Martabak Har

1590 Kata
"MAMAAAAAA! DUIT NAFLA ILANG LAGI!" teriak Nafla membahana. Mamanya yang sedang asik masak sayur asem, jadi kebanyakan menuangkan garam karena kaget mendengar teriakan anaknya. Nafla yang berada di kamarnya lalu berlari ke dapur menghampiri ibunya. "Ma, duit Nafla ilang. Duit dari hasil kerja keras Nafla ilang, Ma. Ilang lagi. Ilang terus." "Kerja keras apa? Duit jajan aja sok-sok an kerja keras." Mamanya masih berpikir bagaimana agar sayur asem yang dimasaknya tidak keasinan. "Nafla susah ngumpulinnya. Nafla jajan sedikit buat ngumpulin duit itu." "Kamu simpen di mana?" "Di bawah kasur, Ma. Udah Nafla jampe-jampe masa." "Simpen di bank, jangan bawa kasur. Tuyul mungkin atau babi ngesot yang ngambil," jawab Mamanya seraya menambahkan air ke masakannya. Itu satu-satunya cara agar sayur asemnya tidak keasinan. Nafla mendengus panjang, "Dia di mana?" "Dia siapa, Sayang?" Sayur asem dengan air segudang pun selesai dimasak. "Suami Mama." Mama Nafla segera mematikan kompor kemudian menatap Nafla lekat-lekat. "Suami Mama itu Papa kamu, Nak. Kesel boleh, tapi jangan sampe gak mau nyebut Papa gitu ah. Mama gak suka." "Seorang Papa gak mungkin maling duit anaknya." "Nanti mama tanyain Papa kamu. Gak boleh su'udzon gitu, Nak. Gak baik ... nanti mama gan---" "Ganti? Mau berapa kali lagi duit Nafla ilang, terus Mama yang susah-susah gentiin?" Nafla berdecih, "enak banget yang ngambil." Nafla kalau lagi kesal memang tidak bisa diprediksi. Mama Nafla tak sempat menyela ucapan anaknya, karena Nafla terus berbicara tak membiarkan Mamanya mengeluarkan suara. "Mau sampai kapan begini terus? Sampe rumah ini disita? Mama harus tegas. Mama jangan mau diperlakukan semena-mena. Mama susah payah kerja. Sedangkan suami Mama enak-enakan ngabisin uang Mama. Nafla diem karena Nafla tau batasan, tapi kalo gini terus ... maaf, Ma ... Maafin Nafla kalo nanti Nafla akan terlihat kurang ajar." Mendengar kalimat terakhir anaknya itu, Mama Nafla mulai meneteskan air matanya yang susah payah ditahannya sejak tadi. Nafla menyeret kursi meja makan untuk Mamanya duduk. "Maafin Nafla, Ma. Nafla gak bermaksud buat Mama sedih." Nafla jadi merasa bersalah. Ia duduk di dekat kaki Mamanya seraya menggenggam tangan Mamanya. Mama Nafla masih terisak, duduk di kursi itu. "Mama bertahan karena Mama mikirin kamu, Nak." Detik itu juga Nafla memeluk Mamanya erat. Menumpahkan segala kekesalan dan kesedihannya. Kejadian seperti ini bukan terjadi sekali dua kali, tapi, sudah berkali-kali. Semenjak perusahaan Papa Nafla mendadak bangkrut karena ditipu saudara sendiri sepuluh tahun lalu, Papa Nafla jadi sering mabuk-mabukkan dan seringkali main perempuan. Papa Nafla memang jarang di rumah. Ia hanya akan pulang jika uangnya sudah habis. Papa Nafla banyak berhutang pada orang lain hanya untuk menyenangkan dirinya dan perempuannya itu. Sehingga, Mama Naflalah yang harus pontang panting membayar hutangnya. Maka dari itu, Nafla sangat benci sekali dengan minuman keras, rasanya ia ingin menghancurkan pabrik pembuatan minuman keras pakai roket milik terntara Israel. Minuman keras membuat Papanya berubah. Nafla sering melihat Mamanya pura-pura tidur padahal ia menahan tangis, menahan perihnya kehidupan. Dari luar seolah baik-baik saja padahal dalamnya hancur berkeping-keping. Selalu tertawa untuk menutupi setiap kesedihannya. Terlihat bahagia agar tak membebankan anaknya. Nafla benci minuman keras. Nafla benci pemabuk. Nafla benci ... ...Papanya. ---CRAZIER--- Keesokan hari setelah Galih salah menyebut nama Nafla waktu itu, mereka sempat perang dingin berhari-hari. Dan hari ini adalah hari ketiga---malam kedua mereka saling diam-diaman. Untung saja baru tiga hari, karena kata Mamah Dedeh tidak boleh lebih dari tiga hari. Tepatnya Nafla yang ingin menjauh. Nafla hanya ingin Galih menyadari kesalahannya. Menyadari bagaimana rasanya tidak diperdulikan. Menyadari bagaimana rasanya didiamkan. Menyadari bagaimana rasanya tidak diprioritaskan. Galih sudah berusaha menjelaskan dengan berbagai alasan dan seperti biasa, Nafla hanya diam mendengarkan. Nafla memaafkan, tapi Nafla tidak melupakan. Silahkan kalau kalian menganggap ini masalah sepele--hanya karena salah sebut nama saja seolah menjadi masalah besar. Tapi perlu kalian tahu, salah sebut nama itu TTS, Tanda-Tanda Selingkuh. Waspadalah! "Di mana lo?!" Nafla menelpon Galih yang sedari tadi belum juga menunjukkan batang hidungnya. Hari ini mereka janjian bertemu untuk menyelesaikan masalah mereka setuntas-tuntasnya. Nafla memang sengaja menyuruh Galih tidak menjemputnya, ia pergi diantar Mamang ojek online. "Di jalan. Tunggu, ya," jawab Galih santai. "Gue udah dua jam di sini. Elo naik kupu-kupu atau lalet?!" tanya Nafla sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. "Iya, Sayang. Bentar lagi nyampe." Nafla langsung menutup teleponnya. Baiklah, Nafla akan menunggu Galih. Nafla yakin Galih akan datang. Galih tidak akan ingkar janji lagi. Galih pasti menepati janjinya. Galih pasti datang, Nafla meyakini itu. Hingga detik demi detik berlalu. Menit silih berganti. Waktu begitu cepat berputar. Kafe yang tadinya ramai dipadati pengunjung, mulai sepi. Para pengunjung mulai membubarkan diri. Sekarang, hanya tersisa satu orang pengunjung---Nafla. Brengsek! Nafla berjalan ke luar kafe dengan rasa sesak di d**a. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak mau menangis. Air matanya terlalu mahal hanya untuk menangisi orang seperti Galih. Nafla melangkahkan kaki jenjangnya ke halte bis depan kafe hendak menunggu bis di sana. Inginnya memesan ojek online lagi, tapi ponselnya mati karena kehabisan baterai. Ingin naik taksi, tapi sayang duitnya. Malam semakin meninggi, Nafla sedikit tidak yakin akan ada bis yang lewat. Ia memang sengaja tidak membawa motor karena ia yakin masalahnya dan Galih akan selesai hari ini dan mereka akan baikan seperti sedia kala. Tapi apa daya tangan tak sampai. Tin tiiiiin Suara klakson motor mengalihkan pandangan Nafla. "Oy, Tetangga!" Nafla melengos, pura-pura tidak mendengar panggilan itu. El mematikan mesin motornya, "Woy, Tetangga!" Nafla pura-pura tuli. "Ya Allah, semoga Jenap tuli beneran. Aamiin." Do'a El setengah bercanda. "s****n, Lo!" "Ngapain di sini?" "Mau ngukur jalan!" jawab Nafla asal. "Gue bawa mistar. Mau minjem?" tawar El. "Mistar lo dari besi?" El mengangguk. "Boleh buat bocorin pala lo aja, gak?" Mata El memicing, memperhatikan tetangganya itu, "Lo kenapa?" "Gapapa." El cukup tahu kalau gapapa perempuan itu artinya ada apa-apa. Almarhum Ibunya yang mengajarkan hal seperti itu. "Makan martabak, yok, Nap!" Tanpa pikir-pikir, Nafla menurut saja. Ia juga lagi malas pulang ke rumah. Malas melihat Papanya yang saat ini pasti baru pulang dengan keadaan mabuk. Motor El membelah jalanan kota Pangkalpinang. El mengajak Nafla makan di warung martabak har pinggir jalan. Selain murah, rasanya kayak ada telur-telurnya gitu. "Telor ayam apa bebek?" tanya El setelah mereka memilih tempat duduk. Nafla pilih telur bebek. Ia memilih martabak har spesial yang paling termahal di warung ini. Kapan lagi morotin tetangganya yang menyebalkan itu. "Gue telur puyuh aja," ucap El. Sambil menunggu pesanan datang, El memperhatikan Nafla yang sibuk memainkan ponselnya. Terlihat sekali air muka perempuan di depannya ini sangat keruh. Kata gapapa yang keluar dari mulut Nafla tadi semakin menguatkan dugaan El bahwa tetangganya itu sedang ada masalah. El tidak akan menanyakannya, El hanya akan berusaha membiarkan Nafla bercerita sendiri. Ia tidak akan menghujani Nafla dengan rentetan pertanyaan. Lagian, dia siapa? Hanya seseorang yang menjabat sebagai tetangga bersarung---yang baru seumur jagung. "Naf, tebak ya ... Naiknya cepet, turunnya lama, apa itu?" El menaik-turunkan alis tebalnya, mengajak Nafla main tebak-tebakan. "Gak tau," Nafla menjawab dengan malas. "Ingus. b**o, Lo!" "Kita lagi mau makan, Pea! Pakek ingus dibawa-bawa." El tersenyum senang, Nafla yang ketus mulai kembali. "Coba apa bedanya aksi dengan demo?" El memberi tebakan lagi. "Kalau aksi rodanya empat, kalau demo rodanya tiga ... kreatif dong. Jangan buka google!" ketus Nafla lagi. El semakin melebarkan senyumnya. "Contohin!" sahut El. Nafla mengingat-ingat, "Kodok apa yang loncatnya lebih tinggi dari Jembatan Ampera?" Jembatan Ampera adalah icon Kota Palembang. Jembatan yang membelah sungai musi menjadi bagian hulu dan hilir. El nampak berpikir sejenak. "Nyerah!" "Semua kodok bisa, b**o! Kan Jembatan Ampera gak bisa loncat." Nafla terkekeh puas sambil menepak-nepak meja. "s****n! Tebakan macam apa itu. Gue sok-sok an mikir segala lagi." "Lagi nih ye. Mana kalimat yang benar! Anak yatim itu dipukuli ayahnya atau anak yatim itu memukuli ayahnya?" Nafla melemparkan tebakannya lagi. "Nilai bahasa Indonesia gue gak lebih dari empat, Nap." Nafla terbahak, "Lo emang b**o ya, El. Sejak kapan anak yatim punya ayah?" Nafla semakin tertawa puas melihat ke-telmi-an El ini. "Eh iya." El ikut tertawa bersama Nafla. "Sinting!" Nafla mengumpat di akhir tawanya. "Elo ada masalah sama Galih?" Mulut El gatal ingin bertanya. "Mulai deh, lambe turah. Kepo, Lo!" "Ada apa?" "Gue gapapa. Udah ah. Makan yok." Pesanan mereka sudah tersaji di atas meja setelah diantar sendiri sama sang koki. Mereka mulai menyantap makanan berupa martabak yang digoreng, yang di dalamnya berisi telur (ayam/bebek), yang kemudian disajikan bersama kuah kari berisi kentang dan rempah-rempah. Mereka tidak berisik seperti tadi. Dua orang itu hanya diam sambil mencoba menghabiskan martabak har mereka. "Naf?" panggil El seraya meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Martabak har-nya sudah ludes masuk ke lambung. Sementara Nafla masih berusaha menelan sisa-sisa martabak har-nya. Porsinya cukup besar dengan empat telur bebek. "Apa?!" Nafla menyuapkan sendokan terakhir martabak har-nya. "Lo yang traktir kan?" "Kan elo yang ngajak, Ridho Rhoma!" El memang gila, membuat Nafla tidak habis pikir. "Gue gak bawa duit. Elo kan janji mau beliin martabak kemaren." El terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Memang b*****t lo ye!" "Bayar gih! Gue tunggu di luar ya." Saat ini Nafla ingin sekali menyetrum tetangganya itu. El duduk di atas motor menunggu Nafla---yang sedang kesal sambil mengumpat---membayar martabak har-nya. El memang tidak bawa dompet. Tadi ia disuruh membuang sampah ke TPA. Sepulangnya, ia melihat Nafla duduk di halte sendirian. "Udah, Nap?" "Udah!" "Cebok kalo udah!" Nafla menjambak jambul cowok itu. "Berantakan jambul gue, Jenap! Ayo naik!" Nafla menurut. Mereka mulai meninggalkan warung martabak itu.  Jangan liat, Naf, jangan liat, harap El dalam hati ketika mobil kodok lewat bersamaan dengan motornya yang keluar dari parkiran warung martabak. Kaca mobil itu terbuka, menampilkan dua orang yang sedang asik mengobrol. Bersamaan dengan harapan El yang terucap di dalam hati, air mata Nafla menetes seketika. Nafla tak bisa lagi membendungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN