10. Sebuah Petunjuk

1259 Kata
Kapten Hanung menatap layar handphone. Kedua matanya mulai terasa perih karena sejak tadi memelototi layar handphone-nya. Kali ini dia kecolongan kembali, dengan jumlah dua kali lipat. Kasus ke-52 Keen365 memakan dua korban dan terjadi di dua tempat yang berbeda. Sebenarnya tidak tepat dikatakan bila Keen365 memakan korban, tapi opini yang ada di PIC, Keen365 adalah kriminal yang menyebabkan kematian banyak orang selama ini. Sudah 52 kasus dan semuanya tak terpecahkan. Hanya merujuk pada satu tersangka, yang dikambinghitamkan, yaitu Keen365. Jika saja tidak pernah ada ramalan di twitter, tidak akan ada berbagai dampak yang akan terjadi. Mau tak mau, manusia selalu ingin tahu tentang masa depan. Dan Keen365 telah memuaskan rasa penasaran itu dengan memberikan ramalan yang selalu terbukti terjadi. Sial, maki Kapten Hanung dalam hati. Tidak ada yang bisa dilakukannya selama ini, dan dia tetap menyandang sebagai Kapten PIC yang tidak becus memecahkan masalah Keen365. Laporan ke kantor PIC baru masuk pukul satu siang, atau dua jam setelah kejadian berlangsung. Tidak banyak yang bisa diperoleh di tempat kejadian perkara selain rangka mobil sedan yang telah hangus dilalap api. Jasad Pak Robi sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Tenaga kesehatan yang masih tertinggal disana mengatakan tubuh Pak Robi sudah tidak bisa dikenali alias hangus ikut dilalap api juga. Garis polisi melingkari area parkir, membuat suasana masih menegangkan karena aroma pasca ledakan masih menyengat. Dean sudah sampai di tempat kejadian perkara. “Bagaimana di stadion?” Kapten Hanung langsung bertanya. Dean menjawab dengan gelengan kepala. “Pertandingan sudah dihentikan. Korban sudah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan. Keluarga menolak untuk dilakukan otopsi pada jasadnya,” jelas Dean mengabarkan kepada Kapten Hanung. “Lebih tepatnya panti asuhan. Dia tinggal di sana.” Dean kemudian termenung sambil memperhatikan bangkai mobil di hadapannya. Ramalan yang ini benar, sesuai dengan yang pernah ia ketahui dari atasannya di masa depan. Berarti memang ada dua kejadian untuk kasus ke-52. Atau tepatnya memang berurutan, kasus ke-52 dan ke-53. Tapi kasus ke-53 merupakan kejadian lain dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian hari ini. Dan kasus di stadion bisa dianggap bukan kasus Keen365. Namun Dean belum berani memastikannya. Dean mengeluh dalam hati. Dia merasa sangat gagal untuk hari ini. “Namanya Robi Cahyadi, anggota parlemen muda, umur 35 tahun.” Salah satu detektif berseragam polisi memberitahukan informasi korban kepada Kapten Hanung. “Oke, aku tunggu hasil otopsinya,” respon Kapten Hanung singkat, sambil menggeser beberapa bongkahan bodi mobil yang terlempar akibat ledakan bom siang tadi. “Robi?” Dean menyahut seketika. “Ya, Robi Cahyadi, bukankah itu yang kau dengar?” Kapten Hanung bertanya penasaran. “Ah iya, Kapten.” “Ada masalah dengan nama Robi?” Kapten Hanung kali ini bertanya mulai serius kepada Dean, dengan rasa curiga bahwa Dean mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya. “Ah tidak, aku hanya merasa ada yang aneh, Kapten. Korban di stadion tadi juga bernama Robi. Robi Suryadi.” Kapten Hanung terbelalak. Matanya melotot memandang Dean. Keduanya bertatapan seakan menemukan sebuah pangkal petunjuk dari kejadian hari ini, namun masih belum mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Kalau begitu segera kumpulkan data keduanya. Lengkap! Mulai dari yang paling sepele hingga kematian mereka hari ini.” “Siap!” Seluruh anggota detektif menjawab dengan tegas dan semangat. Sorot mata mereka kali ini penuh dengan optimisme. Pasti ada informasi yang diperoleh dari kejadian ini. Dua korban, dua tempat yang berbeda, tapi memiliki nama panggilan yang sama. Robi. * Isak tangis Merlin tidak berhenti melihat sahabat karibnya sudah tak bernyawa. Sesekali terdiam dan tampak kebingungan. Siapa nanti yang akan menemaninya untuk bercerita dan bermain esok hari –sebelumnya adalah Robi yang menjadi teman bermain satu-satunya. Beberapa anak lain di Panti Asuhan juga ikut menangis, beberapa malah teriak histeris, termasuk Bunda Ida. Rasa tidak percaya masih melingkupi mereka semua. Baru tadi pagi mereka melihat Robi pergi dengan bangga menuju turnamen impiannya, maka sore ini dia kembali dengan kondisi sudah tinggal jasad dan nama. “Yang sabar Ibu. Yang sabar,” Beberapa tetangga coba menenangkan Bunda Ida. Sosoknya memang merupakan ibu bagi semua anak angkat di panti ini. Walaupun bukan anak kandungnya, namun Bunda Ida menganggap semua anak disana adalah anaknya sendiri. “Ya Tuhan, Robi,” isak tangis Bunda Ida semakin pecah. Wajahnya sudah tak karuan, karena berkali-kali mengusap air mata yang tak henti-henti membasahi pipinya.. Beberapa orang berbaju rapi tampak di teras panti asuhan sedang mempersiapkan perangkat pemakaman. Sore ini jasad Robi akan dikebumikan di pemakaman yang terletak tidak jauh dari panti asuhan. Proses pemakaman tidak berlangsung lama. Setelah dimandikan, jasad Robi segera dibungkus kain kafan dan dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bunda Ida tidak ikut ketika pemakaman sedang berlangsung. Fisiknya melemah setelah menangis tiada henti sejak jasad tiba di panti asuhan. Merlin ikut ke pemakaman untuk melihat teman dekatnya terakhir kali sebelum masuk ke liang lahat. Sesekali sesenggukannya tidak tertahankan meratapi kepergian Robi. “Turut berduka cita, Manoa,” seorang wanita berbaju hitam tiba tiba berbicara pada Merlin ketika proses pemakaman selesai dan semua orang beranjak untuk kembali pulang. Merlin tidak pernah mengenal wanita itu sebelumnya. Belum pernah Merlin melihat wanita pirang berkaca mata hitam di daerah sekitar panti asuhan yang ia tinggal. Merlin pun tidak menjawab perkataan wanita tersebut. “Manoa? Kenapa dia memanggilku seperti itu?” Merlin masih bingung dengan sapaan orang misterius tersebut. Wanita tersebut segera berlalu di kerumunan orang. Sesaat Merlin kehilangan jejaknya. * “Robi Suryadi, dia adalah anak yatim di salah satu panti asuhan. Orang tuanya meninggal dua tahun lalu dalam sebuah kecelakaan.” Dean melaporkan hasil temuannya kepada Kapten Hanung. “Panti asuhan mana, Tuan?” “Panti Asuhan Mentari, daerah Banten,” jawab Dean singkat. “Oke, bagaimana dengan Bapak Robi Cahyadi?” “Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh dari biodata anggota parlemen. Berasal dari Bandung dan memiliki 1 orang kakak. Namun, kakaknya tewas akibat diserang orang tidak dikenal ketika pemilihan anggota dewan dilaksanakan. Bapak Robi sebenarnya menjadi target. Namun, dia selamat saat penyerangan dilakukan. Sumber lain menyebutkan kelompok mafia ibukota menjadi dalang dalam penyerangan tersebut ” “Ah, ini sedikit rumit,” respon singkat Kapten Hanung setelah mendengar penjelasan panjang dari Dean. Ia melepas topi hitamnya dan mulai menyugar rambut sambil menggaruk kepalanya. Kasus ini semakin kompleks. Dean pun mencukupkan penjelasannya. Hanya informasi tersebut yang dia peroleh dari berkas yang ada di PIC. Namun, ada satu informasi yang disimpan –informasi dari masa depan tentang kejadian bom yang menimpa Bapak Robi, karena kasus ini sama dengan apa yang ia pelajari di masa depan. Dean diam diam coba mengambil data kasus bom di hotel kemarin. Mencoba mencari hubungan antara keduanya. Informasi yang disembunyikan olehnya adalah jenis bom yang digunakan. Walaupun ia masih belum tahu pasti jenis bom yang digunakan pada kedua kasus tersebut, tapi informasi di masa depan mengatakan keduanya adalah sama. Dean membaca dengan seksama hasil penyelidikan terhadap Mimi, istri artis yang menjadi korban bom sebelumnya. Mencoba untuk mencari informasi terkait jenis bom yang digunakan. “Ini hasil wawancara dengan Danu, sopir pribadi Bapak Robi, Kapten,” salah seorang anggota detektif memberikan setumpuk dokumen hasil wawancara penyelidikan. “Baik, terima kasih. Bisakah kau memeriksanya, Tuan Dean?” “Tentu,” dengan segera Dean mengambil setumpuk kertas tersebut dan membawa ke mejanya. Dengan teliti dia membaca hasil wawancara tersebut. Kata kunci yang dia cari adalah “bom”. Satu-satunya hal yang ia tahu menjadi penghubung antara kasus ke-52 dengan ke-51 Keen365. “Yes, aku menemukannya. Tidak salah lagi,” gumam Dean. Dia telah menemukan benang merah dua kasus ini, dalam waktu kurang dari satu jam. Semua kasus ini bermula pada orang yang sama, dan bisa jadi dia adalah Keen365 yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN