Masalah besar bakal terjadi.
Bila Nono dibunuh oleh Jalal Bokeh sendiri, tidak masalah. Masalahnya adalah bila Nono dibunuh oleh musuh Jalal Bokeh. Sebagaimana diketahui oleh para penegak hukum, kriminal penguasa seluruh Indonesia itu tidak hanya dimusuhi oleh para penegak hukum, tapi juga kriminal lain yang merasa tersaingi.
PIC harus berusaha keras menemukan siapa pembunuh Nono. Atau tinggal menunggu waktu, bagaimana Jalal Bokeh membalas kematian anak buahnya–bila memang bukan dia yang membunuh.
“Memangnya apa kesalahan Nono sehingga dia harus dibunuh?” tanya Dean pada Elly. Mereka berdua sudah berada di Rumah Sakit kembali, Rumah Sakit yang sama dengan Nono saat dirawat. Namun kini dia sudah menjadi mayat bersimbah darah.
“Sudah kubilang kan, dia gagal dalam tugas. Membunuhmu.”
Dean termangu. Sebegitu pentingnyakah dirinya sehingga bila dia tidak mati, maka orang lain yang harus mati.
“Menurutmu begitu?” tanya Dean lagi.
Dean dan Elly sedang mengamati petugas kamar mayat membersihkan mayat Nono, melepas baju dari badannya dan juga perban yang membungkus kakinya. Percuma operasi patah tulang dijalankan pada anak buah Bokeh ini, bila akhirnya kaki itu pun tak bernyawa lagi.
Elly tak menjawab. Menatap leher Nono yang masih dikotori oleh darah kering yang mulai menghitam. Perlahan sebuah ingatan serupa muncul di kepalanya. Makin lama makin jelas, dan membangkitkan rasa mual perlahan di perutnya. Sejurus kemudian, Barry masuk dan menggamit lengan istrinya.
“Elly, ayo pulang. Kamu sudah terlalu lelah hari ini,” ajak Baryy. Elly bergeming, merasa masih sanggup untuk meneruskan pekerjaannya, tapi kemudian Dean memberi kode pada Barry untuk segera membawa Elly keluar dari kamar mayat.
“Bawa dia pulang, Barry. Dia harus istirahat.”
Dean menatap punggung suami istri itu hingga menghilang di balik pintu. Barry melingkarkan lengan di bahu Elly, begitu melindungi istrinya. Terbetik di benak Dean, bayangan seorang wanita yang sempat mengisi relung hatinya i masa depan. Wanita Melayu yang kemudian sedikit demi sedikit mengajarinya Bahasa Melayu.
Maka ketika komandannya memberikan tugas ini, dia tak ragu untuk mengambilnya. Dia ingin mengetahui lebih dalam tentang asal negeri tempat wanita yang sempat membuatnya mulai memikirkan tentang sebuah keluarga.
Ternyata negeri ini cukup bisa dibilang kacau, di jaman sekarang.
“Kematiannya karena luka di lehernya?” tanya Dean pada petugas kamar mayat.
Petugas itu mengangguk. “Sepinta seperti itu. Tapi bisa jadi tidak. Satu jari jempolnya juga telah dipotong.”
Petugas mengangkat tangan kiri Nono, menunjukkan bahwa jari mayat itu tidak lima lagi. Bagian jempol sudah terpotong sampai pangkalnya.
“Untuk apa jempol?” tanya Dean merasa aneh.
“Sidik jari,” jawab si petugas. “Hasil otopsi lebih lengkap akan saya kirim ke PIC.”
Dean terdiam. Dia harus menunggu hasil otopsi untuk menentukan penyebab kematian Nono. Dan setelah itu, PIC yang akan menyelidiki kasus ini. Menambah pekerjaan PIC yang seharusnya fokus pada Keen365.
Semoga saja tidak ada ramalan baru dari tweet Keen365.
*
Akhirnya, kembali ke kamar untuk merebahkan diri. Dean menemukan sepucuk surat yang diselipkan di bawah pintu. Tertuju padanya, Dean Parker. Tak ingin perhatiannya terfokus pada surat tanpa nama itu, Dean terlebih dulu mandi dan setelahnya merebahkan diri di tempat tidur sembari menghidupkan hologram ponselnya.
Hari ini saatnya dia melapor pada komandan.
Namun terlebih dulu dia membuka surat untuknya. Surat tanpa nama pengirim itu hanya berisi selembar kertas dengan tulisan tangan menggunakan huruf kapital.
“Tinggalkan negara ini, atau kau mati.”
Dean mengamati surat itu beberapa detik, memastikan kalau kalimat di dalamnya benar-benar ancaman buat dirinya. Setelahnya dia membolak balik kertas itu dan tak menemukan apapun.
“Ah, sial. Kenapa pula ada yang mengancamku untuk pergi dari negara ini?”
Dean tak berani menduga kalau pengirim surat ancaman ini adalah Jalal Bokeh. Tapi setidaknya dia tahu, bahwa Jalal Bokeh adalah orang yang terusik dengan kedatangannya di negara ini. Penangkapan Nono tanpa sengaja oleh dirinya, pasti sampai di telinga Raja Kriminal Indonesia itu.
Dia harus melaporkan hal ini pada PIC, tapi sebaiknya komandan diberitahu lebih dulu. Dia lalu memilih fitur untuk melakukan panggilan pada komandannya. Panggilan lintas negara dan lintas waktu. Tidak seperti di jaman sekarang yang menggunakan pulsa untuk bertelekomunikasi, teknologi di jaman Dean berasal menggunakan gelombang elektromagnetik buatan yang bisa menembus ruang dan waktu dengan mengatur pada frekuensi tertentu.
Bagi Dean, dia cukup memilih fiturnya saja.
Gambar komandan perlahan muncul, sedikit buram. Tapi perlahan mulai jelas.
“Selamat malam, Komandan.”
“Dean Parker, Selamat Malam. Aku sudah menunggumu sejak tadi.”
Dean mengangguk. “Progres kurang signifikan, Komandan. Segala hal di sini seolah lebih lambat dan lebih rumit.”
Komandan menyungging senyum. “Karena itulah kau ku kirim ke sana. Belajarlah, karena cikal bakal teknologi yang kita nikmati sekarang itu berasal dari masa di mana kamu berada.”
“Baik, Komandan,” sahut Dean. Dia sebenarnya tidak ingin mengeluh, karena dia mulai menikmati semua penyelidikan yang belum juga menemukan titik terang. “Ada satu lagi. Aku mendapat surat ancaman.”
Dean mengibas-ngibaskan kertas dari surat ancaman itu di hadapan komandannya.
“Kau disuruh pergi?”
Dean mengangguk. “Atau aku mati.”
Komandan tertawa sejenak. “Kau tidak akan mati, buktinya kau bisa kembali ke masa lalu. Surat itu petunjuk.”
“Aku tidak boleh tahu siapa pengirimnya? Bukannay di masa depan sudah terbaca?”
Komandan menggeleng. “Kau tahu aturannya Dean, kau bisa kelepasan bicara bila sampai mengetahuinya dan tentu saja tidak bisa bersikap wajar. Ingat, identitasmu dari masa depan harus kau rahasiakan. Atau misimu untuk membantu negara itu tidak lenyap dari muka bumi akan gagal total.”
“Komandan, boleh aku bertanya?”
“Silakan.”
“Bila negara ini lenyap total, bagaimana kita bisa mengembangkan teknologi di masa depan, Komandan.?”
Komandan menarik sudut bibir. “Kau bisa bertanya pada PIC. Meski belum berhasil memecahkan kasus Keen365, tapi mereka adalah orang-orang hebat. Bahkan beberapa kasus pelik sudah berhasil mereka pecahkan. Hanung orang yang cerdas, tapi takdir belum berpihak padanya. Kau dekati Elly saja terus, jawabannya ada pada dia.”
Dean menelan ludah. Mendekati Elly bagaimana maksudnya? Wanita itu sudah bersuami dan Elly juga sakit-sakitan. Dean tidak yakin Elly bisa maksimal dalam tugasnya.
“Kenapa, kau tampak ragu?”
“Dia … sudah bersuami, Komandan.”
“Dean!” bentak Komandan. “Pulang dari negeri itu nanti, kamu harus segera menikah. Kurasa otakmu mulai terkontaminasi penduduk di sana. Mendekati tidak mesti harus menjalin hubungan. Suaminya bisa mencekikmu, dan kau hanya tinggal nama yang dipajang di Kantor dengan judul : Dicekik oleh rekan sekerja.
Dean mengangguk. “Baik, komandan. Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya.”
Dean mematikan fitur sambungan pembicaraan, lalu membanting badan di bantal. Mungkin dia menikahi saya salah seorang wanita di jaman ini. Kemudian ketika komandan memintanya pulang, dia akan membawa istri dan anaknya ke masa depan. Meski itu akan menimbulkan pro dan kontra di masa depan.
Terdengar ketukan di pintu. Rupanya makanan yang dipesannya sudah datang. Dean bergegas membuka pintu, setidaknya ada yang mengganjal perutnya yang mulai terasa perih,
Seorang pelayan hotel mendorong rak beroda dan di atasnya ada tudung makanan. Dean mempersilahkan pelayan hotel itu untuk masuk dan meletakkan makanan yang dipesannya di meja. Setelah memberi tip, pelayan itu keluar kamar.
Dean bergegas membawa nampan bertudung itu ke atas tempat tidur dan bersiap makan. Saat dia membuka tudung, dia sangat terkejut mendapati sebuah jempol manusia nangkring di atas piring. Dan setangkai mawar hitam.
Dean menutup tudung makan itu lagi, selera makannya hilang seketika. Jempol itu pasti milik Nono. Dan pembunuhnya adalah wanita yang sama dengan yang meletakkan mawar hitam di nisan Pak Robi.