9. Ramalan Ke-52

1221 Kata
Pertandingan memasuki menit ke tujuh puluh lima. Skor masih berimbang untuk kedua tim yang bertanding. Nafas pemain kedua tim mulai terengah-engah, lari mereka pun tidak secepat yang mereka bisa lakukan di babak pertama. Kelelahan mulai tampak di wajah tiap pemain, namun keinginan untuk memenangkan pertandingan membuat mereka melempar jauh kelelahan. Mereka harus menunjukkan, siapa yang layak jadi pemenang pertandingan kali ini. Roni merangsek masuk dari sisi kiri lapangan. Kali ini dia mencoba untuk mengirim umpan ke bagian tengah, daerah di depan gawang lawan. Pandangannya mengarah kepada Robi yang juga berlari menuju daerah depan gawang. Seorang pemain belakang jangkung mengawalnya dengan ketat, menutup ruang Robi untuk menerima bola dan mencetak gol. Roni memperhatikan sekitar. Kali ini pasti bisa menjadi gol, gumamnya. Dia memiliki ruang cukup untuk melakukan passing ke Robi. “Passing melengkung ke daerah penalti lawan oleh Roni, sepertinya mengarah kepada Robi yang bersiap menyundul bola. Dan ini dia pemirsa …” Lompatan Robi sangat tinggi, melebihi tinggi pemain jangkung yang menjaganya. Itulah salah satu alasan dia menjadi penyerang dengan kelihaiannya menyundul bola dan berduel udara. Bola sudah berada di depan kepalanya. Namun, sesaat tampak tangan kiper yang mencoba untuk meninju bola, menjauhkannya dari Robi yang sudah mengudara. “Gol, gol, gol! Inilah dia pemirsa sekalian, gol yang kita tunggu pada pertandingan ini.” Suara komentator menggema di udara, meski suaranya nyaris kalah oleh sorak sorai penonton. Tentu saja kehebohan komentator ini hanya bisa didengar di layar televisi yang menyiarkan pertandingan secara langsung. Di tengah lapangan, Roni bersorak, begitu pula rekan setimnya. Suporter tim Bintang Kejora tidak ikut ketinggalan menyambut riuh gol yang mereka tunggu dengan memukul drum lebih kencang sambil menyanyikan lagu dukungan mereka. Namun, situasi berbeda terjadi di daerah pinalti tim lawan, tempat Robi menyundul bola. Beberapa pemain mengerubungi. Tampak pemain jangkung yang menjaga Robi sebelumnya mencoba memanggil wasit untuk menunjukkan sesuatu. Roni yang melihat hal tersebut segera awas. Dia berlari mendekati kerumunan pemain. Dia sejatinya merasa aneh ketika merayakan gol tersebut, dimana Robi yang mencetak gol tidak ikut merayakan bersama mereka di pinggir lapangan. “Apa yang terjadi?” Roni terkejut dan berteriak memanggil wasit. Wasit langsung sigap membunyikan peluitnya sambil memberikan kode kepada tenaga medis untuk segera datang. Cairan merah bercucuran jatuh ke rumput yang hijau. Robi tidak bergerak sama sekali. Posisi badannya telungkup ke tanah, tidak ada yang berani untuk membaliknya. Tim medis segera bergegas, darah yang mengalir dari kepalanya semakin banyak. Dean, yang sedari tadi bernegosiasi dengan official pertandingan di pinggir lapangan, ikut masuk menuju kerumunan pemain. Kali ini dia sudah yakin, ini adalah pertandingan yang ada dalam ramalan Keen365. Dia berlari dengan kesal akibat official pertandingan yang bersikeras melanjutkan pertandingan, meskipun Dean sudah menjelaskan semua hal, termasuk status dirinya yang menjadi bagian dari PIC. “Bagaimana kondisinya?” Dean bertanya kepada tim medis. Tim medis yang telah melakukan check up kondisi vital Robi tidak menjawab pertanyaan Dean. Dia hanya menggelengkan kepalanya di hadapan semua orang yang sedang berkumpul. Tinjuan kiper yang terlambat hingga mengenai kepala Robi merupakan detail tragedi ramalan ke-52 dari Keen365. Riuh pikuk penonton serta anggota tim Bintang Kejora berujung duka. Isak tangis pemain dan kepala yang menunduk tanda duka mengisi suasana sore itu. Pertandingan dihentikan. Robi telah tewas di rumput hijau. * Matahari mulai meninggi. Beberapa aktivis mulai menggoyangkan telapak tangannya. Beberapa mengambil selembar kertas untuk dikibas. Angin sedang tidak mengalir di depan Monas, walaupun daerah tersebut merupakan tanah lapang. “Sekian dan terima kasih. Merdeka!” Penutup dari Pak Robi disambut dengan tepuk tangan seluruh aktivis, tidak terkecuali beberapa anggota parlemen lain beserta jajaran pemerintahan yang hadir. Semangat mereka yang hadir tidak berkurang sedikitpun walau keringat bercucuran di dahi serta membasahi baju mereka. “Terima kasih banyak, Pak Robi,” sambut salah satu panitia acara. “Sama sama. Saya langsung pamit ya, Pak.” Pak Robi langsung pamit. Agenda selanjutnya adalah rapat paripurna para Dewan Perwakilan Rakyat. Anggota parlemen lain juga langsung berpamitan. Siang hari ini akan berlangsung rapat pengesahan undang-undang anti korupsi, salah satu “karya” terbesar para aktivis yang dimotori oleh Pak Robi di parlemen. Pak Robi segera masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Sopir setia membukakan pintu sambil memberikan senyuman lebarnya. Dia adalah Danu, seorang lulusan SMA pinggir kota yang juga merupakan salah satu anggota aktivis anti korupsi. Danu adalah anak asuh Pak Robi, dan diberi pekerjaan sebagai sopir pribadi. Segala aktivitas majikannya, Danu selalu tahu. Dia sudah seperti asisten pribadi bagi Pak Robi. Pak Robi mempekerjakan Danu karena sudah dianggap seperti kerabatnya sendiri. “Kita segera berangkat ya, Pak?” tanya Danu dengan sopan. “Tentu, rapat akan dimulai tiga puluh menit lagi. Kita harus datang sebelum waktunya,” jawab Pak Robi tenang. Dia merasa lega sudah menyelesaikan tugasnya. Kini saatnya melanjutkan tugas yang lebih penting. “Tadi ada seorang pemuda memberikan paket untuk Pak Robi. Katanya sebagai ucapan terima kasih untuk kehadiran pagi ini.” Pak Robi hanya tersenyum. Mungkin hadiah dari panitia, pikirnya. Danu segera menuju kursi sopir. Masuk dan kemudian menghidupkan mesin. Asap hitam mengepul keluar dari knalpot. “Danu! Tunggu sebentar,” seru Pak Robi seketika. “Sepertinya tas kecilku tertinggal di podium. Bisakah kau mengambilnya?” Pak Robi menyadari ada yang kurang dari barang bawaannya. Danu sigap tanpa menjawab, langsung keluar mobil dan menuju ke podium, meninggalkan mobil yang mesinnya terus menyala. Sembari menunggu Danu yang mengambil tas kecilnya, Pak Robi coba membuka bungkusan yang ada di bangku sebelah. Sebuah tas hitam yang mengkilat, dengan tulisan Robi Kusnadi tertempel di bagian depan bungkusan. Perlahan Pak Robi membuka bungkusan tersebut secara perlahan. Beberapa bagian sudah terbuka, tampak sebuah kotak hitam terbuat dari plastik. Beberapa kabel tampak melilit kotak tersebut. Pak Robi tercengang. Cahaya led merah muncul di permukaan kotak tersebut. Terpampang angka yang terus berkurang, sepertinya menunjukkan waktu yang mundur. Tangannya bergetar dan seketika melepaskan paket tersebut dari genggamannya. Waktu tersisa 5 detik. Pak Robi segera menggapai pintu mobilnya, mencoba keluar. Namun, kunci otomatis sudah terkunci. Satu-satunya jalan keluar adalah dari pintu sopir. * “Permisi Pak, apakah ada tas kecil hitam tertinggal di podium?” Danu bertanya kepada salah satu panitia. “Oh ada, Mas. Sebentar saya ambilkan. Punya Pak Robi ya?” Danu berusaha mengatur napas, karena dia terpaksa berlari dari tempat parkir menuju podium yang belum dibereskan panitia. Tiga puluh menit bisa jadi tidak cukup untuk sampai di gedung tempat Pak Robi akan mengikuti rapat penetapan RUU Korupsi yang sedang diperjuangkannya. Tepat saat panitia menghulurkan tas ke arahnya dan dia menoleh hendak mengucapkan terima kasih, sebuah ledakan mengagetkan semua orang. Suaranya dari area parkit. Asap mengepul dari salah satu mobil akibat bara api yang semakin besar. Teriakan para pengunjung Monas juga terdengar. Seluruh penjaga keamanan segera bergegas mengamankan area. Beberapa lainnya tampak menghubungi kantor pusat untuk meminta bantuan. Danu pun juga ikut terkejut. Dia langsung menuju ke tempat parkir, tanpa memperdulikan lagi tas hitam yang harus dibawanya dari podium. Pandangannya langsung mengarah ke titik api. Benar saja, sesuai dugaannya, mobil hitam Pak Robi meledak, membumihanguskan segala sesuatu yang ada di dalamnya. * Tweet baru muncul dari akun Keen365. Bukan ramalan ke-53. “Seketika aku teringat mimpiku dua hari lalu. Pemain sepak bola hanya salah satu dari dua pahlawan yang gugur hari itu. Sorakan hiruk pikuk bahagia, berubah menjadi isak tangis duka.” “Badannya hangus tidak bersisa, bersama mobil hitam yang ditakuti para penjahat negara yang rakus uang, yang saat ini tertawa melihat lawan mereka berhasil dikalahkan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN