Apa salah dan dosaku, sayang
Cinta suciku kau buang-buang
Lihat jurus yang kan ku berikan
Jaran goyang, jaran goyang
Sayang, janganlah kau waton serem
Hubungan kita semula adem
Tapi sekarang kecut bagaikan asem
Semar mesem, semar mesem
Jurus yang sangat ampuh, teruji terpercaya
tanpa anjuran dokter, tanpa harus muter-muter
cukup siji solusinya, pergi ke mbah dukun saja
Langsung sambat?
Mbah, saya putus cinta?
Kalau tidak berhasil, pakai jurus yang kedua
Semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya
Cen rodok ndagel syarate, penting di lakoni wae
Ndang di cubo, mesthi kasil terbukti kasiate, genjrot
Dan dudidam aku padamu, I love you
I can't stop loving you oh darling
Jaran goyang menunggumu
Apa salah dan dosaku, sayang, cinta suciku kau buang-buang
Lihat jurus yang kan ku berikan, jaran goyang, jaran goyang
Sayang, janganlah kau waton serem, hubungan kita semula adem
Tapi sekarang kecut bagaikan asem, semar mesem, semar mesem
Wes cukup stop mandekko disek sek sek
Jangan bicara jangan berisek sek sek
Gek ayo ndang mangkat ndukun, rasah kakean ngelamun
Ndukun, ndukun , ndukun ayo ndukun
And slow, woles woles baby baby
Rasakno aku wes wani perih baby
Rungokno, ku alami hal sama dengan dirimu
Bojoku mencampakkan diriku, podo bojomu podo tanggamu
Ini terakhir, cara tuk dapatkan kamu
Jika ini gagal, kan ku racuni dirimu
"HAHAHAHAH." Nafla tertawa terbahak-bahak mendengar voice note yang dikirim oleh Maemunah. Sedari tadi mereka chatingan dan terakhir, Maemunah mengirimkan Nafla VN lagu Semar Mesem yang lagi hits jaman now.
Whatsapp
Nafla
Woy biduan
Nafla
P
P
P
P
Nafla
Suara lo a***y, gua ngakak
Maemunah
Ga usah pangil2 biduan kalo ga mau nyawer :(
Nafla
Dih
Wanita saweran
Lu kok bisa apal sih mae
Maemunah
Apal apa?
Nafla
Lagu itu
Maemunah
Yadong, tiap hari nonton BINTANG PANTURA
Nafla
Njir, pecinta ikan terbang
Maemunah
Kok lo malah ngakak sih
Gue kan mau bkin lo sedih
Nafla
Apa hubungannya -__-
Maemunah
Lo pasti terlalu larut sm suara gue
Coba lo dalemin liriknya
Nafla
Bntr, gue denger lagi
Maemunah
Gih
Nafla memutar kembali voice note dari sahabatnya itu. Lirik demi lirik ia coba pahami. Hingga ia tersadar akan satu hal. "LO EMANG SAHABAT TERBANGSAT!! DASAR MAEMUNAH, SI SODOKAN KUE PUTU!" maki Nafla setelah memutar VN itu berkali-kali.
Nafla tak henti-hentinya mengumpat. Rasanya ia ingin mencangkul sahabatnya saat ini juga. Tapi, salah siapa punya otak lemot? Baru nyambung setelah didengar berulang-ulang. Salah kau sendiri, Naf.
Nafla mengakhiri obrolannya dengan Maemunah. Ia menutup aplikasi w******p itu lalu matanya langsung tertuju pada wallpaper ponselnya. Di sana terpajang foto Galih sedang menatap Nafla yang ingin menjambak gemas rambut Galih.
Sudut bibir Nafla terangkat, "Masih gue liatin lo, ya. Belum gue sleding, Lo. Ntar gue jambak sampe botak beneran rambut lo itu."
Tok tok
"Kayak ada yang ngetok," gumam Nafla.
Nafla mendekati sumber suara yang berasal dari balik jendela kamarnya. Kamar Nafla terletak di lantai atas, tidak mungkin kan burung elang yang bertamu sore-sore, pikirnya. Nafla pun melebarkan jendela kamarnya yang terbuka sedikit.
"Huy, Tetangga!" Suara El membuat Nafla terkaget-kaget.
"Ngapain lo?!" El sudah nangkring di dekat jendela kamar Nafla. Sepertinya ia memanjat jendela kamar dengan tangga---yang memang ada di halaman rumah Nafla. Tangga yang biasa digunakan Galih kalau Galih malas masuk lewat pintu depan.
"Nyari jambu ... Nyari elo lah, b**o!" sahut El sedikit kesal.
"Mata lo minus sepuluh sampe gak bisa ngeliat pintu di depan rumah gue?"
"Gue bosen lewat pintu."
Nafla melihat batu digenggaman El, "Tu batu buat apa? Lo nahan boker?"
