Chapter 7. Friends

1688 Kata
DEMETRA    “Aku nggak kelihatan aneh, kan?” tanyaku untuk ke sekian kalinya pada Revan saat turun dari mobil yang dipinjamnya dari Arjuna untuk mengantarku ke resepsi pernikahan sahabatku malam ini. Aku bukan perempuan yang pintar berdandan. Memilih gaun yang kugunakan malam ini saja butuh waktu setengah hari, itu pun setelah Kak Ema membantuku. Aku pun bukan perempuan yang terbiasa menggunakan dress, sehingga saat ini aku merasa sangat tidak nyaman dan juga tidak percaya diri dengan penampilanku. Bukan gue banget gitu, loh. Aku kembali mengecek penampilanku di kaca mobil. Lagi-lagi aku penasaran sekaya apa Arjuna hingga memiliki mobil sekeren ini? Walaupun aku tidak begitu mengerti mengenai mobil, tapi aku tahu pasti Mercedes Benz ini tidak murah. Mobil ini hanya memiliki dua pintu dan berwarna silver, seperti mobil-mobil yang sering aku lihat berada di parkiran VIP yang merupakan milik bos-bos besar. Kalau Arjuna sekaya ini, kenapa dia tidak mengajak Revan bekerja di perusahaannya? Sungguh, kenyataan Revan tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan otaknya masih menjadi tanda tanya besar di kepalaku. Terutama saat tahu bahwa dia memiliki sahabat karib yang setajir ini. Hm, mungkin Revan bukan tipe teman yang suka bergantung pada temannya yang lain. Sepertinya begitu. Aku terlonjak kaget saat sesuatu melingkar dipinggangku. Aku menoleh, menatap Revan yang tersenyum di sisi kananku. “Kamu cantik banget malam ini, Yang. Jangan minder begitu!” Revan lalu mengecup pelipisku. “Masuk, yuk!” Revan meraih tangan kananku, lalu menuntunku ke lobi hotel bintang lima di mana salah satu sahabatku menggelar resepsi pernikahan. Aku melirik Revan yang sangat tampan malam ini. Terlalu tampan sehingga membuatku sesak napas sejak tadi. Dia menggunakan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya dan kemeja merah marun di bagian dalamnya yang senada dengan gaunku. Aku tidak mengira dia akan menggunakan jas yang membuatnya terlihat seperti seorang eksekutif muda. Aku malah terlihat sangat berbanding terbalik dengannya saat ini dengan gaun selutut sederhana dan flat shoes. Aku bahkan hanya menggunakan make up tipis dan rambutku digerai biasa. Karena itu, sejak tadi aku tidak percaya diri dengan penampilanku dan aku menyalahkan Revan. Kenapa dia harus begitu sempurna? Saat masuk ke ruangan, para tamu sudah memadati ballroom yang disulap menjadi tempat resepsi yang penuh dengan warna pink di mana-mana. Sahabatku ini memang sangat menyukai warna tersebut, jadi aku tidak heran lagi. Mataku sampai capek melihat pink yang terlalu banyak. Aku mulai melihat ke sana sini, mencari teman-temanku yang lain. Namun, karena tamu terlalu padat, cukup sulit mencari mereka. Saat aku melihat sekeliling, aku menyadari tatapan para wanita yang terpaku pada sosok di sebelahku. Siapa lagi kalau bukan Revan. Mereka menatapi Revan dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh kekaguman. Aku yakin mereka bahkan tidak sadar dengan keberadaanku di sebelahnya. Genggamanku terlepas dari Revan saat seorang ibu berjalan nyeruak di antara kami. Namun, aku tidak terlalu peduli karena aku akhirnya menemukan salah satu sahabatku di kejauhan. Saat akan melangkah, badanku tiba-tiba terhenti oleh sebuah lengan kekar yang melingkar di tulang selangkaku. “Kamu mau ke mana?” tanya Revan di telingaku, suaranya terdengar sedikit kesal, berbisik yang membuat tubuhku merinding tiba-tiba. “Lupa, ya, sama aku?” Aku meringis, menatapnya penuh penyesalan. “Iya, maaf, aku lihat Sandra di sana,” kataku menunjuk ke arah di mana kulihat sahabatku itu. “Senang ketemu teman kamu boleh, tapi jangan sampai lupa sama aku.” Revan mencubit pipiku, seperti yang sering dia lakukan. “Kamu gembil banget, sih, Yang,” katanya tertawa senang. Ketahuan sekali dia belum pernah punya pacar segembil aku. Makanya bahagia banget tiap mencubit pipiku. “Tapi, suka kan?” godaku dan Revan pun tertawa kecil. Aku berjalan melewati lautan manusia dengan Revan masih menggenggam tanganku erat menuju di mana Sandra berada. Begitu mendekat, aku pun mendapati dua sahabatku lainnya, Melly dan Nata. “Oi!” panggilku kencang pada ketiganya. “Kamu ini abang-abang banget.” Revan mendengkus geli. Ketiga sahabatku pun menoleh menatapku, tidak lama berseru heboh. Kami memang sudah lama sekali tidak bertemu karena kesibukan pekerjaan masing-masing. Jadi, saat bertemu seperti ini, pasti langsung ricuh. “Apa kabar lo?” tanya Sandra sambil memelukku erat. “Baik. Mana oleh-oleh dari Belanda?” tanyaku menagih dengan bercanda. Sandra baru pulang tugas dari Belanda beberapa hari lalu. Dia mengatakannya saat kami berkirim pesan kemarin. “Jangan bilang lo lupa temen?” “Oleh-oleh mulu di otak lo!” sungut Sandra sambil menoyor pelan kepalaku. “Eh, Neng Melly. Makin cantik aja. Laki mana?” tanyaku saat cipika-cipiki dengan sahabatku yang paling kalem ini. “Faris lagi ngambil makanan, Mi,” jawabnya dengan lemah lembut. “Gue nggak ditanyain?” ucap Nata, berdiri menungguku untuk menghampiri sejak tadi. Nata ini sebelas dua belas denganku. Dia juga tomboy. Bedanya dia sangat cantik dan seksi. Banyak cowok yang mengejar-ngejarnya sejak zaman kuliah. “Cukup tau, ya, Demi.” “Akhirnya merapat juga lo ke darat? Gimana kabarnya laut Cina?” tanyaku setelah memeluknya. Nata bekerja di perusahan minyak. Sehingga dia selalu ditempatkan di luar kota, entah itu di hutan atau tengah laut. Dibanding yang lain, Natalah yang paling sulit ditemui karena dia hanya pulang ke Jakarta tiap 2-3 bulan sekali. “Namanya laut begitu-begitu aja. Eh, laki lo mana? Katanya mau dikenalin?” tanyanya dengan semangat. “Jangan dikekepin terus!” “Lah, ini yang gue seret dari tadi emang nggak keliatan?” kataku sambil menarik tangan Revan agar dia berdiri di sebelahku. Ketiga temanku menatap Revan dengan mata melebar penuh keterkejutan. Namun, tidak lama mereka pun tersadar dan satu per satu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Mereka pun mulai berbincang basa basi. Aku baru menyadari sahabat terdekatku sejak SMP tidak ada bersama sahabatku yang lain saat mereka sedang menginterogasi Revan. Sahabatku ini adalah orang yang paling ingin kukenalkan pada Revan. Dia sudah tahu semuanya mengenai Revan, bahkan pekerjaannya. Hal yang tidak kujelaskan pada keempat temanku yang lain karena aku belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. “Nyariin istri lo?” tanya Sandra menyadari aku yang melihat ke kanan kiri. Aku dan sahabatku itu sangat dekat sekali sehingga kami pun dijuluki pasangan suami-istri. Tentunya aku yang jadi suaminya.  “Tadi udah datang sama si Reza, tapi ngilang ke sana nyari makanan.” “Palingan si Reza yang kelaperan,” kataku mengingat teman seangkatan kami yang berbadan besar dan hobi makan itu. “Kamu mau makan?” tanyaku pada Revan yang sedang mengedarkan pandangannya ke ruangan resepsi. Revan tertawa kecil melihatku. “Bukannya kamu yang mau makan?” Nata tiba-tiba tertawa kencang yang mengejutkan kami. “Cowok lo bahkan hafal, ya, sama kebiasaan lo yang doyan makan itu?” kata Nata sambil menepuk-nepuk bahuku. “Dia pasti selalu minta makan kalau lagi jalan, ya?” tanya Nata ke Revan sambil menyengir lebar penuh kepuasan. “Iya, seharian jalan, dia bisa lima kali minta makan,” jawab Revan tersenyum penuh arti. “Paling bahaya diajakin ke mall. Nafsu makannya bertambah berkali lipat tiap lihat jajanan.” Aku pun menatap Revan sinis. “Buka aja terus aib aku. Sekalian, tuh, pinjam mikrofon MC-nya biar satu gedung bisa dengar!” kataku dengan judes. Revan tertawa, lalu merangkul bahuku. “Bercanda, Sayang,” kata Revan sambil mencondongkan kepalanya, siap untuk mengecup pipiku. Namun, aku langsung mendorong wajahnya agar menjauh. Kebiasaan si Revan. Suka banget mempertontonkan kemesraan di depan umum. Apa dia nggak malu, ya? Dia malah terkekeh melihat pipiku yang pastinya memerah saat ini. “Demetra Valdini!” Terdengar suara yang sudah sangat kukenal itu. Aku berbalik badan dan menemukan sahabatku, Cindy, berjalan ke arahku. Aku berjalan menghampirinya, bersiap untuk memeluknya. Namun, dia malah menoyor kepalaku dengan kejam seperti yang selalu dia lakukan saat bertemu denganku. “Aduh, sopan banget sama yang lebih tua!” geramku sambil mengusap jidat. Cara Cindy menunjukkan sayangnya padaku memang berbeda. Dia selalu menyiksaku, tapi lucunya aku tidak pernah merasa keberatan akan itu. Bagiku dia adalah orang yang sangat aku sayangi, bahkan terkadang aku berpikir, Cindy jauh lebih seperti saudara dibandingkan saudara kandungku sendiri. “Bosan gue liat lo,” katanya jutek. “Sial!” seruku sambil tertawa. Saat itu aku pun teringat kembali akan Revan. Aku berbalik badan mencarinya untuk memperkenalkan dia pada Cindy. Namun, aku terdiam saat melihat wajah penuh keterkejutan Revan saat melihat Cindy. Hal yang sama yang terjadi pada Cindy. Kenapa mereka? “Kalian saling kenal?” tanyaku pada Cindy yang langsung dijawabnya dengan gelengan kepala. Revan pun menggeleng pelan. “Ini Revan yang sering gue ceritain ke lo itu,” ucapku sambil memegang lengan Revan. “Re, ini sahabatku, Cindy.” “Salam kenal, Cindy!” kata Revan mengulurkan tangannya. “Hai, Revan,” jawab Cindy menyambut tangan Revan. Entah perasaanku saja, tapi mereka bersikap aneh. Ah, mungkin karena baru berkenalan. Jadi, mereka terlihat canggung. Kenapa aku berpikir aneh-aneh? Mereka kan pacar dan sahabatku sendiri.   *** REVAN   Aku sedang menunggu Demi yang sedang ke toilet bersama Sandra saat Cindy mendatangiku dengan senyum mengejek menghiasi wajahnya. Aku sudah tahu maksud dan tujuan dia kemari. Dari raut wajahnya saja aku bisa menebaknya. “Well, well, petugas Trans Jakarta yang tampan, Revan Putra Firdaus,” ucapnya saat berdiri di depanku. “Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini dan yang lebih mengejutkan lagi tenyata kamulah pacar sahabatku yang selalu dibangga-banggakannya itu.” Cindy tersenyum lebar menatapku takjub. “Dunia begitu sempit, ya, Rev?” “Hai, Cindy,” sapaku dengan senyum kecil di bibir. “Kamu utang penjelasan sama aku, Revan!” katanya memaksa. Wanita ini memang selalu seperti ini sejak kami berkenalan dua tahun yang lalu. Sangat galak dan juga pemaksa. “Apa maksud kamu ngedeketin sahabatku?” Dia bersedekap sambil menatapku penuh kecurigaan. “Aku akan jelaskan semuanya. But, not now, okay? Aku nggak mau Demi mengetahui yang sebenarnya dengan cara seperti ini,” pintaku padanya. Cindy mengembuskan napas kencang. “Oke! Besok siang kamu harus jelasin semuanya!” “Nanti aku hubungi kamu lagi.” Setelah itu Cindy pun berlalu pergi. Aku tidak menyangka sama sekali kalau sahabat yang diceritakan Demi selama ini adalah Cindy. Kalau aku tahu, aku pasti akan menghindari bertemu dengannya. Karena Cindy tahu semua rahasiaku. Dia tahu terlalu banyak yang bisa membahayakan hubunganku dengan Demi. Jadi, aku harus mencari cara untuk menutup mulutnya itu sebelum terlambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN