27. Merlin Manoa

1234 Kata

“Jadi kakakmu memang sakit dan dia tidak mengaku?” Merlin mengangguk sembari menyugar rambut. Dia kemudian tepekur setelahnya, membiarkan rambut keritingnya kembali mengembang setelah dia menyugarnya. Dia sengaja tidak mau memotong rambut hingga kakaknya datang menjenguk. “Kapan terakhir dia menjengukmu? Sepertinya, dia tampak tak peduli padamu?” Merlin menatap pemuda sebayanya, di sebelahnya. Mereka baru akan berumur tujuh belas tahun tahun depan. Dan bagi anak-anak sebaya mereka di Panti Asuhan ini, tempatnya sudah dipisah dengan anak-anak perempuan. Berbatas tembok setinggi dua setengah meter, namun mereka masih bisa mendengar anak-anak gadis itu menyanyi saat mereka menjemur pakaian. Tak ada suara yang enak didengar kecuali satu orang. Dan dia selalu paling akhir menjemur pakaian.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN