REVAN “Jadi?” tanya Cindy sambil mengaduk-aduk pasta di dalam piring di hadapannya. Seperti janjiku, keesokan harinya kami makan siang bersama untuk menjelaskan semua pada Cindy. Sangat terlihat kalau dia penasaran setengah mati sejak kami bertemu tadi. “Nggak usah sengaja gitu, Revan!” geram Cindy saat aku memakan steak-ku dengan perlahan. Aku hampir tersedak daging dalam mulutku karena menahan tawa melihat dia frustrasi. “Kenapa nggak makan dulu? Nanti keburu dingin,” kataku santai. Biar sekali-kali dia belajar untuk bersabar. Selama ini dia selalu grasa-grusu tidak sabaran. “Nggak lapar?” “Argh, Revan!” teriaknya kesal. Aku pun meletakkan pisau dan garpu di piring, memutuskan untuk menghentikan permainanku ini. “Aku mencintai Demi dan aku serius dengannya,” kataku dengan tegas

