“Boleh aku pinjam sebentar handphonemu, El?”
“Silahkan,” Dean segera menggapai handphone Elly yang disodorkan wanita itu ke arahnya dan melihat kembali tweet yang pernah dikeluarkan oleh Keen365. Dia masih tidak percaya kalau kasus ke-52 akan berbeda dengan apa yang pernah dipelajarinya sebelum dikirim ke masa sekarang.
Sebenarnya Dean bisa memakai ponselnya, hanya saja karena tweet kali ini sepertinya mencurigakan, dia harus memastikan dengan menggunakan ponsel jaman sekarang. Bisa jadi ponsel miliknya mengalami error sehingga tidak terkoneksi dengan internet jaman sekarang–meski setiap hari dia memastikan bahwa semua perangkat yang dibawanya dari masa depan dalam kondisi bisa berfungsi dengan baik.
Benar saja, hanya kasus ke-52 yang berbeda, entah kasus selanjutnya akan berbeda juga atau tidak. Seketika ruang penyelidikan langsung tegang. Elly coba menghubungi Barry kembali untuk membicarakan tweet yang baru muncul itu, sementara Dean coba mengambil surat kabar dan mencari informasi tentang pertandingan bola yang dilaksanakan pada hari itu.
“Ada dua puluh pertandingan sepak bola hari ini di seluruh Indonesia, dan hanya tiga pertandingan saja yang digelar di Jakarta,” gumam Dean. Kondisi tersebut membuatnya kebingungan. Bagaimana caranya menemukan pertandingan yang akan terjadi tragedi kematian seperti prediksi Keen365.
Dean kembali melihat koran. Dia terpikirkan sesuatu. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan dalam waktu yang tidak banyak. Semua pertandingan hari ini harus dibatalkan, segera!
Dean segera mengambil yellow pages dan mencari nomor kontak kantor asosiasi sepakbola.
“Apa yang hendak kau lakukan?” Elly penasaran dengan gerak-gerik Dean.
“Semua pertandingan harus segera dibatalkan, El. Hanya hal tersebut yang dapat membatalkan prediksi Keen365.”
“Mustahil,” belum selesai Elly berbicara,dia terbatuk-batuk disertai dahak keluar dari mulutnya. Dia bergegas meraih tissue untuk menampung dahaknya. Dan dia masih terus terbatuk-batuk tanpa henti, membuat Dean teralihkan perhatiannya dari koran di tangannya.
Dean semakin khawatir melihat kondisi Elly. Wajah wanita itu tampak memerah, sepertinya ia mulai demam. Wajahnya juga pucat dan sorot matanya sayu. Wanita ini sedang sakit, tapi dia memaksa bekerja. “Sepertinya kau perlu istirahat, El. Untuk kasus ini aku akan coba sebisa mungkin mencegahnya.”
Elly hanya mengangguk. Kondisi tubuhnya sedang tidak fit untuk bekerja. Pandangannya juga sudah mulai kabur. Sebaiknya mengambil waktu jeda untuk istirahat, pikirnya.
“Aku mengandalkanmu, Tuan.”
“Sudah pasti. Gunakan waktu istirahatmu dengan baik.”
Elly bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Ada ruang untuk istirahat di belakang kantor PIC, dia akan menuju ke sana. Berbaring setengah jam sepertinya akan membuat tubuhnya lebih baik. Dean kembali fokus ke yellow pages.
“Ah, dapat!” gumamnya. Dia langsung mengambil gagang telepon dan menekan nomor tujuan. Nada sambung mulai terdengar di telinga kirinya.
“Tolong, tolong! Tolong panggilkan dokter!” Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari koridor.
“Detektif Elly pingsan!”
Dean langsung bergegas menuju koridor untuk melihat kondisi Elly. Gagang telepon ia biarkan tergantung, entah sudah tersambung atau tidak dengan kantor asosiasi sepakbola.
Beberapa orang sudah berkumpul, termasuk Kapten Hanung dan dua detektif lain yang baru saja melaksanakan konferensi pers.
“Bagaimana kondisinya, Kapten?” tanya Dean, ketika melihat Elly dibopong oleh beberapa orang ke ruangan belakang kantor untuk diperiksa.
“Masih belum diketahui. Perawat masih mencoba untuk memeriksa kondisi vitalnya.”
Lima menit berlalu. Perawat yang selesai melakukan pemeriksaan awal langsung menghadap Kapten Hanung. Kantor PIC, meski tidak besar, mereka memiliki tenaga medis yang stand by. Meski tidak banyak kejadian yang perlu penanganan medis, tapi keberadaan mereka menjadi diperlukan apabila ada kejadian genting. Seperti Elly yang pingsan baru saja.
“Harus ke rumah sakit, Kapten. Kondisinya tidak baik.”
Kapten Hanung terkejut. Segera dia perintahkan salah satu detektif untuk menghubungi rumah sakit. Barry, suami Elly yang segera datang setelah dikontak PIC, turut masuk ke dalam koridor memeriksa kondisi istrinya. Dia langsung duduk di sebelah istrinya yang masih tak sadarkan diri.
Seharusnya pemeriksaan Nono akan dilaksanakan. Namun, kejadian di koridor membuat jadwal tim detektif menjadi kacau.
“Tuan, bisakah kau nanti mengantar Barry dan Elly ke rumah sakit. Mereka pasti memerlukan bantuanmu.” Kapten Hanung memberikan perintah kepada Dean.
Dean kebingungan. Padahal, masih ada dua detektif lain yang bisa ditugaskan untuk menemani Barry dan Elly. Seharusnya Dean mendapat jatah untuk memeriksa Nono pagi itu. Awalnya dia hendak menyanggah perintah sang Kapten. Namun, setelah memperhatikan raut wajahnya, Dean memahami sesuatu.
“Baik, Kapten. Tidak masalah.”
Sakit apa sebenarnya Elly Manoa? Sepertinya cukup parah, dan dia menahan sakitnya selama ini. Mana mungkin dengan batuk saja dia bisa pingsan. Memang badan Elly kelihatan ringkih, sejak awal Dean mengenalnya. Seperti wanita yang kurang suka makan dan kurang tidur. Tapi semangat kerjanya seperti robot yang tak pernah habis baterai.
Mungkin dia hanya kelelahan, batin Dean.
*
“Aku berangkat dulu, Bun.”
“Sudah siap sepatu bolanya, Nak?”
“Sudah. Semuanya sudah lengkap. Bekal di meja tengah sudah aku bawa juga.”
Bunda Ida menatap anak angkatnya, Robi, dengan bangga. Hari ini dia akan menjalani pertandingan sepakbola mewakili kampung tempat dia hidup sejak ditinggal orang tuanya. Robi adalah anak yatim yang dibawa ke panti asuhan oleh keluarganya 15 tahun lalu.
Sejak kecil dia memang suka bola. Tak jarang Bunda Ida menegurnya karena sering terlambat pulang akibat latihan hingga waktu petang.
“Semoga menang ya, Nak.”
Roby menatap wajah ibu angkatnya, kemudian tersenyum kecil. Sesaat dia menggapai tangan ibunya dan berpamitan. Perjalanan ke stadion perlu waktu 2 jam dengan jalan kaki.
Nasib Robi tidak terlalu beruntung. Untuk latihan bola di lapangan kampung, dia harus berjalan selama satu jam. Tidak ada kendaraan yang bisa ditumpangi. Bunda Ida memang sering mendapat bantuan sosial, tapi kebanyakan hanya berupa makanan yang sekedar memberikan rasa kenyang.
“Robi … semangat!” Teriak seorang wanita muda dari gerbang panti asuhan. Merlin. Anak panti asuhan yang baru saja masuk sejak dua tahun lalu.
Robi hanya membalas dengan lambaian tangan, sembari meneruskan langkah ke stadion. Raut wajah Merlin seketika berubah, tampak cemberut. Ada sesuatu yang membuatnya berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi.
Robi terus berjalan menyusuri jalanan yang becek akibat hujan deras semalam. Tatapannya tajam ke depan. Pertandingan hari ini adalah harga mati baginya. Pertandingan final pertama bagi dirinya, dan tim yang ia bela memiliki harapan besar kepadanya. Ibarat kata, “Sekarang atau tidak sama sekali.”. Hari ini harus menang, titik.
*
“Tidak perlu gelisah berlebihan.” Dean coba menenangkan Barry yang tampak tegang dan gelisah di dalam mobil ambulan.
“Ah, tidak. Aku hanya terpikirkan banyak hal hari ini. Ada banyak jadwal yang harus aku batalkan.”
Dean menarik napas pendek, memahami apa maksud Barry. Jadwal dan tugasnya hari ini juga teralihkan akibat kejadian mendadak yang menimpa Elly.
“Jadwal wawancara?” Dean coba untuk menenangkan Barry dengan mengajaknya mengobrol.
“Iya, salah satunya,” jawab Barry singkat. Sepertinya Barry tidak ingin cerita banyak hal. Pandangannya menatap cemas Elly yang masih tergeletak dengan saluran infus terhubung di tangannya. Alat bantu pernapasan juga sudah terpasang sejak Elly masuk ke ambulan. Tidak banyak hal yang bisa diupayakan, selain berharap Elly mampu bertahan hingga mendapat perawatan di rumah sakit. Barry sesekali memperhatikan monitor detak jantung, memastikan kekasihnya masih memiliki kehidupan di dunia ini.
Dean hanya bisa menunduk. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membatalkan pertandingan hari ini. Sebelum berangkat ia tidak meminta bantuan lainnya untuk menghubungi kantor asosiasi sepakbola. Pasti tidak akan mau. Apalagi meminta untuk membatalkan seluruh pertandingan yang terjadwal.
Dean melihat waktu di jam tangannya. Satu jam lagi pertandingan pertama akan dimulai. Tempatnya di senayan, gelora Bung Karno. Pertandingan kategori umur di bawah 18 tahun. Tidak terlalu banyak suporter, namun tetap saja kejadian yang diprediksi oleh Keen365 dapat terjadi. Kali ini Dean yang tampak harap harap cemas.
“Apakah stadion Bung Karno jauh dari rumah sakit?” Dean coba bertanya kepada perawat yang menemani dirinya dengan Barry di mobil ambulan.
“Sekitar 15 menit jalan kaki, Tuan.”
Dean menarik napas panjang. Tidak terlalu cepat untuk menuju stadion dari rumah sakit. Belum lagi posisinya sekarang masih di dalam ambulan. Entah berapa menit lagi dia akan sampai di rumah sakit, dan mengurusi segala kebutuhan Barry dan Elly. Sepertinya hanya pasrah yang bisa dia lakukan, sambil berdoa tidak akan terjadi apa-apa.
“Sebenarnya, istrimu sakit apa?” tanya Dean pada Barry.
Barry hanya menghela napas panjang. “Sudah lama sebenarnya, kadang-kadang kambuh. Dia kalau kerja sering lupa waktu dan lupa mengurus diri sendiri. Meski sudah terkapar di Rumah Sakit, pikirannya tidak akan berhenti bekerja. Aku tidak tahu harus bagaimana membuat dia beristirahat total.”
“Jadi, dia punya penyakit yang parah?” tanya Dean penasaran.
Barry tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.