"Lo kata gue orang jadul? Megang batu supaya bokernya dipending? Ni batu buat ngetuk kaca kamar lo lah."
"Ada apa?" tanya Nafla to the point.
"Kita belum tukeran No. HP, id Line, ukuran sepatu, ukuran baju, ukuran sempak, sama ukuran beha." Ucapan El dihadiahi jitakan oleh Nafla. El memang kurang kerjaan sekali, dia susah-susah manjat jendela Nafla cuma untuk sesuatu yang tidak begitu penting.
"Gila! Elo kalo mau jitak kira-kira tempat ngapa. Hampir oleng nih gue."
"Elo pakek beha, El? Anjir!"
"Emang lo tahu kepanjangan **, Nap?" Nafla memutar bola matanya malas. "** itu Bakpao Hangat. Mangkanya tu otak sekali-sekali di laundry!" sahut El kemudian terkekeh puas.
"Baiklah Bapak Haji, jama'ah menurut saja apa kata Pak Haji."
"Nih! Gue bawain bakpao. Ada rasa coklat, rasa stroberi, rasa keju, rasa yang tertinggal, rasa yang pernah ada, rasa masih ingin memiliki, rasa yang tak biasa, dan rasa sayange rasa sayang-sayange hey kulihat dari jauh rasa sayang-sayange." El menyodorkan sekotak bakpao kepada Nafla.
"Ambil, oy! Diem aja."
Nafla buru-buru menerima pemberian El itu. "Makasih, Ridho Rhoma."
"Iye. Tapi besok beliin martabak, ya. Gentian." Nafla mengiyakan saja, ngecilin bala.
"Yaudah turun, gih. Gue mau pergi."
"Kemana? Minjem HP lo. Save nomor gue." Nafla mengambil ponselnya yang ia tinggal di atas kasur lalu menyerahkannya pada El. Ia menyuruh El menyimpannya sendiri.
"Gue mau latian sama Mae."
"Latian apa, Jenap?"
"Tapak suci. Udah ya. Ntar gue telat."
"Gak nyangka gue."
"Bacot lu ye! Dah, gue tutup." Nafla segera menutup jendelanya.
Sampai lebaran rayap pun tak akan selesai jika meladeni ocehan El. Sebelum Nafla menutup jendelanya dengan rapat, El menawarkan diri untuk mengantar Nafla. Nafla menolak, karena ia akan bawa motor sendiri.
Seusai bersiap-siap, Nafla menjalankan motornya ke rumah Maemunah. Ia menjemput sahabatnya dahulu, kemudian pergi ke tempat latihan tapak suci.
Nafla terlihat sangat malas latihan hari ini, karena ia pasti bertemu Galih di sana. Galih juga ikut keilmuan pencak silat yang berlandaskan al-islam itu. Biasanya mereka berangkat bertiga; Nafla, Galih, dan Maemunah---yang menjadi obat nyamuk. Tapi, mengingat crazy couple itu masih perang dingin, Nafla hanya berangkat berdua dengan Maemunah.
Sesampainya di sana, Nafla memarkirkan motornya di lapangan parkir dekat pintu masuk, agar tidak terlalu jauh berjalan nanti. Saat akan menuju lapangan tempat mereka akan latihan, mata Nafla sudah menangkap sosok Galih yang melambai tangan ke arahnya.
Namun, Nafla tidak memperdulikannya, ia melengos kemudian duduk di bawah pohon, menjaga jarak dari Galih. Galih yang tumben peka pun langsung menghampiri Nafla. "Masih marah?" Nafla lantas diam, tidak mau menjawab.
"Maaf, tadi gak pulang bareng," lanjut Galih.
Nafla masih diam, seolah menganggap omongan Galih itu hanyalah angin lalu. "Gue bakal jelasin semuanya. Pulang dari latian, kita harus selesain semuanya."
Selanjutnya mereka mulai latihan tapak suci dengan beberapa gerakan-gerakan dasar, setelah pemanasan tentunya. Untuk hari ini, jurus katak melempar tubuh diperagakan oleh tiap peserta secara bergantian.
Latihan tapak suci hari ini memakan waktu dua jam. Selesai latihan, Nafla menyuruh Maemunah membawa motornya. Karena ia dan Galih akan pergi ke cafe yang tak jauh dari tempat mereka semula.
Sesampainya di sana, tanpa basa-basi Galih mulai berusaha menjelaskan semuanya. "Tadi Leona nangis-nangis lagi ke gue." Nafla diam saja membiarkan Galih terus menjelaskan.
"Elo diem? Oke elo masih marah. Gue jelasin semuanya dari awal." Nafla masih bergeming.
"Waktu itu, gue ngeliat Leona disiksa oleh ayahnya. Bukan di rumah, tapi di pinggir jalan. Dia di cambuk pakai ikat pinggang. Ayah macam apa yang tega nyiksa anaknya kayak binatang ... gue bukan mau sok pahlawan, tapi gue gak tega ngeliat cewek digituin." Nafla memang diam, tapi dia serius mendengarkan penjelasan Galih.
"Ayahnya Leona itu sopir Bokap gue. Saat ayahnya ngeliat gue mergokin dia, dia langsung berhenti. Dia langsung mohon supaya gak ngaduin hal ini ke Bokap gue. Dia takut dipecat. Ya, gue setuju asal dia janji gak nyiksa anaknya lagi." Nafla tetap diam mencoba percaya.
"Elo pasti mau nanya kenapa Leona bisa tahu rumah gue? Iya?" Nafla tersentak, Galih cukup peka mengenai hal itu.
"Masalah itu, gue gak tahu, Naf. Karena tiba-tiba aja dia udah di rumah gue sambil nangis-nangis."
"Dan kalo pulang sekolah bareng, dia sendiri yang minta tebengan," jelas Galih lagi.
"Kenapa elo gak ngajakin gue pulang bareng dan elo diem aja pas cewek itu numpang di mobil lo?" Nafla mulai mengeluarkan suara.
"Biar elo rindu," kekeh Galih.
"Basi, Lo!"
"Tadi itu, dia tahu-tahu masuk mobil gue sambil nangis-nangis, gimana gue mau nolaknya. Makanya kalo ada apa-apa itu dibicarain, ditanyain dulu, dengerin dulu penjelasannya, jangan langsung kabur di saat masalah itu belum selesai." Galih mulai ceramah.
"Elo juga kayak gak ada niatan buat ngejelasin gitu. Maunya nunggu gue keluar taring sama tanduk dulu!" kilah Nafla tak mau kalah.
"Iye, cowok selalu salah. Kamuuuu yang jadi juaranya."
"Elo harus selalu inget, Gal. Kepercayaan itu mahal. Saat ini gue percaya sama elo. Tapi gue gak tahu besok-besok."
"Iya, Sayang." Galih mengacak rambut Nafla. "Saat gue nebengin Leona pulang, gue tahu, Mae ngeliat gue. Gue sengaja, gue cuma mau ngeliat reaksi elo, Naf. Gue pingin elo keluarin semua yang ada di hati elo. Jangan elo pendem sendiri. Jangan diem aja. Masalah itu dihadapi bukan diketeki. Dan kalo ada sesuatu yang ingin lo tanyain, tanyain aja. Ungkapin semuanya."
"Mau pulang. Mau ngompres kuping pake es batu. Kuping gue kayak berasep dengerin lo ngoceh," ujar Nafla seraya mengusap-usap telinganya.
"Dibilangin juga. Yok balik."
---CRAZIER---
LINE
Galih
Beb
Ek
Bebek
P
P
P
Kok ga di read
Msh gue liatin ya
Woy
P
P
Yang
Penting
Read dong
Bles
Gue itung ya
1
2 45678910
3 nya mana yang?
Nanya sendiri jwb sndri
3 nya sengaja ga gue anuin
Ambugu syalan
Ambigu
Typo
Karena gue ga mau ada orang ke3 diantara kita
Receh anjir
Masih idup kan?
Kalo mau mati, bareng dong, jgn dluan
Gua ngomong sama syp njir
Nafla
BERISIK! NYAI LAGI MIJET
Galih
eh gue kira mati
Nafla
Anjing❤
Galih
Babi❤
Nafla
Ngapa njing?
Galih
Mau ngasih liat produk baru
Nafla
-_________-
Galih sent a photo (Foto selfie Galih dengan bibir merahnya)
Liptint gue mantep kan
Nafla
Najis
Galih
Loveyoutoo
Nafla
Leher lu dakian, tai
Galih
Lu ngapain ngeliat leher gue,
gue kan mau nunjukin bibir
Nafla
Bodoamat ya
Galih
Gue sayang elo naf
Nafla
I know
Gal?
Nafla
Lih?
Nafla
Lobang?
Nafla
Gal kok lama sih blesnya, td aja nyuruh gc
Gal
P
P
P
Njir
Kutu bunting
Rayap disunat
Huft
Yaudahlah
Besok jemput ga? Gue ga mau breng el
Keteknya bau
Gal
Gue tidur ya
Udh mlem
Bhay❤
Galih
Iya leona
Nafla hanya melihat balasan chat dari Galih melalui status bar ponselnya. Ia sengaja tak mau membukanya. Rasanya sungguh sakit tapi tak bernanah. Kalian pasti bisa merasakan ketika luka tak lagi berdarah, luka itu sudah bernanah.
Satu hal yang Nafla ketahui sekarang bahwa, Nafla bukan lagi satu-satunya orang yang memenuhi pikiran Galih. Dan satu harapan Nafla, semoga hati Galih tidak terbagi.