“Belum satu pekan, aku harus pindah apartemen lagi?” keluh Dean.
Dua orang Kapten duduk di hadapannya. Barry dan Elly tampak cemas berada di belakang dua orang itu. Lobby apartemen dipenuhi oleh polisi dan petugas medis yang berlalu lalang.
“Kau bisa tinggal di rumahku.” Barry menawarkan diri, namun hanya ditanggapi dengan tolehan sekilas oleh Dean. Mana mungkin dia menginap di rumah Barry, hanya akan membuatnya sering berdua dengan Elly. Barry seorang wartawan, dia pasti sering keluar rumah. Apalagi Elly sakit-sakitan, bisa jadi Dean yang merawatnya, bukan suaminya.
Zacky datang dan memberi hormat pada atasannya. “Ruangan sudah dibersihkan.”
Kapten Kaluma mengangguk. “Pihak apartemen bersedia mengganti kamar baru, tapi kami tidak setuju. Anda harus pindah tempat lagi, dengan pengawalan lebih ketat lagi.”
“Please, aku bukan bintang film. Aku seorang agen, sangat bisa menjaga diriku sendiri. Lebih baik Zacky mengawal orang lain yang lebih membutuhkan,” ucap Dean merasa punya kesempatan untuk terlepas dari dayangnya–istilah baru dari Elly ketika pertama kali datang di kamar apartemennya.
“Dia sudah menyelamatkan nyawamu tadi,” ucap Kapten Hanung. “Dan kami tidak ingin agen yang bekerja sama dan membantu kami celaka. Bagaimanapun juga, kita semakin yakin bahwa Bokeh yang melakukan semua ini berdasarkan ramalan Keen365. Penyerangmu tadi adalah anak buah Bokeh. Dia adalah sopir yang menculik Nono di Rumah Sakit.”
Dean mendengus kesal. Jalal Bokeh sudah menjadikannya notifikasi yang selalu terpantau. Pasti dia sedang terkekeh bersama Keen365.
“Sampai kapan kalian hanya yakin bahwa ini semua perbuatan Jalal Bokeh. Keen365 itu yang harus kita temukan. Dia menggunakan teknologi yang …”
Dean tidak meneruskan kalimatnya. Dia nyaris keceplosan.
“Lanjutkan, Dean.” Kapten Kaluma menatap Dean penuh selidik. Membuat Dean membuang tatapannya ke arah dragbar yang membawa jenazah penyerangnya melintasi lobby apartemen. Sejenak semua perhatian teralih ke suara dragbar.
“Teknologi apa?” tanya Kapten Hanung.
Dean menghela napas. “Di Futuristik Biro, kami mengembangkan teknologi anti pelacakan. Tujuannya untuk melindungi para agen. Teknologinya masih belum sempurna, karena masih tahap pengembangan. Tapi, Keen365 ini, sepertinya dia mempunyai teknologi itu, karena tak satupun yang bisa melacaknya. Baik itu lokasinya maupun identitasnya. Ini akan semakin menyulitkan kita. Yang kita lakukan hanyalah mencegah dan meminimalisir dampak. Tapi kematian tetap akan terus berjalan.”
“Menurutmu, darimana Keen365 mendapat informasi pembunuhan itu dan kenapa dia mempostingnya?” Kapten Kaluma tak mengalihkan tatapannya dari Dean, membuat Dean merasa dirinya sedang diinterogasi. Tapi, situasi saat ini sedang serius, karena dia sebagai penegak hukum berada dalam ancaman dan ancaman itu telah terbukti meski salah sasaran. Jadi, semua sedang dalam tekanan, termasuk dua kapten di hadapannya.
“Segala yang dia posting, adalah berita dari masa depan.”
“Dia peramal, tapi detil,” sahut Elly.
“Oke, katakan dia paranormal. Tapi dia tidak mendapat apapun dari yang dia ramalkan, siapa dia sebenarnya?” tanya Dean pada kedua Kapten di hadapannya.
“Itu tugas yang kami jalani sekarang, Dean. Mencari siapa dia.”
Dean mendengus. “Kurasa dia dari masa depan dan mempunyai teknologi dari masa depan.”
Dean akhirnya keceplosan, dan dia baru menyadari ketika kelima orang di hadapannya menatapnya tak berkedip.
“Berpikirlah logis, Dean,” ucap Kapten Hanung. “Seberapa canggih Futuristic Agen, tak akan pernah bisa orang-orang dari masa depan kembali ke masa lalu. Dan kita dari masa kini kembali ke masa lalu. Itu hanya ada di novel-novel dan film-film fantasy. Oke, soal teknologinya, oke mungkin kita tak bisa menyamai seperti yang dimiliki oleh Keen365. Dan bila itu memang benar, hal itu membuktikan bahwa kita berurusan dengan orang-orang yang paham teknologi, bahkan sangat canggih.”
“Memangnya apa kamu tahu di masa depan itu ada apa saja?” tanya Elly dengan nada mengolok.
Dean melirik Elly sinus. Tentu saja dia sangat tahu. Dan buktinya adalah dirinya sendiri. Sempat timbul keinginan untuk menghidupkan hologram di ponselnya, menunjukkan fitur-fitur yang hanya akan membuat orang-orang di hadapannya melongo.
Tapi itu percuma. Seperti kata komandannya, masa depan adalah sihir bagi masa kini. Hanya ada dalam khayalan yang hanya akan bisa diwujudkan dalam sihir. Mustahil.
“Entahlah, mungkin cucumu,” jawab Dean sekenanya.
*
“Kurasa tukang sapu baru itu dari masa depan,” bisik Elly pada Dean yang sedang asyik di hadapan komputernya.
Dean melirik Elly kesal. Sejak kasus penembakan di kamar Seruni Point, dugaan Dean tentang masa depan menjadi candaan berupa sindiran di PIC. Terutama Elly dan Barry. Dua orang realisitis yang tidak akan percaya kalau Dean berasal dari masa depan. Bahkan meski Dean membuka identitas aslinya.
“Dia menyapu dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh tukang sapu lainnya,” ucap Elly sembari mengamati tukang sapu baru yang sekarang sedang membersihkan kaca dari luar ruangan.
“Teruskan saja analisamu, Elly.”
Elly terkekeh. “Jangan terlalu serius, Dean. Kamu sedang dalam tekanan, jadi aku harus menghiburmu.”
“Zacky sudah cukup menghiburku setiap hari.”
Elly tergelak. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana cara Zacky menghibur Dean, mengingat Dean sepertinya tidak punya selera humor. Dia selalu tampak serius.
"Kau berhutang penjelasan padaku. Seruni Point," tagih Dean.
Elly terdiam sejenak. "Oh, itu. Aku baru ingat semalam waktu Barry mendisplay beberapa foto apartemen di seluruh Jakarta. Aku baru ingat, apartemen yang kau tinggali sebelumnya adalah sebuah mall. Dan di lantai tiga adalah arena bermain anak-anak. Di sana ada satu area bermain yang berdinding kaca. Dan bila berdiri di sana, akan terlihat gedung PIC dari sana. Arena itu bernama Seruni Point."
"Kenapa kau bisa ingat?"
"Aku dan adikku dulu sering bermain di Seruni Point. Ayah dan ibuku sibuk bekerja, dan mereka membelikan kami tiket untuk bermain di sana sampai mereka pulang. Setelah mall itu kebakaran, pengembang merubahnya menjadi apartemen. dan deretan kamarmu itu adalah posisi Seruni Point."
Dean terdiam. "Jadi, bisa saja semua kamar di deretanku."
"Iya, tapi kau yang berada dalam ancaman. Kau yang sangat memungkinkan menjadi sasaran penembakan. Kamu tahu kenapa? Karena di deretan kamarmu semuanya kosong, tidak berpenghuni. Penghuninya meninggalkan apartemen begitu ramalan Keen365 muncul dan spekulasi mengarah ke apartemen."
"Jadi Keen365 adalah orang yang mengetahui Seruni Point ini? Anak-anak di jamanmu yang sering bermain di sana."
Elly mengangguk. "Dan pegawai mall. Mereka sempat diberi fasilitas sebagai penyewa kamar-kamar Seruni Point sebagai kompensasi karena tidak lagi bekerja di mall. Hanya beberapa yang mengambilnya."
"Bagus, kalau begitu kita harus kembali ke sana dan menginterogasi semua orang yang tinggal di apartemen itu."
Elly menggeleng. "Aku, kamu tidak."
Dean mendelik.
"Jangan protes. Lakukan saja tugasmu di atas meja. Kau tidak usah khawatir karena Zacky akan mengawalku. Sedangkan kamu, bersama tukang sapu baru."
Elly menyambar ranselnya sebelum Dean sempat membuka mulut, hendak memprotes. Saat Elly keluar dan menutup pintu, tukang sapu baru itu masuk dan mengangguk ramah pada Dean.
“Kamu mau apa?” tanya Dean kesal.
“Saya utusan Kapten Kaluma.”
Dean mengangkat tangannya ke udara, putus asa. Jadi ada penambahan pengawal, dan dia menyamar menjadi tukang sapu. Hidupnya di jaman ini benar-benar menggelikan. Dan herannya, dia sama sekali tidak bisa tertawa seperti Elly.
“Kau disuruh apa?”
“Mengawal Tuan Dean Parker, bila Zacky tidak ada.”
Dean mengangguk-angguk. “Baguslah kalau begitu. Kau akan terus membawa sapu dan lap itu ke mana-mana?”
“Hanya bila di kantor ini.”
Dean menatap tukang sapu di yang berdiri di depannya. Secara fisik, dia lebih kekar dari Zacky, lebih meyakinkan sebagai seorang pengawal. Dean yakin, lengan lelaki ini berotot, hanya saja tersembunyi di balik bajunya.
“Lalu, bagaimana kesepakatan kita?”
“Tidak ada yang tahu kalau saya pengawal anda. Termasuk Elly Manoa dan Kapten Hanung. Jadi, kita bersikap sewajarnya. Saya juga akan menjadi informan buat anda, segala informasi dari Kapten Kaluma.”
Dean mengernyit kening. Dan tukang sapu itu memahami bahwa Dean merasa ada hal yang aneh. Tukang sa[u itu mendekat, hingga Dean bisa melihat badge nama di dadanya. Iwan.
“Ada penyusup di PIC, dan Kapten Hanung tidak ingin hal itu membahayakan anda. Anda sangat penting bagi Kepolisian. Saya bertugas hanya sampai penyusup itu tertangkap. Jadi, saya harap kita bisa bekerja sama untuk menangkapnya.”
Tukang sapu itu berlalu setelah mengelap meja Dean, berlagak seolah menghilangkan jejak. Membuat Dean menyadari, bahwa ancaman bagi dirinya tidak hanya dari Bokeh, tapi juga dari internal PIC.