REVAN Aku melirik Demi yang duduk di sebelahku dalam keheningan. Sejak masuk mobil, dia hanya diam saja. Dia bahkan tidak mau melihat wajahku sejak tadi. Aku melakukan kebodohan dengan berbohong padanya. Namun, aku tidak punya pilihan lain karena aku juga bingung harus menjawab apa pada saat itu. Aku tidak ingin dia berpikir macam-macam karena aku bertemu dengan wanita lain. Kalau tahu akan begini jadinya, lebih baik aku jujur padanya sejak awal. Melihat Demi yang diam saja benar-benar menyiksaku. Selama ini walaupun kami berdebat mengenai suatu hal, dia tidak akan mendiamkanku. Dia lebih cenderung mengomel, tapi setidaknya itu lebih baik daripada keadaan saat ini. Lebih baik dia memakiku sekalian daripada melihatnya diam seribu bahasa. “Kita udah sampai,” kataku yang membuatnya ters

