6. Elly Manoa

1483 Kata
Pukul tujuh tepat. Sabtu pagi ini Kapten Hanung meminta seluruh timnya untuk berkumpul, termasuk Dean. Ruang rapat sudah siap dengan meja dan kursi yang tertata rapi. Suasana mendung masih menghiasi langit Jakarta, sesekali gerimis turun membasahi halaman kantor PIC yang sudah ramai dengan para jurnalis dan wartawan. “Pukul berapa jumpa pers akan dimulai?” Salah seorang jurnalis bertanya kepada yang lain. “Pukul delapan, kabarnya,” jurnalis lain menjawab dengan singkat. Para pegawai PIC yang datang segera masuk ke dalam kantor. Berlama-lama di halaman akan membuat mereka menjadi sasaran para jurnalis, dan akan memicu kerumumanan yang membuat akses ke dalam kantor menjadi sulit. “Sudah sampai sini saja,” pinta Elly kepada suaminya, Barry. “Kau tidak apa-apa? Mukamu masih tampak pucat.” “Tak apa, sudah baikan, kok.” Senyuman manis Elly tunjukkan kepada suaminya sebagai isyarat dia akan baik-baik saja. Hujan semalam sangat deras saat pulang kerja dan membuat Elly kehujanan. Sesampai di rumah, tubuhnya langsung menggigil kedinginan. “Baiklah, jika terjadi sesuatu, cepat hubungi aku, sayang,” respon Barry sambil melepas tubuh Elly yang sejak keluar dari mobil terus ia tuntun. Apalagi melihat kerumunan rekan-rekan wartawannya, membuatnya merasa harus melindungi istrinya sendiri. Elly membalas dengan anggukan kecil. Perlahan ia melangkah masuk ke kantor PIC. “Dirimu tampak tidak baik-baik, Elly,” sapa Dean yang datang bersamaan dengan Elly di kantor. “Tidak apa, hanya sedikit flu. Sebentar lagi juga akan hilang dengan sendirinya.” Elly mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, dan menyusut ingus. Bila sudah menggigil karena kehujanan, sudah pasti dia langsung terkena flu. Dan hal itu akan berlangsung cukup lama bila dia masih saja masuk kerja. Barry sudah hapal saking seringnya Elly sakit. “Sebaiknya setelah rapat pagi ini kau meminta izin pulang terlebih dahulu,” saran Dean kepada Elly. Nyatanya Dean juga kehujanan semalam. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa dia sakit akibat hujan tersebut. Badannya masih tambah segar dan energik seperti biasanya. Semua anggota tim berkumpul. Kapten Hanung, Elly, Dean, dan dua orang detektif lain. Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Kapten Hanung membuka rapat dengan nada tinggi. “Dua tahun terakhir tanpa ada petunjuk! Apakah kalian sadar dengan hal ini?!” Hentakan tangannya ke meja membuat semua orang terkejut. Tidak ada yang berani menanggapi, termasuk Dean yang baru saja bergabung ke tim ini. “Apa kalian tahu berapa dana yang sudah dihabiskan untuk pencarian ini?!” Semua semakin terdiam dengan kepala tertunduk. Sesaat suasana dalam ruangan menjadi hening. Bukan permulaan rapat yang baik untuk semua. “Bagaimana hasil penyelidikan Mimi?” Kapten Hanung kali ini bertanya kepada anak buahnya. “Nihil, Kapten. Tidak ada informasi tambahan yang diperoleh.” Elly menjawab dengan suara yang lirih. Meski sedang tidak enak badan, dia mencoba untuk tampak segar di hadapan rekan-rekannya. Maklum, dari semua rekannya, dia yang paling mudah jatuh sakit. Kapten Hanung sekali lagi menghentakkan tangannya ke meja. “Apa yang harus aku sampaikan kepada jurnalis? Tidak ada perkembangan sama sekali sejak kasus ke-51 terjadi.” “Permisi, Kapten.” Dean mengangkat tangan, tanda