Dara berdiri di depan lemari dapur sambil mengelus kening. Opor, katanya. Pake telur juga. Emang ayam betina Bunda petelur dadakan, Mas? batinnya. Tapi seperti biasa, ia tak pernah mengucap keluhan itu lantang. Ia hanya tersenyum hambar, menyimpan semua komentar dalam hati yang makin sesak.
Ia membuka toples kecil peninggalan almarhumah Emaknya. Di dalamnya ada tumpukan sobekan kertas, lusuh dan nyaris tak terbaca. Semua ditulis tangan pakai tinta biru, penuh coretan dan bekas cipratan minyak. Resep-resep sederhana tapi legendaris. Emaknya dulu bisa bikin opor cuma pakai setengah ekor ayam dan satu butir telur untuk satu RT, dan semuanya tetap ngiler minta tambah.
“Kalau emak bisa, aku juga harus bisa. Masalahnya... harga telur sekarang dua ribu lebih satu biji,” gumam Dara sambil menghela napas.
Ia memutuskan berangkat ke warung Bu Jamilah—tempat segala kemungkinan dan keajaiban bisa terjadi.
“Bu... telur satu, daun salam selembar, dan santan saset yang kecil ya. Tapi bayarnya nyusul sore...” Dara berusaha menyunggingkan senyum paling manis yang bisa ia produksi.
Bu Jamilah cuma mengangguk, sambil nyeletuk, “Kalau semua ibu kayak kamu, saya udah jadi donatur tetap di kitabisa dot com!”
Dara tertawa kecil, setengah malu setengah lega. “Doain aja Bu, saya viral, terus endorse-an masuk. Ntar saya belanja kontan, sekilo telur langsung.”
Setibanya di rumah, ia mulai bereksperimen. Ayam dipotong kecil-kecil, telur direbus lalu dibelah dua biar kesannya "wah", santan dicampur air biar banyak. Dan bumbu? Oh, ini bagian favoritnya. Dara mulai menumbuk bawang putih, merah, kemiri, ketumbar, kunyit, jahe, dan sereh. Semua dicampur dengan irama yang ia hafal sejak kecil.
Sambil menumis bumbu, anak kembarnya tiba-tiba muncul sambil menyeret kursi plastik ke dapur.
“Bunda! Kita main masak-masakan ya!” Zahra berteriak semangat.
“Tapi Bunda udah masak beneran ini,” jawab Dara.
“Nggak apa-apa! Kita pura-pura jadi chef! Kayak di TV!” kata Zidan sambil membawa sendok kayu besar seperti mikrofon.
Dara tertawa, lalu spontan ikut bergaya, “Selamat datang di acara Chef Darita... hari ini kita akan memasak opor dengan telur dari ayam stress dan ayam dari pasar sore!”
Anak-anak tertawa terbahak-bahak.Dan tanpa mereka sadari, Rafi berdiri di balik pintu, menatap. Wajahnya datar, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya kembali ke ruang tamu, membuka YouTube dan menonton video mobil impian yang ingin ia beli. Mobil yang jauh lebih mahal dari semua uang belanja Dara selama tiga tahun digabung.
Sore itu, opor ala Dara tersaji rapi. Warnanya pucat sedikit, tapi aroma dan rasanya luar biasa. Rafi makan tanpa komentar, hanya sesekali menyeruput kuah dan mengunyah telur setengah biji dengan mulut penuh.
“Hm. Lumayan. Besok rawon, ya.”
Dara hampir tersedak air putih.RAWON?
Ia menahan napas, menatap piring kosong di depannya. Lalu perlahan ia senyum.
"Siap, Mas. Besok kita masak rawon… pake hati. Hati yang makin lama makin disayat."
Setelah Rafi menyebut "rawon" sebagai menu esok hari, Dara menahan senyum getir yang hampir berubah jadi gelak tawa. Bukan karena lucu, tapi karena bodohnya kenyataan yang sudah terlalu sering ia telan mentah-mentah.
Rawon. Makanan berkuah hitam legit dari Jawa Timur yang butuh keluak—bumbu eksklusif yang bahkan di pasar hanya ada di beberapa penjual. Harganya? Jelas lebih dari tiga ribu sebiji. Itu pun belum termasuk daging sapi. Yang paling murah saja sudah puluhan ribu setengah kilo. Dan Rafi? Masih mengira tiga puluh ribu sehari cukup untuk menyulap dapur jadi restoran Nusantara.
Malam itu, saat anak-anak sudah tidur, Dara kembali membuka toples kecil peninggalan Emaknya. Tangannya gemetar saat membolak-balik sobekan kertas berisi resep-resep legendaris. Matanya tertumbuk pada satu tulisan tangan yang sudah memudar:
“Masakan enak bukan soal uang banyak. Tapi soal hati. Tapi hati juga bisa rusak kalau kelamaan ditahan.”
Ia terdiam.
Malam makin larut, tapi pikirannya makin riuh. Ia membuka akun t****k lamanya yang dulu hanya diisi video anak-anak joget. Tiba-tiba, jari-jarinya bergerak dengan impuls aneh—campuran marah, geli, dan ingin berbicara.
Ia ambil video pendek. Merekam kompor satu tungku. Ayam potong kecil-kecil. Telur belah dua. Kuah santan encer. Piring warna-warni tak senada.
Lalu ia berkata sambil tertawa:
"Halo ibu-ibu pejuang dapur!
Hari ini kita masak opor...
Dengan modal tiga puluh ribu, untuk empat orang.
Ada ayam seupil, telur sebiji, dan cinta yang diperas dari ampas kesabaran.
Karena di rumah ini... kita masak bukan karena cinta,
Tapi karena kalau gak masak... besok gak dikasih uang belanja!"
Ia tertawa sendiri, lalu mematikan rekaman. Ia tak berniat viral. Ia cuma ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah bertahun-tahun ditahannya.
Setelah upload, ia tutup ponsel. Tidur.
Pagi-pagi, ia dikejutkan oleh suara getar-getar tak berhenti dari ponselnya. Notifikasi. Puluhan. Ratusan. Komentar masuk, like mengalir.
“Woy... ini real banget. Aku juga dikasih 25 ribu tapi disuruh masak 3 lauk!”
“Bunda, kamu pahlawan.”
“Tag temen lo yang pelitnya level suami dia.”
“Saya nonton sambil nangis, sambil ketawa. Bunda, bikin konten lagi pliss!”
Dara menatap layar dengan mata membelalak. Dalam semalam, akun t****k-nya diserbu ribuan ibu-ibu, sebagian besar mengaku mengalami hal yang sama. Bahkan ada yang kirim DM:
“Bunda, kalau perlu bantuan, saya mau bantu kirim sembako. Serius.”
Ia duduk lama di dapur, antara terharu, bingung, dan takut.
Takut Rafi tahu. Takut dicap membuka aib keluarga.
Tapi... ia juga merasa hidup kembali. Untuk pertama kalinya, ada yang mendengar keluhannya. Bahkan ribuan orang.
Saat sarapan, Rafi membuka ponsel, tertawa melihat video lucu. Ia belum sadar kalau istrinya sudah jadi seleb t****k dadakan.
Dara menyajikan sarapan sederhana: nasi, sambal, dan tahu goreng. Rafi melirik.
“Lho, katanya mau rawon?”
Dara tersenyum kecil.
“Lagi nabung buat beli daging, Mas. Kan biar rawonnya mantap, harus pakai hati...”
Rafi cemberut, tapi tak berkata apa-apa. Ia mengangkat sendok, makan sambil menonton ponsel. Dara menatapnya. Masih ada sedikit nyeri di d**a, tapi entah kenapa, kali ini rasa nyerinya berbalut keyakinan bahwa ia tidak sendiri.
Malamnya, Dara kembali membuka aplikasi catatan.
Hari ke-2. Uang masih sama. Tapi hari ini aku punya teman. Banyak. Di layar kecil ini, ternyata aku tak sendiri. Dan rasanya... lebih kenyang dari lauk mana pun.
Ia menutup catatan, lalu tersenyum.
Di sudut rumah kecilnya, revolusi kecil sedang dimulai.