12. Foto Robi

1338 Kata
Dean yakin, ini bukan hanya sekedar nama yang sama. Robi Cahyadi dan Robi Suryadi. Dean sangat paham, bahwa di Indonesia nama belakang tidak selalu menunjukkan nama keluarga. Tidak semudah di negaranya, apalagi di masa depan–untuk menentukan hubungan antara dua orang. Dan tidak mudah pula untuk mengganti nama keluarga hanya berdasarkan keinginan. “Kau yakin kematian mereka berdua berhubungan?” tanya Kapten Hanung dalam perjalanan pulang. Mereka baru saja terbebas dari kemacetan di ruas jalan rumah Pak Robi. Mendiang anggota dewan itu benar-benar lelaki yang patut dikenang kebaikannya. Yang datang melayat tidak hanya dari kalangan pejabat, tapi juga masyarakat kelas bawah. Dia benar-benar anggota dewan yang merakyat. “Saya tidak banyak tahu urusan persepakbolaan,” jawab Dean. “Yang jelas, dari beberapa rekaman kamera, kematian Robi si pemain sepak bola, murni unsur kecelakaan. Kejadian tak terduga hingga menyebabkan pemain tewas hanya karena tendangan seperti itu, kerap terjadi di lapangan. Kita harus melibatkan banyak ahli untuk menyatakan bahwa peristiwa di rumput hijau itu adalah kesengajaan. Kalau kasus Pak Robi sudah jelas.” “Mereka terkoneksi karena takdir?” tanya Kapten Hanung yang dijawab dengan bahu Dean yang terangkat sebentar. Tak ada yang bisa mengetahui takdir setiap orang akan berakhir di mana. “Bisa jadi demikian. Tapi kita sedang membicarakan ramalan Keen365, Kapten. Dan tugas kita menangkapnya. Apa Kapten tidak penasaran dengan profilnya? Maksudku selama ini dia men-tweet ramalan dan dampak globalnya bisa dirasakan semua orang. Apakah dia tak peduli dengan itu semua, atau dia memang sengaja melakukannya?” “Entahlah,” ucap Kapten Hanung sembari mengendus pelan. Mereka berdua sudah sampai di Kantor PIC. Suami Elly sudah ada di sana, tampaknya dia sudah menunggu cukup lama, bahkan sudah hendak meninggalkan kantor karena harus segera kembali ke Rumah Sakit. “Bagaimana kondisi Elly?” tanya Kapten Hanung. “Kami belum sempat menjenguknya.” “Sudah lebih baik,” sahut Barry. Mereka bertiga pun memasuki ruangan Kapten Hanung. Barry tak ikut duduk bersama kedua orang rekan istrinya itu. Dia hanya berdiri sembari mengeluarkan buku catatannya. “Bagaimana hasilnya di Panti Asuhan?” tanya Kapten Hanung. Rupanya Kapten Hanung menugasi Barry untuk mencari informasi di Panti Asuhan tempat Robi si pemain bola tinggal selama ini. Sebenarnya, itu tugas Elly Manoa. Namun karena Elly sedang sakit, Barry menawarkan diri untuk mengerjakan tugas istrinya. Dia sendiri punya kepentingan untuk mendapatkan berita untuk koran tempatnya bekerja. “Anda tidak akan percaya, Kapten. Robi adalah korban trafficking.” “Apa?” Kapten Hanung dan Dean terkejut. “Di Panti Asuhan?” tanya Kapten Hanung tak percaya. “Bukan. Sebelumnya dia menjadi anak jalanan, terlantar ke sana ke mari. Lalu terdampar di Panti Asuhan. Berdasarkan informasi pengasuh di sana, Robi mengaku kalau dia diculik. Dan dia tidak ingat lagi di mana keluarganya tinggal. Sepertinya dia mengalami trauma berat. Ada beberapa rekam medis menunjukkan dia mengalami penyiksaan, mungkin selama dalam penculikan. Dia berhasil kabur dari penculiknya.” Dean geleng-geleng tak percaya. Di masa depani, dia memang kerap membaca adanya perdagangan anak manusia di jaman sekarang. Dan Robi si bintang bola yang masih muda itu harus mengalaminya. Sayang sekali hidupnya harus berakhir tragis, jadi dia tak bisa banyak membantu untuk mengungkap siapa penculiknya. “Apa tidak pernah ada laporan tentang Robi ke polisi, dari Panti Asuhan?” “Sudah pernah dilaporkan. Bahkan diumumkan sebagai anak hilang yang ditemukan. Tapi tak pernah ada yang mengakui dia sebagai keluarga. Apalagi banyak hal yang dia tidak bisa mengingat dengan baik. Bahkan namanya sendiri.” “Jadi, Robi bukan namanya?” tanya Dean. “Nama depannya Robi,” jawab Barry. “Tapi nama belakang disematkan oleh pengasuh Panti Asuhan, untuk membedakan dengan nama anak lain yang sama.” Dean sudah bisa menduga sejak awal, nama belakang bukan menunjukkan nama keluarga. Di negeri ini, orang bisa punya nama sangat panjang tanpa menyematkan nama keluarga. “Kasus ini akan semakin melebar bila kita gali,” ucap Kapten Hanung sembari mengusap dagu, menandakan dia sedang berpikir keras. “Menurutmu bagaimana Tuan Dean?” Dean mengangguk. “Anda benar. Kita harus fokus pada Keen365, atau kita tak akan bisa menemukannya. Kita serahkan saja pada polisi untuk kasus Si Robi kecil ini. Human Traficking itu bukan kasus yang sederhana, akan melibatkan banyak kepentingan politis. Dan itu jelas akan menghambat wewenang PIC.” Barry mengangguk setuju. “Baiklah, kalau begitu tugasku selesai sampai di sini. Aku akan menjemput Elly. Dia pulang dari Rumah Sakit hari ini.” “Kami akan menjenguk Elly di rumah kalian, ya kan Kapten?” Dean mengangguk ke arah Kapten Hanung. Dan Kapten Hanung mengiyakan. Sebelum meninggalkan kantor PIC, Barry menyerahkan sebuah map pada Dean. “Ini foto-foto Robi dan kasus yang menimpanya. Aku yakin lebih berguna di sini daripada aku serahkan pada polisi. Mereka sudah menangani kasus jual beli manusia, tapi tak pernah berhasil menangkap pelakunya.” Dean meringis. Bukankah PIC juga demikian? Sudah lima puluh lebih kasus ramalan Keen365, namun tak satupun petunjuk yang mengarah pada pelakunya. Dean berharap, Kapten Hanung mampu bertahan dan tidak menyerah sampai mereka berhasil menemukan Keen365 dan menghentikan ramalannya. Karena bagaimanapun juga, sebuah kejadian akan lebih baik terjadi begitu saja tanpa ada manusia yang tahu sebelumnya. * Dean melemparkan map dari Barry ke tempat tidur. Malam ini dia hendak merebahkan diri sampai pagi karena besok sudah akhir pekan. Meski Keen365 tidak punya akhir pekan dalam ramalannya, tapi setidaknya Kantor PIC bisa libur bila Keen365 tidak mentweet apapun. Setelah mandi dan berganti dengan pakaian tidur, Dean pun menyalakan ponselnya dan meletakkan di sebelahnya. Ponselnya lalu menampilkan layar hologram dengan banyak menu. Dean melirik menu yang biasa dia gunakan untuk mengirim laporan ke komandannya, mengenai progres pekerjaannya. Namun dia ingin menundanya hingga besok pagi. “Sekarang saatnya istirahat,” gumam Dean, lalu memilih tombol berlogo musik di hologram. Sejurus kemudian, mengalun musik Instrumental yang suaranya memenuhi ruangan. Musik pengantar tidur bagi Dean. Dean meraih map dari Barry. Mengeluarkan beberapa foto dari dari dalamnya. Seharusnya dia membaca buku atau menonton film dari layar hologram ponselnya hingga terlelap–namun kali ini dia ingin menutup harinya dengan menatap foto-foto Robi. Bagaimanapun, tewas seperti si Robi kecil bukanlah kematian yang diinginkan siapapun. Dia masih muda dan punya masa depan sangat panjang. Apalagi, masa mengerikan dalam hidupnya telah membuat dia mengalami trauma mendalam. Dean mengamati foto-foto saat Robi pertama kali ditemukan. Banyak luka lebam di muka dan sekujur tubuhnya, Anak ini pasti mengalami perjuangan luar biasa untuk bisa kabur dari penculiknya. Dan foto terakhir adalah foto saat dia mengenakan seragam pertandingannya. Panti Asuhan tempat dia tinggal, telah merawatnya dengan sangat baik. Robi, anak muda yang cukup tampan dan … Dean mengernyit kening. Merasa menemukan sesuatu yang membuat lelahnya seketika menguap. “Sebentar, sepertinya …” Dean memilih beberapa menu di ponselnya. Ponsel miliknya tentu saja jauh lebih lengkap dari pada ponsel yang dimiliki manusia di jaman sekarang. Segala informasi yang berada di dalamnya adalah informasi masa depan, masa sekarang dan masa lalu yang terekam begitu detil. Dean yakin, bisa menemukan jawabannya di sana. Dia menampilkan foto Pak Robi dalam balutan jas–fotonya saat menjadi anggota dewan. Dan menjajarkannya dengan foto Robi kecil di tangannya. “Please, jangan katakan kalau wajah mereka mirip,” pinta Robi pada ponselnya. “Pindai foto ini sekarang.” Tidak butuh waktu lama, ponselnya memindai foto Robi kecil dan menyandingkannya dengan foto Pak Robi. “Tingkat kemiripan delapan puluh persen.” Suara dari ponselnya tidak mengejutkan bagi Dean. Dengan sepasang matanya saja, dua gambar ini terlihat mirip. Apalagi dengan pose foto resmi menghadap kamera–tanpa ekspresi wajah. Dean yakin, Pak Robi ingin bertemu Robi kecil, bukan untuk mengambilnya sebagai anak asuh. Lelaki itu pasti mengetahui kemiripan anak ini dengan dirinya. “Semoga masih bisa,” batin Dean, lalu mendial nomor Kapten Hanung. Suara sambungan telepon di seberang sana, menandakan lelaki itu masih belum terlelap meski jam sudah menunjukkan tengah malam. “Ada apa? Ramalan baru?” Suara Kapten Hanung terdengar sedikit kesal. Dia tentu berharap tidak akan ada ramalan baru lagi yang akan membuat akhir pekannya menjadi jam kerja PIC. “Apa kita bisa melakukan tes DNA untuk Pak Robi dan Robi kecil?” tanya Dean antusias.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN