DEMETRA Demi!” panggil Cindy saat masuk ke dalam kamarku. Kebiasaan Cindy sejak dulu yang tidak pernah mengetuk pintu kamar dan masuk begitu saja ke dalam. Aku yang tiduran di ranjang hanya menoleh sebentar dan kembali melanjutkan aktivitasku, yaitu meratapi nasib. Sekarang sudah H-1. Tidak ada lagi cara yang bisa dia lakukan untuk membatalkan pernikahanku. Kemarin aku mencoba menjelaskan pada Papa mengenai orang yang memfitnah dan menjebakku. Aku pikir Papa akan percaya dan membatalkan pernikahan, tapi aku salah, Papa bahkan semakin yakin untuk menikahkanku secepatnya. “Dengan begini kamu tidak akan lagi diganggu oleh dia. Karena kamu akan pindah ke Hongkong. Jauh dari orang itu.” Karena sudah frustrasi, aku mengatakan yang sebenarnya mengenai hubunganku dengan Revan. Reaksi yang dib

