24. Boneka Beruang

1427 Kata
“Miss you.” Sebuah ramalan dan foto boneka beruang. Sudah lebih dari satu jam. Elly menatap ramalan Keen365 yang hanya terdiri dari dua kata. Meski Dean sudah mengatakan bahwa itu bukan ramalan, apalagi tidak menjelaskan waktu dan tempat kejadian. Keen365 benar-benar misteri yang sulit diprediksi. Bahkan para psikolog yang bekerja sama dengan PIC, belum berhasil memprofilkan Keen365. Karena terkadang ramalannya terkesan menyedihkan, kadang juga seolah bertepuk tangan. Siapapun Keen365 sepertinya menderita gangguan jiwa, alias ODGJ. “Ini memang bukan ramalan, Dean. Tapi aku merasa ini sebuah petunjuk. Dan itu membuatku ngeri.” Dean mendekat. Mengamati foto boneka beruang dari arah punggung Elly. “Oke, petunjuk apa yang kau dapat?” “Boneka ini, aku hadiahkan pada adikku.” “Adikmu?” Elly mengangguk. “Seperti yang kuceritakan. Di Seruni Point. Di sana ada arena bermain ank-anak, Timezone, Playground dan sejenisnya. Dan aku memenangkan salah satu permainan, hadiahnya boneka beruang ini.” “Di mana adikmu sekarang?” tanya Dean, sembari menarik kursi dan menjajari Elly. “Bagaimana komentar wargamer?” “Banyak yang mengaku memiliki boneka yang sama. Dari Seruni Point. Di kalung boneka ini ada label, Seruni Point.” Dean termangu. Petunjuk semakin mengerucut, tapi juga semakin rumit. Karena tempat itu sudah terbakar, dan tak bisa lagi dilacak siapa yang pernah memenangkan hadiah permainan di sana. Bisa ribuan orang. “Apa PIC akan mendatangi setiap orang yang berkomentar?” tanya Dean. “Kurasa Keen365 sengaja membuat kita bingung. Menurutmu, apa dia tahu kalau sedang kita selidiki?” Elly mengendik bahu. “Entahlah. Aku sudah mulai lelah dengan semua ini, Dean. Sepertinya benar kalau semua ramalan Keen adalah bocoran takdir di masa depan, jadi kita tak akan punya kuasa untuk menghentikannya.” Dean menggeleng. “Tidak seperti itu. Masa depan adalah rahasia yang tidak boleh dibocorkan. Ada peraturan tentang hal itu, yang tidak bisa kita langgar.” Elly menoleh, menatap sepasang mata biru Dean. “Memangnya kau dari masa depan? Bagaimana kau bisa tahu ada aturan semacam itu? Di jaman sekarang, masa depan adalah hal yang selalu membuat orang penasaran. Seperti seorang pemuda yang melihat gadis cantik melintas di jalan. Akan dikejar dan dicari sampai ketemu di mana rumahnya.” “Kau tidak akan melakukan hal itu, kan?” tanya Dean menyelidik. “Aku sudah bersuami.” Dean mendengus. “Bukan itu maksudku. Kita semua penegak hukum, apa kita akan mengandalkan informasi masa depan untuk menangkap Keen365? Bila memang demikian, ayo kita duduk manis di rumah. Toh di masa depan semua kriminal akan tertangkap dan masuk penjara. Dan dunia aman, damai, sentosa. Bukankah itu semua takdir?” Elly melengos. Tentu saja konsepnya menjadi salah bila seperti itu. Terkadang rasa lelah dan penyakit yang dideritanya membuat Elly putus asa dengan pekerjaan yang tak pernah terselesaikan. “Entahlah, Dean.” Dean menepuk bahu Elly. “Kalau begitu, kita yang akan menjadi takdir di masa depan. Mengukir sejarah bahwa kita yang telah menangkap Keen365 dan membuatnya tak lagi bisa mendapatkan informasi dari masa depan.” “Jadi anggap saja dia merindukan Seruni Point yang terbakar itu?” Dean mengangguk. “Aku tidak akan pindah apartemen seperti saran Kapten Kaluma dan Kapten Hanung. Seruni Point sepertinya adalah kenangan Keen365. Kita harus mengumpulkan lebih banyak data dari sana. Dari dalam kamarku.” “Mereka sudah mengganti kaca jendelamu?” “Aku baru boleh menempati kembali setelah satu pekan. Polisi sedang mengolah TKP dan memastikan bahwa aku akan baik-baik saja.” Elly menatap Dean khawatir. Dia merasa kasihan pada lelaki bule di hadapannya. Menjadi target pembunuhan dan selamat, pasti bukan peristiwa yang menyenangkan. Meski Dean tampak biasa saja, sama sekali tidak terlihat depresi. “Jangan pernah berdiri dekat jendela.” Dean menatap manik mata coklat Elly, mendapati sepasang mata penuh kekhawatiran di sana. “Jangan khawatir. Bila takdirku di masa depan aku tetap hidup untuk menangkap Keen365, maka aku tidak akan mati saat ini.” * Kapten Hanung dan Elly Manoa memasuki kamar Dean. Hari ini mereka membantu Dean kembali ke kamar apartemennya setelah sepekan berpindah ke hotel lain. “Kamarmu nyaman,” puji Elly. “Meski hanya ada tempat tidur dan meja.” “Ini saja sudah cukup bagiku,” ucap Dean. Kapten Hanung berdiri di depan jendela dan menatap jauh ke luar, memandangi Jakarta di siang terik. “Elly, kau sudah mendapat laporan dari polisi soal penembaknya?” “Belum, Kapten.” “Dari hotel di seberang sana,” ucap Kapten Hanung. “Benar-benar sniper handal, dari jarak seratus meter. Entah targetnya Dean Parker atau anak buah Jalal Bokeh. Tapi, aku yakin penyerangmu itu jelas bukan kebetulan. Jalal sudah mengaturnya demikian rapi. Dia bahkan lebih jeli dari polisi negara ini.” “Kurasa dia mantan polisi,” ucap Elly, berdiri di sebelah Kapten Hanung, namun hanya mengintip saja ke luar jendela. Dia tak ingin menjadi sasaran tembak dari hotel di seberang sana. “Belum tentu. Tapi dia punya pengaruh kuat di kalangan pejabat tinggi, hingga bisa mendapatkan anak buah yang punya keahlian khusus. Kini dia mengincar Keen365, berusaha mendapatkan simpatinya dengan menjalankan semua ramalannya. Aku tidak bisa membayangkan jika Keen365 bekerja sama dengan Jalal Bokeh. Entah apa jadinya negara ini.” “Tenggelam,” ucap Dean, membuat dua orang yang berdiri di dekat jendela menoleh ke arahnya. Dean menelan ludah. Dia sendiri mengatakan pada Elly kalau masa depan akan lebih baik tidak dibocorkan ke masa kini, tapi dia berkali-kali nyaris terlepas bicara. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Kapten Hanung curiga. “Aku hanya menganalisa. Keen meramalkan beberapa kejadian akhir-akhir ini menggunakan bom. Aku yakin, semakin lama dia akan semakin b*******h meramalkan menggunakan sesuatu yang lebih besar.” “Apa misalnya?” tanya Elly mulai penasaran. “Nuklir.” Ketiga orang itu terdiam. Kapten Hanung dan Elly saling menatap beberapa detik. Tak pernah ada dalam pikiran mereka, lintasan dugaan bahwa kriminal di negara mereka akan menggunakan nuklir. Mereka tidak sedang berperang. Dean merasa, untuk nuklir ini perlu memberitahukan pada dua orang di hadapannya. Agar mereka berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Keen365. Karena di masa depan, nuklir itu yang akan menenggelamkan Jakarta. “Kita tidak sedang berperang, Dean. Berpikirlah lebih logis,” tukas Elly, tak ingin menghadapi kengerian itu di negerinya. “Tidak untuk sekarang. Tapi coba bayangkan bila para kriminal itu saling bersaing mendapatkan Keen365. Jalal Bokeh saja berusaha menarik simpati Keen, berusaha mendapatkannya. Mereka adalah pesaing kita. Dan tidak menutup kemungkinan, negara lain juga menginginkan Keen365. Mereka bisa jadi percaya bahwa ramalan Keen365 bisa dibuat. Dalam arti, apa yang dia ucapkan selalu terbukti.” Kapten Hanung mengangkat tangan ke udara. “Hentikan khalayan kalian.” Elly duduk di tepi tempat tidur, kepalanya tiba-tiba terasa begitu berat. “Dean, boleh aku menumpang rebahan sebentar. Aku pusing, tiba-tiba kau seperti Keen365.” Dean menarik sudut bibir. “Silakan istirahat, Elly.” Kapten Hanung menggamit lengan Dean, mengajaknya keluar kamar. Membiarkan Elly beristirahat sejenak. “Hei, tolong jangan buat Elly sakit lagi,” bisik Kapten Hanung. Dean menggeleng. “Aku hanya menyampaikan analisaku saja, Kapten.” Dean balas berbisik, sembari melirik ke dalam kamar yang pintunya terbuka. “Dia belum sembuh total, kurasa kau harus memberinya waktu istirahat, atau bertemu dengan adiknya.” “Kenapa dengan adiknya?” “Adiknya juga punya boneka beruang itu. Dia memikirkan hal itu, menduga-duga, khawatir adiknya akan menjadi tersangka.” Kapten Hanung menarik napas panjang. “Kau tahu, sejak ramalan boneka beruang itu, anakku minta dibelikan boneka beruang yang sama. Dan sekarang boneka beruang itu ada banyak tersedia di mall. Laris manis. Sungguh bisnis yang menguntungkan, karena Keen365 sekarang menjadi idola.” Dean menelan ludah. Dampak ramalan Keen365 semakin tak terkendali. Banyak orang memujinya, sedangkan para kriminal dan penegak hukum berusaha mendapatkannya. “Aku yakin semua akan menjadi lebih buruk bila kita tak berhasil menemukannya lebih dulu, Kapten,” bisik Dean. “Atau Kapten punya wewenang untuk menghentikan akses internet? Memblokir twiter misalnya?” “Dia akan mencari jalan lain untuk menyampaikan ramalannya di publik. Kembali ke jaman dulu, bisa lewat koran atau surat. Ada saja cara bagi kriminal untuk melakukan kejahatannya. Atau yang lebih mengerikan, dia akan merambah televisi. Yang semua orang bisa melihatnya.” Dean menghela napas panjang. Sepertinya dia harus melapor pada komandan, meminta akses lebih dalam tentang Keen365. Akses yang diberikan saat ini, benar-benar membatasi geraknya. Dean yakin komandannya memiliki alasan kuat untuk tidak membocorkan semuanya. Seorang pemuda melintasi mereka membawa kantong plastik besar, berisi boneka beruang. Boneka yang sama dengan yang diposting Keen365 di akun twiternya. “Mas, bonekanya dijual?” tanya Kapten Hanung menghentikan pemuda itu, yang disambut dengan anggukan dan senyum cerah. “Barapa satu? Saya mau beli tiga untuk anak buah saya.” Dean melengos kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN