“Penonton sekalian, sambut dengan tepuk tangan meriah, Tim Bintang Kejora!”
Riuh penonton terdengar di seluruh stadion diiringi tepuk tangan dan alunan drum bersanding dengan teriakan terompet ketika tim Bintang Kejora masuk ke dalam lapangan untuk melakukan pemanasan. Keramaian khas suporter Indonesia. Ribuan pasang mata hadir menyaksikan pertandingan final kejuaraan nasional kelompok usia di bawah 18 tahun.
Tidak hanya dari kelompok masyarakat, beberapa tim pencari bakat dan pelatih tim nasional ikut menyaksikan pertandingan tersebut. Maklum, beberapa waktu lagi akan dilaksanakan kejuaraan dunia sepakbola di Indonesia, dan kompetisi ini akan menjadi ajang seleksi para putra terbaik bangsa untuk masuk ke dalam tim nasional.
“Penontonnya banyak sekali, Rob,” ujar Roni kepada kawan setimnya, Robi.
“Iya, Ron. Ini pertandingan yang paling ditunggu tahun ini, sebelum pertandingan piala dunia digelar,” jawab Robi dengan tenang
“Ah, mungkin nanti aku yang menjadi penonton melihatmu dari pinggir lapangan, Rob. Kau pasti akan masuk ke tim nasional.”
Robi hanya membalas dengan senyuman. Wajar saja Roni mengatakan hal itu, karena Robi adalah salah satu tumpuan timnya dan menjadi calon pemain terbaik turnamen. Anak perantauan dari kampung yang dikenal “ajaib” dalam menggocek bola dan membuat gol ke gawang lawan. Ia pun berharap dirinya akan dipanggil tim nasional untuk pertama kalinya dengan performa apik yang ditunjukkan sepanjang turnamen.
Peluit panjang berbunyi nyaring.
“Semua berkumpul dan perhatikan pelatih memberikan arahan!”
Mas Joko, asisten pelatih tim Bintang Kejora meminta para pemain berkumpul setelah melakukan pemanasan. Sosok tua berkumis tebal dengan kulit putih mulai masuk ke dalam barisan lingkaran pemain. Ia melepas topi hitamnya dan merapikan rambutnya sejenak.
“Kalian siap?”
“Yes, Sir!”
Mr. Adams, dia adalah pelatih tim ini. Namanya sempat dikenal pada periode 80-an saat membela salah satu tim besar di kasta tertinggi Liga Inggris. Namanya sempat mendunia sebelum akhirnya diterpa cedera parah di usia yang sangat muda, dua puluh dua tahun. Karirnya setelah itu adalah melatih berbagai tim muda, hingga akhirnya menjadi pelatih Tim Bintang Kejora sejak dua tahun terakhir.
“Many audiences, a big stadium, and a big pride! Don’t make a mistake, kesalahan kecil akan dibayar mahal di pertandingan ini!”
Sorakan heroik membakar semangat anak asuhnya yang masih muda. Sesekali kata dalam bahasa Indonesia ia ujarkan. Lewat matanya yang menatap para pemain, semua tahu bahwa Ia teringat masa emas usia mudanya dulu di Inggris.
“Yes, Sir!” Jawab para pemain dengan semangat, termasuk Robi dan Roni.
“Oke, let's do it!”
Mr. Adams mengajak para pemain dan seluruh official tim melakukan yel-yel sebelum pertandingan dimulai. Robi sebagai kapten memimpin yel-yel, dijawab dengan lantang dan penuh semangat oleh lainnya. Setelah yel-yel, riuhan penonton dari pendukung tim Bintang Kejora bergemuruh.
Di sisi lapangan lainnya, tim Bulan Sabit juga meneriakkan yel-yel mereka dipimpin oleh sang Kapten, Rido. Riuhan penonton juga mengikuti yel-yel mereka dengan meriah. Pertandingan final akan memasuki babak pertama. Tidak ada yang tahu siapa yang akan keluar jadi pemenang. Pun, tidak ada yang tahu hal buruk bisa terjadi bagi siapa saja, seperti isi tweet Keen365.
*
Dean dan Barry menunggu di ruang tunggu sementara dokter memeriksa kondisi Elly. PIC sudah bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit, jadi pasien kiriman PIC akan langsung ditangani tanpa direpotkan dengan urusan administrasi. Tidak seperti pasien umum lainnya.
Sementara menunggu, Dean yang penasaran dengan penyakit Elly, perlahan mencoba mengorek keterangan dari Barry. Lelaki itu tidak lagi sibuk dengan ponselnya, menghubungi beberapa rekan kerjanya untuk menggantikan tugasnya sementara.
“Kurasa Elly punya penyakit serius, tidak mungkin dia pingsan begitu saja.” Dean mencoba membuka pembicaraan tanpa bermaksud menyinggung perasaan suami Elly.
Barry mendesah panjang. “Kau benar. Dia menjalani terapi dan mengkonsumsi obat setiap hari. Aku yakin beberapa hari ini dia lupa minum obatnya, gara-gara ramalan Keen365 yang sangat menyibukkan negara.”
Dean menarik sudut bibirnya. Tidak ada yang tidak disibukkan oleh Keen365. Tidak hanya PIC, tapi seluruh masyarakat yang bakal terdampak, baik itu sosial maupun ekonomi.
“Apa dia sakit sejak munculnya ramalan Keen365?” tanya Dean menyelidik.
Barry menggeleng. “Sebelum itu. Sejak ayah dan ibunya meninggal. Masalahnya, mereka tidak meninggal seperti biasanya para orang tua meninggal. Sakit jantung, diabetes atau penyakit orang tua lainnya. Mereka meninggal cukup tragis. Dan hal itu mempengaruhi Elly, Dia …”
Seorang perawat dan dokter keluar dari Ruang Tindakan. Barry bergegas mendekatinya.
“Bagaimana kondisi Elly, Dok?”
Barry bertanya dengan wajah penuh cemas. Sudah lebih dari lima belas menit dokter memeriksa kondisi Elly sejak tiba di Unit Gawat Darurat rumah sakit.
“Tidak perlu terlalu khawatir. Kondisinya memang sangat buruk. Tensi darahnya sangat rendah. Namun dengan perawatan dan tindakan dari tim dokter, kondisinya akan segera membaik.”
Dokter menjawab dengan tenang sembari tersenyum untuk menenangkan Barry.
“Syukurlah,” sahut Barry singkat. Dean yang menemani di samping Barry ikut lega. Dokter langsung berlalu untuk melanjutkan tugasnya. Barry dan Dean kembali duduk di ruang tunggu sambil menunggu kabar selanjutnya dari tim dokter.
Ponsel Barry berbunyi. Ia mengangkatnya, dan ternyata seorang perempuan yang terhubung di ujung telepon.
“Halo, Kak Barry. Aku tidak bisa menghubungi Kak Elly. Apakah kau tahu di mana dia sekarang?”
Barry diam sejenak, kemudian menarik napas dan menjawab pertanyaan perempuan muda tersebut.
“Ah aku tidak tahu pastinya. Aku sedang meliput, jadi aku tidak bisa menemui kakakmu. Tapi sepertinya Elly sedang kelelahan akibat bekerja terlalu larut. Mungkin dia sedang istirahat.”
Hembusan napas panjang terdengar di ujung telepon.
“Baiklah. Kalau kau berjumpa dengannya, tolong kabari aku ya, Kak!”
“Tentu,” sahut Barry singkat dan langsung menutup teleponnya.
“Siapa yang menelepon?” Dean langsung bertanya kepada Barry. Dia jelas menjadi saksi atas kebohongan yang dilakukan Barry terhadap orang yang berada di ujung telepon.
“Adik Elly, Merlin. Dia menelepon dari panti asuhan tempat dia dirawat.”
“Kenapa kau berbohong pada adik Elly?” Dean bertanya dengan nada sedikit naik.
Barry tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang terlebih dahulu, dan kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang berlapiskan keramik yang dingin.
“Dia menderita penyakit mental. Elly pun demikian. Namun, adiknya mengalami hal yang lebih parah, sehingga emosinya harus selalu terjaga.”
Dean yang awalnya agak marah kepada Barry, perlahan tenang dan memahami maksud Barry berbohong kepada Merlin.
“Elly pun berpesan kepadaku seperti itu.”
Dean tidak memperpanjang pembicaraan. Kasus yang menimpa kedua orang tua Elly jelas menjadi penyebab penderitaan yang diterimanya dan adiknya saat ini. Barry sempat bercerita sekilas perihal meninggalnya kedua orang tua Elly yang cukup tragis, meninggalkan trauma yang mendalam bagi Elly/
Tidak lama, salah satu anggota tim dokter menginformasikan Elly sudah sadar dan akan dipindahkan ke kamar perawatan. Syukurlah. Dean langsung menatap jam yang ada di sisi rumah sakit. Dia bergegas untuk berangkat ke stadion. Melihat situasi Elly yang membaik, dia menitipkan sisa pekerjaan di rumah sakit kepada Barry. Barry pun tidak masalah dengan hal tersebut.
Segera Dean menuju halaman rumah sakit dan mencari ojek. Akan lebih cepat daripada berjalan kaki ke stadion, pikirnya. Dia lalu mencegat tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari rumah sakit.
“Mau kemana, Tuan?”
“Gelora Bung Karno. Segera ya!”
“Oke, Tuan.” Tukang ojek langsung menghidupkan motor dan memacunya dengan kencang melewati jalanan yang basah akibat hujan deras semalam. Tiupan angin yang berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, tidak peduli sedingin apa, Dean harus segera sampai ke stadion sebelum pertandingan babak kedua dimulai. Semoga pertaruhannya kali ini membuahkan hasil. Karena dari sekian banyak pertandingan, Ia masih belum mengetahui mana pertandingan yang akan berujung tragedi seperti yang dituliskan di tweet Keen365. Ia pun masih tidak habis pikir kasus kali ini akan berbeda dari apa yang dia baca sebelum dikirim ke masa lalu. Sampai saat ini juga belum ada panggilan masuk dari atasannya.
Kasus ke-52 harusnya adalah tragedi penembakan anggota parlemen di halaman Monas.
*
“Selamat pagi para hadirin sekalian. Untuk mengawali kegiatan, marilah kita dengarkan sambutan dari Bapak Robi selaku perwakilan anggota parlemen Jakarta.”
Tepuk tangan hadirin menyambut Bapak Robi yang akan memberikan sambutan. Hari itu adalah pelaksanaan hari ulang tahun salah satu komunitas anti korupsi di Jakarta. Halaman Monas menjadi tempat acara itu berlangsung. Tidak terlalu banyak hadirin yang datang, sekitar 50 orang.
Bapak Robi sendiri adalah pejuang anti korupsi di parlemen yang dikenal tegas dan berani menyuarakan seruan anti korupsi kepada pemerintah. Riwayat hidupnya bersih dari kasus korupsi. Bahkan, dia justru berjasa mengungkap beberapa kasus korupsi besar di pemerintahan Jakarta. Termasuk, kasus yang diduga ada keterlibatan Pak Walikota di dalamnya.
Suasana pagi itu adem ayem, namun semangat para aktivis membara menyambut Bapak Robi di podium. Kopiah hitam menjadi ciri khas beliau, dengan kacamata berlensa bundar menghiasi matanya.