25. Dari Masa Depan

1513 Kata
Ternyata Elly lebih kesal dari Dean. Dia tidak suka boneka beruang, dan boneka yang dibelikan oleh atasannya harus diletakkan di meja kerja. "Apa maksud Kapten sebenarnya, Dean?" Elly mengambil boneka beruang itu dari sebelah monitor komputer, lalu mencekiknya di udara. Menghadapkan wajah si boneka ke arah Dean. “Boneka beruangku saja kuberikan pada adikku. Dia malah membelikan aku boneka yang sama? Apa maksudnya?” "Biar kita selalu ingat dan fokus pada Keen365. Memahami isi kepalanya. Bukankah dia selalu ditemani boneka itu?" "Bisa jadi dia tidak punya boneka itu lagi dan merindukannya. Kau lupa apa isi tweetnya?" Dean mengendik bahu. Sembari melirik boneka beruang di sudut mejanya. Milik Kapten Hanung, dibawa pulang untuk diberikan pada anaknya. Boneka beruang telah menjadi boneka viral gara-gara cuitan Keen365. Di jalan, Dean melihat hampir setiap anak memiliki boneka itu. Membawanya dengan memeluknya atau ditenteng begitu saja. Memilikinya seolah membuat seseorang mengagumi idola mereka. "Kau tahu, sudah tiga stasiun televisi yang menghubungi PIC. Mereka ingin menampilkan Keen di acara mereka. Dan sudah banyak Keen365 palsu yang mengaku sebagai Keen asli. Jadi stasiun televisi itu meminta kepastian pada kita, mana Keen365 yang asli. Apa yang harus kulakukan Dean? Kapten Hanung menyuruhku menghadapi mereka.” "Suruh Keen palsu itu meramal." Elly mendengus. Tidak semudah itu menyuruh orang meramal. Dia bisa meramal kejadian bertahun-tahun ke depan, sebagaimana para peramal di negeri ini melakukannya. Memberikan bocoran berupa satu huruf di nama korban dan nama kota. Dan bila ramalannya tidak tepat, dia sudah menyiapkan kalimat normatif untuk mengelak. Beberapa tahun ke depan akan sangat sulit dibuktikan. “Hanya Keen365 yang bisa meramal jangka pendek, Dean.” Dean memainkan ballpoint dengan menusuk-nusuk mata boneka beruang di hadapannya. Seperti halnya Elly, dia tidak suka boneka. Apalagi boneka beruang yang terus menatapnya. Dean membalik boneka itu hingga tertelungkup di atas meja. “Aku akan mendatangi semua Keen365 palsu itu.” Dean bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Elly sendirian di ruang kerja. Dia lalu menuju ruang Tim IT. Tukang sapu–pengawal dari Kapten Hanung mengikutinya. Hingga di bawah tangga, dia menarik lengan Dean dan membawanya ke sudut tempat alat-alat kebersihan disimpan. “Dean Parker, ada pesan untukmu.” “Apa?” tanya Dean, berusaha bersikap wajar. Tukang sapu dengan badge nama bertuliskan Iwan itu menghulurkan secarik kertas yang sudah ditekuk-tekuk. Dean meraih dan membukanya. “Apa ini?” tanya Dean heran, melihat nama-nama Rumah Sakit lengkap dengan alamatnya. “Itu Rumah Sakit Jiwa di seluruh Jakarta, dan juga beberapa Pusat Rehabilitasi kejiwaaan.” Dean mengernyit kening. “Darimana kau tahu aku membutuhkan ini?” Iwan menoleh sekeliling dan memastikan tidak ada orang yang memberi perhatian pada mereka. “Kapten Kaluma. Dia percaya dengan semua yang kau katakan, tapi tidak ingin PIC merendahkanmu karena pendapat anehmu.” Dean mengangguk. Akhirnya ada yang percaya bahwa Keen365 mempunyai perangkat dari masa depan sehingga dia tidak terdeteksi. Bahkan mungkin Keen365 sendiri berasal dari masa depan seperti dirinya. Kapten Kaluma pasti akan memberinya semua akses, karena dia tahu bahwa PIC akan mempertahankan idealisme mereka. Tidak percaya pada hal-hal berbau Futuristic. Meski mereka bekerja sama dengan Dean yang berasal dari Biro Futuristik. “Oke, terima kasih.” Iwan berlalu sembari membawa sapu, seolah tak mendengar Dean bicara. * “Sepertinya aku akan ketularan gila,” keluh Zakcy. Dia melirik jam tangan dan menyadari bahwa sudah dua puluh jam mereka mengelilingi Jakarta, keluar masuk Rumah Sakit Jiwa dan Pusat Rehabilitasi. Dan Dean tidak berhenti hingga malam sudah memasuki dini hari. “Bersamaku, kau akan menjadi gila lebih cepat,” ucap Dean seolah tak ada lelah dalam dirinya. Dia membiarkan Zacky di balik setir mobil merungut kesal. Bagaimanapun, tugasnya adalah mengawal Dean ke manapun dia pergi. Jadi, dia tak punya daya tawar apapun meski untuk beristirahat sejenak. “Kau bicara dengan orang-orang gila itu seolah mereka teman lama.” Dean terkekeh. Tidak heran Zacky akan mengatakan hal itu. Sebenarnya Dean tidak melakukan seperti yang pengawalnya lihat. Dia hanya berbicara sekedarnya, karena hanya akan menggunakan fiturnya untuk mendeteksi apakah orang-orang dengan gangguan kejiwaan itu menggunakan fitur seperti dirinya. Anti pelacak dari masa depan. “Aku perlu melapor pada Kapten Kaluma.” Dean mengangguk. “Silakan, katakan saja kita akan sampai pagi melakukannya. Titip ucapan terima kasih juga. Semua alamat yang sudah dan akan kita tuju akan membuka pintu bila kita menyebut nama Kapten Kaluma. Dia sudah banyak berjasa pada kita sampai malam ini, sehingga aku tidak perlu menggedor pintu atau tawar menawar dengan satpam.” “Aku tidak bisa melakukannya, karena kau menyuruhku meninggalkan ponsel di apartemen.” Dean menarik sudut bibir. Tentu saja dia menyuruh Zacky demikian karena dia tidak ingin kepergiannya terlacak oleh PIC. Dean yakin semua ponsel anggota PIC terlacak oleh tim IT atau bahkan oleh Kapten Kaluma. Ponsel Zacky harus ditinggal di apartemen, sehingga Dean akan terlacak tetap berada di sana–meski sebenarnya Dean membawa ponselnya berkeliling Jakarta. “Kau bisa pakai radio. Ada di mobil ini, kan?” Zacky menangguk. “Nanti saja melapornya, sebentar lagi matahari terbit, apa kau akan melanjutkan berkeliling Jakarta lagi?” Dean membuka kertas pemberian Iwan yang selalu disimpannya dalam kantong celananya sepanjang perjalanan. Meski dia sudah menghapal semuanya, tapi dia ingin terlihat wajar di depan Zacky, sebagaimana manusia jaman sekarang. Di masa depan, syarat menjadi penegak hukum adalah mampu menghapal tulisan dan rute jalan dengan cepat. Jadi dia tidak memerlukan buku catatan apapun. Semua ada dalam kepalanya. “Satu lagi, setelah itu kita kembali tapi langsung ke PIC. Sepertinya sudah mau keluar Jakarta.” Zacky mengangguk. Satu lagi pusat rehabilitasi yang isinya adalah para pejabat yang mengalami gangguan kejiwaan karena stres. Semoga yang dicari Dean Parker ada di sana. “Sebenarnya kau mencari siapa?” “Keen365.” “Aku tidak yakin dia adalah orang gila. Dia pasti orang sehat dan berpikir normal. Dia pasti paranormal kelas kakap.” Dean menatap lurus ke depan, langit sudah mulai terang. “Menurutmu dia tahu tentang masa depan?” “Kau terlalu lama bersama para polisi. Di luar, orang-orang menganggap dia memang dari masa depan. Mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa depan. Makanya dia memberi peringatan pada kita. Kau tahu kan bagaimana boneka beruang itu bisa menjadi viral, karena dia kini menjadi idola banyak orang. Dia dianggap telah membantu banyak orang dengan mengingatkan tentang apa yang akan terjadi dalam waktu dekat.” “Tapi banyak kriminal yang memanfaatkannya.” Zacky mengangguk. “Jalal Bokeh, itu yang kalian tahu. Tapi, masih lebih banyak orang yang merasa tertolong dengan ramalan itu. Mereka menghindari tempat-tempat yang diramalkan Keen365 akan terjadi pembunuhan. Jadi, bila kau mencari Keen365, aku tidak yakin mereka mau membantu. Termasuk orang-orang gila itu.” Dean terdiam. Zacky ada benarnya. Dampak ramalan Keen365 memang beragam. Satu sisi merugikan, sisi lain menyelamatkan. “Kurasa lebih baik Jalal Bokeh bekerja sama dengan Keen365. Biar mereka jadi penjahat sekalian, tidak usah mengurusi orang lain.” “Di masa depan, ceritanya bisa jadi akan berbeda,” tukas Dean. “Oke saat ini hanya Jalal yang memanfaatkan Keen365. Kau tidak tahu beberapa tahun ke depan, bisa jadi para kriminal kelas dunia akan mengobok-obok negara ini. Aku datang ke sini hanya untuk membantu. Sama sekali tidak punya kepentingan apapun dengan Keen selain menangkapnya. Lebih baik dia tidak meramal daripada meramal dan menimbulkan banyak dampak. Masa depan tidak boleh dibocorkan ke masa kini, karena dampaknya akan tidak terduga.” Zacky mengendik bahu. “Tugasku hanya mengawalmu, Tuan Dean Parker. Kalau aku boleh berpendapat, sebaiknya biarkan Keen365.” Mereka sampai di pusat rehabilitasi terakhir saat matahari baru terbit. Rupanya ada aktifitas di tujuan mereka, beberapa orang pasien nampak dituntun keluar ke sebuah taman, dan dibariskan oleh perawatnya. “Mereka sepertinya akan senam pagi,” ucap Zacky, tak bisa menolak ketika Dean menyuruhnya ikut turun dari mobil–meski dia merasa sangat malas dan mengantuk. Dean dan Zacky berdiri di ujung barisan, setelah menyapa salah seorang perawat dan menyampaikan tujuan kedatangan mereka–atas perintah Kapten Kaluma. “Silakan,” ucap perawat itu, menyilakan Dean untuk memulai interview singkat dengan para pasien yang kebetulan sudah berbaris. Dean mengira semua ini akan cepat selesai dalam lima menit. Dia menekan punggung tangannya untuk menyalakan fitur anti pelacak yang ditanam di sana. Fitur itu akan saling melacak anti pelacak, dan akan saling mengganggu frekuensinya. Namun Dean yakin, miliknya tidak akan terganggu karena teknologi yang dimilikinya adalah yang terbaik di masa depan, dan tidak dimiliki oleh instansi manapun. Dean mendekati satu orang pasien di ujung barisan. Belum sempat dia membuka mulut hendak bertanya nama pasien itu, tiba-tiba pasien dari tengah barisan berlari ke arah Dean dan mencengkeram kerahnya. “Parker, kau akhirnya datang juga!” teriaknya histeris. Zacky yang berdiri di samping Dean sontak menarik pasien itu dan meringkusnya dengan cepat. Pasien lelaki itu memberontak histeris, dan dibantu dengan para perawat Zacky berusaha menjauhkannya dari Dean. Tangan lelaki itu menggapai-gapai seolah hendak mencakar Dean. Sementara Dean tidak merasakan adanya anti pelacak pada orang tersebut. “Parker, kembali kau ke jamanmu! Kau tidak seharusnya di sini!” Zacky yang jauh lebih kuat berhasil mengunci kedua tangan pasien yang histeris itu. Pasien itu tahu-tahu menoleh ke arah Zacky dan mereka saling bertatapan beberapa detik. “Parker, dia dari masa depan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN