Pagi itu Dara bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, bukan pula karena suara anak-anak. Tapi karena rasa deg-degan yang aneh—campuran antara takut ketahuan dan penasaran apakah video t****k semalam masih ramai.
Ia mengintip layar ponsel yang tergeletak di samping bantal.
25.3K likes. 1.229 komentar. 3.708 kali dibagikan.
Tangannya langsung menutup mulut sendiri. Jantungnya berdetak tak karuan. Ini bukan viral biasa. Ini tsunami simpati.
Komentar-komentar terus mengalir:
“Bunda, kamu tuh mewakili jutaan perempuan Indonesia!”
“Sakit perut liat ekspresi pas bilang ‘ayam seupil’ hahaha.”
“Duh, gue nangis... kuat banget sih kamu...”
“Bunda, rawon dong next episode!”
Rawon. Kata keramat yang dilontarkan Rafi kemarin, kini jadi permintaan netizen. Dara terdiam di dapur sambil menatap sisa bahan makanan di rak. Sisa opor semalam masih ada, tapi sudah tak menarik. Ia buka dompet. Isinya... uang lusuh tiga lembar sepuluh ribuan. Hasil “gaji harian” dari suami tercinta.
“Ya Allah,” bisiknya, “Ini kalau bukan karena-Mu, siapa lagi yang bisa ngasih ide?”
Ia mengambil kertas kosong dan mulai mencoret-coret resep rawon ala Emaknya. Versi asli butuh keluak, daging sapi, dan rempah komplet. Tapi versi Dara harus sesuai dengan... ya, bujet tiga puluh ribu.
Rawon KW Super edisi rakyat bersatu!
– Tempe iris tipis, digoreng kering
– Kuah hitam dari kecap, ketumbar, bawang putih, dan sedikit serbuk merica
– Tambahan daun bawang seiris kecil
– Sambal, tentu. Karena pedas bisa menutupi duka
Ia mulai masak sambil merekam. Kali ini lebih percaya diri. Dengan gaya ala chef profesional, ia bicara ke kamera:
“Hai, para pejuang dapur se-Indonesia! Hari ini kita akan membuat RAWON KW, rasa mantap, harga merakyat! Tanpa daging, tanpa keluak, tapi dengan cinta yang tetap terasa mantap! Karena kalau daging gak kebeli, bukan berarti kita gak bisa makan bergaya!”
Ia tertawa, menambahkan tempe ke dalam kuah hitam. Anak-anak bersorak menonton dari belakang layar, Zahra sampai ikutan bergaya jadi kru dapur.
“Rawonnya enak, Bun. Kayak di warung Mbak Yani, tapi ada rasa ‘kesabaran’nya,” komentar Zidan polos.
Setelah makan, Dara unggah videonya. Tak lama kemudian, Rafi pulang dari luar.
“Masak apa ini? Rawon?” tanyanya, mencium aromanya.
“Iya, rawon. Tapi pakai tempe. Hemat, sesuai bujet,” jawab Dara santai.
Rafi mengangguk. Ia makan tanpa banyak protes. Sesekali matanya melirik ke layar ponsel Dara yang terus berbunyi.
“Kamu ngapain sih sekarang hape terus?” tanyanya curiga.
“Ya... bikin video aja. Sharing kehidupan. Siapa tahu dapet like,” jawab Dara tenang.
“Hm. Jangan bikin malu keluarga, ya.”
Dara menoleh. Ingin tertawa, ingin marah, tapi ia hanya mengangguk. “Enggak, Mas. Aku cuma ngasih tahu dunia... kalau jadi istri itu butuh kreativitas lebih dari chef restoran bintang lima.”
Setelah Rafi pergi mandi, Dara membuka notifikasi. Ada satu pesan masuk yang membuatnya tercekat:
“Hai Bunda Dara, saya produser acara talkshow ‘Suara Perempuan’. Kami tertarik dengan video Ibu dan ingin mengundang untuk tampil sebagai narasumber…”
Matanya membulat. Tangannya gemetar. Ia baca ulang, berkali-kali. Seolah takut itu hanya halusinasi akibat lapar yang belum sempat dipuaskan.
Hari itu, Dara berdiri lama di depan dapur. Bukan untuk memasak. Tapi untuk berpikir.
Mungkin... hidupnya mulai berubah.
Dan mungkin... rawon tempe ini bukan cuma soal makan siang. Tapi permulaan dari hidangan utama yang disiapkan takdir untuknya.
Dara duduk di atas kursi plastik dapur, memandangi panci rawon KW yang sudah hampir kosong. Aroma kuah yang tersisa masih kuat, walau tak ada daging sama sekali. Anak-anak kenyang. Suami? Ya… kenyang juga, walaupun komentar "dagingnya mana?" sempat mampir satu kali sebelum ia kembali sibuk dengan video mobil YouTube favoritnya.
Tapi yang bikin kepala Dara nyut-nyutan bukan cuma harga daging. Melainkan notifikasi ponsel yang nging… nging… nging! tanpa henti.
Ia kembali membuka t****k.
Video RAWON KW:
45.7K Likes | 7.2K Dibagikan | 2.351 Komentar
“Demi Allah gue masak rawon rasa sabar juga hari ini!”
“Chef KW terbaik se-Asia Tenggara!”
“Kok saya jadi merasa rawon tempe tuh lezat banget ya?”
“Gue mau adopsi Bunda Dara jadi mentor hidup!”
Dara menutup mulutnya. Kalau dulu ia bisa nangis karena harga cabai naik, kali ini ia hampir nangis karena akhirnya ada yang ngerti.
Siangnya, saat ia sedang mencuci piring, datang suara teriakan dari luar pagar.
“Bun! Bun Daraaaa!” suara cempreng Bu Sari, tetangga kanan rumah.
Dara buru-buru keluar, masih pakai celemek penuh noda kunyit.
“Ya, Bu?”
“Bun, saya liat t****k-nya! Astaghfirullah... itu yang Mas Rafi suka nyuruh masak gitu terus ya? Lah, bener-bener! Gimana sih suami zaman sekarang…”
Sebelum Dara bisa jawab, datang lagi tetangga sebelah kiri, Bu Wiwik, dengan senyum lebarnya.
“Wah, bunda viral sekarang ya! Jangan lupa kalau udah jadi artis, inget kita-kita yang dulu sering pinjem cabe!”
Dara hanya tertawa kecil. Di dalam hati, ia ingin pingsan saja. Ia belum siap jadi “figur publik dapur miskin nan kreatif”.
Tapi keramaian belum usai. Sore itu, datang kurir membawa satu kardus besar.
“Dari akun t****k @WarungMakEnok,” katanya.
Dara membuka paketnya dengan tangan gemetar. Isinya: 2 kg daging sapi, keluak 10 biji, bumbu rawon lengkap, dan sepucuk surat kecil.
“Kami ikut nonton, ketawa, dan nangis. Ini hadiah kecil untuk chef sejuta rasa. Masaklah rawon sesungguhnya. Dunia sudah menunggu.”
Dara terdiam. Ia menatap isi kardus seakan tak percaya. Daging sapi—yang biasanya hanya ada di bayangan atau mimpi saat lewat tukang bakso—sekarang ada di depan mata. Bukan dari pasar. Tapi dari dunia maya.
Malamnya, saat Rafi pulang, ia menemukan dapur penuh aroma harum. Daging rawon mendidih pelan. Anak-anak duduk manis. Di meja sudah ada nasi hangat, telur pindang, sambal terasi, kerupuk udang.
“Makanannya… istimewa banget ini,” katanya curiga. “Kamu dapet arisan ya?”
Dara hanya senyum kecil. “Rezeki dari langit, Mas.”
Rafi mengernyit. Tapi lapar membuatnya duduk juga. Suapan pertama membuatnya menoleh cepat.
“Lho... ini... rawon beneran? Pakai keluak? Daging sapi?”
Dara mengangguk pelan. “Iya. Kali ini, rawon rasa daging. Bukan rasa tempe.”
Rafi makan lahap. Sampai habis.
Setelah kenyang, ia mengambil ponsel Dara yang tergeletak. Matanya menyipit saat membaca notifikasi.
“Selamat Bunda Dara! Video Anda masuk FYP dan trending hari ini. Jangan lupa gunakan tagar #Dapur30RibuLawanDunia!”
“Kami dari ‘Suara Perempuan’ ingin mengundang Bunda Dara dalam episode spesial: Ibu Hebat di Balik Dapur.”
Rafi menatap istrinya.
“Kamu main t****k? Kok bisa sampai begini?”
Dara menatap balik. Dengan senyum manis yang disimpan sejak lama, ia menjawab,
“Mas, aku cuma masak. Seperti biasa. Bedanya... sekarang masaknya disaksikan jutaan orang yang peduli. Sesuatu yang, maaf, selama ini nggak pernah aku dapat dari satu orang di rumah ini.”
Rafi terdiam. Mulutnya ingin membalas. Tapi lidahnya kelu.
Anak-anak tertawa kecil sambil main-main filter t****k di pojok ruang tamu.
Dan Dara? Ia berdiri di depan dapurnya. Hari itu, ia bukan cuma istri. Ia bukan cuma ibu. Ia bukan cuma chef tempe goreng. Tapi juga—secara tak resmi—ikon perlawanan kecil dari ribuan ibu rumah tangga yang lelah diam.
Di hari yang sama, Dara menulis di notes-nya:
Hari ke-3. Ternyata suara perempuan bisa terdengar. Tapi kadang... kita harus mencampurnya dulu dengan bumbu satir dan rawon KW agar dunia mau mencicipi.