21. Seorang Pengawal

1234 Kata
“Kurasa ini dari Jalal Bokeh.” Kapten Hanung membolak balik kertas surat ancaman yang didapat Dean semalam. Kemudian menghulurkannya ke arah Elly yang berada di sampingnya. Elly hanya melihat tulisan itu sekilas lalu mengembalikan surat itu pada Dean. “Dia sudah mengawasi kamu, Dean. Sebaiknya kau harus berhati-hati,” ucap Elly memberi saran.” Dean menatap Elly. Wanita itu sudah tidak sepucat kemarin, rupanya dia sudah cukup beristirahat. “Aku justru mengkhawatirkan kamu, Elly. Kamu masih belum pulih seratus persen.” Elly menepis udara. “Jalal Bokeh tidak akan merasa terancam oleh PIC, karena kami belum pernah berhasil menangkap satupun anak buahnya. Sedangkan kamu sudah sukses melakukannya. Itu menjadi catatan penting bagi Bokeh. Kurasa dalam waktu dekat dia akan menemuimu.” Dean mendecih. “Bukankah penangkapan Nono kemarin, atas nama PIC? Bukan atas nama aku?” “Analisa kami tidak demikian,” sahut Kapten Hanung. “Selama ini, kerja kami di PIC selalu berkoordinasi dengan Kepolisian, dalam hal ini Kapten Kaluma. Jadi segala tindakan yang kita lakukan, sudah berpola dan Bokeh memahami hal itu. Dia merasa aman, karena dia sudah tahu polanya. Ada hal-hal yang tidak bisa kami intervensi, dan dia memanfaatkan itu. Dia tahu apa yang harus dia hindari agar dia tetap aman dari polisi dan PIC.” “Jadi?” tanya Dean menuntut kesimpulan. “Kau jelas dalam ancaman.” Dean mengendik bahu. “Itu akan memudahkan kita untuk mengumpan Jalal Bokeh dan mendapatkan Keen365.” Kapten Hanung menggeleng. “Kami tidak akan mengambil resiko itu, Dean. Kamu perlu pengawalan, karena kami tidak mau kehilangan kamu seperti halnya Bokeh kehilangan Nono. Setelah kematian Nono, kami baru mengetahui profil dia yang sebenarnya. Dia ternyata mantan angkatan bersenjata yang dipecat dengan tidak hormat karena terlibat penjualan narkoba. Jadi, dia orang yang sangat berharga bagi Bokeh. Hukuman bagi dia, jelas lebih berat dari anak buah yang lain karena Nono seharusnya tidak gagal dalam bertugas. Jadi, mau tidak mau, kami harus memberikan kamu pengawalan. Dan kurasa …” Kapten Hanung menoleh ke arah Elly. “Tidak, jangan Elly,” ucap Dean sebelum Kapten Hanung berucap. “Aku tidak mau mengorbankan Elly hanya demi mengawalku. Dia masih belum sembuh.” Elly melebarkan tangan. “Aku sudah terbiasa seperti ini dari dulu, Dean. Sakit itu sudah menjadi nama tengahku. Tidak masalah.” Dean menggeleng berkali-kali. “Tidak, aku tidak mau kau pingsan lagi seperti kemarin. Justru kau yang harus lebih dikhawatirkan, bukan aku.” Suasana hening sejenak. Kapten Hanung kembali mengelus dagunya, berpikir keras. “Aku akan minta personel pada Kapten Kaluma.” “Itu terlalu berlebihan.” Kapten Hanung menepuk bahu Dean. “Tidak. Justru seperti yang kau katakan tadi. Bila ini bisa menjadi umpan bagi Jalal Bokeh, maka kamu harus didampingi oleh personel yang bisa mengatasi segala masalah yang akan kau hadapi. Setidaknya, selevel Nono. Aku tidak akan pensiun dengan penasaran, karena Keen365 tak pernah ditemukan. Bila dia kita temukan, aku yakin Bokeh bisa kita kendalikan. Karena dia adalah kriminal yang memanfaatkan ramalan di twitter itu untuk melegalkan kejahatannya. Dan itu tidak hanya dilakukan oleh Bokeh. Semua kriminal mengambil keuntungan dari Keen365, hanya saja Bokeh lebih piawai melakukannya.” Dean tidak bisa menolak. Meski dia tidak suka dikawal, karena akan semakin membuatnya kesulitan menyembunyikan jati dirinya. Siapapun yang berada di dekatnya, pasti akan mengetahui tentang dirinya lebih dalam. * Menjelang tengah malam, Dean masuk ke dalam kamar apartemennya. Saran dari Kapten Hanung, dia pindah dari hotel ke apartemen yang tidak jauh dari Kantor PIC. Selain apartemen lebih aman karena ada security yang menjaga, di kantor PIC pun demikian. Ada petugas keamanan yang berjaga dua puluh empat jam dan bisa dihubungi kapan saja. Dean menurut saja. Dan setelah dipikir-pikirnya, memang sebaiknya dia dikawal oleh seseorang. Kapten Hanung sudah memberikan profil orang yang akan mengawalnya. Namanya Zacky, anak buah Kapten Kaluma yang terbiasa mengawal saksi yang dilindungi polisi. Melihat fotonya, Dean merasa sedikit sangsi, karena Zacky terlihat kurus, bahkan bisa disebut kerempeng. Apa dia memang ahli bela diri seperti dalam profilnya, Dean merasa harus membuktikannya. Kamar apartemen Dean lebih luas dari kamar hotelnya. Dan dari lantai tiga tempatnya berada, Dean bisa melihat Kantor PIC yang memiliki tower di atapnya. Dean bersiap hendak mandi sebelum melapor pada komandan di masa depan, ketika sebuah ketukan terdengar pelan. Dean membuka pintu dengan sikap waspada dan mendapati seorang lelaki kurus berdiri di depannya mengenakan T-Shirt putih dan celana pendek selutut. “Tuan Dean Parker? Saya Zacky utusan Kapten Kaluma.” Dean mengernyit kening. Benar-benar jauh dari ekspektasinya. Entah demi penyamaran atau memang seperti ini standar pengawalan di masa sekarang, di negeri ini–Dean semakin sangsi. “Oh ya? Ada perlu apa anda datang ke sini?” tanya Dean pura-pura tidak tahu dengan rencana pengawalan ini. Zacky mengeluarkan beberapa amplop dari saku celana pendeknya dan menghulurkan pada Dean. “Sebelum ke sini, saya membersihkan bekas kamar hotel anda. Ada beberapa surat di bawah pintu. Saya yakin semua ini untuk anda.” Dean membuka pintu lebih lebar, menyilakan Zacky untuk masuk. Lelaki itu lebih tinggi darinya, dan dari caranya melangkah tampak sangat waspada dan berhati-hati. “Kau tidak akan menginap di sini kan?” tanya Dean sembari menyilakan Zacky duduk, tapi lelaki itu tampak tidak berminat duduk. Dia berdiri di depan jendela dan menebar pemandangan di luar jendela yang hanya dihiasi kelap kelip lampu ibu kota. “Sayangnya anda akan melewatkan siang dan malam bersama saya. Tolong selalu update informasi, terutama bila anda sedang ada layanan kamar.” “Layanan kamar, maksud anda?” “Anda tahu kan? Wanita penghibur?” Dean melempar amplop di tangannya sembari mendengus kesal. “Jangan samakan saya dengan bule-bule yang biasa anda kawal. Saya tidak seperti itu.” “Kalau begitu, maafkan saya,” ucap Zacky sembari sedikit membungkuk. “Saya salut anda tidak demikian, karena terus terang saja, wanita-wanita seperti itu justru akan membahayakan keamanan anda sendiri selama di Indonesia.” Dean menatap Zacky yang juga menatapnya. Dia memahami kenapa Zacky berkata demikian, karena dia memang harus memastikan keamanan kliennya. Dean lalu membuka salah satu amplop dan membaca tulisan di hadapannya. “Hm, ancaman lagi,” ucapnya sembari menyerahkan surat itu pada Zacky. “Aku harus meninggalkan negara ini. Menurutmu apa aku bisa melakukannya tanpa melakukannya?” Zacky mengangguk, mengerti. “Saya akan membantu anda melakukannya. Semua orang mengira anda ke luar negeri, tapi anda tetap di sini. Tapi mengelabui Jalal Bokeh tidak semudah itu.” Dean mendengus. Membaca lagi amplop satunya. “Apa ini? Nomor hape dan gambar hati?” Zacky meraih kertas di tangan Dean dan membacanya dengan cepat. Kertas ibu bertuliskan sebuah nomor ponsel yang dikelilingi gambar hati. “Sudah saya duga, layanan kamar dengan wanita penghibur. Saya yakin, ini juga dari Jalal Bokeh. Jangan pernah menghubungi nomor siapapun.” “Aku bisa melacaknya, siapa tahu itu nomor Jalal Bokeh sendiri.” Dean punya fitur di ponselnya yang bisa melacak keberadaan nomor ponsel, tapi dia belum mencobanya pada nomor ponsel jaman sekarang. Bisa jadi akan berbeda efeknya. “Saya sarankan, tidak. Ini bisa jadi jebakan.” Dean menatap Zacky. Sebagai pengawal, lelaki di depannya terlalu cerewet. Dia akan menjadi penghalang segala keputusan yang akan diambilnya. Dan Dean bukan anak gadis yang harus dipingit dalam rumah agar tidak ada lelaki liar di luar sana yang akan mengganggunya. “Jadi, kau akan membatasi semua gerakku?” tanya Dean dengan tatapan menyelidik. “Sampai ancaman ini mereda dan Jalal Bokeh menganggap anda bukan ancaman lagi.” Dean mendengus. “Kita harus menyepakati banyak hal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN