DEMETRA
“Kamu dulunya model, ya, Re?” tanyaku saat kami berjalan kaki menuju rumahku. Tangan kami bertautan di saat kami berjalan bersisian menyusuri kompleks Menteng yang selalu sepi di malam hari. Kalau biasanya aku selalu berjalan ngebut menuju rumah, tapi kali ini tidak. Aku tidak takut karena ada Revan di sisiku.
Salah satu keuntungan memiliki pacar. Hehe.
Revan tertawa mendengar pertanyaanku. “Model majalah Bobo maksud kamu?” Dia menatapku sambil tersenyum lebar. Gosh, how much I love that smile. “Memangnya kenapa?”
“Yaa, kamu kayaknya populer banget. Hampir setiap cewek kenal kamu. Kalau bukan model atau artis, pasti kamu anak pejabat.”
“Kebetulan aja aku punya banyak teman,” ucapnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Aku melirik Revan yang menatap jalan. Aku sebenarnya ingin menanyakan suatu hal yang sebenarnya sudah kuketahui pasti jawabannya, tapi aku belum mendapatkan waktu yang tepat. Namun, mungkin ini adalah waktunya. Kira-kira Revan akan jujur atau tidak ya?
“Re,” panggilku sedikit ragu.
“Ya,” jawab Revan kembali menatapku dengan senyum simpul di bibirnya.
“Kamu udah nggak perjaka, ya?” tanyaku sambil menatapnya dengan muka polos.
Revan langsung berhenti berjalan, menatapku kaget. “Ha?”
Aku sadar pertanyaanku ini tidak etis karena seakan ikut campur masalah privasi Revan. Namun, keingintahuan ini sangat mengganggu pikiranku. Jadi, daripada aku pusing sendiri, lebih baik langsung ditanyakan saja, kan? Daripada mencari tahu hal seperti ini di belakang orangnya. Aku rasa itu bahkan lebih tidak sopan lagi.
Melihat reaksi Revan yang gelagapan, aku pun semakin yakin dengan dugaanku sebelumnya. “Well, I supposed the answer is a yes,” kataku tenang.
Ralat, berusaha tenang.
Aku sebenarnya sudah menduga hal ini. Melihat banyak wanita yang bersikap agresif padanya, seperti Daisy tadi, aku sudah bisa menyimpulkan seperti apa pergaulannya. Wanita-wanita itu tidak akan mungkin berani menggoda Revan seandainya kekasihku ini lelaki yang lempeng-lempeng saja, kan?
Mungkin dulunya, dia tipe lelaki playboy.
Kenapa aku bilang dulu? Karena aku sedang mensugesti diri bahwa Revan bukanlah lelaki seperti itu lagi.
Revan masih terdiam menatapku, tampak bingung harus berkata apa. Aku tertawa kecil, lalu menepuk punggungnya pelan. “Kamu nggak perlu panik, Re. Lebih baik kamu jujur bilang ‘iya’ daripada kamu bohong cuma karena nggak enak sama aku,” jelasku sambil tersenyum lebar.
Bukannya sok tegar, tapi yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah menerima semuanya. Karena aku tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu.
Revan mendesah pelan sambil mengusap tengkuknya. Genggaman tangannya terasa semakin kuat. “Aku juga nggak bermaksud untuk menutupi hal ini, tapi aku pikir sekarang belum saatnya aku jujur ke kamu. Karena hubungan kita pun baru jalan beberapa minggu, aku nggak mau kamu berpikir aku lelaki berengsek yang punya tujuan tertentu saat mendekati kamu.”
Aku mendengkus geli mendengarnya. “Kita baru pacaran seminggu aja kamu udah nyosor, Yang.”
“Oke, aku memang punya keinginan-keinginan seperti itu. Tapi, aku bersumpah, Yang, aku nggak pernah berniat untuk ke tahap sejauh itu sama kamu.”
“Kenapa? Karena aku nggak seksi?” Aku memasang wajah sedih yang membuat dia bingung. “Tetekku kekecilan, ya?” tanyaku sambil menangkup kedua payudaraku.
“Demetra, stop touching that in front of me!” hardik Revan sambil menepuk lenganku. “Gila, ya, kamu?”
Aku pun tertawa geli melihat reaksi Revan yang berlebihan. “Bercanda, Yang. Ish, nggak ada yang lihat juga.”
“Tapi, aku lihat!” serunya geram. “Nggak usah aneh-aneh. Kamu normal aja aku pusing.”
Tawaku semakin kencang mendengar gerutuan lucunya.
“Dasar m***m!” ledekku yang membuat dia merengut. Kemudian kuraih kembali tangannya, memberikan genggaman hangat. “It’s okay. Seperti apa pun kamu, aku bisa terima.”
Revan tersenyum kecil. Tangannya perlahan mengusap pipiku lembut. “Masa laluku sama sekali nggak bisa dibanggakan. Aku bukan cowok baik yang bisa menghargai perempuan. Bagiku dulu perempuan sama seperti mainan. Saat aku ingin, aku akan menyimpannya, tapi saat sudah bosan, aku akan membuangnya begitu saja.”
Terus terang, aku tidak terlalu kaget mendengar pengakuan Revan karena gaya hidup seperti itu bukan hal baru bagiku. Aku melihat banyak contoh nyata bagaimana beberapa teman lelaki bahkan perempuanku, berganti-ganti pasangan sesering mereka berganti pakaian dalam. Tidak jarang pihak lain tersakiti karena pada akhirnya mereka hanya dipermainkan saja oleh orang-orang yang tidak pernah menganggap hubungan tersebut serius.
“Sampai suatu kejadian membuat mataku terbuka lebar. Aku sadar kalau semua yang kulakukan adalah kebodohan besar. Karenaku, kedua orang tuaku hampir mati berdiri.”
Aku terdiam dengan jantung berdebar kencang, menebak kejadian yang dimaksud Revan. Jangan bilang …..
“Kamu ngehamilin cewek?! Kamu punya anak?!” seruku dengan suara lantang.
Revan menggeleng cepat, lalu memelukku erat. “Nggak, Yang. Aku nggak punya anak. Aku bersumpah demi Tuhan.”
“Tapi—”
“Aku nggak ingat sama sekali mengenai malam itu karena aku mabuk, tapi beberapa bulan kemudian, perempuan yang kukenal di kelab malam itu muncul di rumahku. Dia bilang sedang hamil anakku. Kami hampir menikah, tapi ayah sebenarnya dari anak yang dia kandung muncul dan mengakui semua. Anak itu adalah anaknya. Bukan anakku.”
Kurasakan tubuh Revan yang bergetar saat memelukku. Dia terlihat benar-benar ketakutan.
“Seandainya bisa mengulang waktu, aku ingin menghapus semua kebodohanku dulu, tapi aku nggak bisa. Semua itu adalah masa laluku. Hidupku. I’m sorry, Yang.”
Perlahan dia melepas pelukannya, lalu menatapku. Sorot kecemasan terlihat jelas di matanya. Menunggu reaksiku atas kejujurannya.
Aku pun mengembuskan napas panjang sebelum berbicara. “Berarti bener, ya, kata orang-orang, kalau cowok ganteng itu kalau nggak berengsek, ya, homo.”
“Yang.” Dia menatapku memelas.
Aku pun tertawa melihat wajah lucunya itu. “Aku tadi syok karena mikir kamu suami orang, Re. Bukan karena kamu dulunya f**k boy.” Revan tersenyum kecil menatapku.
“Semua terjadi saat kita belum ketemu. Jadi, nggak ada yang bisa aku lakukan. Dan, aku sangat menghargai kejujuran kamu ini. Kejujuran itu pondasi dari suatu hubungan. Seburuk apa pun itu, semenyakitkan apa pun itu, lebih baik aku atau kamu tahu daripada dipendam terus dan akhirnya menjadi duri dalam hubungan kita.”
“Aku—”
“Tapi, bener, ya, kamu nggak punya istri atau anak?!” tegasku sekali lagi sambil menunjuk wajahnya. “Jangan sampai aku digrebek massa gara-gara ngerebut suami orang.”
Revan pun tertawa pelan. “Nggak, Yang. Aku benar-benar single.”
Aku pun menghela napas lega. Aku hampir saja menghajar Revan karena kupikir dia menipuku selama ini. Gila saja kalau sampai aku pacaran dengan suami dan ayah orang lain.
“Setelah kejadian itu, kamu akhirnya tobat kan?” tanyaku sambil menatapnya tajam. “Kalau nggak tobat juga, sini aku getok kepala kamu pakai gedebong pisang. Biar pinteran dikit.”
Revan pun tertawa, tidak terlihat secemas sebelumnya. “Karena kejadian itu kedua orang tuaku benar-benar kecewa sama aku. Aku udah ngerusak kepercayaan mereka selama ini. Anak yang mereka banggakan nyatanya tidak sebaik yang mereka pikir.”
“Kamu kelihatannya kayak cowok baik-baik, sih. Nggak nyangka kalau aslinya bejat.”
“That’s why I’m trying to change.” Dia menatapku dengan penuh keyakinan.
“Demi kedua orang tuaku yang udah aku kecewain, aku ingin menjadi lelaki yang lebih baik. Menjadi seorang anak yang berbakti dan dapat membahagiakan kedua orang yang sudah membesarkanku susah payah selama ini. Itu janjiku kepada diri sendiri. Dan, karena sekarang aku punya kamu, itu juga janjiku untuk kamu.”
Senyumku terkembang lebar. Rasanya bahagia Revan menjadikanku sama pentingnya dengan kedua orang tuanya. “Aku yakin kamu bisa jadi lelaki yang jauh lebih baik.” Aku menepuk-nepuk bahunya sambil menyeringai lebar.
“Jangan khawatir! Aku yang akan ngasih kamu pelajaran kalau kamu udah mulai berengsek lagi. Jadi, kalau mau aneh-aneh, ingat aja aku pemegang sabuk hitam taekwondo. Oke?”
Revan kembali tertawa saat kuberi kedipan mata genitku. “Punya pacar kayak kamu itu bukannya dapat durian runtuh, Yang, tapi lagi jalan tiba-tiba ditimpuk durian. Nggak terduga, tapi menyenangkan.”
“Ini mau ngegombal atau ngatain?” sungutku padanya. Namun, pada akhirnya aku pun ikut tertawa.
Nah, kalau sudah tahu sama tahu begini kan enak. Jadinya tidak ada rasa cemas atau curiga.
Eh, sebentar, kayaknya aku belum sepenuhnya jujur, deh.
“Oiya, sekedar informasi buat kamu. Aku masih perawan. Perawan ting-ting!” ucapku sambil tersenyum lebar.
Revan tiba-tiba saja tertawa, lalu mencubit pipi gembilku. Kebiasaannya kalau merasa gemas padaku. Duh, gimana, dong, ya, pipiku memang lucu, sih.
“Aku tahu kamu masih perawan.”
“Maksudnya apa, nih? Karena selama ini aku jomlo? Karena aku nggak sekseh?” tanyaku tersinggung. “Maaf, ya, karena aku nggak se-famous kamu.”
“Ciuman pertama kamu aja sama aku. Jadi, mana mungkin kamu udah aneh-aneh sebelumnya. Lagi pula, sekali liat aja aku bisa tahu.”
“Itu mata bisa nembus badan atau gimana? Hebat banget bisa bedain yang mana perawan mana yang bukan.”
“Aku lihat pakai hati, Sayang,” jawabnya sambil tersenyum miring. “Makanya aku tahu kamu, luar dalam.”
“Yeu, ujung-ujungnya m***m!” sahutku yang membuatnya tertawa kencang.
Kami melanjutkan perjalanan sambil kembali mengobrol. Kami tidak pernah kehabisan bahan perbincangan. Ada saja yang kami bahas.
Saat mengobrol seperti ini, aku semakin menyadari bahwa kekasihku ini adalah lelaki yang cerdas. Dari caranya menyampaikan opini, memahami suatu hal, atau menganalisa permasalahan, terlihat jelas dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Terkadang aku kepikiran kenapa lelaki sepintar Revan tidak juga mendapatkan panggilan kerja. Karena kalau aku jadi orang HRD, aku pasti akan langsung memberinya pekerjaan dalam sekali interview saja.
Hm, mungkin nasib baik belum berpihak pada Revan.
Tanpa terasa, kami pun sampai di depan rumahku yang selalu sepi seperti biasanya. Wajar, sih, karena ini memang sudah pukul satu malam. “Pagarnya masih dibuka?” tanya Revan saat aku membuka kunci pagar dengan mudah karena memang dibiarkan terbuka.
“Masih. Makasih udah nganterin,” kataku sambil memeluk Revan erat.
Aku belum tahu lagi kapan kami bisa bertemu. Jadwal kerja kami berdua yang tidak sinkron membuat kami agak sulit bertemu. Hari ini pun kami bertemu karena kebetulan saja aku naik bus di mana Revan bertugas. Kalau tidak, mungkin baru weekend nanti ketemunya. Itu pun kalau aku tidak dipingit sama Papa.
Jadi, aku memuaskan diriku untuk memeluk Revan. Dia pun membalas pelukanku sambil mengecup puncak kepalaku berkali-kali. Senang rasanya disayang seperti ini. Pantas orang-orang suka punya pacar, karena memang sebahagia ini.
“Love you, Yang,” bisik Revan sambil mengecup dahiku. Dia kemudian mengecup telinga, pipi, dan akhirnya bibirku. Sentuhan-sentuhan Revan di wajahku membuat mukaku panas dan badanku merinding tidak jelas. Dia memang lelaki yang ahli membuat wanita mabuk kepayang. Ciuman kami semakin mesra sampai akhirnya Revan mendorong bahuku pelan dan melepaskan bibirku dengan napas memburu.
“Udah, ya. Aku takut kebablasan. Aku kan udah janji buat jaga kamu,” katanya dengan muka yang masih merona. Aku pun mengerucutkan bibir karena kecewa. Padahal sedang asik-asiknya tadi.
Kenapa otakku jadi m***m begini?
Namun, setiap bersama Revan aku memang selalu berpikir yang aneh-aneh. Mungkin aku terlalu banyak membaca komik percintaan dewasa. Makanya pikiranku jadi menjurus ke situ terus.
“Ya, udah. Hati-hati pulangnya,” kataku sambil mengelus-elus pipi Revan dengan jari-jariku. Revan tersenyum simpul terlihat menyukai sentuhanku di wajahnya.
Seandainya saja kami menikah, aku tidak perlu berpisah setiap malam seperti ini. Aku bisa selalu bersamanya, bahkan bisa bobo bareng—oke, pikiran mesumku muncul lagi. Tanpa sadar aku tersenyum-senyum seperti orang gila memikirkan bagaimana kalau kami menikah kelak.
Padahal baru genap sebulan kami berpacaran, tapi aku sudah menetapkan hati kalau Revan adalah calon suamiku nanti. Urusan keluargaku mau menerima atau tidak adalah urusan belakangan. Karena yang terpenting adalah kebahagiaanku sendiri.
Betul atau betul?
“Kamu mikir apa?” tanya Revan menjawil hidungku. “Mikir jorok, ya?”
“Kamu kali!” kilahku sambil memukul dadanya pelan.
“Ya, udah, aku pulang, ya?”
“Masih kangen,” kataku dengan manja.
Oke. Apa yang sedang terjadi? Manja-manja begini is so not me. Aku biasanya jijik melakukan hal-hal seperti ini. Namun, entah kenapa sikapku sangat berbeda dengan Revan. Cinta benar-benar membuatku menggila rupanya.
Astaga! Semoga Revan tidak ilfil.
“Aku juga kangen sama kamu, tapi ini udah malam, Yang. Kamu besok masih harus kerja. Aku nggak mau kamu sakit karena di luar kelamaan. Oke? Besok aku jemput kamu pulang, ya. Aku shift pagi,” ucap Revan yang kembali memelukku, lalu mengecup pipiku setelahnya.
Senyumku pun langsung mengembang. “Benar, ya? Bohong nanti digigit kambing betina, loh!”
“Digigit kamu aja, deh,” goda Revan yang kuhadiahi cubitan di perut. Agak sulit sebenarnya mencubit perutnya, karena terlalu keras. Makan papan gilasan kayaknya sampe bisa keras begitu.
“Goodnight, Yang!” Sekali lagi aku mengecup pipinya sebelum berjalan masuk ke halaman rumah sambil melambai seperti anak kecil. Revan membalas lambaianku sambil tersenyum geli. Revan benar-benar menungguku hingga masuk rumah sebelum akhirnya pulang.
Sesampainya di kamar, aku langsung membanting tubuhku ke tempat tidur, tanpa memedulikan baju kerja yang masih melekat di tubuh. Baru saja mau tidur, ponselku berbunyi menandakan pesan masuk. k****a isinya dan tawaku pun pecah di dalam kamar.
From: Baby Re
Ganti baju, cuci muka, kaki, tangan dan sikat gigi sebelum tidur. Jangan tidur dengan baju kerjamu. Aku tahu apa yang kamu lakukan, Sayang. Jadi jangan mencoba menipuku!
Ternyata sebahagia ini, ya, jatuh cinta?
TBC