Dean hanya bisa mengerut kening mendapat jawaban dari tim forensik. Bahwa tes DNA tidak perlu dilakukan karena korban ledakan mobil sudah jelas Pak Robi--anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Kamandanu, si Sopir Pribadi sudah memastikan, begitu juga dengan CCTV di beberapa titik.
"Sebegitu rumitkah birokrasi di negara ini?" tanya Dean sembari melempar ponselnya, kesal. Bahkan untuk pengembangan kasus Pak Robi, pihak kepolisian menutup diri. Apalagi bila mereka sampai mengetahui adanya kecurigaan PIC mengenai benang merah antara Pak Robi dan si Robi. Info penjualan manusia dari Panti Asuhan dan masalah RUU Anti Korupsi yang sedang diperjuangkan oleh Pak Robi.
"Ada orang-orang yang lebih berkuasa dari para pejabat," ucap Kapten Hanung melihat raut kecewa partner kerjanya dari Futuristic Biro itu.
"Siapa?" tanya Dean malas.
"Para kriminal. Mereka punya kuasa melebihi pemimpin negara ini."
"Katakan padaku, siapa mereka. Aku cari dan usut sampai tuntas."
Kapten Hanung menggeleng, lalu berjalan mondar mandir di belakang kursinya. "Tidak semudah itu. Semua ini ibarat lingkaran setan. Para musuh Pak Robi punya kepentingan, dan para kriminal punya kepentingan yang lebih dari sekedar harta. Mereka mengincar kekuasaan di atas kekuasaan."
Dean menghembus napas panjang. "Dengar Kapten, di masa depan orang-orang tidak akan lagi mempermasalahkan birokrasi. Ini seperti orang pingsan masuk UGD. Tidak hanya diperiksa apakah lambungnya kosong beberapa hari, tapi semua organ tubuhnya dicek. Jadi, jasad Pak Robi seharusnya sangat memungkinkan untuk dites DNA. Meski mereka tidak menemukan alasan untuk melakukannya."
Kapten Hanung meringis. "Andai aku masih hidup hingga masa depan itu tiba, pasti setiap hari pekerjaanku hanya duduk santai dan semua data datang ke depan hidung seperti memesan makanan."
Dean menelan ludah, nyaris saja keceplosan bicara bahwa dia berasal dari masa depan. Bahwa Kapten Hanung kelak di masa depan benar-benar hanya akan duduk santai karena menjadi Kepala Kepolisian yang sukses memecahkan banyak kasus. Mungkin itu bedanya, penegak hukum jaman sekarang dan masa depan.
Segala hal di masa depan serba digital, siapapun bisa mengakses asalkan mempunyai hak akses. Dan data pribadi setiap manusia adalah data pribadi lengkap, tidak hanya DNA. Tapi juga status kesehatan yang menjadi standar tes kesehatan di masa sekarang. Semua selalu terupdate di sistem terpusat negara.
Sedangkan masa sekarang, mereka harus berkeringat untuk mendapatkan data. Meredam emosi dan bahkan kerap mengeluarkan banyak uang untuk mencapai tujuan. Sungguh, ide Pak Robi dengan RUU Anti Korupsinya akan banyak memangkas jalur birokrasi yang mengandalkan uang untuk mendapatkan informasi.
“Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa dilakukan tes DNA pada Pak Robi dan Robi?” tanya Dean penuh harap. “Saat ini.”
Kapten Hanung menghela napas panjang, lalu menggenggam dagu dengan tangan kanan. Tangan kiri dimasukkan ke lipatan lengan tangan kanana. Gaya khasnya bila sedang berpikir keras. “Apakah kau yakin dengan yang kau lihat pada dua foto mereka?”
Dean mengangguk. “Sangat yakin.”
“Mata bisa menipu, kadang-kadang,” bantah Kapten Hanung.
Dean menggeleng. Dia sangat yakin dengan fitur di ponselnya. Sudah biasa dipakainya di masa depan untuk tidak hanya memindai foto, bahkan tubuh manusia. Dan fitur yang lebih lengkap bahkan bisa langsung mendapatkan DNA-nya. Tapi dia tidak bisa melakukannya di jaman sekarang, atau penyamarannya sebagai penyidik dari masa depan akan terbongkar. Dan hal itu bisa membuat kacau semuanya, sebagaimana Keen365 membuat kacau negara ini.
“Untuk membuktikannya, kita harus melakukan tes DNA. Itu sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan ke penyelidikan selanjutnya.”
“Baiklah kalau begitu,” sahut Kapten Hanung. “Kita bisa melakukannya tanpa melibatkan forensik asalkan …”
“Asalkan?” tanya Dean mendesak.
“Kita mendapat ijin keluarganya.”
*
“Ada keperluan apa lagi?”
“Dia dulu tidak seketus ini,” bisik Kapten Hanung ketika Bu Maya–istri mendiang Pak Robi baru masuk ke ruang tamu dan duduk dengan angkuh di hadapan dua lelaki di hadapannya dan mencetuskan kalimat tidak mengenakkan itu.
Penegak hukum jaman sekarang benar-benar berhati baja, batin Dean. Sembari memindai janda Pak Robi yang tentu saja masih cantik karena baru berusia tiga puluh tahun. Perawatan wajahnya pasti tidak murah, apalagi pakaian yang dikenakannya. Dia harus tampil istimewa mendampingi suaminya. Dan hal itu tidak bisa lagi dilakukannya.
Mungkin itu sebab sikap juteknya sekarang.
“Kami memerlukan beberapa keterangan, Bu.” Kapten Hanung masih berusaha bersikap sopan.
“Kan sudah semua kemarin? Sama si Danu kan?”
Kapten Hanung mengangguk. “Benar, Bu. Ada beberapa hal lagi yang harus kami pastikan. Jadi kami akan membawa Danu untuk diperiksa lebih intens lagi di kantor PIC?”
“Kenapa dia?” tanya Bu Maya dengan alis kanan terangkat. “Dia jadi tersangka?”
“Kami belum memutuskan sampai dengan semua data terkumpul lengkap.”
“Kalian mau data apalagi?” Suara Bu Maya mulai meninggi, membuat Dean melirik Kapten Hanung dan mengangguk. Sepertinya wanita di hadapan mereka akan sulit diajak bekerja sama. Jadi, sebaiknya dilakukan dengan cepat, atau waktu dan tenaga mereka akan habis menghadapi janda ketus.
“Kami hendak meminta persetujuan Bu Maya, untuk melakukan tes DNA terhadap Pak Robi.”
Alis mata wanita yang terangkat itu perlahan kembali rata dengan alis sebelahnya. Air mukanya berubah. “Tes DNA? Untuk apa? Apa … korban ledakan itu bukan suami saya?”
Kapten Hanung sedikit lega mendengar suara Bu Maya mulai melunak. Bahkan ada nada harapan di sana, bahwa kejadian itu menewaskan orang lain, bukan suaminya.
“Apa suami saya masih hidup? Lalu, siapa yang terbakar di mobil itu? Apa Danu tahu semuanya?”
“Bu Maya, mohon kendalikan emosi anda,” cegah Kapten Hanung agar wanita di hadapannya tidak berspekulasi lebih jauh lagi. Bagaimanapun juga, dia adalah orang terdekat yang sangat syok akibat kepergian mendadak suaminya secara mengenaskan. “Kami akan melakukan tes DNA pada Pak Robi, hanya untuk memastikan bahwa musibah yang dialami beliau tidak berkaitan dengan kecelakaan yang juga menewaskan orang lain.”
“Saya tidak mengerti.”
“Begini saja bu. Ijinkan kami mengambil sampel Pak Robi, yang mungkin masih tertinggal di rumah ini. Mungkin rambut di bantal atau di sisir. Kami berjanji akan menemukan pelaku pembunuhan Pak Robi. Kasus Keen365 sudah menjadi kasus yang biasa kami tangani, dan kasus Pak Robi–Bu Maya pasti sudah tahu–adalah salah satu kasus yang terjadi yang sama dengan ramalan Keen365.”
Bu Maya mendengus. Dia sama sekali tidak percaya pada ramalan di Twitter yang ramai dibicarakan oleh semua orang itu. Bahwa suaminya menjadi korban ramalan Keen365.
“Bagaimana, Bu Maya?”
“Baiklah, kalian bisa mengambil sampelnya. Kamar tidur belum dibereskan, pasti masih banyak rambut di bantal. Suami saya akhir-akhir ini mengalami kerontokan rambut cukup banyak, karena pekerjaan di dewan benar-benar membuat dia harus bekerja keras.”
Kapten Hanung dan Dean menarik napas lega. Kapten Hanung segera mendial ponselnya dan menghubungi Kantor PIC untuk mengambil sampel Pak Robi. Tidak usah melibatkan forensik, karena sudah pasti percuma. Mereka harus melakukannya sendiri, untuk membuktikan deduksi Dean, bahwa Pak Robi ada hubungan darah dengan Robi. Dan sebelum semuanya jelas, sebaiknya pihak keluarga tidak diberitahu terlebih dulu.
“Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu, Bu Maya. Kamandanu akan kami bawa.”
Bu Maya melipat tangan dan menegak punggung. “Dia sudah aku pecat.”
Dua lelaki di hadapannya terhenyak.
“Kenapa?” tanya Kapten Hanung spontan. “Eh, maksud kami … dia ada di mana sekarang?”
Bu Maya mengendik bahu, tampak tak peduli. “Dia tidak becus menjadi sopir pribadi suami saya. Sebagai sopir, seharusnya dia mendampingi majikannya apapun yang terjadi.”
Dean merasa ngeri mendengar alasan wanita cantik di hadapannya. Baginya yang berharga hanya nyawa suaminya. Nyawa orang lain lebih kayak dikorbankan. Dean mencolek lengan Kapten Hanung, mengajaknya untuk segera pergi dari rumah Pak Robi.
“Kecelakaan apa yang akan dikaitkan dengan suami saya?” tanya Bu Maya sebelum dua tamunya beranjak pergi.
“Oh, hanya seorang pemain bola pemula. Bukan orang penting,” tukas Dean sedikit menyindir. Dia juga tak hendak membuat wanita ini bertambah emosi bila sampai mengetahui praduga Dean, bahwa Robi adalah anak Pak Robi.
“Siapa namanya?” desak Bu Maya.
Kapten Hanung dan Dean saling bertatapan dua detik, lalu menoleh serempak pada Bu Maya. Wanita ini bukan wanita yang bisa dikelabui begitu saja, meski dalam suasana berduka. Dia sudah pasti curiga, bahwa tes DNA dilakukan tidak lain untuk mengetahui hubungan darah. Hal yang sangat umum di jaman sekarang.
“Kami akan kabari anda setelah mendapatkan hasilnya. Kami sendiri masih dalam proses penyidikan.” ucap Dean sembari membalik badan dan berlalu.