"Silakan, Tu-"
Baru saja Yasmin akan memanggil tuan Gentala dengan sapaan tuan, tapi tuan Gentala langsung memberi ultimatum dengan tatapan mata tanda teguran.
"Hm, maksudn saya ... Kek ... silakan ...." Yasmin mengubahnya dengan sebutan 'Kek' kembali seperti yang tuan Gentala inginkan.
"Terima kasih, Yasmin."
"Iya, Kek."
Yasmin menyajikan 2 cangkir teh panas di atas meja. Yasmin membawa nampan itu dengan satu tangan dan itu bukan masalah besar untuknya.
"Tangan kamu kan terluka, nggak usah repot-repot bawakan kami minuman, Yasmin."
"Nggak apa-apa kok, Kek. Saya masih bisa menggunakan tangan yang satunya."
Yasmin menghandle itu karena dia tahu kalau Sang Bibi sedang menikmati keterkejutannya sehingga menjadi sedikit tidak peka. Atik masih stuck dengan kedatangan tuan Gentala.
"Setelah ini bersiaplah, Je akan mengajakmu untuk berbelanja," kata tuan Gentala membuat Yasmin kembali merasa diberi kejutan bertubi-tubi.
"Be-belanja?"
"Iya, dia akan membantu kamu memilih pakaian yang bagus-bagus, bersiaplah!"
Yasmin melirik ke arah Je, Je hanya duduk malas dengan mimik wajah super bete. Tapi kemudian Yasmin melirik ke arah Atik, Atik memberi senyum dan anggukan sebagai tanda dukungan.
"Aku tunggu di mobil!" putuskan Je dan bersiap untuk beranjak.
"Ya sudah kalau kamu maunya menunggu di mobil."
"Permisi."
Je pergi dan memutuskan untuk menunggu di mobilnya. Je merasa bosan berada di rumah petak Atik yang bahkan tak lebih luas dari ruang kamarnya.
"Tapi, Kek ... sepertinya Mas Je kurang berkenan dengan rencana Kakek," ucap Yasmin dengan suara pelan begitu Je berlalu dari pintu.
"Jangan hiraukan dia, dia memang begitu. Tunjukkan pesonamu, Yasmin. Buat dia jatuh cinta padamu, tuntun dia pada kehidupan yang lebih baik." Tuan Gentala menatap Yasmin dengan sorot mata penuh harap.
Yasmin tidak terlalu paham apa maksudnya, tapi entah kenapa tuan Gentala begitu yakin kalau Yasmin memang pantas bersanding untuk sang cucu yang memiliki standar tinggi dalam memilih pasangan.
"Jangan biarkan Je menunggu lama, bersiaplah." Ingatkan Tuan Gentala sekali lagi karena Yasmin hanya diam merasa tidak yakin pergi berbelanja dengan Je.
"Baik, Kek."
Yasmin pergi ke kamarnya untuk bersiap. Yasmin akan mengenakan pakaian terbaiknya agar sedikit mengesankan Je.
Atik masih speechless, sejak kedatangan tuan Gentala dan cucunya yang tampan beberapa saat lalu, Atik lebih banyak diam dan bengong. Atik benar-benar tertohok dengan tujuan utama kedatangan sang Miliarder.
"Perkenalkan, saya Gentala dan yang tadi adalah cucu saja, Jean." Pertama-tama, Tuan Gentala memperkenalkan diri.
"I-iya, Pak. S-saya Atik, Bibinya Yasmin, adik kandung dari mendiang ayahnya Yasmin." Atik balas memperkenalkan diri dengan suara agak terbata saking gugupnya.
"Orang tua Yasmin sudah meninggal, benar begitu?"
"Benar, Pak. Sudah meninggal sejak Yasmin kecil, saya dan mendiang ayah saya lah yang membesarkannya. Sayangnya ayah saya yang mana adalah Kakeknya Yasmin juga sudah meninggal beberapa Tahun yang lalu, jadilah dia tinggal bersama saya saat ini." Atik menjelaskan cukup detail.
"Begitu ya?"
"Iya, Pak."
"Semalam, Yasmin telah menyelamatkan nyawa saya. Entah apa yang akan terjadi andai saja Yasmin tidak datang menolong saya. Luka sayat di tangannya adalah bukti pengorbanannya kepada saya," tutur tuan Gentala, menceritakan sedikit tentang peristiwa semalam.
"Yasmin memang menceritakan apa yang terjadi semalam, tapi tidak menceritakan kalau hari ini Anda akan datang. Maaf saya tidak bisa menjamu Anda dengan baik."
"Tidak apa-apa, tidak usah repot-repot. Semuanya serba dadakan kok, saat ini, Anda adalah keluarganya yang tersisa, oleh sebab itu saya perlu membicarakan ini pada Anda. Jangan cemas, saya pastikan hidup Yasmin akan terjamin setelah menikah dengan Je nanti."
Tentu saja Atik percaya dengan jaminan dari tuan Gentala. Atik pun berharap demikian.
Terlintas di pikiran Atik kalau Yasmin harus membalaskan kecurangan keluarga Hutama. Atik percaya kalau tuan Gentala adalah orang baik yang akan mengangkat harkat derajat Yasmin.
"Jadi bagaimana? Persetujuanmu akan mempermudah dan mempercepat proses pernikahan mereka," tanya tuan Gentala untuk memastikan.
"Demi kebahagiaan dan demi kebaikan Yasmin, tentu saja saya setuju. Tapi masalahnya, Yasmin baru saja diceraikan oleh suaminya, apakah cucu Anda tidak mempermasalahkan itu? Ditambah lagi, Yasmin tidak secantik wanita lain yang lebih pantas bersanding dengan cucu Anda. Apa kelak, orang-orang tidak akan berpikiran kalau Yasmin dan saya adalah orang-orang yang naif?"
Tuan Gentala tersenyum mendengar keragu-raguan Atik, "Yasmin akan menjadi istri yang tepat untuk, Je. Saya yakin itu!"
Atik lega. Atik berharap kalau ini akan menjadi awal yang baik untuk kehidupan Yasmin.
*
*
Je mengajak Yasmin pergi ke sebuah Mall elit. Yasmin sampai keder berjalan mengikuti langkah Je.
Je sengaja menyamarkan dirinya. Memakai topi baseball, menurunkan topi itu lebih dalam agar menutup separuh wajahnya. Tak lupa ia juga memakai kaca mata hitam dan masker. Tak seorang pun bisa melihat wajah tampannya.
Je melakukan itu untuk berkamuflase kalau-kalau nanti ada teman yang mengenalinya.
Sementara Yasmin?
Yasmin memakai dress vintage bunga-bunga yang sudah cukup tua peninggalan ibunya. Dia mengepang rambutnya agar tidak acak-acakan, seulas bedak dan hanya itu saja.
Jika tidak dipoles, Yasmin memang belum mampu menunjukkan pesonanya. Dia tak memiliki waktu dan anggaran untuk memantaskan diri seperti kebanyakan para wanita hari-hari ini.
Jangankan membeli skincare atau produk perawatan tubuh yang mahal, membeli pakaian pun hanya bisa dihitung jari selama hidupnya.
Kakeknya Yasmin telah menukar hartanya di masa lalu pada Kakeknya Alvin. Bisa jadi, Alvin bersedia dinikahkan dengan Yasmin karena merasa berhutang pada Kakeknya Yasmin puluhan Tahun yang lalu.
Tapi apa yang Alvin lakukan pada Yasmin? Bukannya memuliakan Yasmin, Alvin malah menghinakan Yasmin dengan pengkhianatan dan perlakuan yang sangat buruk.
Je menoleh pada Yasmin yang masih berjalan menjaga jarak di belakangnya, "Aku yang pilih! Jangan protes! Biar kamu tahu bagaimana harus berpakaian!"
"I-iya, Mas."
Je masuk ke sebuah outlet pakaian yang juga dikunjungi oleh para wanita muda. Melihat Yasmin ikut masuk ke toko itu, beberapa pengunjung dan pelayan toko menatap aneh padanya.
Mereka berbisik-bisik dan menertawakan Yasmin yang seperti orang udik masuk ke Mall elit. Apalagi Yasmin selalu terkaget setiap kali mengintip harga yang tertera di pricetag yang tergantung di pakaian-pakaian yang dijual.
'Waduh, kemeja ini harganya hampir sejuta? Yang benar aja?' batinnya.
Je memilih di sudut lain. Je mengambil beberapa pakaian secara acak tanpa melihat harganya. Sudah lebih dari setengah lusin pakaian ia pilihkan untuk Yasmin.
"Heh buluk! Ngapain kamu di sini?"
Je menoleh ke arah suara yang memanggil seseorang dengan sebutan buluk. Sudah Je duga kalau sapaan buluk itu ditujukan untuk Yasmin.
Yasmin pun terkejut saat tiba-tiba bertemu dengan Alda di Outlet itu. Alda adalah mantan adik iparnya.
"Alda?"
"Ngapain sih di sini? Sok sok an masuk ke Mall ini? Mau ngutil ya? Iya kan?" Alda malah menuduh Yasmin yang tidak-tidak.
"Sembarangan kamu!" Yasmin marah karena tersinggung.
"Ya terus ngapain coba? Bahkan, harga celana dalam di toko ini lebih mahal dari jatah makan kamu selama seminggu!"
Yasmin tidak ingin ribut, Yasmin memilih untuk diam saja.
"Dan lagi! Sandal jelekmu itu benar-benar nggak pantas berpijak di sini!"
Yasmin benar-benar dipermalukan.
Je mendengar itu semua dan melihat perempuan yang akan menjadi istrinya dihina di hadapan orang-orang.
Apakah Je akan membiarkan itu begitu saja?