Chapter 12

1483 Kata
Aku datang karena aku ingin datang. Tapi, setelah aku datang, aku tak mau pergi. Bahkan waktu membawaku kembali padamu. Lagi. *** Kayonna kemudian meninggalkan bangsal Joshua dan melangkah menuju ruangannya. Dilihatnya Saga di meja perawat, asyik bicara dengan tiga orang perawat jaga. Kayonna cemberut. Bukan karena cemburu, tetapi lebih pada rasa kesal. Jelas sekali Saga ke rumah sakit untuk membuktikkan ucapannya. Kayonna sedang mempertimbangkan dengan cepat, mana yang lebih baik. Mengabaikan Saga dan masuk ke ruangannya ataukah, menghampiri Saga dan menanyakan kepentingannya? Akhirnya gadis itu mengambil pilihan pertama dan itu sangat tidak sulit. Sayangnya, kemudahan Kayonna tak bisa lama. Seorang perawat memanggilnya. "Dokter Kayonna. Ini ada yang cari, Dok." Kayonna menghela napas dan menghampiri Saga dengan amat sangat terpaksa. Gadis itu langsung melipat kedua tangannya di d**a saat sudah berhadapan dengan Saga. "Ada apa?" Tak perlu basa-basi bagi Kayonna. Itu akan membuatnya terlihat sangat canggung. "Jam berapa ini?" Jika kayonna melipat tangan, Saga memilih untuk memasukkan kedua tangannya ke saku. "Kenapa?" "Kenapa belum menelepon?" "Harus?" "Bukankah sudah saya ingatkan perihal jam malam?" "Lalu?" Saga sudah sangat gemas. Semua tanya menjadi tanya. Kayonna benar-benar tidak mau menjawab. Terlihat jelas jika si dokter cantik ini sedang menahan kesal dengan sikap dinginnya. Sedangkan para perawat yang ada di sana, hanya tertawa cekikikan dan bertaruh siapa yang akan kalah di antara adu tanya tersebut. Sebenarnya mereka kagum dengan Saga. Selain sangat tampan, Saga tidak terlihat gentar saat berhadapan dengan Kayonna. Tidak ada sikap ragu. Benar-benar laki-laki. "Kenapa tidak menelepon?" tanya Saga. Ternyata Kayonna yang kalah. Tubuhnya sendiri sudah lelah, apalagi barusan emosinya terkuras melihat keadaan Joshua. "Ini kan belum dua hari." "Tetap harus memberi kabar," tegas Saga. "Trus sekarang mau apa?" Saga kesal dengan dialog tanya yang dilempar Kayonna. Ini membuat dirinya harus memilih antara menjawab atau mengumpan lagi dengan tanya. "Jam jagamu sudah berakhir, 'kan? Jadwal operasimu juga tidak ada lagi." Kayonna melirik ke arah tiga perawat yang masih diam-diam memerhatikan dirinya dan Saga. Informasi yang diterima Saga, pastinya dari mereka. "Lalu?" "Pulang sekarang." "Tanggung. Sebentar lagi subuh dan pagi adalah jadwal saya jaga. Pulang pergi dalam jarak waktu pendek hanya akan membebani diri saya sendiri." Kayonna menolak dengan memberikan penjelasan yang masuk di akal. Mambuat Saga tak punya alasan untuk menyeret Kayonna pulang. Saga menyorongkan tas kertas yang tadi di meja perawat ke Kayonna dan memaksa gadis itu untuk menerima. Kayonna yang bingung bercampur kesal, akhirnya menerima dan memeriksa isinya, yang ternyata makanan. "Makan itu semua sampai habis. Dokter perlu tenaga, bukan?" Saga mengusap lembut pucuk kepala Kayonna. Perbuatan Saga membuat para perawat terkejut dan melongo. Berani bicara dengan Kayonna di luar hal medis, lebih dari lima menit saja, sudah rekor. Ini malah lebih berani lagi memegang kepala Kayonna. Kayonna melotot dan menepis tangan Saga dengan keras. Tidak tersinggung, Saga justru tertawa kecil. Menggemaskan bagi yang lain, tetapi memuakkan bagi Kayonna. "Oke. Saya pulang. Makan dan istirahatlah." Saga mengerling. Setelah mengucapkan salam dan memberikan senyum manis pada semua, Saga berlalu. Kayonna kemudian tidak tahu harus bagaimana. Kedatangan yang tiba-tiba. Perhatian yang tak pernah. Membuat dokter cantik itu bingung sendiri dengan perasaannya saat ini. Dilihatnya lagi kantong kertas di tangan. "Buat kalian." Kayonna menyodorkan tas kertas pada salah seorang perawat. "Lho, jangan, Dok. Kan itu buat Dokter Yonna," ujar seorang perawat. "Saya tidak suka." "Nanti kalau dimakan, pasti jadi suka." Tawa kecil mengiringi kalimat dari seorang perawat. "Dibawa saja, Dok. Menghargai pemberian dari seseorang itu hukumnya wajib, lho. Apalagi Mas tadi bilang kalau khawatir Dokter Yonna lupa makan." Seorang perawat yang bertubuh gempal dan wajah keibuan, berucap dengan lembut. Kayonna menjadi tidak enak hati. Ia terlihat sangat jahat. Di jam yang sudah sangat larut, Saga sengaja untuk mengantarkan makanan. Bentuk perhatian yang tidak diinginkan Kayonna. Sembari mendengkus kesal, Kayonna berjalan ke ruangannya dengan membawa makanan dari Saga. Di mejanya, Kayonna tidak langsung mengeluarkan kotak-kotak makanan. Ia diam dan memandang tas kertas itu dengan perasaan aneh. Setelah makanan yang selalu dikirim seorang wanita untuknya, kini makanan dikirim oleh seorang pria. Sepertinya orang-orang ini hanya peduli perutnya daripada perasaannya. Halah. Memangnya siapa saya? batin Kayonna kesal. Ia menarik tas kertas, mengeluarkan dua kotak makanan dan satu cup besar minuman dingin. Satu kotak berisi makanan dan lauk-pauknya dari lautan. Satunya berisi makanan penutup, seperti cake yang dibalur macam rupa cokelat. Minuman dinginnya Orange Squash, minuman favorit Kayonna yang entah dari mana Saga tahu itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan video dari Saga. "Ya?" Salam pertama Yonna dengan nada malas dan wajah dingin, bersandar di kursi kerjanya. Saga tersenyum simpul. Ia masih menyetir dan ponselnya diletakkan di braket holder. "Sudah dimakan?" "Belum." "Kamu tidak alergi sea food, 'kan?" "Tidak." "Saya tidak tahu kamu suka apa. Saya Cuma tahu kamu suka makanan manis dan minuman asam. Sejak kecil." Kayonna terdiam. Ada yang mengingatnya di masa kecil, membuat dirinya tidak nyaman. Ia sudah berlari jauh dari masa lalu. Mengungkit masa lalu, hanya membuatnya terluka. Saga yang sesekali memperhatikan Kayonna, menjadi merasa bersalah saat mendapati ekspresi gadis itu yang suram. Mau bilang maaf, rasanya terlalu berlebihan. Tidak mengucapkan maaf, rasanya salah juga. "Eh?" Saga kemudian menyadari sesuatu. Ia terlihat bingung dengan jalanan di depan. Ada yang salah. Kayonna yang tadinya setengah melamun, kembali memperhatikan Saga. Dilihatnya Saga yang tolah-toleh tidak jelas. "Kenapa?" "Kok, saya...." "Kenapa, sih?" tanya Kayonna gemas. Ia menegakkan tubuh. "Ada apa?" Tatapan Saga lurus ke depan. Ke gedung tinggi dengan lampu putih dan simbol rumah sakit. "Ini ke rumah sakit lagi." "Ha?" "Saya salah ambil putaran sepertinya." "Maksudnya gimana?" "Saya lupa jalan pulang." Saga tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepala. Kayonna akhirnya menyadari sesuatu. Saga sudah puluha  tahun tidak pulang. Wajar jika ingatan Saga samar saja dan mungkin benar-benar lupa. "Berhenti di depan dan tunggu saya." Tanpa menunggu jawaban Saga, Kayonna mematikan sambungan telepon. Ia membereskan kotak-kotak makanan yang belum disantap. Memasukkan semua ke dalam tas kertas. Mengganti pakaiannya dan melangkah keluar ruangan. Tak lupa ia berpesan pada perawat agar tidak mengijinkan Joshua pulang dan terus memberikan informasi seputar bayi laki-laki itu juga ibunya, Cintia. Di pelataran rumah sakit dan taman depan, masih ada para penunggu pasien yang duduk-duduk dengan segala ekspresinya. Umumnya adalah ekspresi suram dan gelisah. Sedikit saja yang masih bisa tertawa dengan yang didekatnya, tetapi begitu tetap terlihat jika tawa itu hanya kamuflase. Di depan gerbang, dilihatnya Saga sudah berdiri di sisi mobilnya. Bersandar di belakang mobil. Senyumnya melebar saat melihat Kayonna yang pagi sebelumnya sudah diibaratkannya balon warna-warni. Tidak pagi, tidak malam, bagi Saga, Kayonna begitu cerah. "Kunci." Kayonna mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil. "Kamu yang setir? Bisa?" tanya Saga tidak yakin. Ia tak pernah lihat Kayonna membawa kendaraan, wajar ia tak yakin akan kemampuan gadis itu membawa mobil. "Perlu mengeluarkan SIM A, B, C?" "Kamu bisa bawa bis?" Saga benar-benar dibuat terkejut dengan Kayonna yang masih dianggapnya kecil. Kayonna tak menjawab. Ia melipat tangannya yang terulur ke d**a dan menatap Saga kesal. "Jangan marah, dong." Saga mencoba untuk meredakan kesal yang terlihat nyata di wajah Yonna yang cemberut. "Saya hanya tidak suka di sopiri perempuan. Kamu tunjuk jalan saja. Bagaimana?" "Kelamaan. Saya gak suka banyak bicara. Mana kunci atau saya masuk lagi?" Saga pun pasrah. Dia mengulurkan kunci mobil. Menerima tas kertas yang tadi dibawa untuk Kayonna berikut tas ransel milik Kayonna. Sedangkan Kayonna dengan santai melenggang masuk mobil dan menyalakan mesin mobil. Perjalanan dilakukan dengan kecepatan yang pas. Saga kagum dengan cara menyetir Yonna yang begitu tenang, apalagi mobil Saga adalah jenis mobil yang dapat menyemburkan tenaga setara 1500 tenaga kuda, pada 6700 Rpm. Sedikit wanita mampu membawa mobil jenis kecepatan tinggi dengan sangat tenang seperti Yonna. "Dari mana kamu belajar menyetir?" tanya Saga penasaran. "Mana saja." Sedikitpun Kayonna tak ada keinginan menjelaskan. "Tapi saya gak pernah liat kamu bawa kendaraan. Ini kamu terlihat seperti biasa saja membawanya." Saga menyanjung dengan tulus dan terlihat sudut bibir Yonna yang tertarik. Yah, siapa pun yang disanjung, memang seringkali menciptakan rasa mengembang di d**a, termasuk kayonna. "Kenapa kamu tidak beli mobil? Sebagai dokter, penghasilanmu cukup untuk bisa beli kendaraan." "Tidak perlu," jawab Kayonna cepat. "Perlu. Bagaimana kalau harus pergi cepat ke rumah sakit? Atau saat hujan. Atau apa ajalah yang tidak terduga. Kamu tetap perlu pergerakan cepat. Dan punya kendaraan sendiri itu perlu," cerca Saga. "Lebih cepat dengan ojek motor untuk ke mana-mana. Saat hujan di rumah sakit, saya tidur saja di rumah sakit. Saat hujan di rumah, saya ada jas hujan. Saat apa sajalah yang tak terduga, saya selalu punya cara. Pergerakan cepat tak harus punya kendaraan sendiri." Jawaban yang tak bisa dibantah Saga atau kalau dipaksa berargumen, ini akan jadi perdebatan tanpa penyelesaian karena terlihat Kayonna sudah membuat keputusan perihal mobilitas dirinya sendiri. Saga kemudian memeriksa kotak makanan yang isinya masih utuh. Atas inisiatifnya sendiri, mengambil cup minuman, memasukkan sedotan, dan menyorongkan ke bibir Kayonna. Sontak gadis itu terkejut, meski sesaat. "Apa sih?" "Minum," tegas Saga yang terus memepetkan ujung sedotan ke bibir mungil Kayonna. Karena malas ribut, Kayonna menyeruput sedikit minumannya. Saga kemudian menurunkan sandaran tangan dan meletakkan cup minuman Yonna. Kemudian ia membuka kotak makanan. Menyendokkan makanan yang disorongkan ke bibir Kayonna. "Apa sih ini? Ganggu aja!" sentak Yonna. "Udah. Kamu nurut aja. Tinggal buka mulut dan ngunyah, gak repot, 'kan?" Yonna mendengkus, tetapi tetap menurut. Ia membuka mulutnya dan mengunyah cepat makanannya. Diliriknya Saga dengan tajam, yang dilirik justru tersenyum puas dan bersiap menyendokkan makanan kedua. Tak ada lagi dialog. Keduanya menikmati lagu yang terputar dan menikmati peran masing-masing dengan perasaan yang kemudian mengalir wajar. Yonna yang tetap menyetir dan Saga yang tetap menyuapi makanan. Terasa benar-benar wajar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN