Petugas medis dengan cepat datang membawa tandu. Tubuh lemas Mimi yang sudah tak bernyawa dibawa ke dalam ambulan. Jasadnya akan diotopsi di Rumah Sakit PIC.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan Parker?” Kapten Hanung memastikan apa penyebab kematian Mimi.
“Asam sianida, Kapten. Dia menggigit kapsul yang tersimpan di dalam mulutnya. Sebentar saja zat itu masuk ke perut, nyawanya sudah melayang,” jawab Dean sambil tertunduk. Sejenak kemudian dia berdiri dan beranjak menuju lorong, berdiam di salah satu sudut sejenak sambil mengusap-usapkan tangan ke dagunya, memikirkan suatu hal.
Nono. Itulah kata terakhir yang keluar dari mulut Mimi saat ajalnya menjemput. Dean yakin itu adalah petunjuk sekaligus jawaban dari pertanyaan terakhir yang dia tanyakan. Aktor utama dari peristiwa bom di Hotel.
“Apakah ada yang mengganggumu?”
Pertanyaan Elly seketika membuat fokus Dean buyar. Wanita itu membawa dua cangkir kopi, dan memberikannya satu pada Dean.
“Tidak ada,” jawab Dean singkat. Ia ragu untuk memberitahukan pesan dari Mimi tersebut kepada Elly. Dia sendiri tidak tahu apa maksud kata Nono. Bisa jadi itu sebuah kode, atau juga sebuah nama. Dia sadar perubahan yang ia buat dalam kehidupan saat ini, mempunyai peluang sama antara menjadi penyelamat bagi banyak orang, atau sumber kejadian buruk lainnya yang lebih besar.
“Kau seperti memikirkan sesuatu, Tuan Parler?” desak Elly. “Katakan saja apa yang kau perlukan untuk memecahkan kasus ini. Kami siap membantu.”
“Elly, apakah aku bisa mendapatkan data lengkap dan alamat penduduk Jakarta?” Seketika ide muncul di dalam kepala Dean, memotong perkataan Elly.
“Kau bisa mencarinya di Yellow Pages, ada di lobi kantor,” sahut Elly sedikit patah-patah, sambil menunjuk dimana lobi kantor berada.
“Memangnya kau mau mencari siapa?”
“Tidak, aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Dean langsung menuju lobi kantor dan meninggalkan TKP yang masih ramai dengan petugas medis dan beberapa detektif, termasuk Kapten Hanung dan Elly.
“Nono, Nono,” mata Dean sangat fokus melihat setiap baris dalam buku kuning tersebut. Ia sadar mencari informasi alamat seseorang tidak semudah di masa depan yang tinggal memasukkan saja nama atau informasi dasar lainnya.
Lima menit berlalu, lembaran kertas seukuran telapak tangan sudah terisi dengan informasi seluruh nama Nono di seantero Jakarta. Terdapat empat nama Nono, dengan alamat yang terpisah. Masing-masing tinggal di Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Seluruh sisi Jakarta!
“Huft.” Dean menarik napas panjang. Ini akan menjadi pencarian yang menghabiskan banyak waktu. Buku tebal berwarna kuning itu belum tuntas ditelitinya satu per satu, tapi baginya sudah cukup mendapatkan sedikit petunjuk. Sejenak rasa lemas hinggap di badannya. Namun tugas tetaplah tugas. Ia segera beranjak dan meminta izin kepada Kapten Hanung yang baru saja kembali dari TKP.
“Kapten, aku mau keluar dulu, mencari inspirasi.”
“Oke, silakan, Tuan,” jawab Kapten Hanung singkat. Dean segera berlalu, sambil membawa buku kuning itu menggunakan mantel hitamnya. Jakarta sedikit gerimis sore ini dihiasi langit mendung tanpa sinar matahari menembus. Bukan pertanda baik untuk mencari pencerahan akan kasus yang semakin rumit.
Tak lama sejak Dean pergi, Kapten Hanung menerima panggilan telepon. Dari Komandan Kaluma, atasannya. Raut wajahnya seketika berubah. Bukan berita baik datang di sore mendung itu.
*
“Kebun Binatang Ragunan, Tuan,” jawab Dean ketika sopir taksi bertanya ke mana tujuannya. Wilayah Jakarta Selatan akan menjadi destinasi pertamanya, setidaknya karena tempatnya paling dekat dengan kantor PIC.
Sepuluh menit berjalan, mereka harus menghadapi kemacetan panjang. Benarlah ini akan menjadi pencarian yang sangat panjang, gumam Dean. Dia lalu menghadang sebuah taksi untuk mengantarnya ke tempat tujuan.
“Mau ke rumah saudara, Tuan?”
“Bukan, hanya klien bisnis,” jawab Dean singkat.
Sopir taksi hanya mengangguk-angguk saja. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Yang terdengar hanya klakson kendaraan yang saling bersahutan. Situasi tersebut membuat Dean semakin bosan di dalam taksi.
“Harus sabar, Tuan. Daerah sini memang selalu macet setiap sore. Sedang ada perbaikan jalan di depan sana.” Sopir taksi coba membuka kembali obrolan. Jarang-jarang dia mendapat penumpang bule, yang bisa berbahasa Indonesia pula. Membuat komunikasi bisa berjalan dengan lancar.
Dean hanya mengangguk. Tidak lama kemudian, dia coba merespon dengan sebuah pertanyaan, yang mungkin bisa membantunya memperoleh informasi.
“Apa anda hafal daerah sini?”
“Tentu, Tuan. Aku lahir dan tinggal di Jakarta Selatan, tepatnya di Ragunan.”
Kebetulan yang sangat tak disangka. Setidaknya Dean menemukan informan yang bisa membantunya kali ini.
“Apa kau kenal seseorang bernama Nono?” Seketika Dean bertanya kepada sopir taksi yang menemaninya sejak satu jam yang lalu.
Sesaat suasana hening. Percakapan yang hangat seketika menjadi dingin. Tidak ada jawaban dari sopir taksi. Dean yang awalnya merasa santai seketika menjadi awas. Sepertinya ada yang salah dengan nama Nono di daerah ini.
“Dia orang jahat, Tuan. Bengis dan tidak tahu diri.”
Dean tidak terkejut. Nono adalah seorang penjahat kelas atas, preman Ragunan yang disegani oleh banyak orang, mulai dari pedagang kaki lima hingga para pejabat pemerintahan. Tidak ada polisi yang berani meringkusnya, walau kejahatannya terpampang nyata di masyarakat. Mereka yang berani dan hendak menangkapnya, dipastikan akan berakhir di bawah batu nisan dalam sekejap. Setidaknya itu informasi singkat yang Dean dapatkan dari cerita sopir taksi.
“Ada keperluan apa anda dengan Nono, Tuan?”
Kondisi berbalik, kini Dean yang terpojok dengan pertanyaan sopir taksi tersebut.
“Aku ingin mewawancarainya,” jawab Dean sambil tersenyum kecil. Senyumnya yang sumringah terlihat oleh sopir dari spion depan taksi.
“Aku ingin membuat novel misteri dengan tokoh jahat ala daerah Jakarta. Beberapa wartawan yang aku tanya merekomendasikan nama Nono,” sambung Dean dengan nada yakin. Tapi jelas, itu hanya bualan belaka. Dia hanya tidak ingin identitasnya sebagai detektif terungkap ke masyarakat, apalagi kenyataan kalau dia berasal dari masa depan.
Sopir taksi tampak merespon dengan datar. Sepertinya dia pun tahu kalau Dean hanya membuat cerita. Dari gestur punggungnya, Dean bisa melihat bahwa sopir taksi itu bukan lagi sopir taksi dengan pemikiran yang sama lagi dengan saat Dean naik ke dalam taksinya–sebagai seorang bule, yang bisa jadi dianggapnya wisatawan manca negara.
Jalanan mulai senggang, sebentar lagi pukul enam, langit mendung berubah semakin gelap, tanda malam akan segera tiba.
“Masih jauh kah, Tuan?”
“Tidak, sebentar lagi sampai,” jawab sopir taksi dengan singkat. Sesaat mobil menepi di tengah jalan yang sepi. Dean memperhatikan sekitar, tidak seperti daerah kebun binatang pada umumnya. Hanya ada sungai di tepi jalan, sementara di seberang adalah tempat pembuangan sampah.
“Apakah ada masalah, Tuan?” tanya Dean pada sopir taksinya.
“Tidak, aku hanya merasa perlu membersihkan sesuatu. Sebentar saja.” Sopir taksi tersebut merogoh sakunya, kemudian mulai menoleh ke kursi belakang tempat Dean duduk.
“Aku punya saran untuk akhir dari novel misterimu, Tuan.” Sebuah benda keluar dari balik jaket sopir taksi, mengarah ke kepala Dean. “Pada akhirnya, mereka yang mengungkap kejahatan akan terbunuh tak berdaya di hadapan di bengis, Nono.”
Mata Dean terbelalak. Nono yang dicarinya ada di depan mata, sambil menodongkan moncong pistol ke kepalanya.
“Sebuah kebetulan bukan, Detektif,” sambung Nono, si sopir taksi, penjahat bengis Ragunan yang siap menarik pelatuk pistolnya. “Tidak ada yang bisa menemukan Nono selama ini. Para polisi dan detektif lokal harus mendatangkan seorang detektif bule dari luar negeri, hanya untuk mencariku. Benar-benar bodoh.”
“Bagaimana anda tahu aku seorang detektif?” tanya Dean berusaha menenangkan diri. Berurusan dengan penjahat seperti Nono, harus memerlukan strategi untuk mengulur waktu. Demi agar informasi keluar dari lidahnya yang sombong karena merasa di atas angin, sembari memikirkan jalan untuk bisa menghindar dari timah panas.
“Nono bukan orang bodoh. Kalian bersama Kapten Hanung hanya bermain-main saja selama ini, tak pernah serius mencari penjahat,” ucap Nono sembari mendengus kesal. Ada kata-kata terakhir, Tuan? Sepertinya aku bisa menulis novel misteri setelah ini.”
Dean menelan ludah. Hidupnya kali ini di ujung tanduk. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, kisahnya akan berakhir di dalam mobil taksi, dengan timah panas menembus kepalanya.
Bodoh. Dean bahkan baru menyadari jaket sopir taksi tersebut tidak asing baginya. Kejadian di tempat parkir hotel. Tidak salah lagi, Nono ada di TKP saat Mimi dan suaminya bertengkar. Bau mesiu juga tercium dari tangannya, tanda dia belum membersihkan diri setelah merakit bom.
“Baiklah, sepertinya akhir kisah misteri ini cukup dengan seorang detektif ditemukan tewas di dalam mobil taksi.” Nono tersenyum licik. Kali ini keberuntungan memihak kepadanya.
“Tiga, Dua, …”