Chapter 4. Confession

2736 Kata
REVAN   Aku menatap jauh ke depan, menikmati pemandangan laut malam ini yang begitu indah. Sebenarnya laut di hadapanku tidak berubah sedikit pun dari malam sebelumnya, tapi malam ini terlihat jauh lebih indah karena ada seseorang yang menemaniku. Seseorang yang belakangan ini menjadi begitu spesial bagiku. Membuat hariku jauh lebih berwarna dari yang pernah kujalani sebelumnya. Aku melirik ke sebelah, lalu tersenyum simpul melihat Demi yang memejamkan matanya sambil menikmati udara laut yang sejuk. Rambutnya yang berterbangan tertiup angin semilir, membuatnya terlihat semakin cantik meskipun pada kenyataannya wajah Demi tampak begitu lelah dan kucel setelah seharian berada di terik matahari. Namun, bagiku, tetap saja dia terlihat cantik. Setelah puas bermain hingga jam tutupnya, kami memutuskan untuk bersantai di pinggir pantai sebelum pulang. Selain melepas lelah, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama dengannya lebih lama lagi. “Re,” panggil Demi tiba-tiba tanpa memalingkan wajahnya. “Ya,” jawabku menunggu apa yang ingin dia sampaikan. “Re,” panggilnya lagi yang membuatku tertawa karena kelakuan Demi yang suka tidak jelas. “Manggil sekali lagi, kamu harus bayar!” candaku yang membuat dia menjulurkan lidahnya. “Cerita, dong!” “Cerita apa?” tanyaku bingung. Terus terang tidak ada kejadian menarik yang kualami belakangan ini. Kecuali tentang Demi. Namun, aku yakin dia tidak akan mau mendengarku bercerita mengenai dirinya sendiri. “Kamu ngantuk?” tanyaku saat melihatnya menutup mulutnya saat menguap. “Mau pulang?” Demi menggelengkan kepala, lalu menoleh menatapku dengan matanya yang berair sehabis menguap. “Nanti aja. Aku masih mau di sini.” “Oke, setengah jam lagi, ya. Nanti keburu bisnya stop operasi,” kataku sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul sembilan malam. “Cerita soal keluarga kamu!” katanya sambil tersenyum lebar. “Saudara kamu, ortu kamu, atau kalau perlu asisten rumah tangga kamu.” Aku tertawa kecil melihatnya yang menyeringai lucu. “Kenapa pengin tahu?” “Pengin tahu aja, tapi kalau kamu nggak nyaman cerita juga nggak apa-apa kok. Cerita yang lain juga boleh.” Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang harus aku ceritakan mengenai keluargaku yang sebenarnya sangat normal seperti keluarga lainnya. “Keluargaku ada empat orang. Ayah, Bunda, aku, dan adikku, Rasti.” “Baru tahu kalau kamu punya adik. Umur berapa?” tanya dia terlihat penuh keingintahuan. “Sekarang baru masuk SMA. Kami berdua cukup jauh jarak umurnya,” “Terus ayah kamu kerja apa?” Aku terdiam ragu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Demi yang sebenarnya sudah aku  antisipasi sejak lama, “Karyawan di perusahaan otomotif.” “Wah, keren, dong. Katanya kerja di situ kan gajinya gede,” ujarnya tampak terpukau. “Terus bunda kamu kerja juga?” “Bundaku cuma ibu rumah tangga biasa. Namun, dia yang paling hebat di keluargaku. Semua pekerjaan rumah, dikerjakan sendiri oleh Bunda. Bunda juga yang mengurusku dan Rasti sejak kecil tanpa bantuan siapa pun.” “Pasti kamu sayang banget sama Bunda kamu, ya?” “Iya,” jawabku sambil tersenyum mengingat wanita yang kusayang yang sudah lama tidak kutemui. “Cita-citaku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, tapi sampai saat ini masih sulit sepertinya.” “Kenapa?” tanyanya dengan dahi yang mengerut. Aku tersenyum masam sebelum menjawab, “Karena aku masih saja menjadi anak kurang ajar yang selalu menyusahkan kedua orang tuaku. Aku masih selalu membuat mereka pusing dengan semua tingkah lakuku.” “Iya, gitu? Tapi, kelihatannya kamu anak baik-baik, deh.” Aku tertawa kecil mendengar Demi yang memang tidak tahu masa laluku yang cukup kelam. Kalau dia tahu, dia tidak akan mungkin bicara seperti itu. Bahkan, aku tidak yakin dia mau berteman denganku. “Oh, salah, ya?” koreksinya saat melihat tanggapanku. “Kamu sendiri gimana?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan ke dirinya. Aku tidak ingin membahas mengenai masa laluku lebih jauh lagi. Setidaknya tidak untuk saat ini. “Hem, aku anak paling kecil.” “Kelihatan,” sahutku cepat yang langsung dibalas Demi dengan pelototan matanya yang besar. “Kakakku ada dua, yang paling tua cowok, Athan, dan yang kedua cewek, Emeleia atau Ema.” “Kamu bersaudara namanya bahasa Yunani semua?” tanyaku terkesima. Nama Demi dan saudara-saudaranya sangatlah unik. “Athan, Emeleia, Demetra. Cool names.” “Iya, Papa ngebet banget namain anaknya dari bahasa Yunani. Padahal ke sana aja nggak pernah. Biar keren aja kali,” sungut Demi sambil tertawa sinis. “Kamu tahu arti nama kamu sendiri?” tanyaku dengan penasaran. Demetra bukanlah nama yang umum digunakan. Berbeda dengan Athan ataupun Ema. “Kalau Athan itu artinya hidup abadi, Papa berharap kakakku nggak mati-mati kali, ya.” Aku pun kembali tertawa kecil mendengar penjelasan Demi yang selalu saja sinis, tapi juga lucu. “Emeleia itu wanita pejuang.” “Terus kamu?” tanyaku menunggu dia yang menatapku malas. “Demetra itu dewi agrikultur,” jawab Demi dengan muka sedikit kesal. Aku pun tidak bisa menahan tawaku saat mendengar arti nama Demi. “Tuh, kan, ketawa! Udah aku duga kamu pasti ngeledek,” sungutnya sambil mencubit lenganku. “Aku hanya merasa lucu karena namamu benar-benar menggambarkan sifatmu. Sifatmu yang suka makan itu,” jelasku pada Demi yang menatapku sinis. “Hina aja terus! Lagian makan nggak dosa ini,” kata Demi merengut. “Papa punya feeling kalau anak terakhirnya bakalan doyan makan, makanya dinamain gitu.” “Papa kamu bisa mengerti kamu bahkan di saat kamu masih di dalam kandungan mamamu.” “Iya, banget, ngertiin aku,” katanya dengan sinis. “Kayaknya di rumah nggak ada yang bisa ngertiin aku. Di rumah itu yang dianggap anak cuma Kak Athan dan Kak Ema aja, aku ini anak angkat kayanya.” Demi pun kembali muram. “Jangan bilang begitu! Itu semua hanya perasaan kamu saja,” kataku menyemangatinya. Padahal seharian ini dia terlihat jauh lebih senang, tapi hanya karena satu pikiran buruk, dia kembali bersedih seperti hari-hari sebelumnya. Demi bergumam pelan sambil menundukkan kepalanya, menatap pasir yang kami pijak.  “Kalian adalah keluarga, sudah pasti kalian akan saling menyayangi. Papa kamu melakukan itu semua untuk menjaga kamu, bukan karena beliau membencimu, Demi.” “Kamu jadinya belain Papa aku, gitu?” sungut Demi marah. Aku menghela napas pelan. Kuulurkan tangan untuk menyentuh puncak kepalanya, lalu mengacak rambutnya dengan gemas yang membuat dia semakin merengut. “Bukan belain, tapi, orang tua, di mana pun itu, pasti menyayangi anak-anaknya. Mereka akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kita. Mereka juga tidak akan segan-segan berkorban demi kebahagiaan kita. Seperti peribahasa yang bilang kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan. Jadi aku yakin, Papamu tidak mungkin membenci kamu, Demi. Sebaliknya, dia malah sangat menyayangi kamu makanya dia begitu protektif.” Demi terdiam sebelum akhirnya tersenyum tipis padaku. “Kamu kayaknya family man banget. Nggak keliatan dari muka,” ejeknya tertawa geli. “Ngomong-ngomong, bukannya kasih ibu, ya?” serunya yang membuatku terkekeh pelan. “Kamu tahu juga ternyata. Aku pikir kamu nggak tahu peribahasa.” “Jelek-jelek begini, aku pintar juga tahu,” protes Demi tidak terima ejekanku. “Percaya kok kamu pinter,” sahutku sambil mengulum senyuman. Tidak tahan melihat wajahnya yang lucu saat sedang ngambek seperti saat ini. “Kok kedengarannya kayak ngejek, ya?” cibirnya sambil menepis tanganku yang mau mengacak rambutnya kembali. “Nggak usah pegang-pegang!” Bunyi dering telepon tiba-tiba terdengar dari sakuku. Aku pun mengambil ponselku, lalu melihat nama yang tertera di monitor ponsel. Nama dari salah satu orang yang tidak akan pernah lagi kujawab teleponnya. Aku mendecakkan lidah malas, kemudian mematikan ponselku. “Kamu nggak laper?” tanyaku sambil menyimpan kembali ponsel ke dalam saku. “Cewek, ya?” tanya Demi dengan muka penasaran. “Ha?” tanyaku tidak mengerti dengan pertanyaan Demi. “Cewek apa?” “Itu tadi yang nelepon cewek? Teman?” Senyumku mengembang di bibir saat melihat dia yang berusaha keras menutupi rasa penasarannya saat ini. Ada raut tidak suka kutangkap dari wajahnya. Membuatku tidak bisa menahan diri untuk menggodanya. “Kenapa memangnya kalau cewek? Kamu cemburu?” Wajah Demi langsung merona. “Siapa yang cemburu? Aku kan cuma nanya,” jawabnya dengan nada sedikit meninggi. “Lagian kenapa juga harus cemburu? Emang aku siapa?” “Mana tau kamu suka aku,” godaku sambil menahan tawa. Wajah Demi pun semakin memerah. “Nggak usah sok kecakepan, deh!” ketus Demi mengeluarkan taringnya. Aku mengacak rambut Demi sambil tertawa. Seandainya saja dia kekasihku, aku pasti sudah memeluknya erat saking gemasnya. Namun, sayang status kami hanyalah sebatas teman. Sentuhan lebih dari ini hanya akan membuatnya tidak nyaman. “Lucu banget, sih, kamu.” “Apaan, sih? Suka banget ngancurin rambut orang. Aku jadi keliatan kayak orang gila, kan!” protes Demi menepis tanganku lagi sambil memasang muka sebal. “Memang kamu kayak orang gila,” godaku dengan maksud bercanda. “Kamu sendiri selalu bilang kamu kurang waras.” “Nggak sopan!” sungut Demi bersamaan dengan dirinya yang menendang kakiku sekuat tenaga. Aku mengaduh kesakitan sambil menggosok tulang kering kaki kiriku yang terkena tendangan. “God, kamu itu perempuan atau lelaki, sih?” geramku sedikit kesal. Demi sering sekali memukul atau menendangku kalau dia sudah mulai kesal. Dan, Demi melakukan hal tersebut, bukan seperti wanita lain yang melakukannya dengan bercanda, dia akan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyiksaku. Salah satu kebiasaannya yang kurang kusukai. “Nggak suka? Ya, udah pergi sana!” ketus Demi judes. Aku menarik pipi Demi gemas, melihat dia kembali mengomel tidak jelas. “Kamu itu nggak ada manis-manisnya jadi perempuan.” “Emang aku nggak manis! Udah gitu gendut, tukang makan, galak, judes, jelek, b**o. Aku emang nggak ada bagus-bagusnya. Puas?” teriak Demi. Dadanya naik turun karena emosi. Demi menatapku dengan tatapan marah dan juga kecewa, yang membuatku begitu terkejut. Aku tidak menyangka gurauanku membuatnya tersinggung hingga seperti ini. Padahal aku hanya ingin membuat dia tertawa. Namun, candaanku sudah keterlaluan hingga Demi sampai semarah ini. “Demi, bukan itu maksudku—” “Aku ngerti kok maksud kamu. Ngerti banget,” serunya memotong ucapanku. “Aku emang cewek yang nggak punya kelebihan