Kartu Hitam Sakti

1297 Kata
"Nggak tahu deh ya, tiap ketemu sama kamu tuh bawaannya pengen ngehujat terus! Kamu adalah salah satu kenangan terburuk buat keluargaku, khususnya buat Kak Alvin!" Alda masih asyik mengoceh. Yasmin sebenarnya sudah terbiasa, tapi dia merasa tidak enak karena ini adalah tempat umum, terlebih saat ini Yasmin datang bersama Je. Je masih menyimak dari kejauhan, dia belum mengambil tindakan. "Mau aku atau kamu yang keluar dari sini?" tanya Yasmin. "Diiih! Sadar diri dong! Ya kamu lah! Ngapain juga kamu di sini? Sok sok an milih-milih ngintipin price tag!" Yasmin menoleh ke belakang ke arah Je berada. Yasmin baru sadar kalau Je sedang memperhatikan dirinya dari tempatnya berdiri yang berjarak sekitar 10 meter dari tempat Yasmin dan Alda berada sekarang. Yasmin tidak tahu apa yang Je pikirkan. Yasmin tadinya ingin memberi tahu pada Je kalau dirinya akan menunggu di luar toko, tapi Yasmin takut Je marah karena sejak awal pun, Je seolah tak ingin ketahuan sedang jalan bersama dengan Yasmin. 'Aku keluar aja deh, nggak usah bilang sama Mas Je, dia pasti malu kalo aku bicara sama dia.' pikir Yasmin lalu dia ke luar dari toko tanpa berkata apa-apa lagi. "Huuu! Orang udik nggak pantas ada di sini!" Alda lanjut menyoraki saat Yasmin berjalan melewati dirinya. Je masih mengawasi, Je tidak tahu pasti ada apa dengan Yasmin dan Alda? Je ingin abai tapi hatinya penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Alda merasa menang, dia melanjutkan tujuannya untuk berbelanja, kala itu ia ditemani oleh temannya yang bernama Resty. "Mantan iparmu, kan? Dia cantik kok, kenapa sih kamu masih aja manggil dia si buluk?" tanya Resty. "Cantik sebelah mananya, Res? Please deh! Cantik kalo dilihat dari puncak monas pake sedotan boba, yekaan? Ha ha ha," sahut Anda dengan gelak tawa cirikhasnya. "Ya emang sih, standar cantik orang-orang jaman sekarang tuh kalo wajahnya glowing, dandan menor, pake baju bagus, barang branded. Pandangan cantik orang-orang berbeda kan? Nah kalo menurutku, mantan Kakak Iparmu itu emang cantik, cuma perlu dipoles aja dikit." "Kamu ini gimana sih? Kok malah belain si buluk?" "Nggak belain, beb. Lebih ke berpendapat sih, dan itu pendapatku. Lagian ini tempat umum, kesian lho tadi dia jadi malu karena kamu." "Bodo amat! Nggak puas rasanya kalo ketemu dia nggak ngasih sapaan manis kayak tadi." "Huh, kamu ini ...." Diam-diam Je juga mendengarkan percakapan di antara Alda dan Resty. Yang satu sangat apatis dan yang satu lagi masih memiliki nurani. Untuk saat ini, Je memang tak bisa unjuk diri untuk membela Yasmin sebab dirinya belum benar-benar siap. Padahal Je sudah merasa gatal ingin memberikan sedikit pelajaran untuk mulut usil si Alda. 'Gue tandai lo!' ujar Je dalam hati dan dia menandai sosok Alda. Dia memiliki rencana untuk membantu Yasmin membungkam Alda. Entah apa rencana Je. Je segera membawa semua baju pilihannya ke meja kasir untuk dibayar. Sang Kasir agak meragukan Je, Je datang ke meja kasir dengan seabreg belanjaan sementara Je tampil misterius dengan topi, kacamata hitam dan masker. "Ma-maaf, apa Anda akan membayar ini semua?" tanya Kasir itu agak takut. "Ya." "I-ini semua? Semuanya?" "Ya! Cepat hitung semuanya, berapa yang harus saya bayar!" Kasir itu melirik pada rekannya lalu sedikit berbisik-bisik. Keduanya seperti tak percaya kalau sosok Je bisa membayar tagihannya nanti. "Mampu bayar nggak nih?" "Entah! Mana orangnya sok misterius begini?" "Iya, gimana dong? Takutnya nanti dia bawa barangnya dan kabur sebelum menyelesaikan transaksi." Je mengerutkan dahinya dan sungguh ia tersinggung dengan kelakuan para kasir di depannya. Je merasa tidak dihargai. "Kenapa malah bisik-bisik?" Tatapan super tajam lengkap dengan suara rendah Je terasa mengintimidasi. "Ma-maaf, Mas ...." "Kalian takut saya nggak bisa bayar semua barang yang sudah saya pilih itu? Berapa saya harus membayarnya?!" "Perhitungan kasar, Anda kira-kira harus membayar sekitar 12 juta rupiah," jawab si kasir tidak lantas memasukan belanjaan Je ke dalam sistem. Hanya menghitung secara kasar. "Oh, cuma 12 juta?" kata Je dengan sikap yang pongah karena kesal. "Ada apa ini?" Manager toko datang menghampiri, manager itu merasakan ada ketegangan di area kasir. "Anda siapa? Anda Bos mereka?" tanya Je lalu menunjuk pada 2 kasir yang mencari masalah dengannya. "Iya, betul. Saya manager toko ini, ada yang bisa saya bantu?" tanya si Manager yang bersikap lebih sopan. "Saya mau bayar beberapa pakaian murah itu! Tapi karyawan Anda malah berbisik-bisik seolah meragukan kalau saya nggak akan mampu bayar!" Je sangat marah dan bicara lantang sehingga dirinya menjadi pusat perhatian saat ini. "Maaf atas ketidaknyamanan ini, mari biar saya bantu. Saya akan menghitung total belanjaan Anda, silakan." Sang Manager menggeser para Kasir yang seketika kuyu karena suara lantang Je. Manager itu menjumlah semua belanjaan Je dan merapikannya hingga terkemas rapi di dalam paperbag-paperbag cantik berlogo outlet fancy itu. Je masih kesal dan menandai kedua kasir yang telah membuatnya tersinggung. "Totalnya 12.599.000 rupiah, Pak." Je mengeluarkan kartu sakti dari dalam dompet. Sebuah Black card Platinum yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Kartu kredit tanpa limit itu membuat Sang Manager dan kedua kasirnya melongo kaget. Mereka tak menyangka kalau pria bergaya sok misterius itu ternyata bukan orang sembarangan. "Jean Saga Gentala?" Manager itu mengeja nama Je yang tertera di Black card-nya itu. "Ya! Itu saya!" "Anda cucu dari tuan Gentala?" "Ya!" "Maafkan para karyawan saya, maaf sekali lagi. Mereka tidak tahu kalau Anda adalah cucu dari pemilik bangunan Mall ini, maafkan kami sekali lagi." Manager itu meminta maaf berulang kali pada Je. Bukan hanya para karyawan saja, tapi para pengunjung di sana ikut melongo setelah mengetahui siapa Je. "Cepat selesaikan transaksinya! Dan saya minta, minimal beri surat peringatan untuk 2 kasir Anda itu!" Je mengultimatum. 2 kasir itu semakin segan dan ketakutan. Penyesalan tergambar jelas di wajah-wajah mereka. "Saya akan memperingatkan mereka, saya akan pastikan mereka tidak akan melakukan hal yang sama lagi untuk menjaga Value bisnis Mall milik keluarga Anda ini, Tuan." Alda menyimak keributan itu dan diam-diam merekamnya. Sosok Je siap diviralkan sebagai pria yang diremehkan ternyata sultan. "Husband material banget ya! Belanja baju sebanyak itu terus bayarnya pake black card! Gila! Siapa orang itu? Jadi pengen lihat wajahnya, apa sekeren isi dompetnya juga?" celoteh Alda. Yang Alda tidak tahu, Je adalah pria yang akan segera menjadi suami Yasmin. Entah bagaimana reaksinya andai nanti Alda tahu siapa Je yang sebenarnya. "Sekali lagi maafkan kami atas ketidaknyamanannya, tuan!" Je tidak peduli, Je melenggang pergi dengan 4 paperbag di tangan dan keluar dengan hati gusar. Andai itu bukan Mall milik sang Kakek, pasti dia akan mengajak seluruh anggota the Flamous untuk menciptakan huru hara sebagai peringatan. Keluar dari toko itu, Je langsung mengedarkan matanya sejauh ia bisa menjangkau ke setiap sudut Mall untuk mencari sosok Yasmin yang pergi entah kemana. Setelah dicari dengan seksama, Yasmin menunggu agak jauh untuk menghindari Alda. "Huh, bener-bener bikin repot!" gerutu Je lalu berjalan menghampiri Yasmin. Yasmin kaget dengan banyaknya belanjaan yang Je tenteng. Apakah itu semua untukku? Pikir Yasmin benar-benar tak percaya. "Malah mojok di sini!" olem Je ketus. "Ma-maaf, Mas ...." "Sekarang kita ke salon!" "Ha? Salon?" "Nggak usah kaget begitu! Kamu butuh make over! Seenggaknya perbaiki gaya rambut kamu, biar nggak membosankan kayak gitu!" Yasmin pasrah lagi. Untuk selanjutnya, Yasmin mengikuti langkah Je menuju ke klinik kecantikan merangkap salon yang biasa dikunjungi mantan kekasihnya Je beberapa waktu yang lalu. Je berharap kalau Yasmin juga akan glow up setelah menjalani treatment dan make over dari salon mahal itu. "Selamat siang, selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" Je dan Yasmin disambut baik oleh pegawai klinik itu. "Beri dia full treatment dari ujung kaki ke ujung kepala! Saya akan kembali 3 jam kemudian!" pinta Je. "Silakan, ikut saya Mbak, sebelah sini ...." Kali ini Yasmin diperlakukan dengan baik. "I-iya, Ta-tapi ...." Yasmin masih saja terlihat kebingungan. "Jangan banyak protes! Jangan banyak tanya! Biarkan mereka melakukan tugas mereka dengan baik. Aku jemput kamu 3 jam lagi." Je malah pamit dan pergi. Yasmin tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan sekujur raganya setelah dimake-over nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN