Manesia

1348 Kata
Nafla masih belum percaya atas keputusan finalnya kemarin. Semuanya begitu cepat terjadi. Mencintai memang tidak salah. Tetapi menjadi salah apabila terus terhanyut dalam rasa sakit dan kesedihan.  Tapi, ini sudah menjadi keputusan finalnya. Seorang Nafla tidak boleh menarik kembali kata-katanya. Move on! Cukup semalam Nafla menangis selaut. Selaut, bukan lagi seember. Tak tanggung-tanggung lima pack tissue ia habiskan hanya untuk mengelap cairan yang keluar dari mata, hidung, dan mulutnya. Dahsyat bukan? Wow mulutnya ikut menangis. Tapi apa benar mulutnya menangis? Tidak! Mulutnya mengeluarkan cairan a.k.a iler saat ia tertidur karena kelelahan menangis. Nafla akan membuka semangat baru hari ini dengan status baru. Bukan jomblo tapi single. Tapi, apa bedanya jomblo dan single? Bukankah sama-sama sendiri. Nafla melangkahkan kakinya ke meja makan. Matanya berbinar saat melihat ibunya sudah menyiapkan sepiring nasi goreng pedas untuknya. "Mama kok cantik banget hari ini!" seru Nafla saat ibunya sudah duduk di hadapannya. "Mama gak mau nambahin uang jajan ya!" Mama Nafla melepaskan celemeknya kemudian meletakkannya di sandaran kursi. Walaupun mereka selalu sarapan berdua, itu tidak menyulutkan rasa bahagia mereka. Mereka sudah sepakat untuk tidak membahas sesuatu yang bisa merusak kebahagiaan mereka. "Mama udah sarapan?" "Udah. Kamu berangkat bareng Galih atau El?" "Nafla putus sama Galih, Ma," aku Nafla seraya menyantap nasi gorengnya. "APA?!! TIDAK MUNGKIN!" teriak Mama Nafla lebay bak pemain sinetron yang beradegan terkejut ketika mengangkat telelpon. "Biasa aja, Buk!" "Halah! Cinta monyet gitu tuh. Dikit-dikit putus." "Ini putusnya beneran, Ma. Gak ada settingan." "Dih! Serasa artis! Gak apa lah putus. Nanti langsung nikah aja, Naf." "Orang putus malah disuruh nikah." "Gak ada ya putus-putusan! Mama sama Umii gak akan rela. Hubungan kalian itu udah direncanain sejak kalian masih dalam perencanaan, pakek sidang isbat malah." "Wah! Nasi gorengnya enak banget. Pedes lagi kayak mulut Mama hehe." Nafla berusaha mengalihkan pembicaraan. "Jangan putus lah, Naf. Kan sayang." "Sayang apanya, Ma? Kalo sayang mah gak mungkin Galih selingkuh!" "Galih gak sengaja. Lagian bukan sayang yang itu. Sayang uang jajan kamu. Kamu kan sekarang jomblo. Jadi apa-apa kudu sendiri. Pergi sendiri. Berangkat sendiri. Gak ada yang nganterin. Kepaksa naik angkot, uang jajan bekurang deh." "Nafla bisa bawa motor sendiri, Ma." "Nah itu! Perlu uang bensin kan?" "Nanti bensinnya campur air aja biar penuh terus!" sahut Nafla. "Ih, dibilangin juga! Jadi jomblo itu gak enak, Sis. Misal kamu ditanya orang 'pacar kamu mana?' Nah kamu mau jawab apa coba? Mau jawab pacar kamu lagi di Konoha gentiin Naruto jadi Hokage?" Nafla tertawa ngakak. "Jawab aja udah putus. Gak susah." Nafla hafal betul, itu gombalan Mamanya supaya dia balikan sama Galih. Mamanya juga pasti lebih membela Galih daripada Nafla yang menjabat sebagai anak kandungnya. Galih kan anak kesayangannya. Kalau bisa ditukar, mungkin Mamanya akan menukar Galih dengan Nafla. Ting nong ting nong Suara bel menghentikan perdebatan dua beranak itu. "Iya sebentar!" teriak Mama Nafla sambil berjalan sesaat setelah mendengar bel berbunyi. Sebelumnya Mama Nafla mengatakan, "Makan yang banyak! Mama balik, harus udah abis. Oke?" "Dikata senior ospek kali ya. Kejam banget ibu kandung ... bodo amat, gue laper. Nambah ah," oceh Nafla. Semalaman ia menangis dan itu membuat perutnya sangat lapar. Mama Nafla berjalan cepat membuka pintu. Kali aja ada orang nyasar yang mau bagi uang. "Biasa juga langsung masuk, Gal! Tumben mencet bel," ujar Mama Nafla saat melihat Galih sudah berdiri di depan pintu. Galih langsung mencium tangan wanita paruh baya itu. "Niatnya biar dibukain sama Nafla gitu, Ma." "Ayo masuk! Kamu putus sama Nafla?" tanya Mama Nafla yang berjalan dirangkul Galih. "Gak, Ma. Masih pacaran." Mama Nafla hanya ber-oh-ria. Ia percaya pada Galih. Rupanya Nafla hanya bercanda tadi. "Eh, tapi kalo beneran kamu selingkuh, Mama sembelih kamu ya! Awas aja!" Galih bergidik mendengar ancaman itu. "Mama ke kamar ya, mau siap-siap kerja. Titip anak Mama." Mama Nafla belok ke kamarnya dan Galih menuju meja makan. "Hai, Pacar!" sapa Galih yang sudah berada di depan Nafla. Nafla yang sibuk mengunyah nasi gorengnya, sontak terbatuk. "Biasa aja kali! Nih minum!" Galih menyodorkan segelas air putih. Nafla langsung meneguk habis minumnya itu. "Ngapain lo?" ketus Nafla. Galih tersenyum lembut ke arah Nafla. "Kok malah nanya gue ngapain ke sini. Ya gue jemput cewek gue lah kayak biasa. Udah makannya? Berangkat, yuk!" Nafla benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Galih dengan santainya bilang kalo mereka masih pacaran. Dasar sinting! Apalah arti drama sedih tentang perpisahan kemarin?! "Lo manesia apa geger otak?!" tanya Nafla kesal. "Amnesia, Sayang, bukan manesia. Yaudah, anggep aja gue amnesia." "Gue bareng El aja. Berangkat aja sendiri!" "Sampe elo selingkuh sama El, gue ilangin tuh El." Galih menatap Nafla penuh curiga.. "Elo yang gue ilangin! Kita udah putus! Otak lo emang udah miring. Ck." Nafla jadi ingin membuat Galih amnesia beneran. "Gak boleh bilang gitu! Kita masih pacaran. Kita gak pernah putus. Elo kenapa sensi amat? Elo PMS apa ada syaraf yang kejepit? Tapi, jadwal PMS lo kan akhir bulan. Ini masih seperempat bulan." "Gigi lo s***p!" Nafla meraih tasnya kemudian beranjak pergi meninggalkan Galih. ---CRAZIER--- Nafla berangkat sendiri naik ojek. Tadi, ia menghampiri rumah El dan kata Mamanya, El tidak pulang dari semalam. Karena satu-satunya orang yang ingin Nafla hindari saat ini adalah Galih, ia lebih memilih naik ojek daripada berangkat bareng Galih. Nafla berjalan melewati koridor sekolah. Ia berjalan ke kelasnya dengan santai kemudian masuk ke kelas mencari keberadaan sahabatnya---Maemunah. "MAEEE!!!" teriak Nafla saat melihat sesosok makhluk kasar sedang sibuk bercermin. Seisi kelas menatap Nafla kesal karena suara toa Nafla sudah menggema di dalam kelas sepagi ini. Maemunah pun menulikan pendengarannya. "Bukan temen gue!" Nafla melangkah buru-buru ke meja sahabatnya itu sambil menyengir ke arah teman-teman yang menatapnya jengkel, ia menyimpan tasnya di atas kursi kemudian duduk di samping Maemunah. Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya, ia mulai sesi curhatnya. "Gue putus, Mak! Eh btw, gue ada panggilan baru buat elo, Mak. Bagusan Mak daripada Mae." "Serah lo, Nyai!" "Gue putus, Mak." "Jadi guna ceramah gue panjang-panjang---kayak anu---apa? Mulut gue sampe berbusa, gue nyesel dah!" sesal Maemunah. "Gak gi--- "Gue ngasih pencerahan sama elo itu biar elo gak putus, Njir!" potong Maemunah saat Nafla ingin menyahut. "Elo gak tahu masalahnya, t*i!" "Apa yang enggak gue tahu?" "Gue mergokin dia selingkuh sama Pelakor itu. Padahal gue udah nurutin omongan elo. Gue udah capek-capek bikinin kue yaa walaupun gak enak. Tapi, gue buatnya setengah mati. Gue mau memperbaiki semuanya. Eh tapi dianya gitu. Yaudah daripada sakit terus mending putus kan?" "Sebentar!" Maemunah menatap wajah sahabatnya itu. "Mata lo bengkak. Tapi, kenapa sekarang elo gak nangis? Kemaren cuma karena gue nyebut kata putus, elo udah mewek." "Air mata gue udah abis. Lagiann capek tahu nangis mulu! Gue mau move on." "Bagus! Terus sekarang masalahnya apa? Mau gue hajar si Galih sama Pelakor itu? Mau gue labrak terus gue call Daddy gue?" Nafla tertawa ngakak. "Mak lambe! Gak usah lah! Kalo mau ngehajar, gue juga bisa sendiri. Melati kita sama-sama udah empat." "Terus?" Nafla menceritakan insiden ketika Galih menjemputnya tadi dengan wajah tanpa dosa dan menganggap mereka masih pacaran. Maemunah tertawa ngakak. "Ya terus kenapa?" "Gue takut dia gila, Mak!" "Bukannya kalian emang sama-sama gila?" "Anjir!" Maemunah tertawa puas. "Gue harus gimana sekarang?" tanya Nafla. "Gak gimana-gimana. B aja. Santai aja. Nikmatin aja!" jawab Maemunah santai. "Ish! Gak ada solusi!" "Maemunah, mengatasi masalah tanpa solusi. Kalo lo mau solusi, minta jaminan sama pegadaian!" "Tau dah, gue mau tidur bentar. Ntar kalo bel, bangunin ya." "Hm." Nafla ingin tidur sejenak, tas yang ia letakkan di atas kursi tadi ia pindahkan ke atas meja, tas itu beralih fungsi menjadi bantal untuk menopang kepalanya yang berat. Suasana kelas cukup ramai, ada yang bernyanyi, ada yang nonton bareng, ada yang tidur, ada yang goyang. Saat Nafla ingin memejamkan matanya sejenak, suara seseorang terdengar di penjuru sekolah. "Tes tes netes. Assalamu''alaikum." "Nap, kok suaranya kayak gue kenal ya?" Maemunah menggoyang-goyangkan tubuh Nafla. Padahal Nafla hampir saja berada di alam mimpi. Nafla pun bangun dan kembali duduk tegap, ia berusaha menajamkan pendengarannya. Suara orang itu terdengar sangat jelas, membuat seisi kelas mendadak hening. Nafla sangat mengenal suara itu. Tidak salah lagi, itu suara Galih. "Perhatian semuanya." Suara Galih kembali terdengar. "Gue Aquino Galih pacar sahnya Nafla Aqiu ingin mengatakan---" suara Galih terputus begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN