Dean nyaris melupakan Nono, mengira semua sudah ditangani PIC. Lelaki berkulit gelap dengan rambut keriting yang nyaris membuat nyawanya melayang. Anak buah Jalal Bokeh yang berhasil di tangkap PIC, meski sebenarnya yang melakukannya adalah Dean sendiri.
Namun hingga dia kabur, PIC belum berhasil mendapatkan petunjuk tentang Jalal Bokeh. Nono masih belum siuman pasca operasi patah tulangnya. Dan saat dia siuman, sudah ada yang membantunya kabur dari Rumah Sakit.
“Dengan kejadian yang kau alami saat berhasil menangkap Nono, seluruh PIC memujimu.” Elly melirik Dean yang berjalan di sebelahnya menyusuri area parkir Rumah Sakit–dengan langkah yang lebih lebar darinya. Kapten Hanung sudah lebih dari tiga kali menelpon menyuruh mereka untuk segera menemui Kepala Keamanan Rumah Sakit dan polisi yang bertugas menjaga Nono. Mereka harus bergegas.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Dean heran.
“Kau tidak terluka sedikitpun. Sedangkan Nono bisa patah tulang kaki. Kau ahli bela diri atau punya ilmu kebal?”
Dean nyaris terbahak, tapi berusaha ditahannya.
“Atau kau seorang Superman dari masa depan?” selidik Elly.
Dean menoleh dan mereka bertatapan sejenak. Elly melihat Dean menarik sudut bibirnya. Bila Dean melakukan hal itu, Elly merasa lelaki bule ini sedang berusaha menutupi misteri dirinya. “Sepertinya menjadi Superman lebih keren.”
Elly membuang muka. “Kalau kau Superman, seharusnya Keen365 sudah ada dalam tahanan PIC. Juga Jalal Bokeh. Tapi kau hanya berhasil menangkapnya. Yah, mungkin itu prestasi PIC paling cemerlang tahun ini. Kapten Kaluma benar-benar bangga, dan itu penting bagi PIC. Kau tidak keberatan bila hasil kerjamu diklaim Kapten Hanung sebagai hasil kerja PIC?”
Dean tak bisa menahan tawanya. Dia heran dengan Elly, atau lebih tepatnya tidak bisa memahaminya–karena mereka memang belum lama menjadi partner. Wanita di sebelahnya ini, antara ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, tapi juga tak ingin tahu terlalu banyak.
Dean menghentikan tawanya, ketika berpapasan dengan beberapa perawat dengan pakaian serba putih. Tidak baik tertawa di Rumah Sakit.
“Aku sudah bergabung dengan PIC, Elly. Dan aku tidak mencari prestise. Kalian diuntungkan karena yang menggaji bukan PIC.”
“Aku penasaran dengan tempatmu bekerja sebelumnya.”
Dean mendengus pelan sembari menjajari langkah Elly yang semakin cepat menyusuri koridor. “Aku tidak yakin kau menyukainya.”
Dua anggota polisi menyambut mereka di depan pintu lobby.
“Anak buah Kapten Kaluma,” bisik Elly.
Dean menjabat tangan dua polisi itu, sementara Elly malah memasukkan tangan ke saku celananya. Sikap dinginnya yang tiba-tiba, membuat Dean heran. Terlebih dua polisi anak buah Kapten Kaluma itu hanya melirik Elly dan lebih memperhatikan Dean Parker. Agen PIC yang tampak lebih menyenangkan untuk dilihat, karena berkulit putih.
“Apa yang terjadi?” tanya Dean kemudian.
“Seseorang membawa Nono, lebih tepatnya memaksa membawanya.” Salah seorang polisi menunjukkan ponsel yang berisi rekaman CCTV bagaimana Nono diseret oleh seorang wanita berkacamata hitam dan mengenakan setelan pakaian serba hitam.
“Siapa wanita itu?” tanya Dean, merasa seperti tidak asing melihatnya. Melihat gesturnya, dia samar-samar mengingat, namun tidak begitu jelas.
Elly meraih ponsel polisi itu dan mengamati rekaman CCTV saat Nono diseret oleh si wanita dan Nono mengindahkan rasa sakitnya. Berjalan dengan kaki kanan yang dibalut perban tebal.
“Dia patah tulang, kenapa tidak digips pasca operasi?” tanya Elly heran.
“Jangan samakan kriminal dengan pasien umum,” sahut seorang polisi yang lain. “Direktur Rumah Sakit ingin bertemu. Mari kami antar.”
Dean dan Elly kemudian mengikuti dua orang anggota polisi–menuju ruangan Direktur Rumah Sakit. Saat sampai di depan pintu ruangannya, beberapa tenaga medis baru saja keluar–sepertinya baru saja digelar sebuah pertemuan. Dan ada anggota polisi lain di dalam ruangan.
Dean dan Elly dipersilakan masuk. Dua orang anggota polisi yang mengantar mereka menunggu di luar. Tinggal Dean, Elly, Direktur Rumah Sakit dan anggota polisi yang tampaknya atasan dari dua orang anggota yang menunggu di luar.
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Dean. “Kami sudah susah payah menangkap Nono–anak buah Jalal Bokeh. Semudah itu dia menghilang dari Rumah Sakit ini.”
Direktur Rumah Sakit menghela napas panjang. “Kami minta maaf sebelumnya. Tapi siapapun yang menculik Nono, sudah melukai satu dokter dan dua perawat. Mereka bertiga sekarang dalam kondisi kritis. Sekarang, ini menjadi kasus baru, tidak hanya penculikan Nono. Semoga tiga tenaga medis kami berhasil diselamatkan.”
Dean dan Elly saling melirik. Ternyata tidak sesederhana yang mereka kira. Nono kabur dan PIC kehilangan hasil tangkapan.
“Lalu, ke mana polisi yang berjaga?” tanya Elly. “Bukankah seharusnya dua puluh empat jam mereka stand by di depan kamar Nono?”
Polisi di hadapan mereka bertiga mulai angkat bicara. “Polisi terakhir yang berjaga ternyata adalah anak buah Nono sendiri. Kamera CCTV di selasar lain menunjukkan, dia yang telah melukai tiga tenaga medis yang bertugas di selasar Nono. Kita semua tahu kalau anak buah Nono ada di mana-mana, seperti virus yang menempel di setiap tempat dan waktu. Tidak ada yang bisa mengetahui mereka karena mereka sangat ahli menyamar.”
“Katakan saja kalau kepolisian telah disusupi Jalal Bokeh,” tukas Elly kesal. “Tidak usah mengkambinghitamkan Jalal Bokeh.”
Elly memukul meja dengan kesal, lalu menuju pintu.
“Elly!” panggil Dean, tidak ingin Elly bergegas pulang karena emosi. Mereka harus mendapatkan identitas wanita berkaca mata hitam itu. Sepertinya, hanya dia yang tidak menyamar–karena terang-terangan menunjukkan dirinya di depan CCTV. Hanya saja mengenakan kaca mata hitam.
Namun Elly sudah menghilang di balik pintu, membuat polisi dan Direktur Rumah Sakit menghela napas panjang. Tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka benar-benar kecolongan.
“Kalian sudah berhasil mengidentifikasi perempuan itu?” tanya Dean pada polisi di hadapannya, yang menatapnya dengan tatapan putus asa. Dia pasti sama bingungnya dengan Direktur Rumah Sakit. Pasti Kapten Kaluma sudah memarahinya habis-habisan.
“Dia sempat terlihat di pemakaman Pak Robi.”
Dean mengernyit. “Siapa dia?”
Polisi itu menggeleng, membuat Dean menarik napas panjang. Dia tak sabar ingin menghubungi komandannya di masa depan. Semua jawaban pasti sudah tersedia di sana. Masalahnya adalah, hal itu tidak boleh dilakukannya. Kasus Keen365 harus dipecahkan dengan mengetahui siapa sebenarnya Keen365. Maka semuanya akan terkuak dan bisa dicegah.
Namun Dean tidak mengira, bekerja di jaman sekarang tidak sesimple di masa depan. Mengidentifikasi seseorang yang tertangkap CCTV saja, para penegak hukum kesulitan. Apalagi yang tidak tertangkap kamera sama sekali.
*
Dean dan Elly sudah sampai di Kantor PIC dan Barry sudah menunggu istrinya di sana. Dean langsung meninggalkan mereka berdua, dilihatnya Barry tampak sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang tampak pucat.
“Bagaimana?” Kapten Hanung menunggu dengan tidak sabar.
Dean meletakkan mawar hitam di meja Kapten Hanung. “Seorang wanita meletakkannya di makam Pak Robi. Pasti dia punya hubungan dekat dengan mendiang anggota dewan itu. Entah itu dekat dalam hubungan positif atau negatif. Elly punya usul untuk bertanya pada Bu Maya, tapi kurasa itu bukan ide bagus.”
“Kau benar. Wanita itu tidak ada bedanya dengan Rumah Sakit,” keluh Kapten Hanung. “Hanya akan membuat kita kehilangan bukti penting.”
Dean meringis. “Semoga wanita di pemakaman tidak sama dengan wanita yang menculik Nono.”
“Wanita?” tanya Kapten Hanung yang dijawab dengan anggukan oleh Dean.
“Dan sepertinya, wanita itu juga yang menyelamatkan saya, malam di saat Nono nyaris membunuh saya.” Dean akhirnya samar-samar bisa mengingat gestur dan cara berjalan wanita itu. Dan semakin dia ingat, dia semakin yakin bahwa mereka adalah orang yang sama.
“Sepertinya dia anak buah Jalal Bokeh yang lain,” timpal Kapten Kaluma, sembari mengelus dagu dengan tangan, seperti biasa kalau dia sedang berpikir keras. “Jalal Bokeh punya banyak tangan kanan. Dan bila dia sampai menyuruh tangan kanannya untuk menjemput Nono, itu artinya dia marah karena Nono gagal menjalankan tugas.”
“Membunuh saya?” tanya Dean sedikit terkejut. Bukankah saat kejadian itu, Nono hendak membunuhnya, namun gagal.
Tiba-tiba Barry masuk ke dalam ruangan Kapten Hanung, tanpa mengetuk pintu. Elly berada di belakangnya dengan raut wajah panik. Dan hal itu membuat wajahnya semakin pucat saja. Dean mengira Barry hendak membawa Elly pulang karena kondisinya memang belum sembuh seratus persen. Tapi melihat Elly berdiri tegak dengan wajah tegang, pasti ada sesuatu yang lebih gawat.
“Kapten, baru saja teman wartawan memberi kabar,” ucap Barry, wajahnya tak kalah panik dengan istrinya. “Nono ditemukan tewas di tepi jalan. Dibunuh.”