Bagi Kamandanu alias Danu dan beberapa anak asuh Pak Robi, kehilangan induk semang mereka benar-benar membuat hidup mereka berubah. Dan Danu memahami hal itu, karena keluarga besar Pak Robi sebagian besar ditopang hidupnya oleh Pak Robi.
Bu Maya, istri mendiang Pak Robi, hanya dalam hitungan hari tidak lagi menjadi Nyonya Robi yang manis dan selalu tersenyum. Semua orang memahami bahwa kasus pembunuhan Pak Robi cukup memberikan tekanan padanya. Maklum, dia kini yang harus menjadi orang tua tunggal dari dua anaknya yang masih kecil dan sepuluh anak asuh Pak Robi yang tinggal di rumahnya. Kini dia seolah menjelma menjadi wanita yang ketus dan sensitif.
“Danu, sini kamu.”
Danu hanya bisa mengangguk dan menurut ketika Bu Maya tiba-tiba muncul di paviliun. Paviliun adalah bagian rumah yang menjadi tempat tinggal anak-anak asuh Pak Robi, termasuk yang sudah bekerja ataupun masih disekolahkan oleh Pak Robi.
Selama ini, Bu Maya sangat jarang mengunjungi paviliun. Selain karena semua anak asuh Pak Robi laki-laki semua, dia juga tidak punya kepentingan dengan mereka. Tugasnya hanyalah membersamai kedua anaknya yang masih kecil.
“Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Danu sopan. Beberapa anak asuh lainnya yang semula duduk-duduk di ruang tamu paviliun sontak menghentikan obrolan. Rumor mengatakan bahwa istri mendiang Pak Robi akan mengusir mereka dari rumah ini, karena sejak awal Pak Robi-lah yang mendanai mereka dan istrinya tak pernah setuju. Jadi, lebih baik bersikap baik atau mereka akan didepak dari rumah yang menaungi mereka selama ini.
“Ikut aku.”
Danu mengikuti langkah Bu Maya menuju rumah induk. Bu Maya menuju ruang kerja Pak Robi. Semenjak menjadi anggota dewan, Pak Robi mempunyai ruang kerja sendiri di rumahnya. Ruangan itu cukup luas dan kerap dijadikan ruang rapat terbatas dari rekan-rekan sejawatnya di parlemen.
“Tutup pintunya!” Perintah Bu Maya ketika mereka berdua sudah memasuki ruang kerja dan Bu Maya duduk di kursi besar milik mendiang suaminya.
Danu merasa akan terjadi sesuatu padanya. Dia berharap, hidupnya setelah kepergian Pak Robi akan baik-baik saja. Bila Bu Maya memperlakukannya tidak baik, dia sebaiknya hengkang dari rumah ini. Meski harus terkatung-katung di luar sana. Tapi dia yakin, Bu Maya tidak akan melakukan apapun sampai dengan penyidikan polisi selesai. Atau segala tindak tanduknya akan menjadi catatan polisi dan PIC.
“Kamu lebih sering bersama suamiku daripada aku, ya kan?” Maya memulai pembicaraan dengan nada meninggi. Wanita ini sedang dibalut emosi. Danu yang berdiri di hadapan Bu Maya dengan meja kerja besar penghalang mereka hanya mengangguk.
“Tentunya kamu tahu semua yang dilakukan suamiku, termasuk segala hal di luar pekerjaannya sebagai anggota dewan. Sekarang, aku minta kamu katakan semuanya padaku. Sejujurnya. Atau, kau tidak lagi tinggal di sini.”
Danu menelan ludah. Dugaannya ternyata benar. Ancaman Maya tidak main-main, apalagi dilontarkan dalam keadaan emosi seperti ini.
“Saya akan berikan informasi apapun yang Bu Maya inginkan. Sepanjang saya mengetahuinya.”
Bu Maya mendengus. “Sudah pasti kamu tahu. Katakan, siapa Ajeng Kurniawati.”
Danu mengernyit kening. Dia tak pernah mendengar nama itu.
“Siapa dia?”
Danu menggeleng. “Saya tidak mengenalnya, Bu.”
Bu Maya mengeluarkan secarik kertas dari laci, lalu melemparkannya ke atas meja. “Tidak ada nama itu di nama semua anggota dewan dan staf ahli. Juga di semua daftar kolega perusahaan suamiku. Juga tidak ada nama di daftar pengurus para pendukung suamiku. Jadi, kamu pasti tahu siapa dia.”
Danu menggeleng. “Mungkin kalau ada fotonya, saya bisa tahu Bu. Masalahnya, banyak nama yang saya tidak tahu nama lengkapnya. Mungkin Pak Robi menyebutnya dengan Bu Ajeng, Bu Kurnia, Bu Wati atau nama lainnya.”
“Dia menyebutnya dengan Ajeng Cintaku!”
Danu terkesiap. Beberapa detik dia menatap Bu Maya yang mendelik ke arahnya dengan hidung kembang kempis. Wanita ini terbakar emosi dan cemburu. Siapa Ajeng Cintaku, dan bagaimana Bu Maya bisa tahu?
Rupanya Bu Maya mengetahui pertanyaan di benak Danu. Dia lalu mengeluarkan sebuah ponsel lawas dari laci. Ponsel tit tut Danu menyebutnya. Dia tak pernah melihat ponsel itu sebelumnya.
“Hanya ada satu nama di ponsel itu, Ajeng,” ucap Bu Maya dengan suara melengking. Danu yakin, suara itu menembus dinding ruang kerja ini dan para pembantu di luar sana memilih untuk menyingkir. “Katakan, siapa selingkuhan suamiku?”
Danu tersentak. Selama dia bersama Pak Robi tak pernah sekalipun majikan sekaligus induk semangnya itu berbuat nista seperti itu. Dia sangat menyayangi keluarganya. Setiap pergi dan pulang kerja, tak pernah mampir ke manapun kecuali untuk urusan kedewanan. Dan Danu tahu dengan siapa saja Pak Robi makan siang dan makan malam. Karena dia yang selalu mengantarnya ke manapun bahkan ikut diajak makan bersama.
“Bu Maya jangan berpikiran seperti itu. Pak Robi mustahil melakukannya,” bela Danu. “Saya tahu sendiri, Pak Robi tak pernah bersama wanita lain di luar sana. Saya selalu mengantar beliau ke setiap pertemuan.”
Bu Maya mendengus kasar. Hilang sudah image wanita berkelas yang selama ini ditampilkannya. Kecemburuan telah membakar semuanya.
“Kau jangan bohong, Danu. Berapa suamiku membayarmu untuk tutup mulut?”
“Saya bersumpah, Bu. Pak Robi tidak seperti yang Bu Maya bayangkan. Beliau orang baik dan sangat memperhatikan Bu Maya dan anak-anak.”
Bu Maya bangkit dari duduknya, mendekati Danu dan menatapnya dengan penuh intimidasi.
“Kau benar-benar pelindung setianya, ya kan? Apa yang ditawarkan suamiku padamu sehingga kau bisa merahasiakan semua ini dariku? Apa tidak cukup selama ini kau makan dan hidup menumpang gratis di rumahku?”
Danu terhenyak. Tak pernah dia mendengar kata-kata sekeji itu, meski dia tahu Bu Maya tak pernah setuju bila suaminya selalu menambah anak asuh setiap tahun. Wanita ini telah melukai hatinya hanya dengan lisannya yang tajam.
Danu mundur selangkah demi selangkah. Dia tidak ingin menodai rasa hormatnya pada mendiang Pak Robi yang sudah menyekolahkannya dan memberinya pekerjaan selama ini. Hanya karena kecemburuan tak beralasan, wanita ini telah menghancurkan semua kebaikan suaminya dalam sekejap.
“Bila demikian kehendak Bu Maya, saya akan pergi dari rumah ini. Terima kasih atas semua kebaikan Bu Maya selama ini. Semoga Tuhan membalasnya.”
Danu membalik badan, membuka pintu dan menutupnya dengan suara mendebam.
“Danuuu! Kembali kau ke sini! Aku belum selesai!” teriak Bu Maya histeris. Dia benar-benar putus asa, menyadari bahwa dia tidak bisa mengendalikan semuanya setelah suaminya pergi selama-lamanya.
Kalau saja dia tidak mencoba merapikan laci suaminya, berniat hendak menyelesaikan urusan yang mungkin belum terselesaikan semasa hidup suaminya–dia tidak akan menemukan sebuah amplop bertuliskan Ajeng Cintaku. Juga sebuah ponsel lawas yang tersembunyi di laci paling bawah, tertutup dengan kertas-kertas. Ponsel itu masih penuh baterainya, dan panggilan keluar terakhir dilakukan sepekan yang lalu. Hanya pada Ajeng, satu-satunya nomor yang berada di ponsel itu.
Dan sebelum memanggil Danu ke ruangannya tadi, Maya mencoba mendial nomor itu. Berharap menemukan jawaban. Namun sayang, suara yang keluar adalah suara operator provider yang mengatakan kalau nomor yang dituju sudah tidak terdaftar.
Suaminya telah berselingkuh, itu sudah pasti. Kalau tidak, mustahil dia menyembunyikan ponsel dengan nama Ajeng begitu rapih, dan menjadikannya sebagai sebuah rahasia.
Bu Maya menghempas badannya kembali di kursi kerja suaminya. Membuka laci dan meraih sebuah amplop bertuliskan Ajeng Cintaku. Tulisan Ajeng Cintaku adalah tulisan tangan suaminya. Dadanya terasa perih seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Antara percaya dan tidak, dia terpaksa harus mencari tahu siapa wanita yang namanya tertulis di amplop tanpa alamat pengirim ini.
Segala upaya akan dilakukannya demi menemukan kebenaran dari rahasia suaminya. Tak rela harga dirinya sebagai seorang istri yang selama ini mendampingi Pak Robi, dihinakan oleh seorang wanita yang disimpan oleh suaminya.
Dan satu-satunya harapannya hanya pada Danu. Pemuda yang baru saja mengusir dirinya sendiri dari rumahnya, gara-gara kemarahannya. Sebetik penyesalan muncul di benak wanita yang kini berstatus janda itu, tapi dia mengingkarinya. Batinnya menjeritkan rasa sakit hati dan putus asa, semua karena sebab Danu telah merahasiakan semua rahasia mendiang suaminya.
Maya membuka amplop tersebut dan menatap foto berukuran postcard yang berada di dalamnya. Foto seorang anak berusia sekitar lima tahun, mengenakan baju Taman Kanak-Kanak. Tidak ada identitas nama sekolahnya. Sepertinya, sebuah foto kelulusan.
Di bawah foto itu tertulis nama dengan spidol : Robi