Bak daun putri malu, saat disentuh ia akan menutup semua. Termasuk perasaannya.
***
Bukan hari Minggu, tetapi ini hari libur Kayonna. Jika liburnya jatuh di hari Minggu, Kayonna akan menghabiskannya dengan tidur seharian, makan ke dapur, nonton film, baca buku sembari tiduran, atau kembali tidur lagi. Namun, jika liburnya di hari kerja, gadis itu akan mengambil kesempatan untuk membersihkan rumah, memasak makanannya sendiri dengan memanfaatkan bahan yang ada di dapur, mencuci pakaian, seprei, sepatu, dan apa saja yang bisa dicuci.
Seperti hari ini. Kayonna sudah membersihkan rumah mungilnya yang tidak berantakan. Juga sudah mencuci pakaiannya dan menjemurnya. Kini ia memasak makanannya sendiri. Sulis sebagai asisten rumah tangga utama, mengijinkan Kayonna menggunakan dapurnya dan mengambil semua bahan masakan semaunya Kayonna. Hal ini juga tak lepas dari perintah Suganda untuk membiarkan gadis itu melakukan apa saja, asal tidak masuk ke kediaman utama, kecuali dipanggil.
Setiap kali Kayonna masuk ke dapur. Sulis akan tersenyum sedikit dan terburu-buru mebersihkan perkakas. Kemudian dia akan keluar, membiarkan Kayonna berkutat sendirian. Sikap Sulis sering kali membuat Kayonna bertanya-tanya. Wanita selalu terlihat gugup jika ada Kayonna. Tak hanya sulis, Aji pun begitu.
Lama-lama Kayonna mengabaikan karena dipikir bagaimanapun tetap dirinya tak mengerti.
Kayonna memasak telur dadar dan tumis sayur kangkung. Air liurnya sudah mau menetes melihat masakannya sendiri. Sengaja ia memasak untuk porsi makan dua kali, makan siang dan makan malam. Sarapan paginya di hari libur adalah mie instan.
Pintu dapur terbuka, dilihatnya Salim tercenung di ambang pintu. Tak seperti anak dan menantunya, Salim tak pernah menjauhi Kayonna. Hanya saja, setiap melihat Kayonna, Salim selalu menunduk dan bicara pelan.
"Masuk, Pak Salim," ujar Kayonna yang baru saja memindahkan tumis kangkung dari wajan ke mangkuk.
"Iya, Mbak. Yonna." Salim menunduk dan duduk di meja makan kayu. Ia mengambil duduk di tempat biasa.
Seperti kebiasaan, Kayonna menyodorkan segelas air putih untuk Salim. Dan seperti biasa pula, Salim menerima dengan tangan agak gemetar dan perasaan tidak nyaman.
"Ini musim panas Pak Salim, jangan terlalu di luar. Tidak baik untuk kesehatan Bapak." Kayonna mencuci perangkat memasaknya. Tubuhnya yang memunggungi Salim, tidak melihat ekspresi Salim yang menatapnya sendu.
"Iya, Mbak."
"Pekerjaan di taman kan bisa dilakukan agak sore."
"Iya, Mbak."
Kayonna menata piring telur dan mangkok tumis kangkung di meja, di hadapan Salim. Kemudian dia mengambil piringnya, menyendok nasi dari pemanas nasi, menata telur juga sayuran ke piring makanannya.
"Ini untuk Pak Salim, ya." Kayonna membagi hasil masaknya dengan Salim. Dia memutuskan untuk makan malam di luar saja.
"Aduh, Mbak. Gak usah. Dibawa aja untuk makan malam Mbak Yonna," tolak Salim tidak enak hati.
"Saya nanti malam pingin nasi goreng ujung jalan. Udah dimakan saja. Saya kembali ke rumah ya, Pak Salim." Kayonna bergegas keluar dengan membawa makanannya sendiri.
Salim terdiam menatap makanan yang dimasak Kayonna. Tangannya yang gemetar, mengambil tumis sayur kangkung, tanpa sendok. Saat tumis sayur itu sudah masuk mulut, sebulir air mata jatuh di pipi Salim.
Kayonna memperlambat langkahnya. Dia melihat Saga mengetuk pintu rumahnya dan mengintip ke jendela kaca.
"Ada apa?"
Saga yang sedang mengintip dari jendela, seketika terdiam. Lagi-lagi ia kepergok Kayonna dengan sikapnya seperti seorang pengintip. Lelaki tampan dengan masih mengenakan jas coklat tua, memaki perlahan dirinya.
Ia menegakkan tubuhnya dan berputar menghadap Kayonna. Dilihatnya piring nasi dengan lauk sayur dan telur. "Mau makan?" pertanyaan bodoh.
"Ya."
"Ponselmu mana?"
"Di dalam."
Saga mengernyit. "Kamu pergi keluar dan meninggalkan ponsel di dalam?"
"Iya. Kenapa?"
Santainya jawaban Kayonna justru membuat Saga ingin mengacak-acak rambut kayonna yang dicepol ke atas. "Karena ponsel itu penting di bawa keluar. Kalau ada apa-apa gimana?"
"Gak gimana-gimana."
"Bagaimana mereka akan menghubungi orang rumah kalau kenapa-kenapa dengan kamu di luar sana?"
"Memangnya saya di luar mana?"
Saga melongo. "Kamu tadi pergi keluar, 'kan?"
"Iya. Mencuci baju dan memasak."
Plash!
Antara malu dan kesal, Saga seperti baru saja disiram air. Dia marah-marah tidak jelas dan Kayonna selalu memberikan jawaban singkat yang menyesatkan. Andai lupa norma, ingin rasanya Saga melumat gadis itu.
"Saya meneleponmu berkali-kali," ujar Saga setelah berhasil mengendalikan kesalnya.
"Untuk?"
"Me...." Saga terdiam menatap piring makanan Kayonna lagi. Seketika dia merasa akan ditolak jika menyampaikan maksudnya.
Saga sedang beruntung karena hari ini ia tak terlau sibuk. Ia tak punya jadwal pertemuan. Karena sekretarisnya meyakinkan bahwa semua baik-baik saja jika ditinggal, Saga segera melesat pulang.
"'Me' apa?" tanya Kayonna yang mulai tidak sabar. Perutnya sudah sangat lapar dan Saga menghambatnya untuk menyantap hasil masakannya.
"Me...me.... Mengantar saya."
"Ha?" Bibir ranum Kayonna seketika membulat.
"Saya mau kembali ke kantor. Tapi, kamu tahu, 'kan kalau saya belum hapal jalan," karang Saga.
"Tadi siapa yang antar pulang?"
"Aji."
"Ya, sudah. Minta Aji antar kamu lagi."
"Tidak bisa. Aji ada urusan dengan Kakek. Dia harus segera kembali ke kantor."
"Pakai taksi aja kenapa?" Nyata Kayonna sangat enggan.
Saga sudah mulai putus asa, tetapi dia tak mau menyerah. "Arghhh! Udahlah anterin saya."
"Saya lapar."
"Kita makan di luar." Sebuah ajakan terselubung yang memang sudah diniatkan Saga.
"Saya sudah masak dan saya mau makan," tolak Kayonna tegas.
Saga melihat bayangan Sulis. Segera ia memanggilnya. "Sulis! Tolong kemari!"
Sulis terkejut, tetapi juga bergegas menghampiri. Saga sendiri mendekati Kayonna dan merebut piring nasi yang tidak siap dipertahankan Kayonna.
"Apaan, sih?" sentak Kayonna.
"Iya, Mas Saga?" tanya Sulis setelah dekat.
Saga menyorongkan piring nasi Kayonna. "Ini dimakan ya, Sulis."
Kayonna melotot ke arah Saga dan Sulis justru bengong, bergantian menatap Kayonna dan Saga.
"Ini. Ambil," desak Saga.
Sulis kembali menatap Kayonna meminta persetujuan. Sulis tahu kalau itu hasil masakan Kayonna dan gadis itu pasti ingin menyantap hasil masakkannya. Namun, desakan Saga sulit ditolak.
Saga semakin menyorongkan piring. Akhirnya dengan tangan bergetar, Sulis menerima piring makanan itu. Saga tersenyum lebar dan mempersilakan Sulis pergi. Wanita itu kemudian pergi menjauh dengan menunduk.
Kekesalan Kayonna sudah di ubun-ubun. Setelah menghentakkan kaki, dia melangkah masuk. Niatnya membanting pintu, tetapi keburu ditahan Saga.
"Mau apa lagi?" pekik Kayonna.
"Anterin saya," jawab Saga kalem dan senyum manis.
"Arghhh!" Kayonna mengaacak-acak rambutnya dengan frustasi, membuat gelungannya lepas. Bagai fantasi, rambut hitam itu jatuh dengan lembut, membuat mata Saga berbinar menikmati.
"Keluar!" sentak Kayonna.
Saga menggeleng. "Antar saya dulu."
"Saya kan harus mandi dan ganti baju!" jerit tertahan Kayonna.
"Oh. Hehehe...." Dengan kalem, Saga masuk ke dalam.
Pertama kalinya, Saga bisa melihat dalam rumah mungil Kayonna bernuansa pastel. Di sisi kiri pintu, mepet kaca jendela, dipasangi satu sofa santai berwarna moka. Di depan sofa ada meja segi empat dan televisi yang dipasang ke tembok. Di balik tembok itu adalah kamar mandi.
Di sebelah kanan terdapat tidur. Kayonna menjadikan rak buku sebagai partisi atau pembatas atar ruang. Agak kedalam ada meja bundar, lemari pakaian, dan wastafel. Terlihat sebuah wadah kecil dengan sikat gigi dan pastanya, sedang di sisi lain, rak kecil untuk gelas dan beberapa piring, mangkok. Saga menduga wastafel itu multifungsi.
Setelah puas mengedarkan pandangan, kini mata Saga tertuju pada Kayonna yang berdiri kaku dengan kedua tangan terlipat di d**a.
"Puas?" sengit Kayonna. Matanya begitu tajam, sikapnya begitu defensif.
Pertama kalinya, ada yang masuk ke rumahnya. Kecuali jika dulu saat pindahan dari rumah induk ke rumah ini, Suganda adalah yang pertama. Puluhan tahun berlalu dan Saga lancang memasuki rumahnya.
Perasaan Kayonna sangat tidak nyaman. Apalagi melihat cara Saga mengendarkan pandangan pada seisi ruang.
"Keluar!" pinta Kayonna dengan suara pelan, tetapi dengan penekanan yang dalam.
"Ha?"
"Keluar! Saya bilang, Keluar!" pekik Kayonna sembari melempar boneka Snoppy ke arah Saga.
Tepat sasaran. Boneka Snoopy mengenai kening Saga. Membuat Saga melotot.
Kini kedua indan saling adu mata. Menjajaki kuatnya niat masing-masing. Yang satu ingin satunya pergi, sedangkan satunya ingin tetap bertahan. Entah mana yang kemudian melemah dan mengalah.
***