DEMETRA Aku berjalan keluar ruangan didampingi Mama dan Kak Ema di sisiku. Pikiranku kosong, badanku mati rasa, dan pandanganku mengabur karena air mata. Aku takjub pada diriku sendiri yang masih bisa berjalan menuju ruangan di mana akad nikah dilangsungkan, di saat kakiku terasa sangat lunglai. “Demi, jangan menangis dulu, nanti riasan kamu rusak,” tegur Mama sambil menghapus air mata yang kembali mengalir dengan tisu di tangannya. “Biasanya kamu nggak pernah nangis, kenapa tiba-tiba jadi cengeng?” Aku pun tidak mau terus menerus menangis. Namun, aku tidak bisa menghentikan air mataku. Seandainya ada tombol untuk menyala-matikan air mata, aku pasti mematikannya sejak tadi. “Memangnya kamu mau suamimu melihat wajah kamu yang lucu karena belepotan make-up?” Suami aku? Oh, mendengarny

