Ibu tidak ke mana-mana, Nak. Ibu selalu ada di sini. Jika kamu pergi jauh atau kamu tersesat, kembalilah ke jalan semula. Dan ibu tidak ke mana-mana, Nak.
***
Soraya berpapasan dengan Dahlan, suaminya. Soraya dari ruang makan dan akan keluar, sedangkan Dahlan dari depan dan akan masuk menuju ruang kerjanya yang luas. Hari ini ada pertemuan kecil membahas kerja sama dan Dahlan ingin membahas di rumah saja, karena kesehatannya kurang baik.
Ditatapnya Soraya dalam diam. Istrinya masih sangat cantik walau usia sudah jauh dari muda. Soraya mengenakan dress terusan dengan motif bunga berwarna biru gelap, dipadukan dengan blazer panjang, dan pump shoes. Penampilan istrinya masih sangat anggun dan bersahaja. Tampilan yang membuat Dahlan jatuh cinta saat muda dan masih membuatnya jatuh cinta.
Tatapan Dahlan kemabli terarah ke bawah. Tangan Soraya memegang rantang. Seketika ekspresi wajahnya berubah. Ada ketidaksukaan di wajah Dahlan, yang tak disembunyikannya.
"Sampai kapan kamu menyiksa dirimu sendiri?" tanya Dahlan dingin.
Soraya menatap suaminya kesal. "Saya tida tersiksa."
"Anak itu tidak mengenalimu. 'kan?"
Soaraya terperangah. Pertanyaan suaminya lebih dari sebuah pernyataan yang tepat.
"Wajar kalau dia lupa," bela Soraya.
"Lupa atau melupakan?" Dahlan kemudian masuk ke ruang kerjanya, yang mana beberapa staf penting sudah menantinya.
Soraya memegang rantang makanan dengan kuat. Bukan takut jatuh, tetapi mencoba menahan emosinya agar tak meledak. Ia kecewa dengan sikap dingin suaminya. Bukannya mendukung, tetapi malah menjauhi.
Sikap Dahlan seketika mengingatkan dirinya pada seseorang. Dingin dan menjauh akan banyak hal. Mengunci rapat perasaannya.
Benar-benar mirip. Sungguh ayah dan anak, batin Soraya yang kemudian membuatnya tersenyum sendiri menyadari kesimpulan yang dibuatnya begitu manis.
***
Perawat Anis menerima rantang makanan dari Soraya untuk Kayonna. Seperti hari-hari sebelumnya setiap Soraya datang, Anis selalu menyambut dengan sangat ramah. Ia senang ada yang memperhatikan dokter kesayangannya sedemikian rupa seperti Soraya. Jarang sekali ada pasien atau keluarga pasien yang masih ingat akan dokternya dan memberikan perhatian terus-menerus.
Namun, dulunya Anis sempat terheran-heran sendiri dengan penolakan Soraya untuk menemui Kayonna dan menyerahkan sendiri bawaannya. Wanita kaya dan elegan itu hanya tersenyum, menggeleng, dan berkata, "Nanti-nanti saja."
Jawaban yang sama dengan beberapa variasinya, membuat Anis kemudian tak bertanya apalagi mendesak. Yang penting wanita tersebut tak punya niat jahat pada Kayonna.
"Apa hari ini dia baik-baik saja?" tanya Soraya.
"Baik dan sehat, Bu," jawab Anis dengan ramah.
"Tidak marah-marah?"
Anis tertawa kecil. "Sedikit."
Soraya juga ikut tertawa kecil. "Ingatkan dia, dokter gak boleh marah-marah. Nanti darah tinggi."
"Tapi setelah melihat ini...." Anis mengangkat sedikit rantang makanan dari Soaraya. "Darah tingginya turun drastis."
Keduanya kembali tertawa. Tak lama seorang perawat datang dan menyampaikan kalau Anis dibutuhkan oleh salah seorang dokter. Soraya mempersilakan Anis sekalian dia berpamitan untuk pulang.
Saat Soraya memutar tubuhnya, ia terkejut. "Renata?"
"Ada yang sakit, Tante?" tanya Renata tanpa basa-basi salam. Terlihat wajahnya yang khawatir.
Soraya bersyukur atas pemikiran Renata, artinya gadis itu tak melihat saat dirinya menyerahkan rantang makanan pada perawat Anis. Dengan begitu, tak perlu ada tanya lain yang akan membuatnya pusing menjawab.
"Oh, tidak ada, kok," jawab Soraya dengan tersenyum.
"Trus ada apa ke sini, Te?"
"Menanyakan jadwal salah satu dokter untuk jadwal periksa Om Dahlan."
"Tapi, Om Dahlan baik-baik saja, 'kan?"
Soraya tersenyum. Tak salah dirinya menjodohkan putranya dengan Renata. Perhatiannya terasa tulus, tidak dibuat-buat. "Om Dahlan baik-baik saja, kok. Kamu sendiri ngapain di sini? Ada yang sakit?"
"Pengintaian, Te." Renata mengerling jenaka.
Soraya memperhatikan penampilan Renata yang tidak biasanya. Gadis itu menggunakan jaket kulit, celana jeans, dan sepatu boots. Sangat tomboi. Ditambah kaca mata hitam yang lebar. Renata terlihat seperti sedang bersembunyi dari seseorang atau tepatnya penguntit.
Benar-benar sedang mengintai rupanya. Mengintai siapa? Kekasihnya? Renata punya kekasih? batin Soraya bertanya-tanya.
Soraya memutuskan untuk tidak bertanya lebih karena ia tak mau dianggap sebagai wanita tua yang pingin tahu segalanya. Soraya membelai lembut lengan Renata dan berkata, "Jaga diri. Hati-hati saat mengintai di rumah sakit."
"Kenapa, Te?" Kening Renata berkerut.
"Banyak kuman." Jawaban Soraya membuat masing-masing tertawa. "Ya, sudah, Tante pulang dulu, ya."
Renata dari dulu sangat suka dengan sahabat ibunya ini. Selain baik, sikap Soraya bak seorang ibu, penuh kelembutan. Belaian Soraya padanya, hampir tak pernah didapat dari ibunya sendiri yang selalu sibuk.
"Sama sopir, 'kan?" tanya Renata.
"Iya."
"Hati-hati di jalan, Tante." Renata kemudian memeluk Soraya dan kali ini Soraya membelai lembut punggung Renata.
Ada kerinduan menyeruak setiap kali Soraya memeluk Renata. Andai-andai selalu merebak di dalam hati.
Andai..., Mama bisa memelukmu dengan benar, Sayang.
***