hendak menyampaikan sesuatu. Detektif lain memandangnya dengan melotot, termasuk Kapten Hanung. Belum pernah ada yang berani memotong pembicaraan Sang Kapten ketika rapat sedang berlangsung. “Silahkan, Tuan Parker.” Jawab Kapten Hanung singkat. Ia tidak bisa seketika membentak Dean di hadapan anggota yang lain. Lagipula dia anak baru di tim ini. Walaupun itu yang menjadi kekahawatirannya juga. “Kapten bisa sampaikan kita telah menangkap Nono.” Dean coba memberikan masukan. Kapten Hanung menggeleng. “Tidak ada informasi yang kita peroleh selain dia orang yang meletakkan bom di mobil suami Mimi.” Dean berpikir sejenak. “Belum tentu, Kapten. Kita perlu mengintrogasinya setelah kondisinya membaik. Bisa jadi dia menjadi kunci dari semua penyelidikan ini.” Sesaat anggota tim lain mengangguk. Kali ini Dean benar, dan Kapten Hanung harus menerima kebenarannya. Walaupun di sisi lain egonya masih membuncah, karena dia tidak ingin kehilangan martabatnya sebagai ketua. “Kalau begitu aku dan kau, Tuan Dean Parker, yang akan menginterogasinya.” * Rapat selesai tepat pukul delapan kurang 5 menit. Kapten Hanung segera bersiap keluar menuju halaman kantor PIC bersama dua detektif lain untuk melaksanakan jumpa pers. Elly dan Dean masih dalam ruang rapat, merapikan beberapa berkas. Elly memegangi kepalanya yang terasa berat. Tekanan selama rapat pagi ini sukses membuat migrennya kambuh. Dia mencoba membuka tas, mencari obat untuk meredakan rasa sakit di kepalanya. Sesaat dia tersadar kalau obatnya tertinggal di rumah. “Sepertinya kau harus segera minum obat sakit kepala, El.” Dean yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Elly langsung memberikan sebungkus obat sakit kepala. “Ah, terima kasih, Tuan.” Elly sedikit heran dengan obat yang diterimanya dari Dean. Sepertinya lelaki bule ini sudah banyak mempelajari budaya masyarakat Indonesia. Mudah membeli obat-obatan yang dijual bebas untuk sakit ringan. Padahal Elly tidak bisa minum obat sembarangan. Dean hanya membalas dengan tersenyum. Perhatiannya kembali ia curahkan pada tumpukan berkas-berkas kasus Keen365. Sejak kasus ke-1 hingga ke-50. Berharap ada petunjuk tambahan yang bisa diperoleh, sambil menunggu hasil interogasi Kapten Hanung. “Aku rasa kondisiku semakin memburuk.” Elly seketika memulai cerita tentang dirinya. Dean mencoba untuk tetap fokus pada berkas yang ia baca, sambil mendengarkan Elly dengan celotehannya. “Semenjak bergabung ke tim ini, jam tidurku semakin berkurang. Pernah dalam suatu pekan bahkan aku hanya tidur dua jam saja setiap harinya.” Elly meremas rambut dengan kepalanya, terutama di bagian sebelah kiri. Bagian itu yang terasa sangat berat baginya. “Awalnya aku sangat senang bergabung di tim ini. Dibandingkan di tim sebelumnya yang hanya mengurus dokumen keuangan di kepolisian.” “Kau bendahara kepolisian?” Dean penasaran dengan latar belakang mitra kerjanya itu. “Iya, di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Aku tinggal bersama dengan adikku. Orang tua kami sudah meninggal akibat kecelakaan dua tahun lalu.” “Tahun dimana Keen365 mulai muncul?” Dean bertanya untuk memastikan. Dia sangat mendetail terhadap informasi yang dirasa mempunyai kaitan erat dengan Keen365. “Benar, Tuan.” “Kabar Keen365 terdengar hingga ke desaku. Aku mulai penasaran dengannya. Bahkan, aku sempat menduga kecelakaan yang dialami oleh ayah dan ibuku juga diprediksi olehnya. Namun, aku tidak menemukan tweet tentang kecelakaan itu.” “Hingga akhirnya, kasus ke-20 Keen365 terjadi di kantor kepolisian tempatku bekerja. Lima orang sipir penjara terbunuh pada kasus tersebut, setelah menenggak minuman pemberian salah seorang tamu yang berkunjung.” Dean mulai mengingat-ingat kasus ke-20 Keen365. “Hari berdarah di kantor kepolisian. Para sipir yang serakah memuntahkan busa dari bibirnya setelah menunggak racun mematikan. Tamu kesayangan adalah pembunuh berdarah dingin yang kejam.” Elly mengulang kembali tweet kasus ke-20, kemudian melanjutkan ceritanya. “Tidak ada yang mengetahui siapa tamu yang membawa minuman tersebut. Tidak diketahui pula dia hendak mengunjungi siapa. Sampai saat ini kasus tersebut masih belum terpecahkan, sebagaimana kasus-kasus lainnya.” “Kapten Hanung saat itu berkunjung untuk memeriksa TKP. Dan kesempatan itu datang ketika dia berbicara denganku terkait kasus ini. Aku menyampaikan rangkaian kasus Keen365 beserta analisisnya dengan cermat.” “Hal itu yang membuat aku bisa masuk ke dalam tim ini, begitu pula Barry, suamiku. Meski dia banyak berperan di luar kantor, dengan status jurnalisnya.” Dean terdiam sejenak. Tangannya memegang berkas kasus ke-20 Keen365, yang sengaja dia cari ketika Elly mulai menceritakan hal tersebut. Sesekali dia membalikkan berkas perkara yang sudah terarsip dalam waktu lama. Hingga akhirnya berhenti pada satu halaman berisi foto-foto bukti dan kondisi TKP. Sesaat senyum kecilnya muncul. “Sepertinya kita akan menangkap tamu itu sebentar lagi,” ujar Dean dengan optimis. Elly hanya menanggapi dengan hembusan nafas panjang. Tidak mungkin Dean Parker yang baru saja bergabung dalam tim bisa mengetahui siapa tamu misterius pada kasus tersebut. “Semoga,” sambung Elly dengan singkat. * Telepon Elly berdering. Elly mengangkat sambungan telepon dengan sedikit malas. Badannya mulai terasa tidak karuan. “Halo, sayang. Bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah cek twitter?” Suara Barry terdengar khawatir di seberang sambungan telepon. Dan ada suara berisik di belakangnya, sepertinya Barry sedang ada di jalan. “Baik. Aku sudah minum obat–pemberian Dean. Lumayan meredakanm, meski bukan obay yang biasa aku minum.” Elly melirik Dean, dan lelaki bule itu tampak asyik dengan dokumen di depannya. “Ada apa di twitter?” “Keen365.” Mendengar nama itu disebut, Elly langsung menutup telepon. Segera dia membuka twitter melalui komputer di hadapannya dan menuju ke akun Keen365. Rasa sakit di kepalanya seakan menghilang. Dean yang memperhatikan Elly segera mendekatinya, ingin mengetahui pula apa isi tweet Keen365 yang muncul kembali. “Korban selanjutnya adalah pemain sepak bola?” Elly langsung berteriak. Dan tentu saja teriakannya memicu kekisruhan di kantor PIC. Semua orang segera mengecek akun twitter masing-masing. Dan tak lama kemudian, semua orang sibuk menerka tweet yang batu saja diposting oleh Keen365. Dean masih memperhatikan isi dari tweet 365. Masih belum memberikan respon apapun. Wajahnya seketika tampak bingung. Dean bergumam dengan suara kecil. “Tidak mungkin, tidak mungkin. Kasus ke-52, berbeda dari apa yang aku ketahui!” Dean merasa ada yang aneh dengan tweet ke-52.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN