DEMETRA Sidang pertama perceraian Anda dan Pak Revan akan dilakukan bulan depan. Kalau bisa, Ibu Demetra hadir dalam sidang tersebut,” ucap Pak Erwin, pengacara yang kusewa untuk mengurus perceraianku dengan Revan di telepon. “Insya Allah saya hadir, Pak,” ucapku dengan lirih. “Uhm, apa Pak Revan juga akan datang?” tanyaku dengan jantung berdebar lebih cepat. “Pengacaranya bilang kemungkinan besar beliau akan hadir juga. Belum bisa dipastikan karena saat ini Pak Revan sedang ada di luar negeri untuk urusan pekerjaan.” “Baiklah,” ucapku tanpa sadar sambil menghela napas. Lega? Kecewa? Entahlah. “Untuk perkembangan selanjutnya akan saya kabari lagi nanti, Bu Demetra.” “Iya, terima kasih banyak, Pak.” Aku meletakkan ponselku dan lagi-lagi menghela napas panjang. Setelah dua bulan m

