Chapter 3. Get Closer

2824 Kata
DEMETRA From: Revan Putra Rise and shine, Pretty! Mau tidak mau senyumku pun terbentuk di bibir membaca pesan singkat Revan di pagi hari ini. Sejak kami berkenalan, sudah menjadi rutinitas dia mengirimkan pesan untuk membangunkanku yang sangat kebo kalau sudah tidur. Aku pun melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul sembilan. Sebenarnya masih sangat mengantuk, tapi karena lapar, aku paksakan tubuhku untuk turun dari tempat tidur dan mencari makanan di dapur. Saat turun tangga, aku melihat Papa sedang membaca koran dengan posisi membelakangiku. Di sebelahnya, duduk kakak perempuanku satu-satunya, Ema, yang sedang menonton acara gosip pagi. Mama tidak terlihat wujudnya, tapi suaranya yang keras terdengar dari ruang tamu. Pasti sedang menelepon salah satu teman bergosipnya. Yeah, namanya juga ibu-ibu. Aku berusaha sepelan mungkin berjalan ke meja makan agar Papa tidak menyadari keberadaanku. Karena kalau sampai dia melihatku, maka hariku ini akan dimulai dengan sangat tidak indah, yaitu dimulai dengan omelannya yang tiada henti. Saat sudah hampir sampai di meja, akhirnya suara bariton yang kuhindari itu terdengar juga. Menggelegar di seluruh penjuru ruangan. “Baru bangun kamu, Demetra Valdini?” Oh, nama lengkapku disebut. Pertunjukan akan segera di mulai. “Pukul sembilan baru bangun?” “Iya,” jawabku singkat sambil duduk di kursi makan tanpa berusaha mengendap-endap lagi. Toh, sudah ketauan juga. Kuraup sepotong roti cokelat, lalu kuhabiskan dengan kecepatan kilat. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Harus segera pergi. ASAP! “Anak perempuan bangun siang-siang begini. Kamu itu udah 25 tahun! Contoh kakakmu, Ema!” Aku memutar bola mataku kesal. Here we go. The unstoppable whining begins. “Dia sudah bangun sejak subuh bla, bla, bla ….” Aku sudah tidak menyimak lagi apa ucapan Papa, karena aku sibuk mengunyah dan berpikir mau ngapain hari ini. Yang pasti, aku harus secepatnya pergi kalau masih ingin hidup tenang. Karena Papa akan terus menceramahiku hingga malam nanti kalau aku berkeliaran di rumah seharian. “Padahal kamu di rumah cuma santai-santai aja, tapi tiap libur bangun siang terus! Gimana mau jadi istri nantinya?” Ugh, aku sebenarnya paling malas menjawab Papa, tapi pagi ini aku tidak terima karena dianggap cuma bersantai ria. “Aku ngerjain kerjaan kantor semalaman. Baru tidur jam tiga,” jawabku berharap Papa mau mengerti alasan kenapa aku bangun siang hari ini. Namun, Papa malah memandangku dengan tatapan tidak percayanya. “Kerjaan apa? Pekerjaan kamu saja tidak jelas di kantor. Kenapa sampai ada pekerjaan yang harus kamu bawa pulang? Oh, jangan-jangan kamu di kantor cuma main-main saja, ya? Makanya pekerjaanmu keteteran?” Bad decision. Seharusnya aku diam saja tadi. Sekarang Papa pun mulai berkicau mengenai pekerjaanku. Normalnya, seorang ibu yang biasanya mencereweti anak-anaknya, tapi di keluargaku, Papa lah yang memegang peran itu. Semua yang anak-anaknya lakukan, ralat, AKU lakukan, selalu salah di mata dia. Begini begitu salah. Sudah macam judul lagu saja. Sabtu pagi yang harusnya disambut dengan kicauan burung yang indah malah disambit dengan kicauan Papa yang nyaingin burung beo. Aku tidak mau menjadi anak durhaka, tapi perlakuan Papa yang sangat berbeda padaku membuatku kesal. Papa bisa bersikap lembut pada kakak-kakakku, tapi padaku? Mana pernah. Terkadang membuatku berpikir kalau aku ini cuma anak pungut. Namun, tidak mungkin, karena aku sangat mirip dengan Papa. Aku menghabiskan teh dengan cepat, lalu segera beranjak dari kursi. Cukup setengah jam mendengar Papa, kalau terlalu lama, tidak baik untuk janin—walaupun aku tidak hamil sama sekali. “Mau ke mana kamu? Papa lagi ngomong malah ngeloyor pergi,” protes Papa melihatku naik tangga, melarikan diri dari dirinya. “Demetra!” “Mandi,” jawabku singkat, padat, dan jelas. “Mau pergi lagi? Kamu keluyuruan terus setiap weekend. Ngapain aja sebenarnya?” “Sibuk!” seruku saat sudah mencapai puncak tangga. “Demetra Valdini!!” teriak Papa semakin ngamuk. “Turun kamu, sekarang!” Aku menghela napas lelah, bermaksud berbalik badan untuk turun kembali. “Pa, udahlah. Namanya anak muda.” Kudengar Mama berusaha menenangkan Papa. “Biarin aja kalau Demi mau keluar nyari kegiatan. Nggak baik juga anak gadis di rumah terus. Yang ada makin jadi pemalas nanti.”  Terima kasih banyak, Ma. I love you. Sadar keadaan sudah aman karena Papa tidak mengomel lagi, aku pun langsung masuk kamar, segera bersiap untuk pergi secepatnya. Melarikan diri dari rumah, sebelum hari liburku makin menyedihkan karena omelan Papa yang selalu menyakitkan hati. Daripada aku jadi anak durhaka yang ngedumel dalam hati karena perlakuan orang tuaku sendiri, lebih baik aku mencari kegiatan lain di luar sana yang lebih bermanfaat. Seperti, melakukan pendekatan lebih gencar lagi pada lelaki tampan kesayangan yang sudah seminggu ini tidak kutemui. Ide yang sangat bagus, Demetra. Kamu memang pintar.    *** REVAN     “Sudah kenyang?” tanyaku pada Demi yang menghabiskan mangkuk bubur keduanya pagi ini. Beberapa jam yang lalu dia mengajak bertemu karena sedang bosan di rumah dan aku pun sedang tidak ada kerjaan karena hari ini adalah hari liburku. Akhirnya, kami pun memilih Taman Lembang untuk mencari sarapan pagi. Well, walaupun sekarang sudah bukan pagi lagi. “Banget!” jawab Demi setelah selesai menghabiskan segelas air putih. “Kamu nggak begah makan sebanyak itu?” tanyaku melihatnya takjub. Aku bahkan tidak mampu makan bubur dua mangkuk sekaligus. Namun, Demi mampu menghabiskannya hingga licin. “Nggak dong. Kalau dua mangkuk itu pas banget buat perut kecil aku,” jawabnya sambil menepuk perut buncitnya yang membuatku tertawa geli. “Sebenarnya mau nambah satu mangkuk lagi, tapi jangan, deh. Kan bentar lagi makan siang.” “Kamu masih sanggup makan siang dua jam lagi?” Aku mendengkus geli. “Kamu nggak dikasih makan di rumah?” “Gimana mau makan di rumah, sih? Baru nyaplok satu roti udah diceramahin panjang lebar sama Papa. Mana nafsu lagi makan!” gerutu Demi memasang ekspresi sebalnya. Sebulan mengenalnya, Demi sering sekali menggerutu mengenai ayahnya. Topik mengenai ayahnya selalu menjadi bahan utama perbincangan kami. Aku sendiri tidak tahu persis seperti apa ayahnya itu, tapi yang kudengar dari Demi, ayahnya sangat cerewet dan selalu mengatur segala sesuatu mengenai dirinya dan Demi sudah muak akan hal tersebut. “Kamu sama Papa kamu, sesekali bicara berdua dari hati ke hati. Di mana-mana, nggak ada orang tua yang benci anaknya. Papa kamu begitu karena dia sayang sama kamu.” “Ck, nggak yakin!” dengkus Demi. “Sayang kok begitu? Sikap Papa bahkan jauh lebih baik ke supir daripada aku! Aku emang anak pungut, deh, kayaknya!” Gadisku ini memang tidak manis sama sekali. Dia selalu blak-blakan dan tidak jarang bicara dengan kasar saat kesal. Alhasil, aku sering menegurnya, meskipun dia mengulangi lagi tidak lama setelah itu. Ini kali pertama aku dekat dengan wanita seperti Demi. Biasanya wanita yang selalu dekat denganku adalah wanita yang feminim, elegan, manis, terkadang cute. Tipe-tipe wanita yang selalu menjaga image-nya di hadapan lelaki yang mereka sukai. Namun, baru kali ini juga aku merasa nyaman  bersama dengan seorang wanita. Tidak perlu bermanis mulut, mengeluarkan bujuk rayu, tampil sempurna dan lainnya. Cukup menjadi diriku sendiri dan dia tetap menerimaku dengan sangat baik. “Aku pengin refreshing!” ucapnya dengan penuh semangat tiba-tiba. “Ke mall? Shopping?” Apa lagi yang dilakukan perempuan saat sedang ingin refreshing kalau bukan shopping? Demi mengangkat alisnya dan menatapku sambil mencibir. “Shopping? Refreshing macam apa itu? Yang ada aku bokek dan harus puasa habis itu,” gerutu dia lucu. “Dufan, yuk! Aku lagi pengin teriak-teriak!” sambungnya sangat bersemangat. “Ya? Ya?!” “Dufan? Kamu nggak salah?” ucapku tidak percaya. Kami bukan anak kecil lagi. Kenapa ke Dufan? “Kenapa? Kamu takut? Nggak ada nyali, ya?” ejek Demi terlihat sangat senang. “Ah, payah, nih!” Mendengar ledekannya pun, aku pun jadi tertantang. “Mau adu nyali?” tanyaku sambil tersenyum yang dia balas dengan anggukan kepala dan senyuman penuh percaya diri. “Oke! Siapa takut!”    *** DEMETRA   “Re, sini cepet! Kamu lelet banget kaya siput!” seruku saat mendekati wahana kora-kora yang menjadi permainan kesukaanku sejak dulu. Mendengar teriakan orang-orang yang saat ini sedang menaiki wahana tersebut, semangatku pun semakin membumbung tinggi. Begitu tidak sabar untuk segera menaiki permainan yang sejak dulu menjadi kesukaanku ini. Aku sudah berdiri di antrean kora-kora yang cukup panjang, tapi Revan masih berjalan santai dari kejauhan sambil tersenyum geli melihatku. Berjalan dengan tangan kirinya di saku celana dan tangan kanannya menyisir rambutnya yang berantakan tertiup angin. Ish, kenapa dia malah berasa jalan di catwalk begitu? Dasar lelaki narsis. “Eh, itu cowok ganteng banget,” ucap cewek-cewek di depanku. Aku tersenyum masam mendengar cekikikan gerombolan ABG di depanku. Sadar kalau yang mereka bicarakan adalah Revan. Lelaki tampan yang selalu menarik perhatian para wanita di mana pun dia berada. Saat memakai seragam kerjanya saja dia membuat wanita tidak bisa memalingkan wajah, apalagi saat ini, di mana dia terlihat semakin tampan dalam setelan santainya. Padahal dia cuma pakai jeans dan t-shirt, tapi tetap saja gantengnya luar biasa. “Ya, ampun! Ya, ampun! Dia ke sini, loh! Jangan-jangan mau nyamperin kita? Gimana, nih?” seru salah satu ABG begitu panik. Helooooo, dia mau nyamperin gue kaliiiii. Hadeh, pede abis ini bocah-bocah. Ya, kali Revan doyan bocah piyik-piyik kaya kalian. Kalaupun ada yang bisa bikin dia tertarik, ya, cewek berdada besar kayak di belakangku ini! Eh, tunggu dulu! Sejak kapan ada dua cewek seksi mengantri di belakangku? “Nggak perlu lari-lari, kora-lora-nya nggak akan ke mana-mana,” ucap Revan saat sudah di sebelahku. Kudengar suara tarikan napas kencang dari ABG di depanku saat Revan berada begitu dekat dengan mereka. Saat aku melirik ke dua cewek seksi di belakangku, mereka pun melihati Revan sambil tersenyum menggoda. Reaksi para wanita yang selalu kulihat saat bersama dengan Revan dan selalu berhasil membuatku sadar diri bahwa aku tidak sepadan bersanding dengan dirinya. Aku, mah, apa atuh, hanya remahan chiki di dalam bungkusnya. Mataku pun mulai menelusuri tubuh kedua cewek seksi itu. Mereka menggunakan kaos ketat tipis berwarna putih yang memperlihatkan dengan jelas bayangan bra hitam yang menutupi p******a berukuran besar mereka di baliknya. Kemudian celana jeans pendek, yang hanya menutupi hingga lekukan p****t. Dandanan yang benar-benar menonjolkan kemolekan tubuh mereka. Meskipun enggan, tapi kuakui bahwa mereka memiliki paras yang cantik. Kecantikan yang akan menarik perhatian setiap lelaki, Revan sekalipun. Kecantikan yang pastinya tidak kumiliki. Boro-boro cantik, lemakku saja menonjol di mana-mana. Gimana lagi, makan jauh lebih enak dan murah daripada pergi nge-gym. “Ngeliat apa kamu?” tanya Revan sambil menangkup puncak kepalaku dengan tangan kanannya yang besar. “Antreannya di depan, bukan di belakang,” katanya, kemudian membalikkan tubuhku agar menghadap ke depan. Revan menatap wajahku yang pastinya sangat masam saat ini, lalu mengacak rambutku sambil tertawa geli. “Jangan sedih begitu! Nanti kalau udah gede, p******a kamu juga tumbuh kok,” bisik Revan di telingaku sambil mendengkus geli. “Kamu kan masih dalam masa pertumbuhan.” Aku langsung melayangkan tinju yang mengenai dagunya pelan. “Kurang ajar!” Meskipun jantungku berdegup kencang karena kedekatan kami saat ini, tapi keinginan untuk melemparkannya ke dalam jurang jauh lebih besar. Dasar lelaki iseng! Revan tertawa semakin kencang, lalu merangkul bahuku. Menarikku merapat padanya, kemudian mengusap-usap kepalaku seakan aku anak anjing kesayangannya. “Kecantikan wajah akan pudar seiring dengan waktu, tapi kecantikan hati akan bertahan selamanya,” ucapnya sambil tersenyum lembut. Aku pun tersenyum mendengar ucapannya itu. “Jadi, aku punya kecantikan hati?” tanyaku penuh harap. Revan mengulum senyumnya, lalu melihat ke atas seakan sedang berpikir. “Gimana, ya?” “Nggak usah dijawab!” sungutku sambil membuang muka. Melihat ke depan, di mana antrean mulai maju perlahan. Kurasakan bahuku kembali dirangkul olehnya dan napas hangatnya terasa jelas di telingaku yang membuat jantungku berdebar semakin kencang saat itu juga. “Kamu nggak cuma cantik di luar, Demi, tapi kamu pun cantik di dalam. Bagiku, nggak ada wanita lebih cantik daripada kamu.” Aku menoleh menatap Revan yang saat ini tersenyum lembut menatapku. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagaimana perasaanku saat ini. Mendengar pengakuan mengejutkan yang membuatku begitu bahagia dan terharu di saat bersamaan. Ucapannya yang memberikanku kepercayaan diri bahwa aku tidak seburuk yang kupikirkan atau orang lain pikirkan selama ini. Karena ada seorang lelaki yang ternyata bisa melihat diriku yang sebenarnya. Lelaki yang bisa menerima diriku apa adanya.    *** REVAN   “Re, nanti malam aku yang traktir, ya,” ucap Demi sambil mengunyah ayam gorengnya. Kami sedang makan siang saat ini di restoran cepat saji yang ada di dalam Dufan. Setelah berkeliling mencoba semua wahana yang menantang selama tiga jam, akhirnya Demi kelaparan. Bubur dua mangkuknya sepertinya sudah lenyap begitu saja di perut. “Kenapa?” “Masa kamu terus yang bayarin. Tadi masuk Dufan kamu, ini makan siang juga kamu lagi,” katanya tampak keberatan. “Nggak apa-apa. Prinsipku pantang perempuan yang jalan denganku mengeluarkan uang,” jujurku. Selagi aku mampu, aku tidak masalah menyenangkan wanita dengan membayari makan ataupun belanjaan mereka. “Oh, ya? Lain kali aku bawa temen-temenku, deh. Biar bangkrut sekalian kamu,” cibirnya sambil mendelik tajam. Aku pun tertawa. “Kenapa memangnya? Harusnya kamu senang karena aku traktir terus. Lumayan bisa menghemat.” “Yee, emangnya aku cewek matre? Sorry, aja, ya, aku bukan tipe cewek benalu macam gitu. Bukan berarti karena aku cewek, aku harus selalu dibayarin. Helooo, ini udah zaman modern. Cewek juga bisa mandiri,” ucapnya dengan menggebu-gebu. “Kamu kenapa kalau ngomong seperti itu?” Demi menelan ayamnya, menatap bingung. “Maksudnya?” Aku pun tersenyum usil, lalu menjawab, “Seperti anak alay.” Demi langsung menendang kakiku di bawah meja. “Kurang ajar!” desisnya berapi-api. Aku tertawa tanpa henti melihat Demi kesal. Aku selalu suka melihat dia marah, karena dia terlihat sangat lucu sekali. Seumur hidupku, baru Demi yang mampu membuatku tertawa terus menerus selama bersama dirinya. “Permisi, mejanya kosong nggak?” tanya seorang wanita dengan suara yang seksi. Aku menoleh, melihat wanita yang mengantri di belakang kami saat akan bermain kora-kora tadi bersama kedua temannya. Kebetulan, aku dan Demi memang duduk di meja yang muat enam orang, karena tadi hanya meja ini yang kosong. “Boleh,” jawabku sambil tersenyum. “Makasih, ya, maaf ganggu!” Wanita itu pun duduk di sampingku sedangkan kedua temannya duduk di sebelah Demi. Perhatianku pun kembali pada Demi yang mulai makan ayam keempatnya. “Demi, stop! Kamu udah makan berapa ayam dari tadi?” Aku bukannya tidak suka melihat wanita makan banyak, tapi aku cuma tidak mau Demi sakit perut karena kebanyakan makan. Apalagi setelah ini kami berencana naik Arung Jeram. Ada baiknya dia tidak makan terlalu banyak. “Baru yang keempat,” kata Demi dengan mulut penuh makanan. “Baru? Empat udah banyak. Jangan nambah lagi! Nanti kamu malah muntah pas main. Katanya mau main Arung Jeram?” Demi menatapku sedikit kesal .”Iyaaa!” “Adiknya lucu, ya, Mas!” kata wanita tadi tiba-tiba. Adik? Apa kami terlihat mirip hingga dikira saudara? Lagi pula dari cara wanita ini menyebutkan Demi, apa dia pikir Demi masih anak sekolahan? Demi memang terlihat muda, tapi tidak berarti dia terlihat seperti anak remaja. Aku rasa mata wanita ini rabun. “Namaku Marsha,” ucap wanita itu sambil tersenyum manis. “Mas namanya siapa?” “Revan,” jawabku tersenyum ala kadarnya. Aku tidak berminat terlalu menebar senyuman pada wanita yang jelas-jelas sedang berusaha menggodaku ini. “Adiknya namanya siapa?” tanya wanita itu tersenyum pada Demi. Demi anehnya mengeluarkan senyuman lebarnya pada wanita ini. “Demi, Tante.” Aku hampir tersedak ludahku sendiri mendengar Demi memanggil wanita itu dengan sebutan tante. Demi pasti sedang membalas dendam karena dikira adikku. Muka wanita itu pun langsung merah menahan emosi. “Kok tante, sih? Aku masih muda, panggil aja Marsha.” Wanita itu masih berusaha tersenyum pada Demi, Demi pun membalas senyuman itu dengan selebar-lebarnya. “Nggak, ah, Tan, nggak sopan sama orang tua. Saya kan masih kecil.” Tawaku meledak pada akhirnya. Demi terlihat santai saja menikmati makanannya, walaupun wanita itu menatapnya dengan berapi-api. Selama makan, wanita menyebalkan itu berusaha keras mengajakku bicara. Walaupun aku membalas seadanya, tapi dia terus saja berceloteh. Demi tidak berusaha membantuku sama sekali karena terlalu sibuk memakan semua makanan yang ada, bahkan makananku sekalipun. Saat akhirnya Demi sudah menyelesaikan makanannya, aku langsung mengajaknya pergi demi menghindari wanita itu yang semakin mengganggu. “Kenapa buru-buru banget, sih?” protes Demi saat aku menarik tangannya, berjalan sejauh-jauhnya dari restoran tadi. “Aku kan baru selesai makan, istirahat dululah!” “Iya, di tempat lain aja, ya,” kataku membujuknya. “Emang kenapa kalau di sana? Padahal aku pengin es krim,” rajuk Demi. “Oh, my God! Kamu belum kenyang juga?” seruku kaget. Sebesar apa perut Demi sebenarnya? Setelah makan ayam enam potong dengan kentang goreng dan nasi, dia masih mau makan es krim lagi? Apa ada anaconda di dalam perutnya itu? “Es krim kan ringan,” katanya tanpa dosa. “Iya, ringan banget,” jawabku penuh sarkas. “Ya, udah, makan es serut aja. Mau nggak?” tawarku begitu melihat kios yang menjual es serut. Mata Demi langsung berbinar mendengarnya. “Mau, mau!” serunya penuh semangat yang membuatku menggelengkan kepala. Dasar cewek antik! TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN