Chapter 5. We're Dating

2798 Kata
REVAN   Antrean penumpang dari shelter Bundaran Senayan mulai berkurang saat para penumpang satu per satu masuk ke dalam bis. Saat tidak ada lagi yang akan masuk, aku pun memberi aba-aba pada supir untuk menutup pintu. Pintu bergerak menutup perlahan. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita meloncat masuk ke dalam bus sebelum pintu tertutup rapat. Tindakan yang membuat mataku membelalak kaget. Emosiku pun semakin memuncak setelah tahu siapa wanita yang melakukan tindakan ceroboh dan berbahaya tersebut. “Mbak, kalau sudah lihat pintu mau tertutup, jangan meloncat seperti itu! Kalau terjepit atau jatuh bagaimana?” kataku geram sekali. Aku sudah ingin menjewer kuping wanita ini kalau tidak ingat kami sedang di tempat umum. “Eh, iya, maaf, Mas. Refleks, bener, deh,” ucap wanita itu yang tidak lain adalah Demi, sambil tersenyum menyesal. “Nggak lagi-lagi. Serius,” katanya sambil meringis kecil. “Lain kali hati-hati, ya, Mbak!” kataku dengan tegas padanya. “Iya, Mas. Maaf, ya!” katanya sekali lagi terlihat menyesal. Aku memalingkan wajahku, menatap ke jalanan di depan. Aku tahu apa yang aku lakukan terhitung keras, tapi yang aku lakukan semata-mata untuk keamanan dirinya sendiri dan tentunya pelajaran untuk penumpang lain, agar tidak mencontoh kelakuan gadis nakalku ini. Sepanjang perjalanan, Demi bolak-balik melirikku, yang tidak kuacuhkan. Aku tahu dia sangat menyesal, tapi tetap saja aku kesal dengan tindakannya tadi. Apa dia mau membuatku terkena serangan jantung dengan kelakuan yang bisa membuatnya celaka itu?  Akhirnya aku hanya memalingkan mukaku berusaha keras menghindari tatapannya yang pasti langsung meluluhkan hatiku. Aku ingin dia mengerti kalau aku tidak suka tindakan cerobohnya. “Re, kamu masih marah, ya?” tanya Demi saat kami sedang menyantap late dinner kami di dekat Taman Menteng. Aku sudah menyuruhnya pulang sejak tadi karena tugasku hari ini sampai pukul sepuluh, tapi dia tetap bersikeras menungguku. Hingga akhirnya dia ikut ke sana sini di dalam bus sejak tadi. “Yaaaang,” panggil dia lagi dengan suara manja. Terus terang, aku senang mendengar Demi berbicara dengan manja seperti ini. Karena bisa dihitung dengan jari berapa kali dia akan bermanja-manja padaku. Dia tipe pacar yang cuek-cuek saja walaupun sebenarnya aku tahu dia senang bermanja denganku. Hanya saja dia terlalu malu dan gengsi. Akhirnya selalu aku yang akan menempel padanya. “Hm,” gumamku pelan. Sebenarnya, aku sudah tidak marah lagi. Sebaliknya, aku merasa sangat senang karena sejak tadi Demi menemaniku bekerja. Well, walaupun seharusnya aku tidak membiarkan seorang wanita berkeliaran malam-malam, tapi menghabiskan waktu bersama dengannya membuatku bahagia. Mengingat satu-satunya waktu kami bertemu hanyalah di saat weekend, itu pun kalau aku sedang libur. Namun, aku sengaja mendiamkannya karena ingin melihat bagaimana cara dia membujukku. “Ih, kamu ngambek lama banget, sih!” seru Demi sepertinya mulai tidak sabar, dia yang tadinya bergelayut di tangan kananku akhirnya bergeser menjauh. “Udah, ya, aku makan dulu. Selamat ngambek ria,” katanya sambil menarik piring nasi goreng yang sejak tadi didiamkan karena berusaha membujukku. Tawaku pun pecah. Hanya sejauh itu kesabarannya dalam membujukku. “Gadis nakal!” geramku mencubit pelan pipi kirinya yang gembil. “Nggak ngerti kalau aku cemas?” “Ngerti,” jawab dia tidak begitu jelas karena mulut penuh makanan. “Jangan gitu lagi, ya, Yang? Kamu janji?” tanyaku sambil menjawil pipinya. Dia mengangguk-angguk karena tidak bisa menjawab dengan mulut yang penuh. “Ya, udah, abisin itu nasi goreng kamu, tadi kamu pesen sate juga, kan?” “Uhm.” Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat nafsu makannya. Aku saja tidak pernah makan sebanyak dia karena selalu menjaga asupan makananku demi menjaga badan. Bukannya aku lelaki yang sangat memperhatikan penampilan, tapi aku tidak mau diumurku yang masih muda aku sudah terlihat seperti bapak-bapak beranak lima dengan perut yang buncit. Sedangkan, Demi tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Memang, sih, dia tidak gendut, tapi aku ngeri melihat segala macam makanan yang masuk ke dalam perutnya. Somay, cimol, mie ayam, gulali, sate, bakso, kadal, tikus—oke, yang dua terakhir hanya gurauanku. Namun, tetap saja, makanan-makanan yang dia makan sangatlah tidak sehat. Berulang kali aku mengingatkannya untuk menjaga apa yang dia makan, tapi selalu dibalas dengan sungutan kesalnya. Dia paling tidak suka kalau hobi makannya diganggu gugat. Akhirnya aku hanya bisa diam melihat dia makan sambil berdoa dalam hati dia akan baik-baik saja. “Kamu nggak makan?” tanya Demi yang akhirnya ingat aku berada di sebelahnya, setelah makanan menyita perhatiannya sejak tadi. “Kamu itu cowok, tapi makan kayaknya ogah-ogahan gitu. Takut gendut, ya?” tanyanya melirik piring nasi gorengku yang hanya kuhabiskan setengah. Aku pun menjawil hidungnya. “Aku nggak takut gendut, Sayang. Aku kenyang, tadi kan udah makan sebelum mulai shift terakhir.” Demi menyeringai sambil menatapku penuh arti. “Kamu bukannya takut kalau sampai gendut nanti cewek-cewek pada nggak suka lagi?” Kebiasaannya menggodaku muncul kembali. Entah kenapa dia suka sekali menyindirku dengan membawa-bawa wanita lain. “Aku kan udah punya kamu, buat apa melihat cewek lain?” kataku santai. Cara paling ampuh menjawab ledekan Demi adalah dengan menjawabnya dengan gombalan semenjijikkan mungkin. “Karena kamu, semua cewek lain keliatan kayak anak ayam di mataku, Yang. Kamu itu bagaikan bidadari turun dari khayangan.” Demi langsung bergidik geli, menatapku jijik. “Lebay!!! Lihat! Aku sampai merinding gara-gara omongan kamu,” ucapnya sambil menunjuk lengan kanannya. “Kamu yang mulai.” Aku mengacak rambutnya yang dibalas dengan juluran lidah. “Dasar anak kecil!” Demi tidak menjawab karena sudah kembali sibuk menghabiskan makanan yang dipesannya. Sedangkan aku, sibuk melihat dia yang begitu lucu saat makan. Dia seperti tidak makan berhari-hari sehingga makan dengan begitu tidak sabar. Tidak jaim sama sekali meskipun di depanku. Tidak seperti wanita lain yang pernah jalan bersamaku. “Re,” panggil Demi pelan sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku, saat aku sedang memperhatikan keadaan sekitar yang mulai sepi. Aku menundukkan kepala untuk mendengarkan suaranya yang mendadak pelan. “Kenapa bisik-bisik?” tanyaku bingung. “Dari tadi cewek itu ngeliatin kamu terus,” bisik Demi. “Cewek?” “Itu yang duduk di seberang kiri kamu. Yang pake kemeja putih.” Dibandingkan melihat cewek yang saat ini sedang dijelaskan Demi, aku lebih tertarik merasakan kedekatan kami saat ini. Napas panas Demi di telinga dan leher, membuat bulu kudukku berdiri. Tangan kiri Demi yang diletakkan di paha kananku sambil mengelus-ngelus lembut, membuat pikiranku semakin melayang ke mana-mana. Seperti lelaki normal lainnya, tindakannya ini jelas membangkitkan hasratku. Meskipun aku tahu, dia sama sekali tidak menyadarinya. Aku berusaha mengontrol diriku dengan menyibukkan diri dengan segelas es jeruk di hadapanku. Kuaduk-aduk isinya dengan sendok sambil memikirkan hal lain yang bisa menenangkan. Hal lain yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran kotor yang berseliweran di kepalaku. “Re, kamu dengar nggak?” tanya Demi menyadari aku yang hanya diam saja tanpa berminat melihat wanita yang dia maksud. “Biarin aja,” kataku dengan suara dalam akibat menahan hasrat. Aku tidak boleh terpancing! Demi bahkan melakukannya bukan karena dia sengaja menggodaku, tapi karena memang dia terlalu polos untuk menyadari kalau yang dia lakukan membuatku gila. “Kamu kenapa?” tanya Demi tiba-tiba. “Kok muka kamu merah begitu?” Demi menyentuh pipi kananku dengan lembut, lalu menolehkannya menghadap dirinya sambil menatapku lekat. Dia terlihat cemas. Mungkin dia pikir aku sakit. Memang aku sakit, sakit jiwa karena saat ini dipikiranku penuh dengan hal-hal m***m yang sangat ingin kulampiaskan pada dirinya. “Re?” Wajah kami hanya berjarak beberapa centi. Melihat bibirnya dari jarak dekat seperti ini, membuatku tidak sabar ingin segera melumatnya. Bibir merahnya benar-benar menggodaku untuk segera mencicipinya. Aku pun memajukan kepalaku perlahan. Tangan kananku yang tadinya masih memegang sendok es jeruk, berpindah melingkar di pinggangnya. Awalnya Demi terkejut dengan tindakanku, tapi hanya sesaat karena setelah itu dia hanya diam menunggu sambil menatapku kikuk. Meskipun ini bukan ciuman pertama kami, tapi tetap saja dia terlihat malu, terbukti dari pipinya yang mendadak memerah. Setidaknya tidak semerah saat aku mengambil ciuman pertamanya di minggu pertama kami berpacaran. Aku masih mengingat jelas bagaimana merahnya wajah Demi saat itu. Belum lagi ciumannya yang terasa kaku karena itu adalah kali pertama dia berciuman. Ciuman pertamanya yang menjadi milikku. Aku memejamkan mataku dan tidak lama kurasakan bibir lembutnya di bibirku. Aku menciumnya dengan perlahan, mencicipi bibir merah kenyalnya yang membuatku ketagihan. Meskipun ciumannya tidak sehebat ciuman wanita-wanita lain yang pernah menjadi kekasihku, tapi bagiku ciumannya sangatlah memabukkan. Tidak jarang aku lupa daratan hingga nyaris menerjangnya, kalau saja aku tidak ingat janjiku pada diri sendiri untuk menanggalkan keberengsekanku di masa lalu dan menjadi lelaki yang lebih baik. Sejauh ini aku sudah berhasil menahan diriku, tapi rupanya Demi membuat tekadku itu menjadi begitu sulit. Karena dia begitu menggoda. Suara dehaman tiba-tiba membuat aku dan Demi tersentak kaget hingga ciuman kami terlepas. Demi bergerak mundur dengan cepat sambil memalingkan wajahnya yang sangat merah karena malu. Aku membuang napas kesal. Siapa yang mengganggu kesenangan kami? Aku membalikkan tubuh untuk melihat pemilik suara tadi. Belum sempat membuka mulut, tiba-tiba seorang wanita duduk di sebelahku dengan cepat, lalu memelukku sambil terpekik histeris. Oh, God. Siapa lagi kali ini? “Ya ampun, Revan! Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi!!!” seru wanita ini masih memelukku erat. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia begitu menempel di lenganku yang berakibat aku pun tidak dapat mengenalinya. Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi dia memeluk badanku dengan erat. Aku melirik ke Demi. Awalnya dia terlihat terkejut, tapi tidak lama kemudian dia hanya mengangkat bahunya tidak peduli sambil memasang wajah ‘bukan urusanku’. Hal yang selalu dia lakukan setiap ada wanita yang menyapaku. “Yang, please?” mohonku padanya. Demi menghela napas dan akhirnya berusaha melepaskan tangan wanita gila ini dari pinggangku. “Duh, Mbak, jangan begini, dong! Kasihan ini pacar saya. Jadi mupeng kan,” kata Demi santai sambil melepaskan jari-jari wanita ini perlahan. Aku melotot padanya karena ucapan ngaconya itu. “You’re not helping, Yang!” geramku pada Demi. Demi hanya menjulurkan lidahnya mengejek. Wanita gila ini akhirnya melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan. Tetap saja, aku masih belum bisa mengingat siapa wanita ini. “Kamu nggak kangen sama aku?” tanyanya dengan senyum lebar menghiasi bibir merah menyalanya. Aku menggeleng. Kuperhatikan wanita ini dari atas hingga bawah. Wanita seksi yang menjadi tipe kesukaanku dulu. Namun, aku sama sekali tidak ingat siapa dia. “Aku Daisy. Adik kelas kamu di SMA dulu.” “Daisy yang mana?” tanyaku polos yang kemudian disahuti dengkus geli di sampingku. Siapa lagi kalau bukan Demi. Dia pasti sedang tertawa mengejekku. Pacar macam apa dia sebenarnya? Saat ada wanita lain memeluk pacarnya, dia malah santai saja dan tidak membantu sama sekali. Apa dia tidak merasa cemburu sama sekali? “Kamu nggak inget, Baby? Kita kan dulu sering banget—” “Oh, iya, iya. Apa kabar?” Aku langsung memotong pembicaraanya yang mulai berbahaya. Aku berpura-pura mengingat dia, walaupun sampai saat ini aku belum mendapatkan pencerahan akan jati diri wanita ini. Aku tidak ingin dia bicara panjang lebar yang bisa membuka aib masa laluku di depan Demi. “Baik. Aku abis pemotretan di daerah Menteng tadi. Trus waktu lagi cari makan, eh, aku lihat kamu. Kita jodoh kayaknya.” Aku tertawa masam mendengar ucapan penuh keyakinannya itu. Dibandingkan jodoh, bertemu dengannya lebih tepat disebut bencana. “Daisy, kenalkan ini Demi, pacarku,” kataku sambil merangkul bahu Demi, berharap Daisy sadar diri dan segera pergi. Demi tersenyum sopan kepada Daisy, tapi Daisy malah menatap Demi dengan tatapan menilai, kemudian memberikan senyuman yang sangat dipaksakan. “Oh!” Hanya itu tanggapannya. “Jadi, bagaimana kabar kamu? Aku bla, bla, bla ….” Dan, dia pun mulai mengoceh. Oh, God. Kenapa selalu seperti ini saat aku sedang jalan bersama Demi? Selalu saja ada wanita yang mengganggu. Kapan aku bisa benar-benar menikmati waktu berdua kami yang sangat berharga tanpa ada gangguan sedikit pun? Daisy masih terus mengoceh mengenai ini itu. Sesekali tangannya akan merangkul tanganku, lalu dengan sengaja menempelkan dadanya ke lenganku atau tangannya bermain-main di pahaku. Membentuk pola bulat-bulat yang membuatku geli. Meskipun aku sudah menepis tangannya berulang kali atau pun mencoba melepaskan diri dari rangkulannya, tetap saja wanita ini terus menempel. Padahal semua yang dia lakukan tidak memengaruhiku. Hal aneh, mengingat dia adalah wanita yang cantik dan seksi yang sedang berusaha untuk menggodaku. Kalau dulu, aku pasti sudah menggila dan akan segera menariknya ke suatu tempat. Namun, kali ini tidak, aku bahkan merasa jijik padanya. Di saat Daisy bicara tanpa henti, Demi memilih diam di sebelahku sambil ikut mendengarkan kicauan Daisy. Tidak berkata apa pun atau terlihat kesal. Kenapa dia bisa sesabar ini? Apa dia benar-benar mencintaiku? Kenapa dia tidak cemburu? Sedangkan melihat dia bicara sebentar dengan lelaki saja sudah membuatku kebakaran jenggot. Apalagi sampai melihat ada lelaki lain yang menyentuhnya. Apa Demi wanita tersabar sejagat raya? Aku menghela napas kesal sambil menyeruput es jeruk ketigaku saat Daisy menceritakan mengenai karir modelnya saat ini. Kenapa aku bisa terjebak di sini? Tidak adakah yang bisa mengusir wanita ini dari sebelahku? Dia berhasil menghancurkan suasana hatiku malam ini. Tiba-tiba, kurasakan jari-jari Demi yang menyusup di antara jari-jari kananku. Dia kemudian menggenggam tanganku erat, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku. Emosiku mereda perlahan. Sentuhan Demi mampu membuatku tenang kembali. Padahal sebelumnya aku sudah ingin membunuh wanita di sebelah kiriku saking kesalnya. Kutundukkan kepalaku, lalu mengecup puncak kepalanya lembut. Dia tersenyum senang dalam diam. Demi pasti lelah setelah seharian bekerja dan mengikutiku. Saat aku melihat jam tangan, aku terkejut karena saat ini sudah tengah malam. Pantas saja dia mengantuk. “Revan, kamu denger nggak?” ketus Daisy karena aku mengalihkan perhatianku. Dia menatap Demi dengan kesal karena melihat Demi yang menyender dengan santai kepadaku. “Tadi aku bilang—” “Sorry, pacarku capek. Jadi, aku mau antar dia pulang.” “Tapi, kita kan baru ngobrol sebentar. Ayolah, udah lama kita nggak bertemu,” rajuk Daisy berusaha menahanku. Aku tersenyum masam padanya. Berusaha menahan diri agar tetap sabar pada perilaku tidak sopannya. “Ini sudah malam, lain kali saja,” ucapku dingin. Aku beranjak dari bangku diikuti Demi. Kemudian, menggenggam erat tangan kanan kekasihku itu. Daisy terlihat kesal, tapi kemudian dia ikut berdiri dan tiba-tiba merangkul tangan kananku. Demi berdiri di kiriku menatap Daisy dengan raut wajah jengah. Jengah melihat tingkah laku wanita ini yang sudah melewati batas. “Kamu anterin aku pulang juga, ya? Kan udah malam,” katanya dengan manja. Rasanya aku ingin menonjok muka Daisy, kalau saja aku tidak ingat dia adalah perempuan. Apa dia tidak lihat aku sudah punya pacar? Kenapa dia masih saja menempel? Aku mencoba melepaskan tangannya, tapi sia-sia. Dia menempel padaku bagaikan lintah. “Aku jalan kaki, kamu mau ikut?” tanyaku jujur. Memang rumah Demi tidak jauh dari sini. Jadi, kami biasanya hanya berjalan kaki ke rumahnya. Daisy tertawa kecil tidak percaya. “Masa iya seorang Revan Putra jalan kaki. Kamu jangan bercanda, Babe,” katanya terkekeh menyebalkan. “Aku nggak bercanda. Kita memang jalan kaki, kan, Yang?” tanyaku pada Demi meminta bantuan dia. “Nggak kok. Naik merci biasanya,” jawab Demi asal. Kucubit pinggangnya gemas. Masih saja dia bercanda saat seperti ini. Aku sudah jengah dan ingin kabur secepatnya dari wanita ini, tapi Demi tidak juga membantu. Demi mengelus pinggangnya, menatapku dengan wajah memelas. “Ih, Sayang, kenapa pake nyubit, sih?! Kan emang naik merci. bus Trans Jakarta kan mereknya merci!” “Bis Trans Jakarta?” tanya Daisy bingung. Demi kemudian menatap Daisy polos. “Loh, kan emang kami kenalannya di bis, ya, Yang.” Daisy semakin terlihat semakin terkejut. “Kamu nggak tahu? Revan kan sekarang jadi petugas bis. Nggak cocok, sih, karena dia keterlaluan cakepnya, tapi kalau nggak gitu, kita nggak bakal saling kenal, ya, Yang?” Aku tertawa melihat muka terkejut Daisy. Demi sebenarnya tidak bermaksud merendahkanku, karena baginya aku menjadi petugas bus adalah takdir yang mempertemukan kami berdua. Namun, aku yakin, Demi sengaja mengatakan hal ini untuk mengusir Daisy. Karena sekali liat saja terlihat kalau dia bukan tipe wanita yang mau menggunakan kendaraan umum. “Petugas Trans Jakarta? Loh, bukannya kamu—” lirih Daisy semakin bingung. “Iya, udah tiga bulan ini aku kerja di Trans Jakarta. Makanya kamu sesekali naik bis, biar bisa ketemu denganku.” Daisy langsung melepaskan tanganku, lalu memandangiku dengan tatapan gelinya. “Duh, aku nggak bisa naik bis. Badanku jadi gatel-gatel kalau keringatan.” Demi menyeringai puas melihat Daisy yang langsung tidak tertarik padaku. “Itu karena kamu nggak mandi kali!” sahutnya dengan kejam. “Enak saja. Aku ini model, mana mungkin nggak mandi” protes Daisy tidak terima. “Ya, udah, deh, kalau kamu mau pulang, aku sama manajerku aja.” “Loh, katanya nggak ada yang anter? Malam begini masih bisa naik kopaja atau metro mini kok. Nanti dianterin Revan, deh. Nggak papa, kan, Yang?” kata Demi sok dermawan padahal aku tahu dia hanya iseng. “Nggak, deh, makasih. Udah dulu, ya. Bye!” Daisy pun langsung mengambil langkah seribu meninggalkan kami berdua. Aku dan Demi pun saling bertatapan, lalu tergelak geli. Ada-ada saja. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN