, apalagi melenggang ke dalam bui. Bui adalah tempat suaka bagi anak buah Bokeh yang gagal menjalankan tugas. Jadi, beberapa teman Nono berusaha melindungi Nono dari Bokeh, dengan mengupayakan agar polisi selalu menjaga Nono. Sehingga anak buah Bokeh yang lain tidak bisa melukainya.”
Elly geleng-geleng kepala sembari menatap suaminya yang sudah mendahului sarapan. “Kau dapat info dari mana, menghayal lagi?”
Barry mendelik. “Hei, tidak ada urusan hayal menghayal di sini. Aku mendengar sendiri mereka saling berbisik dan memberi kode. Gerak tubuh dan skenario drama mereka luar biasa. Benar-benar rapi dan terorganisir. Bahkan aku yakin lebih rapi dari penegak hukum saat akan menangkap penjahat. Bahkan aku sempat berbincang panjang lebar dengan salah satu dari mereka. Kau tidak akan percaya, mereka bisa menyamar menjadi perawat atau perawat itu yang menyamar menjadi anak buah Bokeh. Semua benar-benar tidak bisa diprediksi dan dianalisa.”
Elly menjadi kehilangan selera makan. Barry memang wartawan yang sudah cukup lama meliput dunia kriminal. Kerja samanya dengan PIC benar-benar menempatkannya di posisi strategis untuk mendapatkan berita. Dari kedua belah pihak. Dan terlebih lagi, saat kondisi Elly sakit seperti saat ini, Barry kerap menggantikan tugas-tugasnya di PIC. Mengumpulkan informasi yang diperlukan Elly agar tugasnya tetap selesai meski dia sakit.
“Kau membahayakan dirimu, sayang,” keluh Elly. “Dan aku tidak mau terjadi hal buruk menimpamu. Kau sudah mengenali mereka saat menyamar. Kau dalam bahaya.”
Barry tertawa. “Tenang, aku kan punya istri anggota PIC.”
“Tapi penyakitan,” tukas Elly.
Barry menatap istrinya beberapa lama. Terbesit pikiran di kepalanya, tentang kondisi Elly yang sebenarnya tidak mendukung untuk tetap berada di PIC. Namun karena tekad kuatnya untuk menguak masa lalu, membuatnya tetap bertahan di PIC. Demi masa lalu yang seharusnya dikubur dalam-dalam, karena masa lalu itu yang membuatnya sering jatuh sakit.
“Sayang, kalau kamu mengundurkan diri bagaimana?”
Elly terdiam.
“Kita bisa membawa adikku ke sini. Aku yakin kalian berdua akan baik-baik saja bila bersama.”
Elly masih terdiam, memainkan sendok di atas nasi gorengnya. Bayangan kengerian di masa lalunya kembali terlintas, semakin lama semakin kuat dan begitu jelas di matanya. Tanpa sadar, dia memutar-mutar sendok di atas nasi goreng, makin lama makin cepat hingga membuat lobang di gunungan nasi goreng yang seharusnya menjadi sarapannya.
Barry menatap istrinya was-was. Mata Elly terfokus ke atas piring, yang nasinya sudah mulai keluar dari piring dan berserakan di atas meja.
“Elly, tatap aku!” perintah Barry. Satu-satunya cara untuk menghentak Elly dari kondisinya sekarang, adalah memutuskan fokus matanya.
Elly masih memutar sendoknya, makin lama makin cepat dan nasi di atas piring sudah semakin habis, berserakan di atas meja. Barry tak bisa menunggu lebih lama lagi, dia langsung berdiri dan menarik tangan istrinya hingga sendok itu terlepas dari tangan Elly.
“Hentikan Elly, tatap aku! Elly Manoa, tatap aku!”
Elly mendongak menatap suaminya. Satu detik, lalu memejam mata dan ambruk ke lantai.