Dean merasa diawasi. Bukan oleh orang yang tidak dia ketahui, tapi oleh Zacky Sang Pengawal. Lelaki itu berada di mana saja dan kapan saja, membayanginya seolah Dean adalah gadis idolanya.
“Dia membuatmu jengkel?” bisik Elly sembari tersenyum-senyum dari seberang meja Dean. Dia tahu Dean mulai merasa tidak nyaman dengan pengawal yang selalu menjadi bayangannya. Tidak seperti kalangan artis atau pejabat penting yang bangga dengan bodyguard mereka, Dean tampak terganggu dengan keberadaan Zacky. “Karena dia kerempeng, ya kan?”
Dean hanya melirik Elly kesal. Juga melirik Zacky yang berada di luar ruangan, mengamati semua orang. Matanya sesekali memindai seisi ruangan Dean dan Elly, memastikan Dean baik-baik saja.
“Berapa kalian membayar orang itu?” tanya Dean melemparkan pensil di tangannya. Dia tak bisa berkonsentrasi menandai beberapa petunjuk di koran yang didapatnya. Sebuah ramalan sudah muncul ladi dari Keen365 tadi malam, dan seisi PIC sedang sibuk memprediksi di mana akan terjadi pembunuhan seperti yang diramalkan oleh Keen365.
“Kau tidak perlu khawatir, semua gratis dari Kapten Kaluma. Kau juga tidak perlu memberi tip padanya.”
Dean mendengus. “Kalau begitu, jangan buat aku tambah kesal padanya. Fokuslah pada ramalan Keen semalam. Ada yang akan terbunuh malam nanti.”
Elly tertawa. “Aku hanya bercanda Dean. Sudah sejak semalam aku tidak berhasil menemukan Seruni Point ini di ibukota. Seseorang akan tewas karena sebuah peluru menembus kaca di Seruni Point. Jujur, aku mengkhawatirkan Jalal Bokeh akan memanfaatkan ramalan ini untuk membunuhmu. Mengingat ancaman yang kau terima sudah sampai di apartemenmu.”
Dean terdiam. Tadi pagi saat hendak berangkat ke PIC, dia menemukan sepucuk surat ancaman lagi di bawah pintu. Siapapun dia, benar-benar pantang menyerah. Mengejarnya sampai di apartemen barunya, hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama.
“Coba kau baca lagi ramalan Keen365.”
Elly membuka akun twitter milik PIC. Menjetik jari ke arah Dean, untuk mendekat. “Ada komentar yang menarik di sini.”
Dean mendekat dan duduk di sebelah Elly.
“Jakarta yang mengerikan jam 23.05 WIB. Peluru menembus kaca dan menembus kepala seorang lelaki. Seruni Point bersimbah darah.”
“Aku sudah membaca itu,” sahut Dean. “Seperti kau bilang, tidak ada nama tempat itu di Jakarta. Hanya ada di daerah, di dekat kawasan Gunung Bromo. Tapi, di Seruni Point tidak ada kaca selain rumah penduduk. Dan Seruni Point tidak ada kaitannya dengan Jakarta.”
“Aku pernah ke sana, Seruni Point,” ucap Elly menerawang. “Bersama adikku dan kedua orang tuaku. Tempatnya indah, dan kita bisa melihat Gunung Bromo dari puncaknya. Dingin, tapi menyenangkan.”
Dean menatap Elly yang tampak senang mengenang masa lalunya. “Kurasa aku juga harus pergi ke sana, sepertinya sangat menyenangkan.”
Elly mengangguk. “Kau tidak akan kecewa. Meski lelah mendaki sampai ke Seruni Point, tapi pemandangan di atas benar-benar impas dengan kelelahannya. Dari sana bisa melihat ke segala arah.”
“Bisa melihat ke segala arah?”
Elly mengangguk.
“Kurasa, kita harus mencari tempat yang berjendela kaca dan bisa melihat ke segala arah. Di situ pembunuhannya akan terjadi,” ucap Dean seperti menemukan petunjuk meski masih meragukan.
“Kapten Kaluma sudah mengerahkan anak buanya untuk mengamankan beberapa gedung bertingkat, bahkan juga di Seruni Point lebih dari seribu kilometer dari sinii.” Elly mengarahkan mouse ke ribuan komentar yang sudah muncul. “Lihatlah satu komentar ini, Dean. Dia bilang, dia tahu Seruni Point di Jakarta. Sebuah apartemen, katanya.”
“Apartemen?” Entah kenapa Dean merasa ini semua merujuk pada dirinya. “Cari informasi tentang aparteman tempat aku tinggal, Elly.”
“Kenapa?”
“Jika memang ancaman Jalal Bokeh ini serius, dia akan memanfaatkan ramalan ini padaku, kan?”
Elly dan Dean saling menatap beberapa detik. Sama-sama sepakat bahwa Dean benar-benar mendapat ancaman serius akibat ramalan Keen365 ini.
“Aku akan mengabari Kapten Hanung.”
“Jangan dulu,” cegah Dean. “Aku yakin dia tidak punya tenaga yang mencukupi untuk menjaga semua apartemen. Kita kerucutkan informasinya, yaitu di apartemen yang aku tinggali dulu.”
“Di aparteman mana kamu tinggal sekarang?”
Dean mendelik. “Jadi kau sendiri tidak tahu?”
“Kapten Hanung bilang, semakin sedikit orang yang tahu akan semakin baik. Jadi, sepertinya hanya pengawalmu saja yang tahu di mana kamu tinggal sekarang.”
Dean dan Elly menoleh serempak ke arah Zacky yang berdiri di balik dinding kaca ruangan mereka. Entah kenapa, melihat lelaki kurus kerempeng yang sedang menatap mereka, membuat Dean dan Elly menjadi sangsi atas keselamatan Dean.
*
Selasar menuju kamar Dean tampak remang-remang, membuat Dean was-was. Kenapa pula pihak pengelola apartemen mematikan lampu selasar, hanya menghidupkan satu lampu saja yang terletak di tengah selasar. Sedangkan kamar Dean di ujung selasar.
“Kenapa lampunya cuma hidup satu?” tanya Dean. “Kau sudah mengecek ke pengelola apartemen?”
“Sudah. Mereka bilang, atas perintah polisi. Karena semua anggota akan memakai mode malam. Setelah anda masuk kamar, lampu selasar akan dimatikan semua.”
Dean merungut. Memakai mode malam apa semua orang juga harus dalam kegelapan seperti ini. Dia yakin hanya di selasarnya saja yang dimatikan. Meski dia dalam perlindungan pengawal, sama saja bohong karena semuanya menjadi tahu siapa dia sebenarnya termasuk pengelola apartemen.
Keduanya melangkah perlahan menyusuri selasar apartemen, ketika seorang lelaki mengenakan jacket bertudung, keluar dari salah satu kamar. Dia berjalan menunduk dengan kedua tangan berada dalam saku jacketnya. Dean melirik Zacky. Dilihatnya Zacky tampak waspada, pada lelaki yang tampak mencurigakan tersebut.
Selangkah sebelum mereka berpapasan, tahu-tahu lelaki bertudung itu mengeluarkan benda berkilat dari saku bajunya dan mengarahkannya pada Dean. Sepersekitan detik, benda berkilat itu terlempar dan Zacky sudah melayangkan tinjunya ke arah lelaki bertudung.
Dean menepikan tubuhnya di dinding. Di hadapannya, Zacky si kurus kerempeng itu berhadapan dengan si lelaki bertudung, saling memukul dan menendang. Dean hanya bisa mengamati sembari memastikan selasar dalam kondisi aman. Dia meraih ponsel di saku celananya, hendak menghubungi kantor PIC. Namun diurungkannya. Dia ingin melihat kemampuan Zacky sebagaimana yang tertulis dalam profilnya.
Dan ternyata benar, Zacky bisa menguasai keadaan dengan ilmu bela dirinya. Lelaki bertudung yang sebelumnya berusaha melawan, berhasil ditaklukkan Zacky. Pukulan dan tendangan Zacky yang semula berhasil ditangkisnya, lama-lama membuat lelaki bertudung itu kewalahan. Ilmu bela diri Zacky benar-benar membuat lelaki kerempeng itu tak terkalahkan, meski lelaki bertudung itu mengeluarkan pisau kedua. Pisau kedua itu kembali terlempar jauh, bahkan jatuh di dekat kaki Dean. Dean langsung memungut pisau itu dan mengantonginya.
Kini Zacky mengunci tubuh lelaki bertudung itu di lantai, dan memilin kedua tangannya ke punggung. Teriakan kesakitan dari mulut lelaki bertudung itu, dibungkam oleh Zacky dengan menekan wajahnya di atas lantai.
“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Zacky dengan napas terengah sembari menoleh ke arah Dean yang berdiri menempel di dinding.
Dean mengangguk. Dia bergegas mengeluarkan kunci kamarnya, dan menyuruh Zacky membawa lelaki itu ke dalam kamar.
“Anak buah Kapten Kaluma akan datang berkeliling sebentar lagi,” ucap Zacky. “Kita serahkan pada mereka.”
“Tidak,” bantah Dean. “Bawa masuk ke dalam kamar dulu, aku akan menginterogasinya. Aku yakin dia anak buah Bokeh.”
Dean mengunci pintu setelah Zacky menggelandang lelaki bertudung itu masuk ke dalam kamar. Zacky memborgolnya dan mendudukkannya di kursi, di tengah ruangan. Dean membuka tirai kamar dan mengamati suasana di luar apartemen.
“Zacky, awasi di luar, aku yakin masih ada temannya yang akan menyerbu ke sini. Bokeh tak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai!” perintah Dean, lalu membuka paksa tudung lelaki penyerangnya.
“Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu?” tanya Dean sembari mengangkat dagu lelaki yang kini wajahnya mulai berhias darah segar yang meleleh dari pelipis dan hidungnya. Zacky benar-benar menghajarnya. Lelaki itu memberontak hingga terguling dari kursi.
“Cari tali, Zacky. Ada di laci!” perintah Dean. Sembari bersusah payah dia mendudukkan lelaki itu di kursi dan menyandarkannya di dekat jendela, setelah meninju mukanya hingga lelaki itu tak berdaya. Sementara Zacky membuka laci dan mencari tali yang dimaksud.
“Tidak ada tali!” seru Zacky.
“Ambil sprei, jadikan tali!”
Ponsel Dean berdering. Dean melirik jam dinding, waktunya semakin dekat. Dean yakin, PIC hendak memastikan keselamatannya, karena jam sudah menunjukkan pukul 23.03.
“Dean, aku tahu di mana Seruni Point!” teriak Elly di seberang sana.
“Jangan sekarang, Elly. Aku sedang sibuk!” tukas Dean hendak mematikan ponsel, sedangkan satu tangannya memegang bahu si penyerangnya karena lelaki itu hendak memberontak lagi.
“Di kamarmu, Dean! Seruni Point itu kamarmu!”
Dean tertegun.
Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dan suara meletup. Lelaki bertudung yang didudukkan Dean di dekat jendela, terkulai seketika dan darah mengucur dari keningnya.