Beberapa bulan setelah keributan besar di warung dan mulut tajam mertua, suasana rumah sempat kembali tenang. Tapi ketenangan itu ternyata cuma jeda sebelum badai berikutnya datang. Rafi, dengan jaket kerjanya yang udah mulai robek di siku, pulang sambil nyengir dan berkata, “Dek, aku dapet surat mutasi. Kita pindah ke Bandung bulan depan.” “Bandung?” Dara langsung menoleh. “Yang bener, Pi?” “Iya, kantor pusat butuh tim baru di sana. Kesempatan naik jabatan juga gede.” Dara terdiam sejenak. Sisi hatinya bersorak: akhirnya jauh dari ibu mertua! Tapi sisi lain... ah, warungnya baru mulai ramai. Pelanggan mulai hafal sama sambel cobek khas Dara yang katanya bisa bikin mantan balik dan tetangga diam. Pindah berarti mulai dari nol lagi. Tapi Rafi, dengan segala ego dan keputusannya yang mut

