Dean tidak puas dengan penjelasan Kapten Hanung. Rasa penasaran membuat dirinya berencana untuk bertanya langsung pada Mimi, istri korban, sekaligus sang pelaku dari kejadian bom di depan Hotel Hilton.
Dean mengintip berkas perkara Mimi. Mencoba untuk membaca detail hasil interogasi detektif anak buah Kapten Hanung.
“Apakah kau dapat membacanya, Tuan? Itu tulisan dalam bahasa Indonesia.”
Dean mengangguk. Sejurus kemudian tangannya membuka setiap helai kertas dalam map coklat tersebut. Matanya memperhatikan setiap baris tulisan hitam. Sepuluh menit kemudian, Dean menghela napas, tanda dia sudah menyelesaikan membaca berkas perkara tersebut. Sayang, berkas perkara di hadapannya tidak jauh beda dibandingkan berkas yang ia pernah baca, sebelum dirinya dikirim ke masa sekarang. Satu-satunya informasi baru yang ia terima, adalah nama tersangka pemboman itu, Mimi.
Dean mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Mimi yang mungkin tidak jauh dari tempatnya berada. Ruang interogasi PIC adalah tempat yang penuh meja para detektif, cukup luas dan ramai. Beberapa kali menoleh, Dean masih belum juga menemukan Mimi.
“Elly, bawa Mimi ke ruang tahanan sekarang. Aku akan mengurus berkas perkara dulu.”
“Yes!” gumam Dean. Tidak perlu waktu lama dan usaha keras dia untuk mencari Mimi, pada akhirnya Kapten Hanung sendiri yang memberi tahu dimana letak target yang hendak ia interogasi.
“Aku saja yang mengantar Mimi, Kapten.” Dean langsung mengajukan diri, mendahului Elly yang hendak beranjak dari bangkunya.
“Anggap saja ini sebagai tugas pertamaku di PIC,” ujar Dean meyakinkan Kapten Hanung dan Elly yang menatapnya sedikit terkejut.
“Baiklah, tidak sulit membawa tersangka ke dalam ruang tahanan. Tangannya sudah diborgol. Tuan cukup mengerahkannya saja. Keluar dari ruang ini, langsung belok kiri, di ruang sebelah Mimi menunggu. Tuan tanya saja petugas di sana untuk mengarahkan di mana ruang tahanan.” Kapten Hanung memberikan sedikit pengarahan, seolah Dean adalah orang yang baru pertama kali berurusan dengan tahanan. Padahal sekelas agen Biro tempat Dean berasal, itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan.
“Siap laksanakan, Kapten.”
Dean bergegas menuju ruangan di mana Mimi berada. Tampak Mimi yang masih duduk tertunduk di dekat pintu. Tidak ada raut sedih di wajahnya, sesekali senyum sinis muncul dari bibir wanita muda itu. Mimi menatap Dean yang mendekatinya.
“Saya diperintahkan untuk membawanya ke ruang tahanan,” ujar Dean kepada petugas di samping Mimi.
Sambil memegang rantai yang terhubung dengan borgol di tangan, perlahan Dean dan Mimi menuju ke ruang tahanan. Tidak ada dialog sedikitpun di antara mereka berdua. Dean mencoba berpikir bagaimana caranya bertanya untuk bisa menjawab rasa penasarannya.
“Beruntung aku mengaturnya pada kecepatan 60 km/jam.”
Dean terheran dengan Mimi yang seketika berbicara, sambil mencerna apa maksud dari perkataannya.
“Akhirnya aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana lelaki busuk itu mati.”
Dean mulai paham apa maksud Mimi, dan memberanikan diri untuk bertanya balik.
“Bagaimana kau bisa memperkirakan kecepatan dengan tepat?”
Mimi menoleh ke arah Dean yang berjalan di sampingnya, dengan memegang lengannya. Lelaki bule ini ternyata cukup lancar berbahasa Indonesia.
“Memang kau siapa? Tidak ada urusannya denganmu. Yang jelas aku sudah menjadi tersangka dan tugasmu sebagai polisi sudah selesai,” jawab Mimi dengan remeh, tanpa memandang sedikitpun wajah Dean yang menemaninya menuju ruang tahanan.
Dean terdiam. Pertanyaannya tidak ditanggapi sesuai harapan. Mereka terus melangkah hingga akhirnya sampai di depan sel ruang tahanan.
“Kau ternyata peramal hebat, prediksimu tepat layaknya Keen365.”
Mimi terbelalak sambil menatap tajam Dean yang membuka borgol di tangannya. Tidak ada yang tidak mengenal Keen365. Nama itu bahkan lebih populer dari seorang presiden di negeri ini.
“Atau mungkin kau memang ….”
“Bukan. Aku bukanlah Keen365.” Mimi memotong perkataan Dean seketika. “Aku hanya mengikutinya. Tweetnya memberikan petunjuk kepadaku bagaimana cara menghabisi suamiku.”
Dean semakin penasaran. Namun, kali ini Mimi berterus terang atas apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, hingga ia akhirnya membunuh suaminya dengan cara yang tidak pernah dipikirkannya.
“Aku tahu suamiku sudah berselingkuh sejak setahun lalu, saat aku sudah hamil besar. Bahkan aku memergokinya bermesraan dengan wanita barunya di rumahku sendiri. Aku sudah tak tahan lagi. “
“Anak? Bukannya kau tidak pernah punya anak?” Dean mencoba mengklarifikasi apa yang dikatakan Mimi. Informasi yang ia punya tidak pernah menyebutkan Mimi mempunyai anak setelah menikah dengan suaminya.
“Aku punya!” Mimi berteriak keras.
