SUARA PEREMPUAN DAN SUAMI YANG MULAI PANIK.

1327 Kata
Minggu pagi. Biasanya Dara menghabiskan waktu dengan mencuci gorden, mengganti sarung bantal, dan mencatat rencana masak seminggu ke depan sesuai kalender gaji Mas Rafi yang sakti itu. Tapi kali ini, agenda berubah total. Ia duduk gugup di depan cermin. Wajahnya sudah dipulas ringan oleh makeup artist yang dikirim langsung oleh tim produksi Suara Perempuan—acara talkshow ibu-ibu kekinian yang tayang di TV nasional. “Tenang aja ya, Bu Dara. Bunda masuk segmen pertama. Nanti tinggal cerita apa adanya. Pokoknya jangan sebut merek minyak goreng ya, itu aja,” kata produser sambil mengecek catatan di tangan. Dara tersenyum kikuk. Ia masih belum percaya. Dulu, tampil di televisi hanya ada di mimpi—atau waktu numpang lewat pas tetangga pasang parabola dan sinyal gangguan. Kini, dia yang akan muncul. Dengan cerita hidupnya. Dengan dapur 30 ribu yang bikin geger. Sementara itu, di rumah… Rafi baru bangun. Rambut awut-awutan, celana pendek belel. Ia menyeduh kopi sachet sisa kemarin, lalu duduk sambil menggulir t****k. Hingga ia menemukan satu video yang membuat napasnya tersengal: "Bunda Dara akan hadir di Suara Perempuan, membongkar realita istri yang harus masak enak dengan uang 30 ribu sehari. Saksikan jam 10 pagi ini!" Rafi terdiam. Video memperlihatkan potongan Dara sedang tertawa, menirukan gaya suaminya saat minta rawon. “Mas, mas! Mas ini mintanya macam-macam. Rawon, ayam bakar, nasi uduk. Tapi uang belanja kayak isi dompet abang ojek pas hujan deras!” Rafi hampir menyemburkan kopi ke layar. "ASTAGHFIRULLAH! Itu gua!" Ia melompat dari kursi. Matanya membelalak. Mulutnya komat-kamit seperti merapal doa-doa. “Astagfirullah... ini istri gue nyindir gue di TV nasional? Di t****k aja udah rame… sekarang TV?!” Ia panik. Tapi juga… malu. Di Studio TV Lampu-lampu sorot menyala. Kamera mengarah ke Dara yang duduk di sofa biru, berdampingan dengan dua tamu lainnya: Ibu Ratna, mantan istri pejabat daerah yang kini jadi aktivis, dan Mbak Murni, ibu tunggal dengan enam anak yang viral karena jualan donat lewat t****k. Host cantik di depan kamera berkata: “Hari ini kita kedatangan ibu rumah tangga luar biasa. Viral karena satu hal sederhana: memasak enak dengan uang 30 ribu sehari. Mari sambut… Bunda Dara!” Penonton bertepuk tangan. Dara tersenyum kikuk, tapi matanya bersinar. Ia mulai bicara, pelan tapi jelas: “Saya bukan siapa-siapa, Mbak. Saya cuma ibu rumah tangga. Tapi saya capek... capek dipaksa pintar, hemat, kreatif, tapi nggak pernah dihargai. Jadi saya cerita aja di t****k. Ternyata, bukan cuma saya yang ngerasain.” Host mengangguk penuh empati. “Lalu apa yang Ibu rasakan saat viral?” Dara menahan air mata. “Antara senang dan... sedih. Karena saya sadar... ternyata kita selama ini diam, dan dianggap wajar.” Tepuk tangan menggema. Lalu ditayangkanlah cuplikan video Dara: saat ia masak rawon tempe, saat anak-anak tertawa makan, dan saat Rafi bertanya "rawon mana dagingnya?" Penonton tergelak. Bahkan kru di belakang kamera ikut tersenyum geli. Dara menutup wajah, tertawa malu-malu. Tapi hati kecilnya lega. Sementara itu, kembali di rumah… Rafi duduk di ruang tamu seperti patung. Di depannya, layar TV menampilkan wajah istrinya yang kini jadi bintang acara pagi. Tetangga sebelah, Pak Darto, tiba-tiba lewat sambil melambai. “Wah, Mas Rafi! Hebat tuh istrinya! Saya liat tadi... masuk tipi! Cerita rawon tanpa daging ya? Inspiratif!” Rafi hanya bisa mengangguk kaku. Wajahnya merah. Tapi bukan karena marah. Untuk pertama kalinya, ia melihat Dara bukan sebagai istri yang “cuma di rumah aja.” Tapi sebagai sosok... yang didengar. Dihargai. Dikagumi. Oleh ribuan orang. Dan itu menohok. Malam harinya, saat Dara pulang dengan membawa goodie bag dan amplop kecil berisi honor dari stasiun TV, Rafi masih terdiam di ruang tamu. Dara mengganti baju, lalu duduk di sebelah suaminya. “Mas,” katanya pelan. Rafi menoleh. “Iya?” “Aku nggak pernah niat jelekin Mas. Aku cuma... pengen cerita. Pengen didengar.” Rafi mengangguk pelan. “Aku ngerti sekarang.” Sunyi sejenak. Lalu Dara tersenyum. “Mau rawon lagi, Mas?” Rafi membalas senyum. “Kalau bisa pakai daging beneran… ya bolehlah.” Dan malam itu, di dapur mungil mereka, tidak ada masakan. Tapi ada percakapan. Dan itu… jauh lebih mengenyangkan. Setelah wawancara itu selesai, Dara dipersilakan duduk di ruang tunggu. Di tangannya, goodie bag berlogo stasiun TV itu terasa seperti trofi kemenangan. Isinya sederhana: produk skincare, satu buku motivasi, dan amplop putih berisi uang transport. Tapi bagi Dara, rasanya seperti menang lotre. "Bu Dara, boleh foto bareng ya!" ujar seorang penonton dari studio. "Bu, t****k-nya bikin saya semangat masak meski cuma ada tahu busuk di kulkas!" kata yang lain. "Rawon KW-nya mantap! Tapi senyumnya lebih mantap lagi, Bu!" Dara tersenyum kikuk. Ini… bukan dunia yang biasa ia masuki. Bukan pasar sayur. Bukan dapur pengap. Tapi tempat di mana kisah hidupnya dianggap berharga. Saat mobil antar-jemput produksi mengantar Dara pulang, ia menyempatkan lihat ke luar jendela. Jalanan macet, tukang parkir teriak-teriak, suara klakson bersahut-sahutan. Tapi di dalam hatinya… tenang. Mungkin ini yang disebut kemenangan kecil seorang ibu rumah tangga. Di rumah... Rafi sedang membuka-buka komentar di t****k Dara. Satu-satu dibacanya sambil mengernyit. “Gileee, suaminya pelit banget sih! 30 ribu? Itu mah buat beli bensin motor aja gak cukup!” “Coba deh suaminya digaji 30 ribu sehari, suruh masak sendiri! Hahaha.” “Bunda Dara tuh keren, sabar banget. Kalo saya mah udah lempar wajan!” “Kayaknya suaminya perlu ikut kelas empati deh…” Pelan-pelan wajah Rafi berubah. Dari yang awalnya marah, jadi… bingung. Lalu… malu. Ia menoleh ke arah dapur. Kosong. Tak ada aroma masakan. Tak ada panci mendidih. Tak ada suara cewek-cewek kecil yang minta lauk ditambah. Rumah terasa… hampa. Jam dinding menunjukkan pukul 15.15. Dara belum pulang. Dan untuk pertama kalinya dalam 7 tahun pernikahan mereka… Rafi menggoreng tempe sendiri. Sore harinya, Dara pulang. Rafi langsung berdiri, seolah ingin menyambut seorang selebriti. “Capek, Sayang?” tanyanya dengan nada yang bahkan Dara tak pernah dengar sejak malam pertama mereka menikah. Dara mengangkat alis. “Sayang?” “Aku masak loh. Coba deh ke dapur.” Dara melangkah ke dapur dan langsung tertawa pelan. Di meja: sepiring nasi putih, tempe goreng… dan mi instan rasa kari ayam yang sudah mengering di pinggirnya. “Aku masak, tapi… hmm... kayaknya gagal deh. Tempenya hitam, dalamnya mentah.” Dara duduk, menahan tawa. “Mas, ini bukan tempe goreng. Ini… batu kali rasa minyak bekas.” Rafi ikut tertawa. Lalu diam sejenak. “Dara, aku mau ngomong sesuatu.” Dara menoleh. Jarang sekali Rafi membuka pembicaraan dengan ekspresi serius begitu. Biasanya, kalau bukan minta minum, ya nyari remote. “Dari semua komentar yang aku baca… aku sadar satu hal. Aku terlalu banyak nuntut, tapi lupa bahwa kamu juga manusia. Aku cuma lihat kamu sebagai istri, bukan sebagai perempuan.” Dara menatapnya. Ada rasa hangat… dan sedikit bingung. “Dan… ya, aku malu. Selama ini kamu bisa masak, ngurus anak, bersih-bersih, semuanya… cuma dengan 30 ribu sehari. Dan tetap bisa bikin kita semua ketawa.” “Mas…” Dara pelan. “Besok… kita atur ulang keuangan ya. Aku janji bakal ngurangin nongkrong di bengkel, dan mulai kasih kamu yang lebih wajar.” Dara tak bisa menahan air matanya. Bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya, suaminya mulai ‘melihat’ dirinya. Bukan sekadar ibu dari anak-anak mereka. Tapi juga perempuan yang bertahan, meski dunia menuntutnya sempurna dalam keterbatasan. Tapi belum selesai sampai di sana. Keesokan paginya, notifikasi masuk ke ponsel Dara. “Halo Bunda Dara! Kami dari DapurLezat ingin menawarkan kerja sama endorse. Honor awal 2 juta per konten. Jika bersedia, kami kirimkan paket bumbu minggu ini.” “Kami dari Komunitas Perempuan Cerdas mengundang Ibu Dara sebagai pembicara dalam webinar ‘Uang Pas, Masakan Kelas.’ Honor dan paket dikirim setelah persetujuan.” “Halo Kak Dara, saya dari penerbit. Apakah Kakak tertarik menulis buku kisah inspiratif dapur 30 ribu?” Dara membaca semua pesan itu. Matanya berkaca-kaca. Tangannya gemetar. Dulu, ia hanya berharap cukup uang buat beli ayam kampung sebulan sekali. Sekarang… peluang datang dari segala arah. Dari dapur, dari suara lirihnya, dari keberaniannya menceritakan kenyataan yang selama ini disimpan dalam wajan-wajan penuh asap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN