REVAN “Jelaskan padaku. Apa yang membuat kamu seperti ini?” tanyaku begitu kami sampai di apartemen. Demi hanya berdiri sambil memalingkan muka, diam seribu bahasa. Aku melempar jas dan dasiku ke sofa dengan kesal. Sejak tadi dia hanya diam saja. Di perjalanan menuju apartemen yang kusewa, dia juga tidak mengatakan apa pun. Dia selalu seperti ini kalau sudah marah. Diam tak bersuara. Membuatku jadi gila karena tidak bisa melakukan apa pun. “Say something, Demetra!” erangku frustrasi. Aku berdiri dihadapannya, menatap Demi yang masih enggan melihatku. Kedua tangannya disilangkan di depan d**a, meremas lengannya erat. Aku menyentuh pipinya agar dia mau menatapku, tapi dia malah bergerak mundur, lalu menatapku marah. “Apa salahku?” tanyaku dengan pelan. Melihat dia seperti ini, tidak mau

