11. Hanya Pemuda Biasa

1373 Kata
`Halaman depan rumah Pak Robi dipenuhi karangan bunga. Tentunya semua dengan rangkaian kata ucapan berbelasungkawa. Arus pelayat tak kunjung berhenti mengucap belasungkawa pada keluarga Pak Robi yang semuanya mengenakan pakaian serba hitam tanda berduka. Dean dan Kapten Hanung terpaksa memasuki halaman luas rumah Pak Robi yang dipenuhi para pelayat–dengan berjalan kaki, meninggalkan mobil PIC yang diparkir agak jauh dari rumah Pak Robi. Kemacetan sempat terjadi di ruas jalan menuju rumah Pak Robi, sampai Kapten Hanung nyaris kesulitan mencari tempat untuk memarkir mobil. Saking banyaknya pelayat, mereka pun diperlakukan seperti pelayat yang lain oleh security Pak Robi. Diarahkan menuju ruang tamu, tempat keluarga besar Pak Robi menyambut tamu. “Kita akan mengucapkan ucapan duka pada keluarga Pak Robi?” bisik Dean pada Kapten Hanung yang langsung disambut dengan gelengan kepala. Melihat penuh sesaknya pelayat, mereka berdua tak ingin berdesak-desakan hanya untuk menyalami keluarga yang berduka. “Menghabiskan waktu. Mereka sudah mendapat banyak bunga duka. Kita hanya perlu bertemu Danu–sopirnya.” Kapten Hanung mendekati salah seorang security dan menunjukkan lencana PIC sembari menyampaikan tujuan kedatangannya. Security itu mengangguk, lalu mengarahkan Kapten Hanung dan Dean menuju ke paviliun di sebelah kiri pos security. Di paviliun itu, ada beberapa orang yang tampaknya keluarga Pak Robi yang tidak bertugas menyambut tamu. Mereka langsung berdiri ketika security menyampaikan bahwa ada penyidik dari PIC yang ingin bertemu dengan Danu. Kapten Hanung dan Dean pun diarahkan masuk ke dalam paviliun. Dean mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan, mendapati bahwa paviliun-nya saja sudah layak dianggap sebagai rumah. Pak Robi adalah anggota dewan yang kaya raya. Bahkan kabarnya dia menampung anak-anak terlantar di rumah ini–mungkin di bagian belakang rumah besarnya. Belum lagi, para pemuda putus sekolah seperti halnya Danu–yang kemudian dipekerjakan sebagai sopir pribadi. Kamandanu, alias Danu muncul tak berapa lama setelah Kapten Hanung dan Dean mendapatkan masing-masing secangkir kopi. Ekspresi duka masih kelihatan jelas di wajahnya. Setelah saling berjabat tangan, Kapten Hanung meminta kerabat dan security untuk membiarkan mereka bertiga di dalam ruangan. “Kami ingin meminta beberapa keterangan,” ucap Kapten Hanung mengawali pembicaraan. “Saya sudah memberikan semua keterangan di Kantor Polisi kemarin,” sahut Danu setelah menghela napas panjang. Tampak dia masih belum bisa melepaskan rasa dukanya atas kematian majikannya. “Pak Danu orang yang baik,” ucap Kapten Hanung. “Kami bertekad menemukan siapa pelaku peledakan mobil yang menewaskan beliau. Jadi, kami memerlukan lebih banyak lagi keterangan tentang beliau. Berhubung anda adalah orang terdekatnya, di hari terakhirnya, kami membutuhkan keterangan yang lebih banyak lagi dari anda. Sekali lagi, Pak Danu orang baik. Karena itu, kami berada di sini.” Danu mengangguk. “Anda tidak perlu mengatakannya, Kapten. Semua orang di sini bahkan tukang sampah dan petugas parkir lima kilometer dari sini akan mengatakan hal yang sama. Sungguh keji orang yang telah membuat mobilnya meledak dan membakar Pak Danu.” Hening beberapa saat. Kapten Hanung membiarkan Danu menyusut sudut matanya. Pemuda ini tampak biasa aja, bukan pemuda istimewa. Tapi dia mendapat kepercayaan menjadi sopir pribadi bahkan bisa disebut sebagai asisten pribadi–pastinya dia bukan pemuda biasa seperti yang tampak pada penampilannya. Namun dalam kasus kematian majikannya, mau tak mau dia bisa dianggap sebagai tersangka. Meski hasil penyidikan awal tidak menunjukkan bukti yang mengarah ke sana. “Anda sudah lama bersama Pak Robi?” tanya Dean. Danu mengangguk. “Hampir lima tahun.” “Sejak sebelum beliau menjadi anggota dewan?” “Ya, persisnya saya tidak ingat. Yang jelas, saya sempat ikut membantu masa kampanye Pak Robi. Bersama anak-anak lain di sini. Pak Robi berhasil menjadi anggota Dewan, benar-benar sukses yang luar biasa. Mengingat dia tidak punya pengalaman politik sebelumnya. Dia hanya seorang pengusaha.” Dean mengangguk. Bahasa Danu bukan bahasa seorang sopir yang tidak tamat sekolah, tapi bahasa asisten pribadi. Dia pasti setidaknya tahu siapa saja musuh Pak Robi, bahkan bisa jadi musuh dalam selimutnya. “Dia akan mencalonkan diri lagi untuk pemilihan berikutnya?” tanya Dean kembali, tak melepaskan tatapan matanya dari Danu. Mengamati setiap gerak geriknya dengan detail. Terkadang bahasa tubuh bisa menceritakan segalanya daripada bahasa lisan. Danu kembali mengangguk. “Benar, pak. SEbelum masa jabatan yang sekarang berakhir, beliau sedang berjuang untuk meloloskan RUU Anti Korupsi. Dan beliau memang berkeinginan untuk mencalonkan kembali di pemilihan berikutnya, Semua keluarga sudah mendukung.” Kapten Hanung menulis di buku catatannya. “Kamandanu. Hasil dari penyelidikan sementara, bom yang digunakan oleh pelaku sama dengan bom di hotel beberapa waktu yang lalu. Anda tahu kejadian di hotel itu? Lokasinya tidak jauh dari sini.” Kapten Hanung melirik Dean, dan Dean mengangguk setuju. Sebaiknya mereka tidak usah bertele-tele soal penyelidikan kasus Keen365. “Iya, saya tahu. Tentang ramalan Keen365 itu kan?” sahut Danu, wajahnya mulai tampak serius. “Dan kejadian yang menimpa Pak Robi, juga sama dengan ramalan Keen365, kan?” Dean dan Kapten Hanung mengangguk serempak. Mereka sudah sama-sama klik, jadi akan semakin mudah melanjutkan penyelidikan. “Lupakan soal ramalan orang gila itu,” tukas Kapten Hanung. Bagaimanapun sebagai seorang penyidik, dia tidak bisa mendasarkan penyelidikan berdasarkan ramalan. Meski hal itulah yang mendasari tugas-tugas yang diemban PIC selama ini, Menangkap Keen365 si pencetus ramalan yang menyebabkan banyak kekacauan. “Sebagai sopir pribadi, apakah anda tahu kalau Pak Robi pernah berurusan dengan penjahat?” Danu mengernyit kening. “Maksudnya?” “RUU yang sedang dikawal Pak Robi, pasti akan menyasar banyak penjahat korupsi. Mereka pasti merasa terancam. Adakah ancaman pada Pak Robi belakangan ini?” Danu diam sejenak, lalu menggeleng. “Tidak ada, Pak. Pak Robi tidak pernah berurusan dengan kriminal. Bahkan dicopet pun tidak pernah. Pak Robi orang baik, tak ada yang tega melakukan kejahatan padanya, kecuali yang satu ini. Benar-benar keji.” Kapten Hanung dan Dean kembali saling melirik. Ya, Pak Robi orang baik. Lalu kenapa ada yang berniat membunuhnya? Pasti ada yang pernah sakit hati, sehingga nekad meledakkan mobilnya. “Saat kejadian, kenapa anda keluar dari mobil?” tanya Dean dengan tatapan penuh selidik. “Tas Pak Robi ketinggalan. Jadi saya disuruh beliau untuk mengambil di podium.” Dean terdiam. Sungguh detik-detik yang menyelamatkan, bila Danu memang tidak tahu menahu soal bom itu. Panitia mengatakan, ada seorang peserta yang mengirim hadiah untuk Pak Robi. Sudah pasti itu adalah bom yang meledakkan mobilnya. Jadi, siapapun yang mengirim bom, bisa jadi tidak tahu mobil Pak Robi yang mana. Bila Danu yang melakukannya, mudah saja bagi dia untuk menanam bom di mobil dan alibi dia keluar dari mobil akan semakin memberatkan. “Kami akan meminta keterangan dari semua orang di rumah ini,” ucap Kapten Hanung. “Beberapa petugas dari PIC akan datang tidak lama lagi, minta tolong anda kabari pada keluarga Pak Robi.” Danu mengangguk. “Kami ingin pelakunya ditangkap, Pak.” “Asalkan kami bisa mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya, semua akan mengerucut pada pelaku,” janji Kapten Hanung sambil menjulurkan tangan, menyalami Danu dan bersiap berdiri. “Oh iya, ada satu hal lagi yang belakangan ini kerap disebut-sebut oleh Pak Robi. Dan saya agak terkejut ketika membaca beritanya tadi pagi.” “Apa itu?” Kapten Hanung dan Dean mengurungkan niat meninggalkan ruangan. “Tentang pertandingan bola di hari yang sama saat Pak Robi terbunuh.” Dean dan Kapten Hanung terkesiap. “Teruskan.” “Pak Robi sangat ingin menghadiri pertandingan itu, sayangnya tidak bisa. Katanya dia ingin mengenal salah seorang pemainnya. Sudah lama dia mencari-cari pemain itu. Namanya Robi. dan baru tadi saya baca berita, anak itu tewas saat pertandingan.” Dean menaikkan sebelah alis. Ini baru benang merah. “Ada hubungan apa Pak Robi dengan Robi?” Danu mengendik bahu. “Saya kurang tahu. Tapi beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat foto anak itu di bangku belakang mobil. Sepertinya Pak Danu tidak sengaja meninggalkannya di sana. Saya tidak curiga, karena Pak Danu kerap mengambil anak asuh yang putus sekolah untuk kemudian dibiayai. Saya yakin, anak itu akan diambil anak asuh karena dia berbakat main bola.” Dean menoleh ke arah Kapten Hanung yang mengangguk ke arahnya. “Apa hanya foto anak itu?” “Tidak, ada beberapa foto. Saya yakin itu adalah foto anak-anak yang akan diambil sebagai anak asuh. Kadang-kadang Pak Danu bekerja sama dengan Panti Asuhan.” “Di mana foto-foto itu sekarang?” tanya Dean bersemangat. “Pak Danu selalu menyimpannya di kopernya. Dan koper itu … ada di dalam mobil yang meledak itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN