Melangkah mundur ke belakang, tak hanya menyulitkan, tetapi juga menyesakkan. Ada banyak perjalanan di belakang yang sudah ditutup. Dan kini, mulai muncul beriringan dengan masa depan.
***
Saga akhirnya bisa mengendalikan dirinya yang terkejut mendapat perlakuan kasar dari Kayonna. Sesuatu yang mengenai keningnya, mengingatkan akan sesuatu. Ia menunduk dan mendapati boneka Snoopy berukuran kecil, tergeletak di dekat kakinya. Ia membungkuk dan mengambilnya.
Hatinya pedih melihat boneka kecil itu. Saga ingat bagaimana putihnya boneka itu dulu, karena ia yang membelikan dan diberikan untuk Emil. Kini boneka itu tak putih, ada banyak bekas menghitam karena abu. Tidak pernah dibersihkan, tidak pernah dicuci. Seperti disengaja. Agar kenangan tetap melekat.
Saga menatap Kayonna sendu. "Kamu masih menyimpannya?"
Kayonna diam. Matanya berkaca-kaca terarah pada Snoppy dalam pegangan Saga. Rasa sakit, mengiris dalam diri. Sebuah kenangan yang mati-matian dikubur, mulai berkilat muncul. Kayonna membalik tubuhnya dan masuk ke kamar mandi.
Dia bersandar pada daun pintu, menutup wajahnya rapat dengan kedua telapak tangan, dan menangis lirih. Air mata tak hanya membasahi wajahnya, tetapi juga hatinya.
Tak ada air mata di Saga, karena kesedihan mengalir di dalam diri Saga. Perlahan ia mendekati meja bundar, tempat asal boneka Snoopy. Diletakannya bonek itu seperti semula. Sekali lagi ia melihat ruangan Kayonna dan menuju kamar mandi yang tertutup.
"Yonna. Saya tunggu kamu di luar. Seberapa lamanya, saya tunggu kamu."
Saga menutup pintu perlahan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia ingin meluruhkan sedih yang sempat mengaliri nadinya. Masa lalu yang dimilikinya dan Yonna masih sangat pedih terasa, meski waktu sudah berputar jauh.
Saga mengedarkan pandangan dan berhenti pada pohon akasia tua, di mana ada rumah kayu yang pernah dibuat Suganda untuknya saat masih kecil. Dia mendekat dan tersenyum. Pohon pilihan, rumah dengan bahan kayu pilihan, masih terawat dengan baik.
Tangganya dibuat spiral. Perlahan pria itu menaikinya. Rumah kayunya, dulu terasa luas, tetapi kini, terasa mungil untuk dirinya. Di sekeliling rumah kayu ada dek yang biasa gunakan Saga kecil untuk duduk-duduk sembari menikmati angin. Ia bebas mengambil posisi.
Saga masih lebih suka duduk di bagian belakang rumah kayunya. Ia bisa melihat perkampungan di belakang rumah, keriuhan anak-anak kecil yang berjalan di gang tepat sebelah rumahnya. Selain itu, Saga juga bisa menikmati matahari terbenam. Saat ini ada tambahan pemandangan yang sudah lama ada, tetapi kini terasa berbeda, yaitu gudang lama dan rumah mungil Kayonna.
Siur angin siang hari, menyejukkan Saga. Sekilas ia mendengar bunyi kelepak. Saga tidak yakin apa, karenanya ia mengedarkan pandangan. Diantara sela-sela kayu dek, Saga melihat selembar kertas mengelepak di setiap siur angin datang. Saga mengambilnya.
Kertas itu berwarna abu-abu, tanpa garis. Ukurannya kertasnya kisaran 15 cm x 9 cm. Dilipat menjadi dua. Saga kembali duduk di tepi dek semula. Ditimbangnya lipatan kertas itu. Antara membuka atau tidak. Akhirnya dibuka lipatannya.
Saga terpana. Terdapat tulisan dengan tinta hitam. Ditulis sangat rapi. Terdapat gambar dua bunga tulip di bagian sudut kanan. Saga kemudian membaca tulisan itu yang berupa puisi.
Bulan adalah aku yang sendiri menyeduh duka
Malam adalah aku yang menjejak pada luka
Takdir adalah bukan aku yang sudah dilahirkan
Aku adalah siapa yang kalian boleh mengiranya
Sudah tidak ingat hidup
Terdiam. Saga trenyuh. Puisi itu jelas buatan Kayonna. Meski tiada nama bahkan kapan dibuatnya. Tapi, Saga sangat yakin itu puisi Kayonna akan dukanya yang dalam. Gadis itu bahkan menilai dirinya sendiri seperti ada dan tiada karena digulung sedih tak berkesudahan.
"Yonna.... Maafkan saya. Andai saja saat itu saya tak memberikan itu untukmu..."
Dan sebuah kenangan berkelebat.
***
Saga berusia empat belas tahun. Sedang di masa puber. Dia dan Rayhan bermain di rumah kayu, tepaynya di dek belakang. Sudah sebulan keduanya tak bertemu karena Saga pergi berlibur ke London. Ada banyak hadiah yang dibawanya. Ia sudah memberikan boneka Snoopy untuk Emil.
Saga dan Rayhan mencuri sebatang rokok milik Roland, ayah Saga. Keduanya mencoba mengisap rokok itu dan tertawa saat berhasil dengan tidak batuk. Saga memainkan korek gas Zippo yang di dapatnya saat di London. Korek itu yang menjadi alasan baginya dan Rayhan mencoba merokok.
"Aku belum dapat hadiah."
Saga dan Rayhan kompak terbatuk-batuk karena menelan asap rokok. Keduanya panik dan menoleh. Terlihat Kayonna kecil sudah duduk jongkok di belakang mereka. Rambutnya di kuncir dua dan diberi pita warna biru langit. Poninya sudah terlalu panjang hingga mengenai kelopak mata, tetapi yang begitu membuat Kayonna seperti boneka setiap kali mata bulatnya mengerjap.
Saga menepuk keningnya, lupa membelikan hadiah untuk gadis kecil yang sangat disukainya itu.
"Aku lupa. Maaf." Saga mematikan rokoknya dan mendekati Kayonna. Dibelainya lembut kepala Kayonna dengan sangat sayang. "Nanti, aku belikan hadiah buatmu. Khusus."
Kayonna menunduk. Bibir bawahnya maju, wajahnya sendu, dan Kayonna kecil menunduk. Saga tidak tega. Sejak lama, Saga selalu menuruti Kayonna selain Emil. Saga teringat pada korek gas Zipponya.
"Yonna, lihat ini." Saga menggesek pemantiknya. Keluar percikan api yang serupa percikan kembang api.
Seketika Kayonna terpana. Matanya yang hitam bulat, tak lepas dari Zippo di tangan Saga. Setelahnya, keluar api. Lagi-lagi Kayonna memekik kagum. Api itu meliuk-liuk indah. Tiba-tiba, Saga menutup pemantiknya dan api pun lenyap.
"Kamu suka?"
Kayonna mengangguk semangat, membuat kedua kuncir kuda dan poni bergerak lincah. Saga mengulurkan salah satu tangan dan membelai salah satu kuncir rambut Kayonna.
"Ini hadiah dariku, untukmu." Saga mengulurkan Zipponya pada Kayonna.
***
Saga turun dari rumah pohonnya. Dihampirinya lagi rumah mungil Kayonna. Sudah satu jam setengah dan Kayonna belum juga keluar. Ada khawatir jika Kayonna kenapa-kenapa. Tetapi setelah dipikir-pikir, ketimbang hal aneh-aneh, Saga berpikir jika Kayonna melupakan ajakannya untuk makan siang.
Jangan-jangan dia malah tidur. Sial! batin Saga yang segera mengetuk pintu.
Tak ada sahutan.
Tidur? Anak itu tidur? Sialan! Awas aja kalau tidur!
Saga sudah mulai membuka pintu ketika sesuatu menghantam pintu. Sontak Saga menutup kembali pintu dan melongo. Namun, kemudian tersenyum lebar. Ini artinya gadis itu tidak tidur.
"Cepat!" seru Saga dari luar dan bersandar pada daun pintu.
Bagai menunggu sang pujaan hati, Saga tak berhenti menyungging senyum. Melupakan duka yang tadi sempat menyisip. Yang lalu, biarlah berlalu. Setidaknya untuk sementara.
***