“Kecelakaan itu seharusnya tidak terjadi. Dasar Keen365!” Mimi semakin tak terkendali. Tangannya bersandar pada jeruji besi yang membatasi dirinya dengan Dean.
Air mata membuncah dari mata Mimi. Emosinya tidak terkendali, rasa puas bercampur kesedihan hadir bersamaan dalam raut wajahnya ketika mengingat awal dari semua penderitaannya.
Dean mencoba mengingat rangkaian kasus pertama hingga kelima puluh. Tidak salah lagi, kecelakaan yang Mimi maksud adalah kecelakaan di tol Pujasena. Kecelakaan beruntun yang menewaskan 20 orang. Dan saat ini yang berdiri di depannya adalah satu diantara 5 orang selamat dari kecelakaan itu, termasuk suami Mimi.
“Andai saja kecelakaan beruntun itu tidak terjadi, pasti aku sudah hidup bahagia dengan suami dan anakku, dan membuat wanita itu tidak mengganggu keluarga kami.”
Mimi semakin tersedu, rasa kehilangan buah hati membuatnya tak tahan untuk menangis. Sejenak suasana haru mengisi ruang tahanan yang sempit dan gelap. Dean hanya terdiam menatapnya dari sisi luar sel tahanan. Tidak ada yang bisa dilakukannya.
“Tiga hari lalu, tak sengaja aku membaca tweet Keen365. Aku tidak pernah kenal siapa pemilik akun tersebut, hanya saja aku merasa menemukan jawaban dari keresahanku. Aku mengetahui suamiku akan menginap di Hotel Hilton bersama selingkuhannya hari ini,” sambung Mimi sambil sesegukan.
“Aku tidak bisa melewatkannya begitu saja. Aku sendiri yakin bahwa ramalan Keen365 adalah benar, dan aku sendiri yang akan membuatnya menjadi nyata.”
Perlahan, raut Mimi berubah layaknya pendendam yang sudah puas telah menuntaskan ambisinya. Namun, hal tersebut tidak menjadi perhatian Dean.
“Bagaimana kau memperkirakan kecepatan dengan tepat?” Dean kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
“Benar, aku sendiri yang memikirkan untuk mengatur kecepatan 60 km/jam. Dia lelaki bodoh yang gegabah. Kau pancing emosinya sedikit saja sudah membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Aku tahu dia akan pasti segera memacu mobilnya dengan kencang, bahkan ketika baru keluar dari tempat parkir. Semua mimpi tersebut seakan nyata bagiku.”
Dean mulai sedikit bingung. Mimi memang memiliki otak layaknya kriminal, meski dasar dia melakukannya adalah dendam. Asumsi Dean semakin liar tentang kebenaran kasus ini, apakah Keen365 punya kemampuan mistis untuk bisa mempengaruhi seseorang untuk bertindak kriminal di bawah arahannya? Bahkan tanpa pernah bertemu atau berkomunikasi dengan tersangka. Atau memang hanya kebetulan Mimi memiliki rencana matang untuk menjalankan kejahatannya.
“Tidak mungkin, bodoh.” Pikiran sehat Dian menyadarkan dirinya yang sejenak terdiam, setelah mendengarkan kesaksian Mimi yang tidak ditemukan dalam berkas perkara yang ia baca dari Kapten Hanung.
“Kau tidak mungkin membuat bom itu sendiri.”
Dean coba memberikan argumen melawan Mimi. Ia masih tidak percaya dengan perkataan Mimi barusan.
“Kau buta warna sejak lahir. Tidak mungkin kau bisa membedakan warna merah, biru, dan kuning. Pasti ada yang membantumu.” Nada tinggi Dean mulai muncul, layaknya detektif sedang memaksa tersangka menyampaikan kebenaran apa yang disembunyikannya. Dia harus menekan Mimi untuk bisa mendapatkan pernyataan penting yang akan menjadi pembuka untuk menemukan Keen365.
Mimi menyeringai, dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Seperti sebuah permen yang sudah dibuka, lalu menelannya. Dean hanya mengamati raut wajah aneh Mimi saat mengunyah permen itu sembari menatapnya taja,.
Mimi tiba tiba batuk sambil mengeluarkan darah. Dari mulutnya tercium bau aneh. Asam Sianida! Dia berniat bunuh diri di sel ini.
Dean berteriak memanggil petugas untuk datang membantu, sambil berusaha membuka sel untuk memberikan pertolongan pada Mimi. Matanya memperhatikan Mimi yang seketika sudah ada dalam pangkuannya, sudah tidak mampu berdiri. Perlahan mulutnya bergerak, seakan ingin mengucapkan sesuatu.
Sementara bunyi derap langkah yang menuju ke arah Dean yang merespon teriakannya, membuat suasana menjadi gaduh. Kapten Hanung, Elly dan beberapa petugas sampai di depan sel. Namun, semua sudah terlambat.
“Tuan, apa yang terjadi?” tanya Elly sembari berjongkok di dekat Dean yang sedang memangku kepala Mimi. Mata perempuan itu terbuka dan dari mulutnya keluar bau yang aneh. Kapten Hanung menyuruh Elly untuk minggir dan dia memeriksa nadi Mimi. Sudah tidak ada denyut yang dirasakannya.
Dean menatap mereka berdua, sambil menggelengkan kepala,
“Apa yang terjadi Tuan Parker, tadi dia baik-baik saja, kan?” tanya Elly panik. Melihat Kapten menghela napas panjang bernada kecewa, dia pun segera memahami apa yang sudah terjadi. Mimi sudah tewas.
“Maafkan aku, Kapten, “ keluh Dean. “Dia bunuh diri dengan menelan sesuatu. Seharusnya aku tidak melepas borgolnya tadi.”