Malam telah tiba ketika Kavia sampai di rumah. Setelah dari kantor polisi, rasa lelah menyergap, bukan hanya fisik, tetapi juga emosinya. Di ruang tamu yang remang, Kavia melepaskan jaketnya, lalu duduk di sofa tua dengan napas berat. Pikirannya melayang-layang, mengitari setiap peristiwa yang baru saja ia alami. Suara Hanny yang penuh keputusasaan terus terngiang di kepalanya, begitu pula tatapannya yang putus asa. Kavia memijat pelipis, mencoba menenangkan diri, tetapi pikirannya tak pernah tenang. Dalam keheningan malam, pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab berputar dalam benaknya. Sampai detik ini ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Hanny, bisa terjerumus dalam masalah yang begitu besar? Dan parahnya lagi, dia harus terseret dalam skandal keluarga itu, meski telah menjauhkan d