apa-apa. Aku sangat sangat nggak menarik. Semua orang selalu bilang begitu, tapi aku nggak nyangka kamu pun akan bilang begitu, Re,” ucapnya dengan suara yang semakin memelan. Kedua tanganku bergerak otomatis, meraih tubuh Demi, lalu memeluknya erat. “I’m sorry, I’m really sorry.” Demi bergeming dalam pelukanku. Perlahan, kurasakan badan Demi yang mulai bergetar. Isakan pelan terdengar setelah itu. Kurasakan penyesalan yang teramat besar saat ini. Aku tidak menyangka ucapan yang keluar dari mulutku tanpa maksud apa pun, bisa menyakiti Demi sampai seperti ini. Hal ini semakin meyakinkanku, bahwa di balik sosok tangguhnya, Demi hanyalah seorang wanita yang terluka hatinya karena orang di sekitarnya. Harusnya aku bisa menjadi orang yang bisa menyembuhkan luka di hatinya, tapi saat ini, yang kulakukan malam menorehkan kembali luka baru. “Kamu wanita yang hebat, Demi. Kamu tangguh, baik hati, dan juga supel. Memang terkadang kamu terlihat urakan dan terlalu santai. Bahkan nggak jarang menyebalkan, tapi itu adalah kamu. Kamu nggak pernah berpura-pura. Kamu unik dengan caramu sendiri. “Manusia nggak akan pernah luput dari kekurangan, tapi kamu memiliki banyak kelebihan yang membuat kamu terlihat sangat menakjubkan di mataku.” Demi tertawa kecil di pelukanku yang membuatku bisa kembali bernapas lega. Aku melepaskan pelukanku. Demi sudah mau kembali menatapku sambil tersenyum. “Aku tahu kamu bilang gitu buat nyenengin hatiku. Makasih, ya. I feel better now.” “Aku bilang begitu bukan untuk nyenengin hati kamu saja. Karena bagiku kamu adalah wanita seperti itu,” kataku menatap Demi dengan lembut. “Sebelum kita berkenalan, aku selalu berpikir kalau kamu adalah wanita yang menarik dan setelah mengenalmu, aku semakin yakin kalau kamu berbeda. Kamu membuatku nggak bisa melihat ke wanita lainnya. Setiap saat, kamu selalu ada di dalam pikiranku. Dan, ini adalah kali pertama, aku memiliki perasaan seperti ini pada seorang wanita.” Wajah Demi perlahan merona, tapi dia masih menatapku bingung. “Maksudnya?” tanyanya terlihat tidak mengerti meskipun aku tahu dia menyadari arah pembicaraanku saat ini. Aku meraih tangan Demi dan menggenggam lembut. Menatap Demi tepat di kedua mata indahnya. Mata indahnya yang menatapku penuh antisipasi. “Aku suka kamu, Demetra.”    *** DEMETRA    He … what??? Oke, oke, oke, mari kita tenangkan diri dulu. Kita ingat-ingat lagi awal pembicaraan tadi. Sebenarnya kita lagi ngomongin apa, ya? Kok tiba-tiba Revan bilang suka sama aku? He likes me? You got to be kidding me. Setelah dia tahu segala macam kebusukan diriku, dia masih bilang suka sama aku? Perlu diperiksa ke dokter ini laki. Kayak tidak ada cewek lebih waras dan normal saja daripada aku yang aneh bin ajaib ini. Lelaki yang mendekatiku selama ini cukup banyak. Bukannya geer, tapi mengingat status keluargaku. Tidak sedikit yang mencoba mendekati dengan maksud dan tujuan tertentu. Namun, setelah tahu ‘aslinya’ aku, biasanya mereka akan mundur teratur. Siapa, sih, yang tahan sama cewek yang galak, judes, tomboy, udah gitu hobinya mukulin orang kalau lagi gemas? Kayaknya tidak ada. Lalu, kenapa Revan bisa suka sama aku?! Memang, sih, dia selalu baik, perhatian, sabar, dan kelihatan sayang sama aku. Namun, aku pikir itu semua karena dia menganggapku sebagai teman. Atau memang aku saja yang bodoh? Tidak sadar kalau sebenarnya disukai. Kalau mengenai perasaanku, jangan ditanya lagi. Aku suka dia sejak pertama kali melihatnya. Dan, setelah mengenalnya lebih jauh, rasa suka itu pun berubah menjadi rasa cinta. Ya, aku jatuh cinta padanya. Seumur hidupku, hanya Revan, lelaki yang benar-benar tulus menyayangiku tanpa mengharapkan sesuatu. Dia memberikanku perhatian dan juga pengertian tanpa batas. Selalu memikirkan apa yang kurasakan. Selalu berusaha menyenangkan hatiku di saat hariku begitu menyedihkan. Bersamanya, aku selalu merasa bahagia. Hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya saat bersama dengan seorang pria. Meskipun aku sedikit curiga, dia dulunya seorang womanizer, mengingat banyaknya wanita-wanita cantik yang selalu mengenali dirinya saat biasanya aku dan Revan sedang berjalan ke mal ataupun makan di restoran. Namun, aku rasa itu semua terjadi di masa lampau. Karena sekarang dia tampak seperti lelaki baik-baik di mataku. Apa aku saja yang terlalu optimis?  “Aku nggak berharap kamu membalas perasaanku atau bahkan bersedia menjadi pacarku. Aku sadar dengan posisiku. Aku bukan apa-apa dibandingkan kamu.” Kenapa dia bilang begitu? Aku bahkan belum berkata apa pun sejak tadi karena terlalu terkejut. “Karena itu, nggak perlu kamu pikirkan lagi. Kita seperti ini saja aku sudah senang.” Dia tersenyum lembut. Tampak tidak mengharapkan apa pun dariku. Dan, hal itu membuatku kesal. “Nggak bisa gitu, dong!” protesku langsung yang membuat Revan terkejut. “Kamu pikir aku bisa bersikap normal ke kamu setelah pernyataan kamu itu?” “Maaf. Anggap aja aku tadi lagi bercanda.” “Jadi, kamu bercanda soal perasaan kamu?” tanyaku dengan mata mendelik. “Aku cuma nggak mau membebani kamu dengan perasaanku ini. Aku sadar dengan posisiku.” “Ini dari tadi ngomongin posisi apaan, sih? Emangnya kita lagi main sepak bola, hah?” tanyaku kesal. “Atau ngomongin posisi di ranjang?” Dia malah tertawa. “Kamu paham maksudku.” “Paham, tapi apa kamu paham perasaanku?” Dia pun terdiam. “Aku tadi nggak bisa jawab, bukan karena aku ngerasa kita nggak sepadan seperti omongan kamu itu. Aku nggak bisa ngomong apa-apa karena aku terlalu kaget. Gila aja kamu bisa suka sama aku! Perasaan semalam aku mimpi dikejar setan, deh, bukan kejatuhan duren.” Revan mendengkus geli menahan senyumannya. Dia sepertinya tidak percaya pada ucapanku. “Jadi, sebelum kamu berasumsi ini itu, lebih baik kamu dengarin ucapanku.” Aku menarik napasku dalam-dalam. Aku tidak menyangka jantungku akan berdetak secepat ini. Ini kali pertama aku mengucapkan empat huruf itu. Ternyata rasanya seperti naik roller coaster. Bahkan, lebih mendebarkan. Okay, here we go! “Aku juga suka kamu, Re.” Revan terdiam mendengar ucapanku, tapi tidak berapa lama dia pun tersenyum geli. “Kamu nggak perlu maksain diri. Jadi teman pun aku nggak masalah.” “Tapi, aku nggak mau cuma jadi teman. I want more.” Tunggu! Kenapa aku jadi terdengar ngotot begini? Raut wajah Revan akhirnya berubah serius. “Kamu yakin?” tanya Revan sepertinya masih belum percaya pada ucapanku. Aku pun mengangguk tanpa berpikir lagi. “Kamu benar-benar yakin? Karena kalau iya, aku nggak akan pernah ngelepasin kamu, Demi. You’re gonna stuck with me forever.” Wow, posesif. I love this man. Aku pun menarik napas dalam-dalam, menatap dia dengan sungguh-sungguh. “Ya, aku sayang kamu, Revan Putra.” Raut wajah Revan langsung berubah penuh kebahagiaan. Matanya berbinar menatapku. Bibirnya menyunggingkan senyuman begitu lebar. Dan, dengan kecepatan kilat, aku sudah berada di pelukan hangatnya. “Aku juga sayang kamu.”    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN