5. Kapten Yang Kesal

1432 Kata
Sebuah mobil menabrak dari arah depan dengan keras. Kecelakaan tak terhindarkan. Tubuh Dean terlempar ke depan beserta Nono. Pistol yang dipegang Nono juga ikut terlempar dan terlepas dari genggamannya. Kesadaran Dean tidak stabil, pandangannya kabur. Terlihat sosok perempuan membuka pintu taksi dan mengeluarkan Nono. Dia mengeluarkan borgol dari saku jaketnya dan mengaitkannya pada tangan Nono, menghubungkannya dengan gagang pintu taksi. Dean mencoba untuk menyadarkan diri sendiri. Dia mengangkat tubuhnya secara perlahan dan mencoba keluar dari taksi. Sesaat mobil yang menabrak taksi beranjak pergi, beserta sosok perempuan yang saat itu menjadi penolong baginya. Perempuan itu mengemudikan mobil dengan cepat. Dean tidak bisa melihat jelas jenis mobil itu karena situasi sudah semakin gelap. Dean melangkah dengan pincang menuju Nono. Tangannya memeriksa urat nadi di leher penjahat bengis tersebut. Syukurlah masih ada detak jantungnya, Nono hanya pingsan akibat benturan yang dialaminya di bagian kepala. Pandangan Dean memperhatikan sekitar. Tidak ada sesuatu yang bisa membantunya membawa Nono ke kantor PIC. Mau tidak mau, dia harus menghubungi Kapten Hanung untuk meminta bala bantuan. Sembari berusaha mengatur napas, dia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan bersyukur melihat ponselnya masih bisa dipakai, padahal dia sudah terbentur dashboad mobil. Sekujur tubuhnya mulai terasa pegal. “Kapten, aku perlu bantuan. Aku mengalami kecelakaan di jalan menuju Kebun Binatang Ragunan,” ucap Dean melalui telepon genggam miliknya. “Apa? Bagaimana kondisimu, Tuan?” “Tidak mengapa, hanya terkilir di bagian kaki. Sebaiknya bantuan segera datang Kapten. Sopir taksi yang aku tumpangi perlu perawatan.” “Oke, tunggu dua puluh menit lagi.” Kapten menutup telepon terlebih dahulu. Dean mengambil posisi duduk di sebelah Nono yang tidak sadarkan diri. Dia hendak menghubungi Komandan untuk melaporkan apa yang saja terjadi. Keterlibatan seorang bernama Nono dalam kasus ramalan ke-51 Keen365. Ia menekan tombol untuk melakukan panggilan video. Beberapa kali jarinya menekan tombol tersebut, namun hologram tak kunjung muncul. Sial! Gumam Dean. Tidak hanya pegal di kakinya kali ini yang membuatnya menderita, tapi hubungannya dengan komandan yang mengirimnya ke masa lalu menjadi terputus. Dean menghela napas panjang. Pencarian Nono sudah tuntas, namun tugasnya mengungkap Keen365 akan semakin panjang pikirnya. Dean memindai sekeliling. Beberapa orang mulai datang mengerumuninya. Berusaha membantunya untuk tetap sadar, karena darah sudah mulai mengalir di pelipisnya. Samar-samar dia mendengar beberapa orang yang mengerumuninya saling berbicara untuk memanggil polisi dan ambulans. Namun Dean menolak. Dia yakin Kapten Hanung dan anak buahnya akan segera datang, meski waktu terasa berjalan sangat lambat baginya saat ini, Dia tak bisa lagi berusaha bertahan untuk tetap membuka mata. * “Tuan! Apakah kau baik-baik saja?” Kapten Hanung menepuk pipi Dean beberapa kali, memastikan kalau ia masih hidup. Dean membuka mata, ternyata dia terlelap dalam posisi duduk. Menyandar di tiang. Beberapa orang berada di sekitar, dan lampu dari ambulans menerangi sekeliling. Dia sudah memancing keramaian, dan ini pasti akan menimbulkan kecurigaan. “Tidak mengapa, hanya sedikit pusing dan rupanya aku tertidur, Kapten. Segera bawa sopir taksi ini. Dia pelaku ledakan bom di hotel.” “Pelaku?” Kapten Hanung langsung merespon dengan nada meninggi, sambil menatap tajam sopir taksi yang masih belum sadarkan diri. Petugas dari Rumah Sakit sedang berusaha mengevakuasinya sembari memeriksa status kesehatannya. “Nanti aku jelaskan di kantor, Kapten.” Kapten Hanung membantu Dean untuk berdiri. Dan dia heran, meski sudah berhias dengan darah di pelipis hingga meleleh ke pipi dan leher, Dean masih bisa berjalan tegak menuju mobil milik PIC dan menolak untuk dituntun. Bahkan dia menolak untuk diperiksa oleh petugas dari Rumah Sakit. “Aku baik-baik saja,” ucap Dean sembari melambaikan tangan, meminta para petugas Rumah Sakit itu untuk memberinya jalan menuju mobil. Tubuh sopir yang mengaku Nono sudah diangkut menggunakan tandu menuju ambulans. Sebelum ambulans itu pergi, Dean sudah berada di bangku belakang mobil PIC, Memindai sekeliling dan memastikan bahwa kejadian ini bisa dianggap murni kecelakaan tabrak lari, bukan kesengajaan. Siapapun perempuan yang menabrak taksi yang ditumpanginya tadi, dia telah menyelamatkannya dari pelatuk pistol Nono. * Hari sudah gelap. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Kantor PIC sudah mulai lengang, menyisakan beberapa detektif, termasuk Dean, Kapten Hanung, dan Elly di ruang lobi. “Kita baru bisa mengintrogasinya esok hari, Tuan. Kondisinya belum stabil.” “Baiklah, pastikan penjagaan tetap ketat di sekitar ruang perawatan. Dia orang berbahaya.” “Tentu,” jawab Kapten Hanung dengan singkat dan cepat. Wajahnya tampak sedikit kesal merasa diatur oleh Dean, anggota yang baru ia rekrut. Keberadaan Dean di kantor PIC sudah cukup untuk hari itu, begitu pula Elly yang sudah merapikan berkas hasil investigasi dari Mimi. Sepertinya tidak ada yang menarik selain informasi tentang Nono. Apalagi Nono sudah tertangkap dengan mudah. “Aku pamit dulu, Kapten.” “Kemana lagi Anda kali ini, Tuan? Menangkap penjahat sendirian. Ingat kakimu masih pincang,” jawab Kapten Hanung sedikit menyindir. “Tidak, aku akan ke Hotel Hilton, aku masih punya jatah untuk bermalam di sana.” Kapten Hanung hanya mengangguk. Sesaat ia meminta Elly menemani Dean hingga ke kamar hotel. “Pastikan dia sampai ke kamar hotel dengan selamat,” sambung Kapten Hanung. Itu hanya dalihnya saja, memastikan Dean tidak kembali bergerak lebih jauh di depannya dalam pengungkapan kasus ini. “Baik, Kapten,” sahut Elly sambil menghampiri Dean yang sudah berdiri di depan pintu keluar. Keduanya keluar melalui pintu kaca berputar. Di sisi lain terdapat seorang pria besar berjaket hitam masuk ke kantor. “Ini akan jadi malam yang buruk sekaligus panjang bagi Kapten.” Elly menunjukkan raut wajah cemas sambil menghela napas panjang. “Malam yang buruk?” “Iya, orang yang baru saja masuk adalah Kapten Kaluma, atasan Kapten Hanung dalam kasus Keen365.” Dean hanya berdehem tanda mengerti. Dia tidak mau lebih jauh mengetahui informasi tentang keduanya dari Elly. Dean sadar bahwa keberadaanya sangat membantu tim ini mengungkap kasus Keen365, tapi di sisi lain memunculkan ancaman bagi para atasan tim. Khawatir posisi mereka goyah. * “Sebuah kehormatan Kapten bisa menerimamu disini.” Kapten Hanung melepas topinya, memberikan salam penghormatan dengan menunduk kepada Kapten Kaluma. “Tidak perlu terlalu resmi, Nung. Ini di luar jam kerja,” jawab Kapten Kaluma dengan nada datar. Kapten Kaluma mengeluarkan sepuntung rokok beserta korek api dari sakunya. Benar saja ini akan menjadi malam yang panjang. Beberapa hembusan ia lakukan sebelum membuka obrolan dengan anak buahnya yang setia sejak 2 tahun terakhir bersamanya. “Bagaimana Keen365?” “Tidak ada yang signifikan, Kapten. Pelaku ledakan bom di hotel masih dalam perawatan, besok baru kami interogasi,” jawab Kapten Hanung sambil menunduk. “Sudah kasus ke-51 dan masih belum ada perkembangan.” Kapten Kaluma menghela nafas panjang. “Presiden menuntut untuk diselesaikan lebih cepat. Parlemen juga sudah mulai mempertimbangkan tenaga dari luar. Keuangan juga semakin menipis. Defisit.” Kapten Kaluma menjelaskan dengan tenang dengan suara khas seorang perokok berat, sambil sesekali menghembuskan asap dari mulutnya. “Kalau memang tidak sanggup …” “Tidak Kapten. Aku akan selesaikan kasus ini.” Kapten Hanung mengangkat kepala, menghadapkan wajah dan pandangannya kepada Kapten Kaluma. “Aku sudah mendapat beberapa rekomendasi yang lebih muda dan cekatan,” “Aku siap, Kapten. Aku masih mampu mengemban tugas ini. Berikan aku kesempatan!” Kapten Hanung kembali memotong perkataan Kapten Kaluma. Untung saja Kapten Kaluma adalah orang yang tenang dan tidak mudah terpancing emosi, dua sifat yang menjadikannya orang kepercayaan Presiden dalam mengungkap kasus kejahatan berskala nasional. Lagipula dia sudah sangat paham karakter Kapten Hanung, anak buahnya. “Dua minggu, Nung. Lebih dari itu tanpa perkembangan signifikan, aku stop dana untuk PIC.” Kapten Kaluma mematikan puntung rokoknya yang masih setengah di meja kaca lobi kantor. Sedikit menahan emosi akibat tingkah anak buahnya. Dia langsung mengambil sikap berdiri, dan meninggalkan Kapten Hanung yang masih terduduk tanpa mengucapkan kata selamat tinggal. Pukul dua belas malam tepat. Kapten Hanung masih terduduk di lobi. Tangannya mengepal kesal karena tekanan dari Kapten Kaluma. Masih teringat teguran Kapten Kaluma, membuatnya semakin gelisah. Belum lagi, kenyataan bahwa Dean yang mulai bergerak sendiri membuatnya merasa terancam. Anggota baru yang memberikan dampak signifikan terhadap tim. Kapten Kaluma tidak boleh tahu hasil kerja anak muda itu. Posisi kapten PIC bisa saja berpindah tangan kepadanya, gumam Kapten Hanung. Malam yang panjang dan penuh amarah. Tidak lama hujan deras turun menghujani kota Jakarta. * Seseorang terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah, seolah baru saja berlari berkilo-kilo meter. Badannya penuh keringat, mimpi buruk kembali dialaminya barusan. Ia menggapai ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu. “Badanku berkeringat, masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Para suporter bersorak-sorai ketika gol terjadi, sedangkan sang pemain tergeletak tak berdaya di titik 12 pas. Tidak ada yang tahu hal buruk akan benar-benar terjadi hari itu” “Kepalanya mengalami benturan keras dengan sepatu pemain lain, 28 Januari 2001, permainan dihentikan pada menit ke-75.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN